KELUARGA PENGARANG

MUSAFIR GOLA GONG

Posted on: March 28, 2008

musafir-copy_thumbnail.jpgOleh Ina Lily Ian kayla – indahjuly.multiply.com

Penerbit : MadaniA Prima (Imprint dari Salamadani Publishing House)
Editor : Krisna Somantri
Copyeditor : Nurchasanah
Desain/Layout : Emma SM
Desain Cover : Dadan Sulaeman
Halaman : 133 + x

Masih ingat kisah Balada Si Roy, karangan Gola Gong ? Kisah yang kental dengan sisi human interestnya ini bisa dibilang begitu melekat dalam hati pembacanya. Gola Gong memang pandai menyentuh hati pembaca lewat karya-karyanya yang menarik dan indah.

Sudah tak terbilang karya-karya dari penulis yang sehari-sehari bekerja di salah satu stasiun televisi swasta ini. Musafir adalah salah satu buku kumpulan cerpennya. Di buku ini terdapat lima belas ceria hasil karya Gola Gong, baik yang sudah pernah diterbitkan di media cetak ataupun belum. Lima belas cerita ini disajikan apik, menarik, dengan nuansa religi yang kental, sehingga pembacanya dapat menarik hikmahnya.

Beberapa cerita pendek yang menarik sebut saja Kidung Pagi di Pasar Klewer, yang bercerita tentang tokoh Suti, seorang penjual nasi liwet (makanan khas Solo, berupa nasi yang gurih, dengan lauk ayam, telur dan kanil, kepala santan yang dimask lama). Suti adalah seorang yang taat yang berkeyakinan bahwa segala sesuatu itu Tuhan yang mengaturnya dan hidup mati manusia terserah pada Allah SWT.

Karena itulah meski harus bekerja keras menjual nasi liwet untuk mengumpulkan uang bagi biaya operasi anak perempuan satu-satunya, karena menurut dokter usus halusnya mengalami masalah, setelah pemberian obat yang salah. Suti dan suaminya, Harno, yang bekerja sebagai satpam, hanya bisa nrimo keadaan itu, yang merupakan kehendak Gusti Allah.

Mereka juga pasrah, bahwa Tuhan akan memberikan kemudahan baginya dalam mengumpulkan biaya operasi anaknya, Sari. Jalan terang atas pengobatan anaknya terbuka lebar ketika Suti secara tak sengaja menemukan bungkusan tas plastik hitam yang berisi uang dalam jumlah yang sangat besar, yang tak pernah dibayangkan sebelumnya oleh Suti.

Karena tak tahu siapa pemilik uang tersebut dan pembeli langganannya tidak ada yang merasa kehilangan uang tersebut, Suti akhirnya menggunakan uang tersebut untuk pembiayaan operasi anaknya. Meski anaknya telah sehat, namun Suti masih penasaran siapa pemilik uang tersebut. Iapun menemukan jawabannya lewat seorang penyapu jalan berseragam biru bertuliskan LAPAS Surakarta.

Lain lagi kisah Suara Sang Bilal. Dalam kisah ini Gola Gong menyampaikan pesan bahwa kita tak boleh sombong atas kesempatan dan karunia yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Nasrul telah membuktikannya. Ia yang diberikan suara yang indah sehingga menjadi bilal yang selalu ditunggu untuk mengundang adzan, menuduh teman akrabnya, Iman melakukan guna-guna terhadapnya ketika suara kebanggaannya tak dapat dikeluarkan saat mengumandangkan adzan.

Nasrul menganggap Iman adalah saingannya. Karena itulah ia tidak rela saat Iman menggantikannya menjadi bilal. Meski Iman telah mengatakan ia akan menyerahkan posisi bilal kepadanya, namun Nasrul tidak percaya sehingga ia pun melakukan perbuatan nekat. “Akulah bilal nomor satu!

Sementara itu, Musafir, yang menjadi judul buku ini, bercerita tentang seorang pria yang mencari keberadaannya ayahnya dan dalam perjalanan, ia singgah di sebuah desa yang masjidnya tak terurus dan kampung itu sendiri sedang menghadapi masalah penggusuran karena kampung tersebut akan dijadikan perumahan elit. Dicerita Musafir ini, terlihat sekali gaya penulisan Gola Gong yang sarat dengan nuansa religi dan humanis. Diperlihatkan bagaimana taatnya Musafir dalam menjalankan ibadah, namun ia tetaplah manusia biasa yang tidak luput dari rasa takut.

Gola Gong adalah nama pena dari Heri Hendrayana Harris. Bersama istrinya, Tias Tatanka, mereka membangun Rumah Dunia (RD), sebuah pusat belajar sastra, jurnalistik, seni rupa, dan teater. Di Rumah Dunia, mereka berusaha memindahkan dunia lewat buku, dan berharap anak-anak bisa melihat dunia dari rumah lewat jurnalistik, sastra, film, seni rupa, teater dan internet. (26 Feb 2008)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

March 2008
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: