KELUARGA PENGARANG

BICARALAH TANAH, BERPIHAKLAH PADA PETANI

Posted on: September 25, 2007

Oleh Gola Gong

”Tanah tidak untuk mereka yang duduk ongkang-ongkang menjadi gemuk karena menghisap keringat yang disuruh menggarap tanah…,”

Delapan aktor muncul di panggung yang berlantaikan tanah lempung basah. Si lelaki bertelanjang dada membawa perkakas golok, arit dan cangkul, sementara si perempuan berbalut kain dan bersanggul. Mereka meronta-ronta, menggeliat, membenamkan diri dalam tanah sambil mengeluarkan suara-suara, yang menggedor-gedor relung sukmaku. Aku seperti sedang berada di alam Banten tahun 1882 – 1888. Para aktor menjelma para petani Banten di dalam ”Pemberontakan Petani Banten 1888”. Mereka memrotes kenapa dimiskinkan penguasa kolonial waktu itu sambil memukulkan parang dan cangkul sehingga suaranya trang tring tring menusuki ulu hati, berlompatan mengamuk memuncratkan dua truk tanah lempung basah kecoklatan ke udara

SENSASI
Ketika menonton pertunjukkan Teater Studio Indonesia dengan lakon ”Bicaralah Tanah” karya Nandang Aradea di teater terbuka Radio Dimensi, 12 Juli 2007 lalu, terasa sekali dada ini sesak.  Ya, betapa sesak. Aku teringat pertunjukan Teater Payung Hitam dengan judul ”Kaspar” sekitar tahun 1993 di Audiorium ASTI Bandung, yang berkolaborasi dengan (alm) Harry Roesli. Jika Rachman Sabur menggunakan set panggung belantara beton dari pipa-pipa serta para aktor botak bercelana dalam saja meluncur dan jumpalitan di sana, ditambahi beberapa peralatan audio visual sehingga terkesan multi dimensi dan futuristik, serta penonton di tribun berjarak dengan para pemain, membuatku jiwaku berguncang dan dadaku sesak dengan situasi negeri ini yang sedang diteror budaya konsumerisme dan hedonisme. Sedangkan lewat Bicaralah Tanah, Nandang justru mengabaikan hukum-hukum panggung dan menyeret-nyeretku untuk kembali ke kampung halaman; aku jadi merindukan lumpur basah, irigasi, bebegig, dan wangi padi menguning.

”Aku menggunakan pendekatan biomechanic. Dimulai dengan destrukturisasi panggung,” Nandang  bicara tentang proses kreatifnya. Lantai panggung adalah dua turuk tanah lempung basah seolah persawahan yang diangkut dari Pontang,  para penonton yang membentuk setengah lingkaran sehingga terjalin hubungan erat dengan para aktor di panggung ibarat teater rakyat Lenong atau Ubrug. Yang paling unik, latar belakang panggung dari bambu-bambu dibungkus jerami menyerupai belantara  kehidupan yang ruwet dimana dipuncaknya para nayaga yang dipimpin Rohendi membumbui pementasan dengan angklung buhunnya, bebegig, dan segala unsur bebunyian khas petani di sawah; mulai dari calung, jangjawokan, suling, hingga keprak, menjadikan pementasan terasa mencekam. Aku menemukan realitas dan metaphore tumpang tindih di sini. Realitas yang diwujudkan Nandang di atas pentas, dimana aku sebagai penonton bisa terlibat. Ada semangat kebersamaan di sini.

Nandang mengaku menemukan Vsevolod Emilevich Mayerhold (1874 – 1940), yang mementingkan simbolisasi dalam berteater. Simbolisasi itu ada pada gerak tubuh para aktornya dengan bantuan peralatan seperti golok, arit, dan cangkul. Mayerhold mengembangkan beberapa bahasa tubuh bagi aktornya untuk melakukan emosi dan karakter secara spesifik. Nandan menerapkan itu pada kedelapan aktornya. Aku pikir, pasra aktor itu berhasil mewujudkannya dan memberikan sensasi tersendiri bagi penonton sepertiku.

Ya, aku merasakan banyak sensasi saat menonton Bicaralah Tanah. Ini sama rasanya ketika aku sarapan seharga Rp. 3500,- dengan menu nasi uduk plus bakwan, kroket, bihun yang biasa dijajakan keliling kampung Ciloang oleh Bik Saripah ketimbang melahap burger atau pizza.  Darahku bergolak, karena baru kali ini ada sebuah institusi pers (radio pula) memersilahkan ruang pribadi berupa halaman depannya dijadikan ”ruang publik” untuk pementasan teater. Pemilik radio Dimensi sudah berpihak kepada masyarakat yang bosan menonton sinetron dan  Nandang berpihak kepada petani. Bagiku, ini sindiran halus atau unjuk rasa seniman kepada para pemegang kebijakan, yang tidak peduli betapa pentingnya sebuah gedung kesenian. Saat ”Keranda Merah Putih Rumah Dunia” pada 15 – 26 Agustus, para pelaku seni dan baca di Banten menuntut pembangunan gedung kesenian dan perpustakaan. Tapi  Nandang sendiri tidak peduli apakah pengusa akan membangun gedung kesenian atau tidak.. ”Bagi saya, ada atau tidak ada gedung kesenian, pementasan bisa di mana saja! Di aula sekolah dan kampus, di lapanan bola, di gudang, bahkan di halaman sebuah kantor! Sensasinya ada di sana!”

Ini menggembirakan. Sensasi bagi seniman sangatlah penting. Itu sebuah rasa yang menggejolak, penuh gairah, tak berbatas ketika hasil karya seniman direspon orang lain. Seniman memang harus terus mencipta tanpa merasa dibatasi ruang dan waktu, agar sensasi-sensasi itu terus bermunculan dan bisa dinikmati. Apalagi ketika aku tahu, Nandang mengamen; dia memboyong ”anak-anak sosilogisnya” ke CCF Bandung 3 Agustus 2007 dan Pusat Kebudayaan Rusia 20 Agustus 2007. Di CCF Bandung, 3 truk tanah liat alias lempung digelontorkan. Baru kali pertama itulah CCF Bandung diijinkan dikotori tanah yang asli tanah made in God! Kata Nandang di buletin teater ”Acting” edisi 06/Tahun I/September 2007, ”Di Pusat Kebudayaan Rusia Jakarta adalah akhir dari proyeksi rencana pentas paket pertama setelah pentas di Serang dan Bandung. Ini akan terus diagendakan untuk selalu dipentaskan dalam kurun waktu lima tahun ke depan.” Itu juga sensasi. Bahkan kolosal dan menjadi snagat sensasional!

PENUH RESIKO
Bahkan sensasi itu bisa terasa ketika melihat kedelapan aktor; mereka adalah Farid Ibnu Wahid, Budi Wahyu Iskandar, Dian Sacitra, Arip FR, Remaya, Ina Ayu Agustina, Ade Fitri, dan Iroh Munawaroh, yang begitu alot, kuat, memiliki dedikasi yang tinggi terhadap dialog yang realis dan gerak tubuh yang metafora, serta siap menempuh resiko apa pun. Terbersit harapan akan masa depan teater di Banten yang cerah. Toto ST Radik dan Dadi RsN pasti berbahagia melihat gejolak perteateran ini. Bahkan Rumdanu Chai alias Danu Khayangan, pasti akan tersenyum cerah di langit sana, karena teater kini sedang menjadi trend di anak muda Banten. Merekalah peletak dasar-dasar teater modern di Banten sejak era 1980-an. Mereka menyambangi sekolah-sekolah; mereka membagi-bagikan ilmunya. Kini hampir setiap bulan selalu ada pertunjukkan. Pada Agusus 2007 saja tidak hanya pementasan Bicaralah Tanah, tapi ada Festival Teater Pelajar se-Banten (23 – 26 Agustus 2007), Badut-badut garapan Teater Kain Hitam (10 – 12/8/07). Konser Putih (25/8/07) dan Wekwek (1/9/07) oleh Teater Wajah Stikom Wangsajaya.   Untuk agenda Desember 2007 ada pementasan Nu Jaradi Korban olahan Teater Wanten asuhan Dadi RsN dan Sepekan Resital Aktor Monolog.

Ya, kini anak muda gemar berteater. Ada yang baru belajar, coba-coba, dan mendalami. Tapi, menonton pertunjukan Bicaralah Tanah sangat luar biasa dan penuh resiko bagi aktor serta penontonnya. Belum pernah aku melihat pertunjukan teater di Banten dimana para pemainnya begitu total dan bermain sepenuh jiwa serta siap mengambil resiko atas tubuh. Bahkan penontonnya pun harus menanggung resiko terkena percikan lumpur atau siapa tahu golok, arit, dan cangkul yang dibabatkan para aktor terlepas dari tangan  mereka karena licin oleh lumpur dan mengenai penonton. Seram juga jika mengingat itu, karena sepanjang menonton Bicaralah Tanah, aku harus waspada dengan kemungkinan golok mencelat dari tangan si aktor saat disabetkan!

Ya, pertunjukan Bicaralah Tanah mengandung resiko! Para aktor tidak sungkan berkubang lumpur, rambut berlumuran tanah, wajah belepotan dan mungkin saja mata mereka kelilipan, bahkan si perempuan rela tubuhnya dikubur! Melihat mereka, aku optimis terhadap pergerakan teater Banten di masa datang jika spirit generasi mudanya seperti mereka. Berhati baja dan memiliki kekerasan hati untuk merubah nasib dirinya, tapi juga lembut karena sentuhan seni. Aku yakin, kelak akn tumbuh generasi muda Banten yang berkarakter berkat teater; mereka akan menjadi  generasi cerdas dan kritis. Mereka begitu berani mengambil resiko berteater dengan menggunakan alat-alat sesungguhnya; golok, cangkul dan arit, yang mereka babat ke sana ke mari, mereka pukulkan. ”Teater Nandang memang penuh resiko,” kata Arif Senjaya, juru bicara Studio Teater Indonesia.

REALIS-ABSURD
Aku terus menikmati pementasan yang dibagi dalam 19 Act (babak) di naskah aslinya. Kata Nandang, naskah sudah sekitar 7 kali direvisi. Aku berandai-andai, ini seperti live performance gado-gado ala televisi di pementasan teater. Para aktor memerankan berbagai karakter; mereka ada yang menjadi petani, ulama, bahkan kompeni. Dalam bahasa soap opera (sinetron ala Indonesia), kisah di Bicaralah Tanah adalah multiplot dan para aktornya memerankan berbagai tokoh dan karakter alias double casting. Dialog-dialog mereka realis, tidak simbolis seperti Arifin C. Noor atau minim kata seperti Samuel Becket. Aku pernah menonton ”Menunggu Godot” karya Becket di Bandung saat mahasiswa (sekitar 1983-an). Dialog-dialog Becket selain efektif juga simbolik. Tadinya aku berharap akan menemukannya di Bicaralah Tanah. Tapi tidak. Dialog-dialog yang meluncur dari para aktor seperti air bah, dijejali amarah dan protes pada ketidakadilan terhadap penguasa, dan langsung membetot-betot penonton pada sejarah dimana para petani sejak dulu selalu dimiskinkan! Aku tahu, Nandang sedang menerorku sebagai penonton. Nandang mengaku, ”Selain menyutradarai pemain, aku juga menyutradarai penonton.” Antara para aktor dan penonton ada semacam keterlibatan emosi. Penonton pasti akan merasa terancam ketika para aktor menyabetkan arit, golok dan cangkul. Di tengah pertunjukkan, Nandang memersilahkan penonton menginterupsi dengan pindah posisi, misalnya.

Bagi Nandang, Bicaralah Tanah adalah komentarnya terhadap realitas di Banten. Dari proses pemmbacaan ”Geger Cilegon 1888” lalu jadilah Bicaralah Tanah. Nandang memang ingin mengambil ruh peristiwa sosial dan budaya itu dengan cara realis di dalam dialog dan dramaturgi yang bergerak maju dan absurd atau simbolik di tubuh. Dalam karya sastra, dikenal alur dan plot. Alur adalah phisiknya dan plot adalah ruhnya. Di dalam Bicaralah Tanah, aku menemukan alur maju pada pada dialog para aktor yang multi karakter dan plot (alias ruh) pada gerak tubuhnya. Nandang menambahkan, “Aku mempersepsi tubuh tidak sebatas organic, tapi tubuh sebagai situasi – arkaik purbawi. Aku lebih pada impresi tubuh, bukan pada karakter tunggal. Masalah dialog, aku menghindar metafora. Sebab Arifin C Noor  adalah masternya dialog. Aku pilih realis. Bagiku, metafora ada pada tubuh, benda-benda, lampu, irama, pukulan” Arif Sanjaya menambahkan, ”Bicaralah Tanah adalah jenis teater yang menawarkan kebaruan, yaitu perpaduan realis dan absurd.”

TERTINDAS
Ya, aku merasakan itu. Dialog-dialog yang sengaja dibangun Nandang adalah sesuai dengan realitas sosial politik kekinian di tanah Banten, dimana kita melupakan para petani, yang sudah menyebabkan nasi terhidang di meja makan. Hatiku tersentuh kala mendengar suara-suara dari mult para aktor. Sedangkan otakku berpikir keras saat mersakan geliat tubuh mereka yang simbolik.

Hasdilnya, aku jadi gelisah sepanjang pertunjukkan Bicaralah Tanah.  Aku merasakan penderitaan para petani Banten yang miskin sandang, pangan, dan pendidikan. Tertangkap kesan, Nandang sedang marah kepada Belanda dan juga pemimpin di negeri ini yang ternyata kekejamannya seperti Belanda. Jika meminjam bahasa penyair Aceh, Fikar W. Eda di kumpulan puisinya brejudul ”Rencong” (Kasuha, 2003), para penguasa di Banten bahkan di negeri ini ”melebihi Belanda” kekejamannya. Mereka (baca : penguasa dan pengusaha) membiarkan para petani hidup melarat dan sekarat. Mereka tidak pernah berkaca pada kisah Ki Wasyid yang mengobarkan ”Geger Cilegon 1988”. Nasi aking yang dikonsumsi para petani tidak menjadikan mereka prihatin, malah ditanggapi sebagai bentuk kebiasaan sehari-hari. Mereka lupa, bahwa nasi aking adalah simbol kemiskinan. Jika dibenturkan dengan ayam yang dikonsumsi pegawai negeri, yang juga bentuk kebiasaan sehari-hari tapi itu adalah simbol kemapanan. Begitu paradoks. Di Serang, Andi Sujadi, wakil Bupati, menanggapi rakyatnya di Kasemen yang makan nasi aking sebagai bentuk kebiasaan. Di Cilegon, Tubagus Aat, walikota Cilegon, marah bukan kepalang dengan pemberitaan koran Radar Banten sepanjang Agustus-Septemer 2007, tentang warga Cilegon yang selama 3 bulan makan jantung pisang, karna tidak mampu beli beras. Bahkan Aat memerkarakan Iqbal, sebagai nara sumber yang mengomentari kemiskinan di Cilegon serta wartawan Radar Banten, Ratu Felia, yang menuliskannya. Aku sebagai rakyat jadi nyinyir melihat prilaku para pemimpin kita, yang ketika masa kampanye menghambur-hamburkan uang milyaran rupiah serta mengatasnamakan rakyat. Kata Toto ST Radik di puisi ”Rakyat” dalam kumpulan puisi  Jus Tomat Rasa Pedas (Sanggar Sastra Serang, 2003) menulis: menjelang pemilu/rakyat dilamar dinikahi/dengan mahar seribu janji//sesudah pemilu/rakyat dicerai diludahi/dijadikan ganjal kursi.
 
Aku gelisah melihat Nandang memrotes kebijakan Pemerintah Provinsi Banten, bahkan juga Indonesia, yang tidak pernah berpihak kepada petani. Sudah lama aku meratapi bumi Banten dengan persawahannya yang subur, tapi petaninya tetap sja miskin. Mereka tidak memakan nasi yang mereka tanam. Bahkan beras impor yang katanya demi mengimbangi stok beras menghancurkan mereka. Pada tahun 2007, sekitar 500.000 ton beras dari Vietnam masuk ke Indonesia dan sebanyak 6.500 ton beras dibawa oleh Kapal MV Ha Dong dan dibongkar di Pelindo II pukul 22.00 WIB pada 12 Maret 2007. Peristiwa ini semakin menguatkan dugaan, bahawa petani memang dipinggirkan. Bias saja jadi alas kaki atau sandaran kursi.

Lihat saja kota Serang, yang berarti sawah. Kini Serang tidak lagi sebagai lumbung padi. Serang  berganti industri. Pucuk-pucuk padinya berganti cerobong pabrik.  Industri ternyata tidak membahagiakan para petani Banten. Justru sebaliknya, para petani Banten tercerabut dari akar budayanya. Mereka tidak pernah diajarkan ketrampilan industri. Mereka tidak pernah dipersiapkan untuk menghadapi mesin industri. Itu seperti seduh langsung dimakan. Jadinya, industri terasa seperti kopi pahit yang tak mampu mengganjal rasa lapar mereka. Yang terjadi, setelah sawah-sawah dijual (dengan paksaan dan intimidasi), uangnya mereka jadikan modal untuk pergi haji. Sepulang dari haji, mereka mewariskan motor untuk dijadikan motor ojek oleh anak-anaknya. Atau paling sial, mereka beralih profesi jadi pemulung. Hal seperti ini sudah biasa terjadi di Serang, Banten. Para petaninya miskin dan tidak punya sawah lagi. Mereka kalah bersaing di era global. Industri menggilas mereka.

Yah, Pikiranku melayang ke mana-mana. Ke para petani di Ciujung, Serang Timur. Aku pernah mendengar cerita dari mulut tua renta, hampir mati. Dia menggenggam tanah sambil meratap, ”Aku takut untuk bicara. Aku lapar. Sawahku musnah dicuri para tengkulak. Sungaiku kena limbah pabrik. Kerbau digantikan kuda besi made in Japan. Pucuk-pucuk padi berganti cerobong.” Begitulah petani di Banten. Mereka sudah lupa dengan wangi padi menguning.

Aku tidak pernah mengerti arti keserakahan, siapa yang mula menaburkan dan pada jenis apa bersemai. Yang kupahami adalah, industri menggilas mereka. Kaum kapitalis di era globalisasi ini tidak memberdayakan para petani, tapi justru merampas hak-hak mereka atas tanah. Jika di jaman kolonial, Belanda menjerat mereka dengan pajak yang tinggi dan melarang melakukan aktivitas keagamaan seperti melarang adzan dikeraskan karena mengganggu, di era pasar bebas para pemimpin kita membunuhi mereka dengan cara membuka kran beras impor, harga pupuk yang mahal serta memberi izin pendirian pabrik di lahan-lahan produktif.

Begitu pun setelah Banten jadi provinsi pada tahun 2000. Mereka tidak pernah berkaca pada sejarah ”pemberontakan Petani Banten”, yang dimotori oleh Ki Wasyid. Para pejabatnya asyik-masyuk dengan tahta dan harta. Mereka melupakan siapa yang menyebabkan anak-anak mereka selalu kenyang setelah makan. Bahkan mereka mengijinkan beras impor masuk ke Banten.  Untung saja petani di Banten berhati lembut, yang tidak menuntut macam-macam, walaupun hati mereka terluka atau dilukai. Mereka sebetulnya hanya ingin pemerintah menaikkan harga gabah dan pupuk murah saja, tapi itu pun tidak dipenuhi. Aku mengibaratkan, para petani di Banten tidak pernah memakan hasil panen yang mereka tanam sendiri.

Latas, apa gunanya sawah? Apa manfaatnya tanah bagi rakyat Banten? Lio-lio pembakaran bata dan genteng masih terselip di lahan-lahan tidur mereka, padahal sungai meliuk-liuk di antaranya. Pemerintah kita tidak pernah mengajarkan sistem irigasi yang baik kepada para petani, padahal para pendahulu mereka sepeti Sultan Agung Tirtayasa sudah mewariskan Tasik Kardi di Banten Lama, yang menyuburkan persawahan di sekitarnya. Pemerintah kita tidak pernah ikhlas meminjamkan modal kepada para petnai untuk bisa membeli pompa, pupuk, traktor, dan bibit unggul padi. Pemerintah memang sengaja menyia-nyiakan mereka, karena jawaban paling mudah bagi ketiadaan pangan adalah dengan beras impor.

Lantas, apa gunanya lagi sawah?
Lantas untuk apa predikat petani disematkan ika sawh tak ada lagi?

Itulah yang dicoba sutradara Nandang Aradea, dosen Sastra Universitas Tirtayasa Serang dengan ”Bicaralah Tanah”.  Lewat pementasan yang diproduseri Agus Faisal Karim dan Bagus Bageni dari Konsorsium Pembaharu Banten ini, Nandang ingin membangun tradisi keberpihakan kepada yang lemah. ”Melalui teater, saya ingin membangun tradisi keberpihakan, berpihak pada yang tertindas,” Nandang bicara dengan tegas.

Nandang membangun Teater Studio Indonesia dengan landasan dasar teater sosial. ”Teater untuk penyadaran manusia pada perubashan sosialnya,” tegas Nandang. Pementasan teater ini adalah komentar keberpihakan Nandang terhadap realitas sosial di Banten. Di Banten bahkan negeri ini yang tertindas adalah orang miskin. Petani adalah orang miskin, padahal dia pewaris tanah di republik ini. Jika ki Wasyid lewat ”Geger Cilegon 1988” mewariskan keberpihakan itu, Banten kekinian justru kebalikannya.

Para petani kini sendirian, ditinggalkan oleh ulama dan umaronya.
Para petani jadi objek eksploitasi kita.
Kemiskinan mereka diprejualbelikan di rapat-rapat anggaran.
Motto iman dan taqwa hanya jadi isapan jempol belaka.

Sekali lagi, sekedar mengingatkan saja, lantas apa gunanya sawah? Atau jangan-jangan, kita semua sedang bersiap-siap mengganti tanah dengan pavling block dan menu nasi denan keju! Lalu kita rayakan dengan membaca sebuah sajak ”Petani Tertawa karena Buncit Perutnya” (Bebegig, LiST Seragn, 1998) karya Tias Tatanka:

Petani tertawa buncit perutnya bergoyang
Isinya angin dan air mata
Desaku kekeringan air mata
Mata air tak bisa keluar
Sawahku hanyut diterpa angin
Burung-burung pindah tak punya sarang
Gembala melego seruling kerja jadi buruh di  kota
Petani tertawa anaknya tak sekolah
……

***

*) Kampung Ciloang, 17 September 2007
*) Penulis adalah pengelola komunitas Rumah Dunia dan pengarang.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

September 2007
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: