KELUARGA PENGARANG

DONGENG GOLA GONG

Posted on: March 28, 2008

ts.jpggong-bella.jpgOleh Haris Firdaus – www.rumahmimpi.blogspot.com

Seorang anak kecil pergi ke alun-alun. Di sana, ia melihat seorang prajurit TNI yang terjun menggunakan parasut. Hatinya berdebar, matanya berdecak. Anak kecil itu mungkin kagum dengan peristiwa yang baru saja dilihatnya. Keinginan pun muncul. Lalu ia pulang ke kampungnya. Di sana, ia temui anak-anak sebayanya. Mereka ia ajak bermain perang-perangan. Anak kecil itu ingin jadi jenderal.

Tapi ada anak lain yang ingin juga jadi jenderal. Setelah sempat beradu mulut, akhirnya “jabatan jenderal” akan diperebutkan dengan sebuah cara: adu keberanian melompat dari pohon. Barangkali adu keberanian model ini muncul ketika si anak melihat prajurit yang meluncur dari atas dengan sebuah parasut.Lalu adu melompat itu pun dimulai. Diawali dari pohon yang berketinggian dua meter. Rintangan awal ini, dengan mudah dilewati keduanya. Lalu ke rintangan selanjutnya: pohon yang berketinggian tiga meter. Dan rintangan ini pun dilalui oleh kedua “calon jenderal” tadi. Maka, rintangan selanjutnya disiapkan. Keduanya akan melompat dari pohon setinggi empat meter.

Si anak yang pergi ke alun-alun tadi, mendapat giliran pertama. Ia pun memanjat pohon itu. Sampai di atas, ketika berdiri di atas sebuah dahan dan memandang ke bawah, si anak tiba-tiba takut. Lalu ia terpeleset, dan jatuh. Sialnya, posisi tangan kiri si anak dalam sebuah posisi yang tak menguntungkan. Tangan kirinya kemudian patah.

Karena di desanya belum ada dokter, ia pun dibawa ke dukun. Tapi bukan kesembuhan yang terjadi. Justru pembusukan. Tangan kirinya tak sembuh dan malah mengalami pembusukan. Sampai suatu titik, tangan kiri si anak harus diamputasi. Sejak itu, si anak mesti menjalani hidup dengan satu tangan.

Cerita ini bukan sebuah khayalan, atau ringkasan sebuah film atau novel. Ini cerita sungguhan. Cerita ini, saya dengar langsung dari si anak yang akhirnya harus hidup dengan satu tangan itu. Saat anak itu bercerita, ia bukan lagi anak-anak. Kini, ia telah dewasa dan sudah bisa punya anak. Nama anak itu sekarang: Gola Gong.

Mendengar nama itu, kita tentu ingat tentang “Balada Si Roy”. Sebuah cerita petualangan yang ditulis oleh Gola Gong dan kemudian melambungkan namanya. Saya ketemu Gong ketika ia meluncurkan novelnya “Labirin Lazuardi” di Gramedia Solo, (21/6) lalu. Novel yang direncanakan terbit dalam bentuk trilogi ini, sudah sampai pada buku kedua. Sayangnya, saya datang dengan agak terlambat. Jadi, tak sepenuhnya bisa menyimak acara itu.

Tapi, saya masih bisa “mengambil” beberapa cerita menarik. Cerita yang saya tulis di atas adalah salah satu cerita yang saya ambil dari peluncuran “Labirin Lazuardi” kemarin. Ketika itu, Gong ditanya oleh seorang penulis lain, Langit Kresna Hariadi: “Kenapa tangan kiri Mas Gong sampai ‘hilang’?” Saya tak tahu, apakah pertanyaan ini pantas diajukan dalam sebuah peluncuran novel yang disaksikan begitu banyak orang. Cuma, Gong agaknya tak terkejut mendengar pertanyaan itu.

Ia pun menjawab dengan ekspresi yang biasa saja, tidak sedih, apalagi minta dikasihani. Dengan semangat ia bercerita kenapa ia mesti hidup dengan satu tangan kini. Seolah persoalan itu bukanlah persoalan yang berat buat diceritakan. Maka, cerita seperti yang saya tulis di awal tulisan ini, meluncur dari mulut lelaki yang berambut gondrong itu, tanpa ragu-ragu.

Sebab, mungkin kehilangan sebuah tangan bagi Gola Gong tak sama artinya dengan “akhir hidup”. Ia bahkan sama sekali tidak minder berhadapan dengan orang “normal”. Yang lebih mengejutkan, Gong tak pernah merasa dirinya seorang “penyandang cacat”. “Saya cuma kehilangan satu tangan saja,” ungkapnya dengan tenang.

Barangkali keputusan Tuhan sudah demikian. Dan Gola Gong pun menerima keputusan itu tidak dengan hati berat. Ia lanjutkan hidup dengan sebuah semangat yang jarang dimiliki. Bayangkan, Gong memilih meninggalkan kuliahnya dan berkelana untuk menjadi penulis!

Cerita ini tentu seperti cerita dalam dongeng saja. Tapi, ini bukan dongeng. Dan anak kecil yang bertangan satu itu, yang kemudian tidak lulus kuliah itu, akhirnya menjadi seorang penulis hebat negeri ini. Cuma, bukan itu saja: Gong juga mengelola sebuah taman baca bagi anak-anak dan remaja yang ingin belajar menulis. Ah, makin mirip saja kisah hidup Gong dengan sebuah dongeng yang memberi inspirasi bagi kita semua.

Agaknya, Gong adalah contoh betapa kerja keras adalah sebuah hal yang paling perlu ketika kita ingin jadi penulis. Sebab, Gong yang mengaku “tak berbakat menulis” itu akhirnya harus bekerja keras berkelana kian kemari untuk menghasilkan sebuah tulisan yang bagus. “Balada Si Roy” adalah contoh tulisan Gong yang ditulis dengan sebuah observasi pasrtisipan yang panjang. Dan hasilnya, bisa kita lihat.

Yah, mungkin, pendapat Nasirun Purwokartun (yang menjadi moderator acara dalam peluncuran “Labirin Lazuardi” kemarin) benar: kisah hidup Gong mungkin lebih menarik dan memberi inspirasi daripada novelnya.

Sukoharjo, 22 Juni 2007
Haris Firdaus 

2 Responses to "DONGENG GOLA GONG"

nice story
nanya mas , apakah saya bisa mengirimkan naskah untuk di edit ?
kebetulan saya punya naskah cerpen islami yang belum saya publikasikan ?
mohon petunjuknya
makasih mas

maaf mas, saat ini mas gong lagi dirawart dan diterapi di holistik pwkrta, jadi belum menangani naskah-naskah untuk koreksi. kalau mau, ke e-mail rd aja, ntar insya allah ada relawan yang bacain.
makasih
tias

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

March 2008
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: