KELUARGA PENGARANG

RUMAH DUNIA MENCARI DONATUR

Posted on: September 28, 2007

dindik1.jpgOleh Gola Gong

Tahun 2007 sudah diujung. Tinggal 3 bulan lagi, tahun pun berganti, 2008! Bagi Rumah Dunia sepanjang 2007 ini sangatlah luar biasa. Ada peningkatan volume kegiatan, terutama kegiatan tahunan seperti ”Ode Kampung 2: Temu Komunitas Sastra se-Nusantara”,  yang kontroversial dengan surat pernyataan sastrawan yang menolak arogansi dan dominasi sebuah komunitas atas komunitas lainnya, eksploitasi seksual sebagai standar estetika, serta menolak bantuan asing yang memperalat keindonesiaan kebudayaan kita. Ketiga point ini muncul melalui perdebatan sengit. Saat pembacaannya, saya mewakili Rumah Dunia  mengingatkan, bahwa ketiga point itu ditujukan untuk Rumah Dunia dan seluruh komunitas yang hadir di Ode Kampung.

Juga kegiatan ”Keranda Merah Putih”, 15 – 26 Agustus 2007,  yang spektakuler; kegiatan itu berhasil menekan birokrat Banten sehingga Hj. Ratu Atus Chosiyah, Gubernur Banten, datang ke Rumah Dunia untuk berdialog dan memenuhi tuntutan para komunitas seni dan baca di Banten, yang menuntut perpustakaan dan gedung kesenian.

mengarang_1.jpgLANCAR KEGIATAN
Belum lagi kegiatan tahunan lainnya seperti merayakan ulang tahun Rumah Dunia dengan tajuk ”Pesta Rumah Dunia” setiap Maret. Tahun 2007 ini bertajuk ”Enam Pesta Rumah Dunia”, yang berarti Rumah Dunia sudah berumur 6 tahun. Juga ”Pesta Anak” setiap Juli (yang keenam). Tahun 2007 pula, tepatnya Agustus, wisata study (semacam study tour), berhasil membawa sekitar 30-anak yang unggul di wisata gambar dan mengarang di Rumah Dunia ke Monas dan Pesta Buku, Jakarta. Tahun-tahun sebelumnya, wisata study hanya membawa mereka ke tempat-tempat di sekitar kota Serang saja;  mereka dibawa ke alun-alun Serang, kantor pos, dan stasiun kereta.

Kegiastan reguler seperti wisata gambar, lakon, dongeng, ekspresi, mengarang dari Senin hingga Jumat untuk anak-nak usia sekolah dasar hingga SMP berjalan lancar. Untuk evaluasi, lomba-lomba diantara mereka pun diselenggarakan. Kegiatan diskusi pendidikan, budaya, peluncuran buku, pemutaran film, pertunjukan teater, pelatihan di setiap Sabtu atau Minggu untuk pelajar dan mahasiswa bagai bah tiasda henti. Bhakti sosial berupa pemberian beasiswa dan sembako jadi bumbu penyedap.

ytc1.jpgDANA
Lantas dari mana Rumah Dunia mendanai ini? Pada Selasa, 25 September 2007 lalu, serombongan anggota Komisi X, DPR, mampir ke Rumah Dunia. Mereka mengernyitkan alis ketika mendengar pembiayaan Rumah Dunia lebih didominsi oleh zakat, infaq, dan sodakoh. Tahun 2007 ini memang istimewa. Diknas Jakarta menggelontorkan block grat sebesar Rp. 25.000.000,- Itupun kami putuskan menerima, karena pihak Diknas menjamin Rumah Dunia pasti mnereima. Kami bisa menreima dana itu, karena Rumah Dunia adalah lini sosial dari Yayasan Pena Dunia. Tapi, kami masih belum berani memasuki fase menyebarkan proposdal ke instansi pemerintah, karena masih ingin menempa mental para pengelolanya. Bagi saya ini sangat penting. Jika kita melakukan kegiatan sosial, jangan diawali dengan kesenangan, misalnya mendapatkan dana-dana dalam jumlah besar yang bersal dari APBD/APBN. Itu sama saja kami merampas hak rakyat miskin di negeri ini. Partisipasi publik yang kami lakukan, haruslah juga melatih para penelolanya mandiri.

Pernah suatu hari saya kedatanan tamu beberapa anak muda dalam kesempatan yang berbeda. Juga lewat e-mail. Rarta-rata pertanyaan dari mereka, adalah minta diajarkan membuat proposal. Mereka sangat ingin membuat Rumah Dunia di tmepat mereka. Juga mereka mneanyakan, bagaimana caranya mencai buku. Biasanya saya menyuruh mereka untuk mulai membeli buku dan membeli raknya. Lalu memulai mengoleksi buku satu demi satu dari hari ke hari, dalam hitungan tahun, seiring waktu  rak akan dipenuhi buku. Dengan melakukan itu nanti akan muncul sebuah semangat melakukan kegiatan yang muncul dari hati, bukan dari hitungan ekonomi atau angka-angka statistik. Akan muncul sebuah keyakinan, bahwa di dalam tubuh kita ini sebetulnya ada hak orang lain. Berderma kepada olranfg lain iut tidak hanya melulu dalam bentuk uang, tapi juga pikiran (otak) dan tenaga. Pikiran yang kita miliki bisa didermakan dengan cara menyelenggarakan pelatihan-pelatihan grartis, mengajari membaca, melatih anak-anak menggambqr sreta berteater atau membuat film. Sedangkan tenaga, di setiap kegiatan, membantu memberesi kursi, menyapu halaman, menbersihkan kamar mandi, dan apa pun. Itulah sebetulnya inti dari Rumah Dunia, sebagai pusat belajasr; kita saling berbagi dengan gembira dan bahagia.

Kami harus tidak antusias untuk urusan ”minta-minta” jatah ini, walaupun tentu tidak menolak jika diberi. Kami tidak memulainya dengan proposal, tapi dengan kegiatan. Pernah ada lembaga yang henhdak membantu. Mereka meminta proposal. Saya mengatakan, silahkan datang ke Rumah Dunia. Proposalnya sudah ada di depan mata. Ketika mereka datang, saya menyuruh mereka untuk merasakannya dengan hati. Proposal yang saya maksud adalah dalam bentuk tawa anak-anak yang sedang menggambar, membaca, bangunan-bangunan berupa perpustakaan, panggung, mushola, liflet kegiatan, dan arena bermain. Tapi mereka tetap meminta proposal. Kata saya, ”Jika Rumah Dunia ini sudah layak dibantu, silahkan bantu. Kami akan melaporkannya dalam bentuk kegiatan dan tentu tertulis, lengkap dengan bukti-bukti kuitasi atau nota pembelian.” Tapi, mereka ingin kami menyodorkan proposal permohonan dana dan kami menolak.

Jangan kuatir. Beberapa lembaga pernah menyumban kami seperti orang buang air besar itu. Misalnya Gramedia dan BNI memberi dana Rp. 10 jt (2006) serta buku seharga Rp. 10 jt, Femina menyumbang 1000 buku resep masakan (2005) yang kami bagi-bagikan kepada orang kampung, Telkomsel Rp. 3 jt (2005), RCTI Peduli Rp. 15 jt (2004), Yayasan Insan Cendeki (www.tunascendekia.org) berupa 3 komputer dan infocus, Tomkins dan Evalube berupa komputer dan printer (2005), Indonesia Membaca dan Pro XL berupa 1 komputer (2005), Marissa Haque menyumbankan koleksi ensiklopedi ” The New Book of Knoledge” (2206), Penerbit Lingkar Pena dan Mizan dengan buku-buku terbitannya, 1001 Buku, British Council, Kelompok Pengarang Remaja Gramedia seperti Hilman, Boim, Adra, zarra, Arini, Gustin, Bubin menyumbangkan royalti buku ”Kupu-kupu Tak Berkepak” (2004), Halim HD networker kebudayaan asal Solo meyumbang 200-an buku koleksinya (2004), Zulkieflimanyah 2000-an buku cerita edisi  Inggris (2007) dan Dindik Banten  berupa satu set sound-sistem (2005). Alhamdulillah, mereka datang ke Rumah Dunia untuk survey dan seminggu kemudian barang diantar tanpa perlu prosedur berbelit-belit dan proposal. Insya Allah, barang-barang itu dipakai untuk pengembanan pendidikan anak-anak yang aktif di Rumah Dunia.

Tapi kami berbagi cerita. Ikhwal bantuan block grant dari Diknas, kami menerimanya setelah tawaran itu berulang-ulang dilontarkan. Kami akhirnya berkompromi membuat proposal program. Itu pun setelah kami mendapat kepastian, Kami mendapatkan dna tipe B, Rp. 25 jt. bahwa dna itu akan cair. Laporan pertriwulan pun kami berikan kepada Diknas. Kami pikir, tahun 2008 akan mendapatkan lagi block grant, dana stimulan berkelanjutan. Tapi ternyata tidak. Menurut anggota DPR, Komar yang pelawak iu, dana block grant hanya sekali diberikan. Itu adalah bentuk pemerataan. Bagi saya, itu artinya, pihak Diknas tidak peduli apakah lembaga seperti Rumah Dunia yang mendapatkan dana itu bekembang dan maju atau mati sunyi sendiri. Itulah kenapa setiap dana seperti block grant terdengar ke mana-mana, lembaga-lembaga/komunitas baca muncul seperti jamur tanpa perlu riwayat hidup suka dan dukanya. Malah saya mendengar dari bebrapa pengurus Forum Taman Baca Indonesia, ”Beberapa anggota DPR malah meminta jatah untuk komunitas di tempat tinggalnya!” Apalagi tahun 2008 nanti, Banten ketiban rezeki sebanyak Rp 7 Milyar untuk pengembangan perpustakaan. Di Radar Banten tiap hari selama puasa 2007 ini muncul iklan berupa banner ukuran 5 kali 33 centi bertuliskan: BELAJAR BACA DAN TULIS ADALAH IBADAH. Iklan itu terselenggara berkat kerjasama Dindik Banten dan Gerakan Nasional Percepatan  Pemberatasan Buta Aksara. dan Saya tidak tahu, apakah Rumah Dunia akan kecipratan atau tidak, walaupun anggota DPR sudah datang ke Rumah Dunia!

Urusan uang ini memang bagai bara api. Didiamkan mengepul tak mau padam, digenggam bikin sakit tangan. Jika tidak hati-hati bisa jadi fitnah. Bagi saya, ini lebih pada penanaman mental agar mandiri, bahwa menggali dana dari APBD/APBN bukanlah tujuan utama Rumah Dunia. Bagi saya ini sangat penting. Sebagai anak muda, mereka harus dilatih berhasil mengatasi kesulitan. Mereka harus belajar dari  kesulitan, karena ketika menjadi pemimpin, mereka nanti akan ulet dan liat serta tidak memiliki mental pengemis. Tapi, kami lebih memilih menggali potensi zakat, infaq, dan sedekah dari siapa saja yang ingin membantu Rumah Dunia secara ikhlas. Jika tidak, kocek sendiri! Saya ingat omongan Emak, ”Rumah Dunia ’kan kemauan kamu. Yah, biayain sendiri! Kalau minta dana dari APBD/APBN, untuk apa ada lembaga formal? Kasihan pemerintah. Kecuali kalau kamu dikasih atau mengajukan ke pihak swasta.”

Betul juga yang dikatakan oleh Emak. Rumah Dunia kini mulai mencoba larak sana-sini, misalnya dana-dana SCR (social corporate responsibility), walaupun belum melakukannya.  Di Banten begitu banyak perusahaan bertebaran. Sabarlah. Bagi kami sementara ini menulis kumpulan cerpen atau novel lebih mengasyikan, dimana nanti 50% royaltinya disubsidikan ke kas Rumah Dunia. Atau memaksimalkan saja potensi yang ada. Berkegiatan saja yang benar. Siapa tahu nanti mereka melirik, terketuk hatinya, dan tanpa berbelit-belit menyumban. Bagi kami, menyumbang itu harus seperti orang sedang buang air besar. Setelah usai, disiram, dan tidak ditengok lagi! Mencari orang/lembaga sepreti ini memang sulit, tapi yakinlah itu tetap ada. Allah akan menunjukkannya nanti.

MURNI KEGIATAN
Alhamdulillah, sepanjang 2007 ini pembiayaan kegiatan Rumah Dunia terbantu oleh para donatur yang tidak mengikat. Konpensasinya, biasanya jika perusahaan yang menyumbang, logonya kami sertakan di spanduk, liflet, dan bentuk promosi lainnya. Jika perorangan, kami laporkan di ”Brankas” situs www.rumahdunia.net. Para donatur pun bermunculan; datang dan pergi. Mulai dari donatur rutin  para pejabat Dindik Banten sebesar Rp. 300.000,-/bulan, koran Radar Banten sejumlah Rp. 200.000,-/bulan, H. Embay Mulya Syarief Rp. 200.000,-/bulan, dan Ferry ”Trekker’ di Yogya Rp. 200.000,-/bulan. Donatur dadakan juga datang dan pergi. Zulkieflimanyas, setelah tidak terpilih jadi Gubernur Banten, beberapa kali di awal 2007 mentransfer uang Rp. 1 jt/bulan, Penrebit Tiga Serangkai Solo mendukung sebesar Rp. 2,5 jt, Koran Jurnas Jakarta Rp. 5 jt untuk Ode Kampung 2, Jack La mota yang bekerja di Dubai, Sal (milis watan sabah) di Singapura, Fahri Asiza (novelis), Saefudin Noor (Direktur Bank Muamalat), Mizan, Gramedia, dan masih banyak lagi donatur perorangan yang tidak ingin disebutkan. Jumlahnya bervariasi; dari Rp. 50.000,-  hingga Rp. 1 jt.

Dari sumbangan tidak mengikat itu – kami tetap diberi kebebasan mengatur dapur sendiri, karena itu disesuaikan dengan iklim sosial-budaya masyarakat Banten yang sedang tumbuh belajar terhadap jurnalistik, sastra, rupa, teater, dan film, Rumah Dunia mengelinding. Uang-uang yang masuk tidak kami pergunakan untuk biaya makan, apalagi honor bagi para pengolanya. Para relawan di Rumah Dunia mendapatkan insentif dari honor-honorsebagai pembicara (25% disubsidikan ke Rumah Dunia) serta honor penulisan cerpen dan novel. Untuk makan seta keseharian mereka, apa yang kami makan iutlah yang mereka makan. Ini penting dikbarkan, agar para donatur merasa nyaman, bahwa uangnya munrni dipakai untuk kegiatan Rumah Dunia, yang mengakar kepada jurnalistik, asyra, rupa, teater, dan film.

Bagi saya yang paling luar biasa, sepanjang 2001 – 2006, dari uang-uang yan masuk, Rumah Dunia berhasil menyisihkan uang untuk mencicil dua buah motor sebagai kendaraan operasional. Dengan dua motor dinas itu, penyebaran liflet dan undangan yang bagaiair bah setiap bulannya jadi lebih mudah. Relawan seperti Muhzen Den (Fakultas Sastra untirta Serang) dan Roy (kelas 2 SMA PGRI 1 Serang), Ain (kelas 2 MTsN Serang), Sauni (kelas 3 SMP PGRI 2 Serang), dan Rostini (MTsN Serang). Bahkan 2007 ini, kami berhasil menganggarkan dana untuk internet. Kini ”memindahkan dunia ke rumah” komplet sudah, tidak hanya lewat jurnalistik, sastra, rupa, teater, dan film saja, tapi juga internet.

DONATUR 2008
Kini kas di Rumah Dunia melompong kosong plong. Habis dan ludes. Tak bersisa. Ada dua kegiatan tahunan lagi menanti; Kado Lebaran (7 Oktober) dan menu penutup tahun; Detik Akhir Detik Awal serta kembali memulai kegiatan reguler di tahun 2008 serta tahunan seperti Tujuh Pesta Rumah Dunia (Maret), Pesta Anak ke-7 (Juli), Ode Kampung jilid 3, Keranda Merah Putih ke-4 (Agustus), pameran lukisan, pembuatan film indie, dan pertunjukan teater. Untuk ”Kado Lebaran” kegiatannya berupa lomba mengarang, pembacaan puisi, dan menggambar. Hadiahnya buku dan uang kadedeh untuk lebaran masing-masing sebesar Rp. 5000,- hingga Rp. 10.000,-

Dana rutin yang sudah pasti masuk perbulannya dari koran Radar Banten Rp. 200.000,-, H. Embay Mulya Syarief Rp. 200.000,-, Fahri Asiza Rp. 100.000,-, para pejabat Dindik Banten Rp. 300.000,- Totalnya Rp. 800.000,- Sedangkan biaya operasional dan kegiatan rutin setiap bulan sebesar Rp. 3 jt! Jika ada lembaga atau perorangan yang tertarik menjadi donatur, kami dengan sangat senang dan tentu berbahagia menerimanya. Silahkan kirim ke rekening di bawah ini:

BCA Serang
Norek: 245 – 188 – 5733
Atas nama Asih Purwaningtyas Chasanah

BRITAMA Serang
Norek: 0084-01-034-240-505
Atas nama Yayasan Pena Dunia atau Heri Hendrayana Harris

Bank Muamalat Serang
Norek: 908-5999-799
Atas nama Asih Purwaningtyas Chasanah

Jika perusahan, mulai dari Rp. 500.000 – Rp. 2 jt, konpensasi yang kami berikan adalah pemuatan logo perusahaan di situs kami; www.rumahdunia.net, liflet kegiatan, adlip  di setiap kegiatan, dan brosur Rumah Dunia yang rutin dicetak oleh Suhud Media Promo. Pengeluaran atau pertanggungjawaban akan rutin kami laporkan di ”Brankas” www.rumahdunia.net.

Tapi, Rumah Dunia menerima juga sumbangan dalam betuk barang, seperti yang dilaukkan oleh DAIHATSU, yang menyumbagn 200-an tas serta alat-alat sekolahnya (2005). Bisa langsung datang ke Rumah Dunia di komplek Hegar Alam No. 40, Kampung Ciloang, Serang 42118-Banten, Tlp: 0254 – 224955. Silahkan juga mnberi kabar di 081513310132 (Tias) atau email japri ke rumahdunia@yahoo.com.

Begitulah, Kawan yang budiman.
Jika ingin berbuat kebaikan, maka segerakanlah.
Denan begiut, kita sudah ikut terlibat dalam membuat orang lain bahagia.
Bukankah ”Menjadi berguna jauh lebih penting dari sekedar menjadi orang penting”?

Salam dari kampung!
***
 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

September 2007
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: