KELUARGA PENGARANG

Archive for the ‘NoVeL’ Category

kupu-kupu-pelangi2.jpgNovel dwilogi “Kupu-kupu Pelangi” (Dar! Mizan, 2003) ini adalah menceritakan tentang nasib anak-anak negeri ini, yang terbuang dan disia-siakan. Tapi mereka tetap tabah dan tawaqal menjalani hidupnya, sehingga memperoleh kebahagiaan. Juga sebagai metamorphosa dari para tokohnya, yang sebelumnya terjerumus ke dalam lembah kegelapan ke dataran kebahagiaan. Novel ini sebelumnya dimuat bersambung di koran lokal “Harian Banten”.

trilogi-3.jpgPADA-MU AKU BERSIMPUH (novel trilogi), Dar! Mizan, 2001:
Mizan menerbitkan novel trilogi: Pada-Mu Aku Bersimpuh, Biarkan Aku Jadi Milik-Mu, dan Tempatku di Sisi-Mu. Novel trilogi ini sudah diproduksi Indika Entertainment untuk sinetron Ramadhan 2001. Menceritakan tentang seorang anak bernama Anah, yang mencari orangtua kandungnya. Dia pasrah dan luruh pada Allah. Kebahagiaan mampir sejenak padanya; dia menjadi seorang dokter, mendapat orang tua angkat yagn baik, suami yang mencintai dia serta kedua anak yagn sehat. Tapi, kanker mengakhiri hidupnya.

mimpi-sauni-3.jpgSERI RUMAH DUNIA, Senayan Abadi, Desember 2003:
Novel berseri, yang menceritakan tentang sebuah keluarga pencinta buku; Pak Surya Gemilang dan Bu Chandra Kirana, serta kedua anak mereka; Lintagn Dinihari (5 tahun) dan Bayu Segara (4 tahun), yang menyebarkan tentang pentingnya memiliki rasa kasih sayang tehadap sesama lewat buku. Di halaman belakang rumah mereka ada kebun seluas 1000m2, dimana di tengah-tengahnya dibangun perpustakaan terbuka yang diberi nama “RUMAH DUNIA (RD)”. Mereka sangat prhatin dengan kondisi di sekitarnya, yang tetinggal dalam soal pendidikan. Lalu mereka mempersilahkan anak-anak serta remaja di lingkungan rumahnya untuk datang membaca. Bahkan mereka menyediakan kegiatan reguler yang bersifat rekreatif-edukatif. Di sela-sela pekerjaan keseharian dan interaksi dengan masyarakat itulah, mereka menemukan banyak hal; cerita seorang anak yang bersemangat ingin sekolah tapi tak punya uang, yang bermimpi ingin jadi wartawan, yang bapaknya di-PHK, yang bapaknya kawin lagi, yang mencari tambahan uang untuk biaya sekolah dengan menjadi pemulung, dan sebagainya. Dengan segala keterbatasan, Pak Surya dan Bu Chandra mencoba menolong Sauni.

cvr_lazuardi1.jpgPenerbit TIGA SERANGKAI SOLO
Mempersembahkan

Novel Terbaru Gola Gong
LABIRIN LAZUARDI #1: LANGIT MERAH SAGA

”Namaku Lazuardi. Aku pergi jauh dari rumah, karena aku sedang memaknai perjalanan, yang bagiku ibarat labirin. Aku tak tahu kapan harus berhenti. Mungkin ketika aku yang terperangkap di dalam labirin kehidupan ini, sudah mengetahui jalan keluarnya,” kata Lazuardi saat diwawancarai oleh  seorang wartawan. Read the rest of this entry »


YanG BerkunjuNG :

  • 166,403 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

August 2017
M T W T F S S
« Sep    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

PopuLeR

  • None

FoTO-fotoKU