KELUARGA PENGARANG

SAYA TERSESAT DI DUNIA MAYA, GARA-GARA BUDI PUTRA

Posted on: April 10, 2007

golagong-2.jpgOleh Gola Gong

Saya bertemu Budi Putra (www.budiputra.com) di pintu F2, bandara Soekarno – Hatta, tahun 2006 lalu. Saat itu saya ke Aceh, Budi ke Bali. Budi putra adalah pakar informasi teknologi dan wartawan Koran Tempo. Sekarang dia bekerka jadi redaksi pelaksana gadget news site, Amerika.

Budi bilang, “Gong, kamu harus punya blog sendiri. Dampaknya untuk Rumah Dunia juga.”  Tambah Budi, www.rumahdunia.net terus saja, tapi secara personal saya harus terus mendukung Rumah Dunia dengan membuat blog. Akhirnya Budi membuatkna saya www.golagong.com. Saya ingat, dua tahun lalu, pernah menatakan kepada Jonru (rekan di Forum Lingkar Pena), bahwa saya ingin kebersamaan. Jonru juga menawarkan akan membuatkan saya blog sendiri. Juga Noval Y. Ramsis. Dan banyak pembaca Balada Si Roy lainnya yang menawarkan membuatkan saya blog pribadi. Saat itu saya merasa belum saatnya. Biarlah saya menjadi bagian dari www.rumahdunia.net. 

Tapi, Budi Putra merubah saya. Budi mengatakan dalam diskusi “Rumah Dunia Goes Bloging”, 31 Maret lalu di Rumah Dunia, bahwa zaman sekarang sudah sedemikian cepat. “Era cetak lambat laun akan berkurang. Semua tinggal duduk di computer dan langsung berkomunikasi dengan orang lain, tanpa mengenal batas.” Ya, world is flat! Dunia kini datar! Ayu Utami menulis di koran Seputar Indonesia (31/12/06) menyoroti pernyataan Thomas L. Friedman (The Worl is Flat), yang mengatakan bahwa gara-gara infrastruktur jejaring informasi teknologi lewat serat optik yang ditanam di dasar laut, kita bisa saling berhubungan secara horisontal dengan internet. Bumi pun jadi datar.   Akhirnya, saya memiliki www.golagong.com. Apa yang dikatakan Budi memang, bahwa dengan blog seolah tersesat di jalan yang besar, benar adanya. Dalam kondisi yang sakit (pengapuran), setiap dini hari saya terbangun. Saya memindahkan file-file lama ke www.golagong.com di rumah atau di Perpustakaan Surosowan, Rumah Dunia. Jika terlalu lama duduk, punggung saya terasa sakit dan kaki kiri seperti kena setrum. Keringat dingin muncul. Saya terpaksa harus berbaring.  

Tapi, saya sudah tersesat di jalan yang besar. Blog menyedot saya. Mimpi saya yang ingin memiliki majalah atau penerbit muncul kembali. www.golagong.com keasikannya melebihi ketika mengelola www.rumahdunia.net. Bahkan saya semakin tersesat lagi. Kini www.golagong.com saya jadikan situs berbahasa Inggris (www.golagong.com for English version) dan www.keluargapengarang.wordpress.com untuk versi
Indonesia. Semuanya untuk penggalangan dana Rumah Dunia.
 Istri saya sampai geleng-geleng kepala. Saya seperti terlahir kembali. Saya sedang bersemangat ingin sembuh seperti juga saya bersemangat bekerja. Saya jenuh tenggelam dalam sakit yang berkepanjangan. Dengan menggumuli blog, saya bisa melupakan sakit. Jika muncul rasa sakit itu, saya terapi. Tiap hari saya terapi. Padahal saya harus menyelesaikan sekitar 4 novel lagi (serial Labirin Lazuardi untuk Penerbit Tiga Serangkai) yang terbengkalai. Hidup hanya satu kali. Gajah mati meninggalkan gading. Semua saya pasrahkan saja kepada Allah SWT. Dia-lah yang berkehendak.  

*) Rumah Dunia, Subuh, 11 April 2007

*) Foto: Saat saya jadi wartawan tabloid KARINA (Kartini Group) di Bandung, 1883 – 1994. Berpose di Cihampelas, Bandung. Action!

4 Responses to "SAYA TERSESAT DI DUNIA MAYA, GARA-GARA BUDI PUTRA"

Selamat kang Gong,

Selamat datang di dunia Blog, hidup memang cuma sekali, kalau gak ngeblog nyesel sekali …halah..maksa…

Kesehatan itu memang mahal mas, kalau nanti punya sekretaris mungkin urusan ngeblog jg bisa ada yang handle. by the way, anyway, busway, tidak bisa tidak kudu olahraga dan makan teratur ya.

Salam buat keluarga

Epri Tsaqib
http://epriabdurrahman.multiply.com

Makasih, saudaraku.
Mari kita berdansa lewat kata.
Jadikan IT untuk hal positif untuk manusia. (gola gong)

Assalamu’alaikum mas Heri
mas, saya sudah tinggalkan soulfires. dan, kalau mas punya waktu untuk ngritisin tulisan saya, semoga mas heri bisa ngritisin tulisan saya yang di http://futurism.wordpress.com/

Selamat Menyambut Ramadhan dan always success, salam juga untuk mbak Tia dan anak-anak

Thanks
Zulfikar Akbar

Tersesat tapi menikmati ….
Eng… ada kata-kata yang lebih ‘wah’ dari tersesat gak ya?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: