KELUARGA PENGARANG

GOLA GONG: THE JOURNEY

Posted on: April 17, 2008

“The Journey” (Penerbit Maximalis Salamadani, Bandung, 2008) karangan Gola Gong, mengisahkan perjalanan Gola Gong menyusuri bumi Asia; dari Serawak, Malaysia, Thailand, Laos, Bangladesh, India, Nepal, dan Pakistan. Juga perjalanan spiritualnya. Buku ini juga ibarat sebuah proses perjalanan hidup kita yang panjang menuju perhentian abadi di sisi-Nya. 

Aku menulis ini dengan segala macam perasaan beraduk jadi satu. Aku mengetik memakai laptop Andi, lelaki yang menikahi adik perempuanku, sambil berdiri di rumah sakit, di sebuah ruangan paviliun bernama Arafah, kamar 6, RSUD Serang. Ruangan ini termasuk mewah untuk ukuran rumah sakit di Serang. Tarifnya sehari mencapai Rp. 700.000,-, plus obat dan dokter. Untung Bapak memiliki kartu askes, sehingga mendapat potongan. Sambil mengetik, sesekali aku melihat ke Bapak, berbaring tak berdaya. Sejak Jumat, 7 Desember 2007, Bapak terbaring. Di hari pertama, Bapak masih sempat bercanda dengan terbata-bata, “Kontrak di rumah sakit hanya lima hari.” Sekarang sudah 5 hari.

 

 

Sejak 2001, bapakku lumpuh. Sekitar awal Desember 2007, Bapak terjatuh di kamar mandi. Aku lalai menjagai Bapak. Seminggu kemudian, Bapak dalam keadaan setengah sadar di pembaringan. Kata dokter yang bersedia datang ke rumah, Bapak terkena tipes dan virusnya menyerang sel otaknya, sehingga tak sadarkan diri. Bapak tak bisa mengenali lagi anak-anaknya yang menjagainya. Bahkan membuka kedua matanya sja tak sanggup. Tidurnya pun mendengkur. Sesekali aku menggenggam tangannya dan Bapak balas menggenggam tanganku erat-erat. Aku tahu Bapak tidak sedang tidur. Aku tahu Bapak merasa nyamna ditemani anak-anaknya.

Umur Bapak 74 tahun Sedangkan umurku kini melewati angka 44 tahun. Aku lahir 15 Agustus 1963. Banyak hal sudah aku lewati dan lakukan. Hampir separuhnya aku habiskan di jalanan. Aku ingin menikmati karya-karya agung-Nya serta karya seni manusia. Itu bagiku adalah mencerminkan sebuah perjuangan dan gagasan. Dari sana aku bisa belajar sekaligus bercermin, bagaimana kita mengaktualisasikan diri. Seperti halnya Bapak yang melewati hari-harinya dengan kerja keras, aku juga begitu. Bahkan dokter pernah mengatakan kepadaku, bahwa aku melakukan pekerjaan yang secara phisik seharusnya dilakukan oleh orang berlengan dua, sehingga mengakibatkan tubuhku rentan.

Jouney adalah buku kedua setelah “Menggenggam Dunia” (Dar! Mizan, 2005). Bagiku “journey” bukan sekedar perjalanan phisik semata, tapi juga perjalanan menuju Allah SWT. Bukankah hidup sesunguhnya adalah perjalanan menuju rumah masa depan kita, sebidang tanah berukuran 2 x 1 meter persegi?

Bapakku ketika muda adalah orang kuat. Tak ada hari tanpa olahraga. Selepas Shubuh, Bapak jogging mengelilingi alun-alun kota Serang. Kata Bapak, jika aku ingin keliling dunia, tubuhku harus sehat. Ya, sejak aku membaca novel “Keliling Dunia dalam 80 Hari” (Jules Verne” yang aku baca di prpustakaan sekolah saat aku di SD, aku berkeinginan keliling dunia. Itu adalah mimpi kanak-kanakku. Lantas menjadi obsesi. Tapi aku bukan anak pejabat, pengusaha, apalagi konglomerat, sehingga uang menjadi hambatan utama. Aku tahu, ada orang yang dilahirkan memiliki kehormatan sekaligus kekayaan. Tapi aku? Hanyalah anak dari pasangan suami-istri yang berprofesi sebagai guru. Kalian tahu, guru adalah profesi yang “tertindas” di negri ini pada masa rezim orde baru. Mereka selalu dikhianati. Ketika kampanye, mereka dielu-elukan sebagai pemilik negeri. Tapi setelah pemilu, mereka dipantati dan diludahi. Gaji mereka hanya cukup untuk hidup seminggu. Kesejahteraan mereka hanya dihargai dengan slogan “pahlawan tanpa tanda jasa”. Memang berbeda dengan nasib guru sekarang, yang setelah era Soehato runtuh, mulai disebut dengan “pahlawan dengan tanda jasa”. Gaji mereka mulai ditingkatkan dan sejahtera.

Kawan, aku ingat Bapak sering mengajakku berkelana mengelilingi Bnten dengan motor Vespanya. Itu membuat keinginan keliling dunia terus menggebu dan menyiksaku. Sampai aku terus menggelandang dan kabur dari SMA (1981) untuk melihat bumi Jakarta. Naik turun truk dan gerbong kereta api serta tidur di mesjid, terminal, atau beratapkan langit. Juga menyia-nyiakan kuliahku di Fakultas Sastra UNPAD (1982 – 85) demi merasakan keindahan Nusantara. Lalu aku terdampar di sebuah pesantren di Asem Bagus, Situ Bondo. Aku nyantri di sana dan tidak mau sekolahku. Tapi Bapak menyusulku dan menyuruhku pulang, karena Emak sakit. Aku pulang, tapi Bapak menanyaiku, apakah pernah lewat jalur selatan? Belum, jawabku. Lalu Bapak mengajakku naik bus pulang ke Serang, lewat jalur selatan. Setiba di rumah dua hari kemudian, Emak memarahi kami, kenapa begitu lama? “Anak sama Bapak tidak ada beda! ” protes Emak waktu itu.

Kawan, saat aku menulis ini, jam dinding menunjukkan pukul 00 kurang 10 menit. Andi sedang berdzikir. Goosal, adik lelakiku, tregolek di sofa. Dia paling sering menjagaik Bapak. Hasan, kakak lelakiku, juga terbaring lemas. Aku lirik Bapak, nafasnya turun naik. Bagiku ini adalah proses perjalanan Bapak menuju tempat di sisi-Nya. Jika itu yang terbaik bagi Bapak, aku ikhlas. Sepanjang hampir 7 tahun, setiap malam Bapak mnejreit kesakitan, karena sayaraf ditubuhnya mengalami iritasi. Itu sama dengan yang sedang aku derita. Sekarang aku sedang breusaha sekut tenaga mengobati sakitku.

Aku dan Bapak memang tidak berbeda. Termasuk kesukaan berpetualang menenali daerah-daerah baru. Aku tahu Bapak menginginkan sekali anak-anaknya berpergian ke seantero negri. Tapi Bapak tidak mampu membekali dengan uang. Ilmu, ilmu yang Bapak berikan kepadaku. Akhirnya jurnalisme menjadi jalan keluar yang terbaik. Pepatah “menyelam sambil minum air” adalah jimat yang aku selipkan di hatiku ketika berpergian. Itu artinya sambil berwisata aku bisa mendapatkan uang. Ternyata dengan berwisata, kawan, banyak hal yang bisa aku peroleh. Kawan baru di perjalanan, pengetahuan, ketabahan, kedisplinan, rasa percaya diri, yang kesemuanya bisa mengatasi kondisi sulit dalam mengarungi hidup yang keras dan kompetitif ini.

Bukankah hal-hal tersebut sangat bermanfaat jika diceritakan kawan? Yah, menulislah pemecahannya. Praktis dan biayanya murah. Banyak mass media (koran atau majalah) yang akan menampung perjalanan kita, kawan. Dan tulisanku tentang perjalanan yang aku lakukan sudah menyebar di berbagai media masa.

Setelah tahu betapa mudahnya mengakali dana untuk biaya berwisata, aku tak gentar lagi menyebrang ke negeri orang. Pada tanggal 9 September 1991 aku terbuang ke Pontianak. Lima hari kemudian aku menginjakkan kaki ke Khucing, Serawak. Lantas Jajirah Malaysia, Thailand, Laos, Myanmar, Banglades, Nepal, India, dan Pakistan aku hidup harum tanahnya. Di setiap negara yang aku kunjungi, aku membuat laporan perjalanan atau artikel. Aku kirim ke majalah yang ada di Indonesia. Dengan cara seperti itu; aku menulis catatan perjalanan di tempat-tempat kursus mengetikdi negeri orang, aku bisa melanjutkan perjalanan dan bertahan hidup di negeri orang. Aku bisa mengejar bebrapa bagian impian masa mudaku untuk melihat dan menikmati karya-karya besar manusia dan Tuhan. Syukur alhamdulillah.

Bagiku menyusuri bumi adalah juga perwujudan dari “iqra”. Membaca dunia. Aku belajar langsung dari Sang Maha Guru kehidupan; Allah. Aku tahu Allah mengirimkan guru-guru terbaik-Nya kepadaku di sepanjang aku menjalani kehidupan. Misalnya, aku menemukan pelajaran, bahwa menjadi seorang traveller atau lelaki pejalan harus menolong dan ditolong orang. Begitu juga aku. Adalah “bapakku”, almarhum Anton Sumanggaono dan kawan-kawanku di tabloid Warta Pramuka (1990) yang dengan ikhlas meminjamkan kamera serta recorder-nya. Terlebih-lebih “Kakakku”, Bens Leo (pemimpin Redaksi Majalah Anita Cemerlang, 1990), yang mau repot-repot mengirimkan honor tulisanku di mana saja aku sedang berada. Tak bisa aku bayangkan jika Bens Leo “ngambek” dan tidak mau memuat tulisanku yang aku kirim dari negeri orang di majalah Anita Cemerlang, sememtara aku sangat membutuhkan uang.

Kawan-kawanku yang dengan setia menghiburku dengan kabar dari tanah air. Toto ST Radik, Ayieq Adhimas, dan Rys Revolta. Surat mereka melunasi rasa kangenku pada kampung halaman. Juga Joermawan, Taib Murap, yang ikhlas membagi tempat tidurnya di Kualla Lumpur, Rifqi Saelan dan Idon yang menampungku di apartemen mereka di Bangkok. Savina, Yuni, Su’udi, Raharjo, Bapak Dedy Nasidi, serta murid dan guru di sekolah Bangkok adalah kisah manis yang lain. Dan Mas Bambang Sugeng di KBRI new Delhi, yang membantu memecahkan kesulitan pengriman uang dari tanah air. Kepada sesama traveller pun aku memperoleh banyak kenangan dan berbagai pengalaman. Kenichi Inamoto, Japanis, dengannya mengalam suka duka di Banglades. Yoo Chii-wan, Korean, India jadi terasa semarak. Ah, terlalu banyak jejakku untuk di tulis di sini, kawan. Yang penting, kawan, ternyata dalam melakukan perjalanan berwisata, persahabatan dan pengetahuan bisa sekaligus diperoleh.

Maka, pergilah sebentar dari rumah. Sisakalah waktu dalam hidupmu, kawan, untuk melihat dan menikmati dunia. Hidup tidak melulu cuma harta, tahta, dan kehormatan. Dengan berdarmawisata, kawan, banyak hak yang akan kita peroleh, yang tidak akan kita dapati di bangku sekolah. Hidup adalah merangkai segala macam pengalaman di kehidupan. Hidup adalah menyiapkan diri kita membawa bekal menuju perjalanan panjang sesungguhnya; menghadap Allah SWT.

Akhir kata, aku persembahkan pertualangan muda yang mencintai kehidupan. Segalanya bagi Bapak yang sedang terbaring menuju perjalanan abadi, Emak yang begitu sabar sendirian di ruamah, Tias Tatanka yang menjagai keempat anakku; Bella, Abi, Odi, Kaka. Juga anak-anak sosiologisku di Rumah Dunia. Secuil pengalaman hidupku ini semoga bisa membuat anak-anak masa depanku belajar tentang kehidupan. (*)

 

– Konplek PDK Penancangan – April 1993

– Rumah Sakit Serang – 10 Desember 2007

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Catatan Perjalanan Asia ini pernah dimuat bersambung di majalah Anita Cemerlang sepanjang 1991 – 1992

1 Response to "GOLA GONG: THE JOURNEY"

saya belum selesai baca perjalanan asia mas. saya ingin mngucapkan terimakasih atas kiriman buku menggenggam dunianya dari serang ke leiden.

membaca tulisan ini saya ingin jalan lagi, tapi waktunya sudah habis. saya tinggal beberapa bulan lagi di belanda. tetapi paling tidak saya sudah ke belgia, jerman, spanyol, prancis, itali+belanda tentu saja. dari negara2 itu, saya sangat terkesan dengan spanyol.

di bulan2 terakhir di belanda ini saya akan mengelilingi kota-kota yang belum saya kunjungi di belanda. saya sudah membeli 5 tiket kereta, sekitar 700 ribu rupiah. sementara mei selama 4 hari saya kembali ke paris.

tadinya sebelum pulang saya ingin ke mesir dulu. tetapi waktunya sudah habis.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: