KELUARGA PENGARANG

BERKAT CERITA ISLAMI DAN FLP HIDUP JADI BAROKAH

Posted on: January 31, 2008

keluarga-gege-2.jpgOleh Gola Gong*) Pada kurun waktu 1995 – 2000 saya mengalami kemandegan dalam menulis. Tak ada gairah. Hari-hari saya hanya diisi dengan menulis skenario. Membosankan. Kepala hanya disuruh berpikir tentang rating, revenue, dan audience share. Dan ketika mempersiapkan diri hendak menulis cerpen atau novel, begitu duduk di depan komputer, kelima jari saya tak pernah bisa menyentuh tust-tust keyboard. Tak pernah bisa merangkai kata. Tubuh terasa kaku. Hati begitu pilu. Saya ingin menulis, tapi hati ini, hati ini! Saya sudah tak berselera lagi menuliskan hal-hal yang bersifat hedonis semata.

PINGKAN
Lalu keajaiban tiba. Sekitar akhir 1999. Saat itu saya berada di Puncak, syuting drama komedi “Sang Prabu” untuk RCTI. Telepon di kamar hotel berbunyi. Suara di seberang mengaku bernama “Mutmainah”, penulis cerpen yang mahasiswi UNPAD Bandung. Dia meminta saya untuk jadi pembicara dalam peluncuran novel serialnya; Pingkan (terbitan Asy Syaamil).

“Mutmainah? Pingkan? Annida?” Jujur saja, saya tidak mengenal “Pingkan” waktu itu. Apalagi ketika mendengar nama majalah “Annida”. Saya menolak jadi pembicara, karena memutuskan tidak akan pernah “mengadili” karya orang lain. Sesama pengarang, biarlah itu jadi kekuatan masing-masing aja.

Tapi ada yang melekat di benak saya: cerita islami. Sebelum menutup pembicaraan, iseng saya katakan pada Pingkan, bahwa jika ingin mengajak saya jadi pembicara, sebaiknya Asy Syaamil menerbitkan cerita-cerita saya. Jadi saya akan hadir sebagai pengarang, bukan sebagai orang yang “mengadili” karya sesama pengarang. Saya memang tak mengkhuususkan dan tak punya kemampuan untuk melakukan itu. Ilmu saya tidak cukup. Biarlah itu dilakukan para kritikus sastra saja.

“Nanti saya sampaikan ke Halfino,” kata Muth. Dia juga tak lupa memperkenalkan tentang organisasi kepenulisan; Forum Lingkar Pena. Saya makin asing saja. Organisasi apa lagi itu? Jangan-jangan hanya “latah” akibat efek domino pasca reformasi waktu itu.

FLP
Seusai percakapan “aneh” dengan Mutmainah itu, di otak saya langsung berkelebatan, bahwa ada apa gerangan di balik “percakapan telepon” itu? Lama saya terpekur di hotel saat itu, memikirkan tentang “cerita islami”. Juga tentang majalah “Annida”. Saya sudah tidak sabar lagi ingin cepat-cepat ke Jakarta. Ada arus yang sangat kuat menarik saya waktu itu. Ada rasa ingin tahu yang besar menggelora di dalam dada.

Rasa ingin tahu saya mendapatkan jawaban ketika keesokan harinya telepon berdering lagi. Kali ini Halfino (menejer penerbitan Asy Syaamil waktu itu) memperkenalkan diri dan meminta saya untuk mengirimkan manuskrip cerita yang bernafaskan Islam. Saya bergetar saat itu. Saya berada di puncak keharuan, karena pencarian saya selama ini menemukan jawabannya. Apalagi saat Halfino memberi tahu, bahwa 50% dari royalti yang akan saya terima disumbangkan ke proyek kemanusiaan di Maluku, yang sedang bergolak saat itu. Subhanallah!

Sepulang dari Puncak, saya temui Boim Le Bon (rekan sekantor di RCTI yang juga sesama pengarang). Ternyata Boim tau banyak tentang “FLP” dan “Annida”. Bahkan dia bercerita tentang keuletan seorang Mabruri, yang mengelola “Annida”. Saya makin tertarik.

Saya langsung berburu “Annida”. Semua cerpen-cerpennya saya lalap habis. Saya mulai tahu Mutmainah dengan serial Pingkan, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia (dengan serial “Aisyah Putri”), dan Forum Lingkar Pena. Saya juga mulai “ngeh”, bahwa ternyata Islam mulai bangkit. Ternyata ada wadah untuk menampung gagasan-gagasan yang berbau Islam dalam bentuk fiksi. Bahkan lebih dari itu. Ketidaksukaan saya pada dikotomi saastra dan non-sastra tak ada di sini. Semuanya sama. Justru fungsi sosial pengarang lebih ditonjolkan. Ada perasaan bahwa sesama pengarang adalah saudara. Subhanallah, inilah yang selama ini saya cari-cari.

Di akhir 1999 itu saya sangat bersemangat sekali. Saya bongkar-bongkar “harta karun” saya. Beberapa cerpen langsung saya re-write. Al-Quran bergeletakan di meja kerja saya. Sungguh, darah saya mulai mendidih lagi. Kelima jari saya mulai tak bisa diam. Cerita islami, cerita islami, saya datang sekarang. Kepala saya seperti hendak meledak. Penuh, penuh, penuh dengan ide-ide yang ingin segera dituangkan.

Lalu lahirlah antologi berdua (bersama HTR); Nyanyian Perjalanan. Saat launching di aula Salman ITB, saya mulai bertatap muka dengan HTR, Asma, Pingkan, dan Halfino. Dada saya bergemuruh. Ada sesuatu yang lain ketika saya duduk di depan para wanita berjilbab dan para pria yang santun dan bersahaja. Saya merasa seperti berada di suatu tempat yang damai. Saya seperti terlahir kembali…

Dan ketika saya mendapat giliran bicara, tenggorokan saya seperti tersumbat. Bibir saya kelu. Keharuan menyreuak. Dada saya sesak. Ada rasa kebahagiaan yang sulit saya lukiskan. Andai saja HTR tidak menyambar mickrofon dan mengalihkan perhatian dengan topik lain, saya pasti akan menangis.

Setelah peristiwa itu, saya makin mencintai FLP dengan cerita islaminya. Lahirlah “Al Bahri – Aku Datang Dari Lautan” (Asy Syaamil), yang dijadikan mini seri oleh PT. Indika dan tayang saat puasa 2001 di TV7. Kemudian novel trilogi “Pada-Mu Aku Bersimpuh” (DAR!MIZAN), yang sukses diangkat ke sinetron ramadhan oleh Indika di RCTI pada 2001. Bahkan diputar ulang di LATIVI pada puasa 2003 lalu.

Allahu Akbar! Justru setelah saya “hijrah” ke cerita-cerita Islami, rezeki saya mengalir deras. Hidup saya justru lebih barokah setelah menulis cerita-cerita Islami yang diusung FLP. Impian saya dan istri saya mendirikan sebuah tempat belajar bagi anak-anak-anak dan remaja terwujudkan. Pada akhir 2001, kami berhasil membeli sebidang tanah di belakang rumah. Lalu Maret 2002, RUMAH DUNIA berdiri kokoh. Semua berkat rezeki dari novel-novel Islami yang saya buat.

Saya tak mempedulikan ketika mendengar dan melihat, betapa baanyak pembaca karya-karya saya terdahulu yang kecewa dan menyayangkan saya masuk ke komunitas ini. Beberapa bahkan berharap saya bisa menelorkan karya sastra setelah novel serial saya; “Balada Si Roy”. Tak apa. Bagi saya, menulis cerita Islami bukanlah hal tabu, dan menulis cerita yang dikatakan sastra bukanlah sesuatu yang mesti diagung-agungkan. Menulis bagi saya, pada akhirnya, adalah berhadapan dengan Sang Pencipta, karena kelak saya akan dimintai pertanggungjawaban oleh-Nya…

***

*) Penulis adalah novelis dan pengelola Rumah Dunia, Ciloang-Serang. Tulisan ini disertakan dalam antoloji “Matahari Tak Pernah Sendiri” terbitan Lingkar Pena Publishing bersama dengan Helvy Tiana, Asma Nadia, Fahri Asiza, Afifah Afra, Agustrijanto, Habiburrahman El-Shirazy, Abdurahman Faiz, Galang Lufityanto, Pipiet Senja, Ali Muakhir, Boim Lebon, dan masih banyak lagi. Buku bergaya “chicken soup for the soul” ini layak untuk dikoleksi.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: