KELUARGA PENGARANG

KEPADA PARA LELAKI

Posted on: August 31, 2007

bsrkedua-3.jpgMultatulli berkata, “Ya, aku bakal dibaca!” Begitu Roy berteriak di gerbong kereta atau di atas bak truk terbuka. Ini Balada Si Roy buku kedua. Masih diterbitkan Beranda Hikmah (Mizan Group) tampil dengan cover yang heroik dan macho. Di jilid kedua ini gabungan dua judul buku; Bad days dan Blue Ransel.

Dengar apa yang menjadi kegelisahan hati Roy: “Aku terdiri dari banyak kisah. Maka aku bercerita pada kalian, para lelaki pencinta kehidupan. Lihatlah jalan putih di depanmu. Periksa sepatumu; kotor berdebukah? Atau kau merasa suci? Putuskan dengan hati, pikiran, keberanian, dan senyummu. Kau harus teguh saat melangkah. Kau adalah gunung berapi, siap mengguncang dunia. Peristiwa besar menyakitkan hati-jiwamu, jangan kau lari! Itu sejarah. Songsong yang lain. Kebahagiaan harus diperjuangkan. Bukan dengan cara mengemis minta belas kasihan, rendah diri, dan pasrah nasib! Kau akan teguh dan punya pendirian. Kau akan menemukan orang-orang yang mau berbagi rasa, cinta, dan ilmu. Yakinilah: orang baik ada di mana-mana. Dan wanita akan berteduh dan merasa aman di lelaki seperti ini.
bsrdua-2.jpg Catatan Ringan:
ROY, SEBUAH RANAH TEMPAT BERTANYA
Oleh Heru Hikayat *

Saya remaja, tinggal di kota Banjar di perbatasan Jawa Barat dengan Jawa tengah, sepi dan serba tanggung: desa bukan, kota juga bukan. Setiap kali ditanya apa oleh-oleh khas Banjar, saya selalu bingung. Karena tidak ada yang benar-benar khas dalam artian partikular dari daerah Banjar. Saat itu tahun 1989, saya baru lepas SMP. Setelah tanpa sengaja membaca Balada Si Roy (BSR), hampir tiap minggu saya menyengajakan diri berkunjung ke rumah seorang teman yang berlangganan majalah Hai. Saya tidak dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang gandrung buku, tapi saya mulai suka membaca sejak SMP. Salah seorang kakak yang sudah kuliah di Bandung suka menyuplai buku-buku bacaan yang sebenarnya terhitung “berat” untuk ukuran remaja. Saya kerap tidak mengerti apa yang saya baca. Tapi jelas, saya tertarik. Maka Roy, pada saya pertama kali, adalah nama yang sepenuhnya asing. Kita memang tidak terarahkan untuk memperhatikan nama belakang Roy. Roy adalah Roy [1]. Dalam BSR juga banyak disebut nama non-fiksi: Tyson, Van Hallen, Musashi, Pope, dll. Pada saya saat itu, semua nama ini asing sekaligus penuh daya tarik.
Roy menjelma figur yang kuat sekaligus selalu mengundang rasa penasaran, penuh tanda tanya. Dalam hidup kita terhampar banyak pilihan yang terbentang di antara dua kutub yang berlawanan. Contoh pertanyaannya kira-kira begini, apakah Roy “anak baik” atau “anak nakal”? Keberbedaan baik dan buruk tetap ada, justru karena kita sadar bahwa batas perbedaannya sama sekali tidak jelas dan tidak ajeg. Keberbedaan ini adalah soal bias, sangat nisbi, dan karenanya kita diminta untuk mampu memilih sebagai individu. Ranah yang disebut individu ini yang sedang saya rindukan, ketika segala batasan bukan hanya tidak jelas, melainkan seperti sedang dipermainkan saat ini. Bahkan batas negara pun sudah tidak kukuh lagi bukan? [2]
Apa yang bikin Roy jadi begitu menarik? Semua pembaca Roy bisa menjawab pertanyaan ini dengan caranya sendiri-sendiri. Rumusan yang saya coba lontarkan pada esai ini: Roy adalah karakter yang lincah bergerak. Kutub-kutub yang berlawanan senantiasa ia jelajahi. Pengarang mengantarkan kita pada latar daerah tempat Roy tinggal melalui paparan rinci yang menarik. Masyarakat Kanekes, Kamayasa, nasi sumsum, Royal, adalah sebagian dari rinci yang memberi gambaran pada kita tentang Banten sekaligus memberi kesan tentang Roy yang terpaut (untuk tidak mengatakan cinta) pada daerah yang membesarkannya. Keterpautan ini tidak dalam bentuk yang masif, karena Roy selalu terpanggil untuk melakukan perjalanan [3]. Setiap memenuhi panggilan ini, Roy melerai keterpautannya dengan Banten dan semua orang yang menyayanginya. Era kejayaan kaum nomad telah lama lewat, kini yang dikejar semua orang adalah kemapanan berdiam di satu tempat. Roy seakan mengengganinya.
Keberbedaan dalam diri Roy, kiranya bisa disebut paradoks. Cinta Roy tertuju penuh pada ibunya, karena ayahnya telah tiada dan mereka tersisih dari keluarga besar [4]. Cinta membuatnya ingin menentramkan si ibu. Di sisi lain, gairah petualangan dan kenakalan remajanya akan membuat semua ibu cemas. Apakah anda selalu menyayangkan tiap kali Roy mabuk-mabukan mengonsumsi obat-obatan karena kesadaran anda mengategorikannya sebagai tindak destruktif? Ataukah yang anda lihat saat itu adalah sosok anak muda yang sedang marah dan kehilangan pegangan, hingga perlu katarsis untuk kembali mendapatkan kesadaran dan juga pegangan? Yang terakhir ini tidakkah mengingatkan anda pada kenyataan ketika anda tidak sepenuhnya sadar dan paham apa yang sedang terjadi pada anda?
Ulil Abshar-Abdalla pernah melontarkan kiasan “…seperti sebuah sungai yang aku tidak tahu di mana hulunya, dan apa yang mengalir di dalamnya” [5]. Ulil memaparkan keberbedaan dunia pesantren di desa, dunia seorang ayah, dengan dunia sang anak di kota melalui kiasan sungai. Si ayah meyakini dunia yang ia warisi dari ayah-kakek-guru-mertua sebagai “sungai yang jelas hulunya, dan ke mana alirannya bermuara”. Dalam hal ilmu, jalan yang jelas dan pasti ini disebut sanad (sandaran). Jadi, ini adalah perkara kejelasan sandaran. Sebaliknya dunia si anak (yang memilih bekerja dan berkeluarga di kota) bukan hanya sungai yang serba tidak jelas, melainkan “ilmu itu akan seperti perahu yang membawa penumpangnya ke laut lepas yang tanpa tepi, tanpa tujuan yang pasti”.
Secara keseluruhan Balada Si Roy tidak menunjukan minat yang terlalu spesifik pada kultur kota. Ia lebih menjelajahi wilayah-wilayah sosial kemanusiaan. Ia bolak-balik antara fenomena sosial dan ruang pribadi. Ruang pribadi adalah tempat Aku menimbang, mengambil keputusan, merasa bertanggung jawab, ragu, menyesal, marah, sedih, terharu, jatuh cinta dan bahagia. Aku menampilkan dimensi rampaknya melalui perjalanan. Rumah, kota tempat tinggalnya, semua perempuan, bahkan cinta ibu yang menyamankan, adalah ruang yang terlalu sesak untuk kepenuhan Aku yang muda dan bergejolak.
Pada saya, perjalanan Roy adalah proses mengalami kehidupan di banyak kota, desa, gunung, hutan, pantai, kampus, pesantren, jalanan. Dalam perjalanan Roy sering berserah pada peristiwa yang “kebetulan” dihamparkan pada dirinya. Ia sering tidak tahu di mana hulunya. Roy remaja tentu tidak punya pengalaman memadai untuk memahami pendirian seorang ibu muda yang bersikukuh memelihara anaknya sendirian, ditentang oleh keluarganya sendiri dan diburu oleh keluarga suaminya, sementara sang suami (lelaki !) sembunyi. Roy “hanya” mencium ketidak-adilan. Ia membela pihak yang diperlakukan tidak adil. Ia juga tidak tahu ke mana muaranya. Ketika berkelahi, ia tidak memikirkan konsekuensinya. Ia hanya bertindak [6]. Ia tahu tentang tanggung jawab, tapi sering tidak mengukur diri, apakah ia punya kemampuan untuk menanggungnya atau tidak. Dalam sesuatu yang tidak jelas ia menajamkan pandangannya pada nilai-nilai yang ia yakini, yang ada pada dirinya. Ini adalah paradoks yang lain, karena bagi Roy avonturir sendirian adalah soal kontrol diri (self control) [7].
Individu disebut-sebut untuk mewakili obsesi saya pada ranah yang mempribadi sifatnya. Satu ranah tempat berpijak yang bisa selalu ditelusuri dimana adanya namun bukan tanpa resiko menjadi ambigu. Roy sering bercakap-cakap dengan dirinya sendiri [8]. Pada percakapan ini kita bisa menelusuri bagaimana Roy menimbang, memilih, dan prinsip semacam apa yang mendasarinya.
Roy mudah sekali menjadi representasi khas remaja yang sedang menggugat segala kemapanan khas orang tua, sekaligus mendamba satu kondisi menentramkan yang identik dengan kemapanan. Ketika Roy bicara tentang profesi penulis atau tentang prinsip-prinsip hidup, termasuk “prinsip” mengejar cewek, ia terlihat teguh. Ketika kita memperhatikan bagaimana ia menjalani yang namanya sekolah, Roy terlihat ogah-ogahan. Mencermati kebijakan ibu Roy yang tidak pernah melarang anaknya avonturir, didapat kebijaksanaan orang tua yang memprediksi bahwa anaknya perlu “keluar” rumah untuk kemudian “pulang” kembali. Saya kira bisa disepadankan dengan kisah-kisah besar tentang para ksatria yang mengembara, mengemban tugas mulia untuk bertarung dengan musuh-musuh yang mengancam rakyat. Sang ksatria menanggung resiko mati di tangan musuh, di medan tempur yang jauh, tidak seorang pun menyaksi kematiannya. Namun jika ia berhasil mengalahkan musuh-musuhnya, maka ia akan pulang menyongsong penghormatan dari seluruh rakyat, seluruh kerabat. Dan yang juga menanti adalah istana megah serta putri cantik. Semua itu adalah penghargaan bagi ksatria yang berani menempuh segala rintangan. Tidak ada penghargaan semacam itu bagi ksatria yang betah terus berdiam di istana menikmati segala kemewahan. Keteguhan kepribadian Roy tampak menuju ke satu “istana”. Di sini, pertanyaan yang sangat menggoda adalah: bagaimana Roy dewasa? Apakah ia tetap menulis dan banyak-banyak melakukan perjalanan? Apakah ia tetap sendiri atau berkeluarga? [9] Pilihan pengarang untuk tidak meneruskan kisah Roy hingga dewasa, menurut saya bisa ditafsir begini: kita diarahkan untuk tetap menatap Roy remaja. Mengikuti kisah Roy adalah menatapnya pada “fase gelisah”.
Dengan demikian, kondisi menentramkan bagi Roy seperti utopia. Tentu saja utopia Roy jauh dari utopia ala cendekiawan semacam Marx: “masyarakat tanpa kelas”. Utopia Roy adalah ketika semua manusia saling menenggang. Utopia Roy adalah ketersediaan momen untuk bertanya pada diri sendiri, mendengar nurani, dan mencoba menyelaraskan dunia dengan suara-suara nurani itu. Utopia Roy menyediakan waktu yang cukup bagi seseorang untuk ragu-ragu, tidak tiba-tiba memilah: ini benar dan yang lainnya salah! Keleluasaan yang makin sulit didapat di jaman serba cepat ini.
“Jiwa kita tak dapat ditapakkan di satu tempat / karena jiwa kita tercipta dari kisah-kisah…” [10]. Dulu puisi ini menggugah jiwa petualangan, membuat saya tidak nyaman menjadi anak yang betah di rumah. Kini, ia lebih merujuk pada keberanian menghadapi ketidak-pastian. Bahkan jiwa pun cenderung berpihak pada perubahan.
Kita toh berhak untuk ragu tentang kebenaran. Ini adalah bagian dari sifat kemanusiaan kita sendiri. Dan individu adalah ranah tempat kita menetapkan sesuatu kebenaran, sambil diam-diam kita bersiap menghadapi perubahan, ketika kita harus merumuskan kembali kebenaran itu. (Bandung, Agustus 2004)

joe-2.jpgKETERANGAN:

1) Saya konfirmasikan hal ini pada pengarang. Ia menerangkan bahwa di buku “Blue Ransel”, dituliskan inisial RBH pada ransel Roy, lalu pernyataannya: “nama saya Roy Boy Harris, tapi cukup panggil ‘Roy’ saja”. Gola Gong sendiri lupa-lupa ingat [wawancara lewat surat-e, 30 Juli 2004]. Saat itu, entah kenapa, saya tidak berusaha mengajukan “proposal” ke bapak saya untuk berlangganan majalah Hai. Di rumah teman itu, saya membaca BSR dan mencatat puisi-puisi Toto ST Radik yang dianggap “mewakili” kegundahan saya sendiri. Puncaknya tahun 1990-1991, saat saya kelas 2 SMA. Saya keranjingan menulis puisi dan menularkannya pada teman-teman sekolah. Puisi-puisi saat itu meniru-niru a Toto, dan “berjiwa” Roy.
2) Saya kadang penasaran tentang satu hal: prinsip hidup Roy adalah soal kemanusiaan yang ‘universal’.Tolong-menolong, tenggang rasa, cinta, adalah sifat naluriah yang berlaku di mana saja, kapan saja. Tapi ia tidak pernah menyebut hal-hal semacam ke-Indonesia-an (nasionalisme).
3) Panggilan ini sering diistilahkan sebagai “panggilan alam”. Saya mengira istilah ini bersumber pada dikotomi “yang dibangun oleh manusia” (kebudayaan/peradaban) dengan “yang alami”.
4) Yang disebut ‘keluarga besar’ Roy di sini adalah keluarga ayahnya. Latar keluarga ibunya tidak terasa menonjol karena dari pihak ibu tidak memunculkan konflik. Misalnya, pada saat jauh dari rumah Roy sering cemas karena meninggalkan ibunya “sendirian”. Padahal rumah Roy bersebelahan dengan rumah uwak. Artinya, kehadiran uwak dari pihak ibu dianggap tidak penting. Sementara menyangkut ayah, Roy selalu terbentur pada perlakuan pihak keluarga. Roy tampak dihidupkan dalam sejumlah konflik. Ini adalah batas-batas yang diberikan pengarang pada kita sebagai pembaca, seperti halnya nama ‘Roy’ saja. Batas-batas ini adalah tempat saya memunculkan yang paradoks.
5) Ulil Abshar-Abdalla, “Kitab Kawin-Mawin”, Jurnal Kalam 19 (Yayasan Kalam, Jakarta: 2002) hlm. 101-132. (Semua kutipan dalam paragraf ini dari esai tersebut). Kalam nomor ini berjudul “Ihwal Kota”. Di dalamnya kita dapat membaca beberapa esai yang menyoal kota. Kota kian menjadi bahan kajian tersendiri dalam berbagai tilik pandang ilmu-ilmu sosial-budaya. Karena kota telah menjelma menjadi entitas tersendiri yang terlepas dari kategori-kategori lama. Ketertarikan saya pada esai Ulil dalam hubungannya dengan esai saya adalah cara Ulil memperhadapkan dua kutub: si ayah yang hidup di kampung dengan pola pikir tradisionalnya sambil berharap si anak akan mewarisi apa-apa yang telah ia capai, berhadapan dengan si anak yang memilih hidup di kota dan enggan balik kampung karena ia memutuskan harus hidup dengan caranya sendiri (bukan mewarisi). Yang satu mendamba keajegan tradisional, yang lain mendamba pilihan individual. Ulil memperhadapkannya dengan cara mengurai, masing-masing tokoh diberi kesempatan ‘bicara’. Cara bicara si tokoh adalah bicara pada diri sendiri tentang dirinya dan tokoh lainnya. Kita diajak menelusuri pendirian masing-masing tokoh dan perbedaan di antara keduanya. Gola Gong tidak mengurai dua kutub pada dua tokoh, semuanya ada pada Roy.
6) Lihat BSR episode Trilogi 1, Trilogi 2, Trilogi 3.
7) Lihat BSR episode Avonturir, bagian percakapan Roy dengan Yayu.
8) Pada bagian ini saya––sekarang, bukan saya remaja dulu––menyayangkan kemunculan pengarang yang ikut menyatakan opininya tentang dunia, terutama pertimbangan moral pengarang tentang baik buruk. Bukan soal opini yang terlalu normatif, melainkan soal hubungan antara pembaca dengan Roy jadi terinterupsi. Namun saya jadi membayangkan bahwa inilah yang membuat Roy begitu disukai kaum remaja pada masanya. Ada kenakalan dan keberanian untuk melampaui batas-batas yang dinormakan lingkungan sosial. Dan resiko semua perintis adalah (merasa) tersesat. Di sini pengarang menyediakan pegangan-pegangan moral yang sungguh dibutuhkan oleh ‘seorang pemberontak muda pada saat dirundung gundah’. [Bagaimanapun dalam esai ini, ‘saya’ adalah saya yang sekarang. Proses pendewasaan dalam lingkungan akademi seni rupa membuat saya kehilangan kemampuan membahasakan cara baca masa remaja. Kehilangan “kepolosan” ini terutama bersumber pada kebiasaan menulis ulasan karya seni, walaupun sastra bukanlah wilayah kompetensi saya. Saya mengingatnya, lalu membahasakannya dengan cara saya sekarang. ‘Saya’ mondar-mandir, antara memori masa remaja dengan saya yang sekarang.]
9) Saya membandingkan Roy dengan figur para penulis petulalang di masa-masa kolonial Eropa. Misalnya W.Sommerset Maugham, yang pernah dikutip adagiumnya oleh Gola Gong (lihat BSR episode Kencan). Saya tidak tahu kisah hidup Maugham. Tapi kita tahu, dalam kultur masyarakat barat banyak orang yang demi vitalitas profesionalnya sering menelantarkan keutuhan rumah tangga, bahkan sekalian memilih untuk tidak menikah. Apalagi pada masa-masa kolonial, ketika menempuh perjalanan masih sangat misterius. Sekedar berlayar dari Eropa ke Asia saja, resiko kematiannya tinggi. Soal menikah sebagai ’pilihan’ ini juga diulas oleh Ulil Abshar-Abdalla dalam esai yang saya kutip di atas. Dalam esai ini saya memang menghindari pemosisian Roy sebagai alter ego pengarangnya.
10) Penggalan puisi Toto ST Radik. Lihat BSR episode Bezoek.

*) Heru Hikayat, penulis dan kurator seni rupa, tinggal di Bandung

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

August 2007
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: