KELUARGA PENGARANG

KEPADA AVONTURIR MUDA!

Posted on: August 31, 2007

bsrsatu-3.jpgBalada Si Roy Buku Pertama

Penerbit: Beranda Hikmah (MIzan Group)

Penjulis Gola Gong

Dengan penampilan cover yang baru, terasa fresh. Balada Si Roy karya Gola Gong kini hadir lagi. Buku kesatu ini gabungan dari 3 judul buku; Joe, Avonrir, dan Rende-vouz. Masih ingat kalimat-kalimat atau sajak pemantik gelora anak mudanya? Baca saja:

Laki-laki artinya mempunyai keberanian
Mempunyai martabat. Itu artinya percaya
pada kemanusiaan. Itu artinya mencintai
tanpa mengizinkan cinta itu menjadi jangkar
Itu artinya berjuang untuk menang.
(Alexandros Panagoulis)

Tadinya kisah ini tidak akan aku tulis. Jangankan untuk mengulanginya, mengenangnya pun aku takut. Tapi akhirnya dengan pertimbangan dan kemungkinan, ternyata sesuatu yang sia-sia itu masih bisa ada harganya. Ini tidak lain agar orang-orang yang mencintai kehidupan bisa bercermin lewat kisah ini

roy-beranda.jpgroy-beranda-biru-2.jpg Catatan ringan:
ROY, AJARI AKU!
Catatan ringan Oleh Endang Rukmana*)
“Mau avounturir, kayak Si Roy!” ujar Zhajang.
Maka suatu pagi di kota Serang, Zhajang Lili Charli sudah nangkring di atas sepeda yang baru kemarin dia beli dari pasar loak. Bersama Adkhilni MS, yang juga sudah siap dengan sepeda kesayangannya, Zhajang akan bersepeda menempuh jarak sekitar 40 km menuju kawasan pantai di Selat Sunda. Mereka bermalam di pantai. Kedua kawan sekolah saya itu bercerita, baru saja menamatkan empat jilid Balada Si Roy. Akibatnya, mereka terjangkiti demam avounturir.
Saya jadi penasaran. Lalu mulailah saya berkenalan dengan “Si Roy” lewat kesepuluh jilid “Balada Si Roy” (karya Gola Gong yang pernah beken di majalah HAI). “Gawat brew!” seru batin saya, ketika menyadari roh dan spirit “Si Roy” seolah telah merasuki diri saya.
Sejak saat itu saya jadi senang melakukan perjalanan, dan begitu menikmatinya. Acap kali saya merasa diri tengah berperan sebagai Si Roy. Seperti beberapa waktu yang lalu di awal Juli, ketika saya menempuh perjalanan Serang-Bandung untuk suatu keperluan. Saya berangkat tengah malam dari Terminal Pakupatan dengan Garuda Pribumi, sebuah bus tak ber-AC.
bule-ransel.jpg Mulanya saya duduk seorang diri. Tetapi menjelang Balaraja, seorang gadis memilih untuk jadi teman seperjalanan saya. Dalam hati saya berbisik, “Cewek, Roy!”. Tak perlu saya ceritakan apa yang selanjutnya terjadi dengan kami berdua. Selama dua hari di Bandung, saya juga mengalami hal-hal baru yang menarik—terlalu makan halaman jika saya tuturkan. Lalu ketika pulang lagi ke Serang dari Terminal Leuwipanjang, lagi-lagi seorang gadis menjadi teman seperjalanan saya. Dan yang membuat lebih dramatis, di tengah perjalanan, gadis itu menangis terisak. “Ada cewek cantik nangis, Roy! Kenapa dia, Roy?” saya berbisik lagi.
Begitulah.
Si Roy, pemuda petualang, bertubuh atletis, rambut gondrong, rahang kukuh; dengan senyum nakal; dan sorot mata yang liar melebihi elang, tetapi di lain waktu sorot mata itu begitu sendu dan teduh seolah lautan; memang memilki daya pukau tersendiri bagi remaja di penghujung era 80-an saat itu. Sebab bukan hanya fisiknya, tetapi karakter dan langkah hidup yang ditempuh Si Roy memang macho! Terlebih—nampaknya—Si Roy benar-benar lahir dari pergolakan batin sang pengarang. Yang lahir dari hati, memang akan mendapat tempat di hati.
Hal lain yang perlu kita garis bawahi dari Si Roy, pada dirinyalah manusia dihadirkan secara utuh; tidak melulu putih, juga tidak melulu hitam. Dia berada di wilayah abu-abu. Berbuat dosa, lalu bertobat; berbuat dosa lagi, lalu bertobat lagi; dan begitu seterusnya. Sejujurnya, seperti itulah manusia. Saya mengiyakan, dan berkaca diri, saat membaca “Balada Si Roy”.
Jangan kaget, dalam kisah ini “Si Roy” begitu gampang bersinggungan intim dengan banyak perempuan, sehingga kita seolah mendapat kesan “Si Roy” adalah lelaki yang suka mempermainkan perasaan kaum Hawa. Namun kesan yang demikian akan segera menjadi kabur, saat kita pada kesempatan yang lain mendapati “Si Roy” begitu peduli, melindungi seorang ibu muda yang terancam kehilangan anaknya. Si Roy juga seorang anak yang sangat perhatian, hormat, serta penuh cinta dan kasih sayang pada ibunya. Wacana yang kontras, akan kita temukan dalam kisah ini.
bsrduo-3.jpg Kini, setelah zaman bergulir menjauh, Roy hendak dihadirkan kembali. Hadir di era yang baru, di mana sebagian besar orang tengah larut menikmati euforia menyambut pergantian milenium. Ketika makhluk bernama internet dan ponsel sudah menjadi bagian lumrah dari kehidupan remaja ABG Indonesia.
Tentu saja “Si Roy” bukan anak zamannya lagi. Dia datang dari masa lampau. Lalu dengan demikian, apa fungsi sosial dihadirkannya kembali Balada Si Roy bagi kehidupan remaja saat ini?
Dari segi latar tempat dan waktu, Balada “Si Roy” boleh jadi sudah ketinggalan kereta. Tetapi problematika remaja dan semangat yang dimiliki “Si Roy”, masih sangat relevan, bahkan sedemikian dekatnya dengan apa yang dialami remaja saat ini.
Dalam hal ini, “Si Roy” datang dari masa lampau dengan membawa sebuah cermin bagi remaja Indonesia yang kini mulai tenggelam dalam hingar-bingar kehidupan hedonis. Bukan cermin sakti semacam kepunyaan Mak Lampir yang saya maksud. Tetapi sebuah cermin untuk belajar bagaimana semestinya menyikapi hidup; menentukan langkah; mencari jati diri; juga untuk memahami, bagaimana semestinya menjadi lelaki.
Menjadi lelaki bukan berarti harus sok jago, berkelahi, menganggap remeh orang lain, atau bergelandangan di jalanan. Yang penting dari lelaki adalah menjadi berani: berani untuk memilih; berani untuk memiliki; berani untuk mengalahkan rasa takut dan “gak pe’de”; berani untuk berbuat dengan akal sehat, dan berani pula untuk mempertanggungjawabkannya dengan kesadaran; berani untuk memulai sesuatu, dan berani pula untuk mengakhirinya dengan manis; juga berani untuk mencari, dan pada saat yang sama berani pula untuk kehilangan.
Memulai sebuah perjalanan untuk menuntut ilmu, menuju ke kota-kota yang lain, dan melihat dunia baru, adalah menjadi lelaki. Hidup mandiri, tanpa melulu mengandalkan orangtua, adalah juga menjadi lelaki. Rela memberikan tempat duduk kita di atas angkutan umum yang penuh sesak kepada ibu hamil, orang cacat, dan para lansia, adalah juga menjadi lelaki. Tetap tegar dan confidence saat kehilangan sesuatu yang berharga (seperti Toni yang kehilangan sebelah kakinya, dan Iwin yang kehilangan sebelah daun telinganya), adalah juga menjadi lelaki.
“Balada Si Roy”, tidak hendak mengajarkan kita menjadi super hero seperti Old Shatterhand, James Bond, Gatot kaca, Wiro Sableng, juga tidak untuk menjadi “Si Roy”. Tetapi belajar menyikapi hidup, dan belajar menjadi lelaki, itulah yang akan kita (remaja) renungkan—dan akan kita lakukan—usai membaca buku karya Gola Gong ini. Majalah HAI pernah menulis Roy sebagai tipe “cowok jaguar”: jujur, kritis, peduli, independen, dan tetap manusawi. Dalam istilah Sheila On 7, Si Roy membagikan spirit pada kita “tuk jadi pejantan tangguh”.
Untuk cewek yang tidak ingin menjadi korban rayuan lelaki, dan untuk cowok yang hendak menjadi lelaki, “Balada Si Roy” dengan bahagia dipersembahkan. Sebagai pembaca, kita tentu akan lebih memahami bagaimana selayaknya menerapkan pepatah lama, “ambil yang baik, dan tinggalkan yang buruk”, tinimbang para maling sendal di tempat-tempat ibadah.
Akhirnya, saya ingin memulai sebuah langkah yang ringan, dan berkata, tidak penting untuk menjadi “Si Roy”; Namun, “how to be a man?!” itulah yang hendak dikatakan Si Roy!
Ajari aku, Roy!

***
epilog-3.jpg *) Serang, Akhir Juli 2004
*) Endang Rukmna adalah peserta kelas menulis Rumah Dunia angkatan pertama. Novel-novelnya diterbitkan Gagas Media. Penulis lahir di Jakarta 15 Mei 1984. Saat “Balada Si Roy” muncul di Majalah Hai pada Maret 1989, dia masih berumur 5 tahun. Limabelas tahun kemudian, dia baru membaca “Balada Si Roy”. Dengan bersemangat dia bilang, “Semalam 5 buku! Sepuluh buku, dua malam!” Dia adalah peraih “Unicef Award for Indonesian Young Writers” (2004). Aktif berkegiatan di Sanggar Sastra Serang, dan peserta “Kelas Menulis Rumah Dunia” angkatan pertama.
Kini tercatat sebagai mahasiswa Sejarah Universitas Indonesia

2 Responses to "KEPADA AVONTURIR MUDA!"

Assalamualaikum

Wah… balada si Roy.. buku kegemaran saya pas SMA (akhir tahun 1980-an)… sampe-2 temen saya ada yang terinspirasi si roy dan hidup dijalanan… sampe-2 rela kuliahnya di tinggal🙂

wah.. si roy memang inspiring

salam kenal dari FLP malang🙂

hmcahyo.wordpress.com

waktu itu lewat serial di majalah hai si roy bersaing ama lupus…
karakter si roy , puisi2 toto st radik, rys revolta & gola gong sendiri inspiring me bgt…
waktu itu gw ampe nekat avonturir dijalanan…
thx’s bgt, si roy dah bantuin gw nemuin jati diri gw….
sukses buat mas gola gong dengan rumah dunia-nya

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

August 2007
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: