KELUARGA PENGARANG

LUMBUNG BANTEN DAN GEDONG NEGARA

Posted on: September 20, 2007

bukuku-2.jpgOleh Gola Gong

Rumah Dunia ada baik place – realized dream I always had, giving and sharing knowledge together, Gratulations! Saya mau kembali soon. Terima ksih to Enek and Aki for the enak makanan. 

 TURIS NYASAR
Catatan kecil gado-gado di atas ditorehkan Victor Jaschke, turis nyasar asal Austria, yang memanfaatkan waktu akhir pekan di Banten. Dia dibawa Iwan Nit Net dan Alfaris, dua budayawan Banten pada Minggu (16/7/07), menjelang Mahgrib. Saat itu di Rumah Dunia baru saja usai pelatihan perpustakaan oleh Firman, alumnus Jurusan Perpustakaan Universitas Indonesia, Depok.

Victor ternyata tidak sekedar turis nyasar, tapi film maker yang sedang membuat film drama dokumenter di Jakarta. ”Saya capek di Jakarta. Ingin berlibur di Banten. Kebetulan teman saya pernah kuliah sama-sama dengan Alfaris di UGM,” Victor  menjelaskan. Dia bermalam di rumah Bu Piah, penduduk asli Ciloang, persis di depan pintu gerbang Rumah Dunia. Sekitar pukul 21.00 WIB, selepas tarawih, kami memutar film ”Jejak Multatuli” dan ”Padi Memerah”. Firman Venayaksa, Piter Tamba, Ferry Benggala, Aji Setiakarya antusias. Victor memberi masukan dan berjanji Oktober mendatang akan datang lagi ke Rumah Dunia memberikan pelatihan film.

PENYIMPANAN
Senin (18/9/07) pagi, saya menemaninya jalan-jalan keluar-masuk gang kampung Ciloang dan menyusuri pematang sawah ditemani Abi. Kebetulan saya sedang masa pemulihan. Selama 5 hari saya di rawat di rumah sakit Krakatau Medika. Dokter menyarankan saya jalan-jalan pagi, agar pengapuran di tulang punggung tidak menyebar dengan cepat. Victor merasa surprise melihat perkampungan Ciloang dan berkenalan dengan para wanita kampung yang sedang berbelanja dan mencuci pakaian di sungai. Orang-orang kampung pun menyalami dia. ”Great experience!” serunya.

Selepas jalan-jalan, Victor tertarik dengan kegiatan di Rumah Dunia; saya,  Langlang, Randhawa, Awi Suling, Mushadik Ali, Muhzen Den, dan Alimin mengecat sebuah bangunan di sisi selatan areal Rumah Dunia. Apalagi ketika kami sibuk memindahkan buku-buku dari ”Zul English Library” ke panggung.

”Bangunan itu untuk apa?” tanya Victor. Saya menjelaskan, bahwa bangunan itu bernama ”Lumbung Banten”, tempat penyimpanan kekayaan intelektual Banten. Victor terkesan. Dia merogoh sakunya. ”Saya mau menyumbang,” dia menyodorkan dua lembar uang kertas seratusan ribu. Saya menolak. Saya mengingatkan dia, bahwa perjalanannya mengelilingi Banten membutuhkan uang banyak. ”Saya masih ada uang,” desaknya. Akhirnya Langlang membelanjakan uang itu untuk dua kaleng cat dan kunci.

Di ”Lumbung Banten” semua hal tentang Banten kelak akan disimpan di sini sebagai bahan persediaan generasi muda masa depan. Apakah itu berupa film, naskah teater, karya tulis prosa dan puisi, buku harian, kisah, gagasan-gagasan politik lokal dan segala macam disiplin ilmu, bigorafi tokoh-tokoh Banten sekelas Syekh Nawawi al-Bantani, Ki Wasyid, Kesultanan Banten, lukisan, dan apa saja asal terkait dengan Banten, akan disimpan di sini. ”Jadi, siapa pun dan dari mana pun, jika ingin mengadakan penelitian tentang Banten, bisa menggunakan ’Lumbung Banten’ sebagai referensi kekayaan intelektual Banten.”

Lantas, siapa yang mengisi ”Lumbung Banten”? Siapa pun bisa menyumbangkan koleksinya. Apakah dia anak kecil, tukang becak, mahasiswa, pemulung, profesor, dosen, ibu rumah tangga, pelajar, pokoknya siapa saja bisa menyerahkan atau menyumbang atau meminjamkan untuk difoto kopi, karya intelektualnya ke ”Lumbung Banten”. Sekedar contoh, saya membayangkan  artikel-artikel politik lokal di Radar Banten, yang ditulis Gandung Ismanto dan Agus Sutisna dikumpulkan lalu dilay out ulang, diprint out, difoto kopi dalam edisi terbatas lalu didiskusikan dan disimpan di ”Lumbung Banten”. Sederhana bukan? Jika ada uang , tentu dicetak dalam bentuk buku lebih baik. Tapi, mulailah dari yang kecil dulu.

Saya memiliki beberapa koleksi buku tentang Banten; mulai dari Geger Cilegon, Krakatau, Mesjid Banten,  Tasbeh dan Golok, dan situs Banten Lama. Toto ST Radik meminjamkan beberapa bukunya difotokopi seperti Pemberontakan Petani Banten karya Sartono. Saya dan Toto juga sedang menyiapkan buku sederhana tentang ”Apa dan Siapa Teater di Banten”. Iwan Nit Net siap menyumbangkan foto-foto ekslusifnya tentang bekas gedung Makodim. Khatib Mansur dengan Yayasan Seng Pho juga sudah pasang kuda-kuda.  Firman dan Aji bergerilya di Untirta Serang mengumpulkan karya-karya tulis dari mahasiswa dan dosen. M. Jaiz, dosen FISIP Untirta malah siap bergabung.

Juga ketika di Rabu (19/9) sore ada rombongan SMPIT Al-Ghifari berkunjung ke Rumah Dunia, saya memberi tugas kepada mereka untuk menulis tentang kampung halaman mereka di Banten. Juga para mahasiswa Kelas Jurnalistik Stikom Wangsa Jaya Banten siap meramaikan. Nanti tulisan mereka dijadikan bunga rampai, dilay out, diberi cover, difoto kopi, didiskusikan, dan disimpan di ”Lumbung Banten”. Kelak 50 tahun kedepan, tulisan mereka akan menjadi kekayaan intelektual yang sangat berharga.

MIMPI LAMA
”Lumbung Banten” sebetulnya mimpi lama. Di awal-awal kegiatan Rumah Dunia, saya sudah menyebarkan virus ini ke Ibnu Adam Aviciena (sekarang sedang S2 di Leiden, Belanda) dan Muhzen Den (mahasisawa Sastra Untirta Serang). Mereka saya anjurkan untuk mengguntingi hal apa saja tentang Banten yang dimuat di koran. Mereka dengan tekun mengguntingi dan menempelkannya di kertas berupa klipingan. Saya memimpikan sebuah tempat bernama Pusat Dokumentasi Rumah Dunia seperti halnya Pusat Informasi Kompas.

Saya merasa kegiatan mengkliping itu tersendat-sendat. File-filenya pun berceceran. Tapi, hal itu menggelegak lagi ketika Ibnu kuliah di Leiden, Belanda. Dia menulis sebuah artikel menarik berjudul ”Pusat Penelitian Banten”di Radar Banten. Ibnu menceritakan, bahwa segala hal tentang Banten tersedia komplet di perpustakaan Leiden. ”Bahkan tentang sejarah Housein Djayadiningrat dan Syekh Nawawi al-Bantani serta Gola Gong dan saya juga ada!”  tulis Ibnu. Kita tahu, Housein Djayadiningrat digunakan sebagai nama jalan di Kaloran (alun-alun Serang sebelah barat) dan Syeikh Nawawi al-Bantani adalah ulama dunia asal Tanara, Serang. Tapi, apakah kita mengenal siapa, apa, dan bagaimana kisah hidup mereka? Itulah sebabnya kenapa Rumah Dunia membuat gerakan literasi ”Baca Nawawi” di koran Banten Raya Post, tidak lain agar kita mengenal orang-orang sukses asal Banten.

PUSAT KEBUDAYAAN
Bagi saya, ”Lumbung Banten” hanyalah sekedar pemanasan. Hal kecil yang bisa dilakukan oleh masyarakat Banten, yang ingin melihat Banten – mengutip kalimat indah dari Iwan Nit Net: nagari rahayu jaya santika. Hal besarnya adalah sesuatu yang sangat pasti bisa dilakukan oleh Gubernur Banten, Hjt. Ratu Atut Chosiyah, yang memiliki tahta dan harta, yaitu mengalihfungsikan Gedong Negara menjadi sebuah tempat Pusat Kebudayaan Banten, dimana semua hal tentang kegiatan intelektual Banten, baik itu di masa lalu, hari ini, dan esok berdenyut di dalamnya. Bukankah nanti Pusat Pemerintahan Banten akan pindah ke Curug dan Gedong Negara alias Gubernuran akan jadi benda cagar budaya (BCB)? Kalau tidak direncanakan dari sekarang, bisa jadi Gedong Negara akan bernasib sial jadi pusat kegiatan ekonomi.

Tidak percaya? Hal lucu kini terjadi di Serang. Surat Keputusan Bupati Serang nomor 430/Kep.459-Huk/2006 (Radar Banten Kamis, 20/09/07) tentang Benda Cagar Budaya (BCB) sebagai aset daerah Kabupaten Serang tertulis 65 situs, tetapi kenyataannya 5 situs sudah rata dibuldozer. Kelima situs itu adalah gedung Makodim 0602 Serang yang kini jadi Serang Mall, Villa Merak di depan Makorem, Fritz Rosak bekas percetakan Oeang Republik Indonesia Daerah Banten (Oridab) dan mencetak koran lokal pertama de Banten Bode di samping PLN Serang yang kini jadi rumah makan Padang, bioskop Merdeka di Royal yang disulap jadi pusat pertokoan, dan bioskop Pelita di Pasar Lama yang juga berubah jadi pusat perdagangan.

Jadi, SK Bupati tentang BCB tidak dipedulikan oleh para pembantunya (BPS, Bapeda, DPU, Dindik, Disbudpar). Itu artinya, jika sebuah bangunan dijadikan BCB, kita haruslah waspada. Apalagi Gedong Negara alias Gubernuran dan bekas gedung Karesidenan Banten termsuk BCB dan lokasinya membuat air liur pengusaha menetes, karena terletak di sebelah barat alun-alun kota Serang. Ingatlah gedung bekas Makodim di alun-alun utara Serang yang kini berubah bentuk jadi pusat perbelanjaan dan mengorbankan hak kita sebgai pengguna jalan. Sungguh sesuatu yang tidak masuk akal, satu ruas jalan ditutup oleh Dinas Perhubungan, hanya agar lalu-lintas tidak macet! Nah, sebelum Gedong Negara jadi korban berikutnya, marilah kita sama-sama niatkan bangunan itu untuk dijadikan ”Lumbung Banten”, tempat kita menaruh harapan  kepada generasi muda Banten di masa datang, agar Banten menjadi nagari rahayu jaya santika!

*) Gola Gong/penasehat Rumah Dunia
*) Salam Rumah Dunia, Radar Banten, Jumat 21 September 2007
 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

September 2007
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: