KELUARGA PENGARANG

SERIAL LABIRIN LAZUARDI

Posted on: September 3, 2007

lazuarditigas-3.jpgPenerbit TIGA SERANGKAI SOLO
Mempersembahkan

Novel Serial Terbaru Gola Gong
LABIRIN LAZUARDI
Langit Merah Saga – buku kesatu
Ketika Bumi Menangis – buku kedua
Pusaran Arus Waktu – buku ketiga

”Namaku Lazuardi. Aku pergi jauh dari rumah, karena aku sedang memaknai perjalanan, yang bagiku ibarat labirin. Aku tak tahu kapan harus berhenti. Mungkin ketika aku yang terperangkap di dalam labirin kehidupan ini, sudah mengetahui jalan keluarnya,” kata Lazuardi saat diwawancarai oleh  seorang wartawan.
labirintiga-3.jpg”Aku mempunyai empat sahabat; Boy, Dini, Rizal, dan Ery. Kami adalah sekelompok anak-anak yang sudah dikarunia kehormatan ketika lahir, tapi haus akan kasih sayang orang tua. Terutama seorang Ibu. Papa kami sibuk dengan segala rapat negara, kunjungan ke beberapa wilayah di pelosok negeri, bahkan ke mancanegara. Sedangkan Mama kami sibuk facial, luluran, membeli perhiasan  terbaru, liburan di negara tetangga sambil shoping dan larak sana-sini menggoda lelaki muda. Papa kami dungu seperti keledai. Mereka sudah buta mata dan hati. Padahal di koran-koran negeri ini sering membicarakan mereka yang tidak becus mengurusi negeri. Mereka hanya molor saja saat rapat di gedung rakyat. Mulut manis, hatinya berbisa. Selalu meributkan fasilitas yang tidak pernah dianggap cukup. Orangtua kami  adalah orang-orang yang tidak mau menderita seperti rakyatnya. Kami memang sekelompok anak panah yang kehilangan busur. Kami anak-anak yang dihimpit skandal orangtua sendiri. Kami anak-anak yang limbung, merindukan belaian kasih rindu sang Ibu.”

***

akutias-3.jpgIni adalah perjalanan Lazuardi; dia seorang remaja gelisah yang meninggalkan rumah. Dia kecewa dengan situasi rumahnya yang bagai neraka.  Di rumahnya  semua orang melupakan Tuhan.  Petualangan membawanya ke  sebuah perkampungan kumuh di sepanjang rel kereta api. Orang-orang miskin, yang bekerja keras menyambung hidup tanpa memedulikan keharmonisan; mereka saling sikut, tendang, bahkan bunuh antar sesamanya. Judi, alkohol kelas rendah, dan kupu-kupu malam di sepanjang jalan adalah gambaran hari-hari mereka. Orang-orang miskin yang meninggalkan Tuhan. Orang-orang miskin yang bersekutu dengan ketidakadilan. Dia hampir putus asa ketika mendapatkan pengalaman hidup, bahwa semua orang bisa meninggalkan Tuhan; apakah dia kaya atau miskin. Tapi, berhasilkah dia keluar dari labirin kehidupan yang membelitnya?

Itu adalah cerminan dari remaja Indonesia yang sedang mengalami krisis identitas. Terbukti, remaja bernama ”Lazuardi” datang kepada saya. Dia bisa kamu, teman kamu; dia remaja kaya, remaja kelas menengah, atau remaja kebanyakan di Indonesia, yang gelisah memikirkan masa depannya.

Dia bingung melihat arus globalisasi yang bagai air bah; dia tidak mampu membendungnya. Dia bahkan terseret arus. Dia tidak ingin menanggalkan baju identitasnya sebagai remaja Indonesia, tapi serbuan revolusi fashion, food, dan film dri negeri seberang lautan menterornya setiap saat.

Dia kehilangan arah; didepannya ada labirin dengan banyak jalan persimpangan. Dia tidak mengenal siapa itu Bung karno dan Bung Hatta yang rela dipenjara demi rakyat Indonesia, tapi lebih mengenal  Che Guevara, lelaki Argentina yang dikenal sebgai pejuang di negeri Kuba. Che melawan Amerika, sementara remaja di negeri kita menuhankan segala yang berbau Amrika. Bahkan juga para orangtua kita!

Itulah, bagiku sangat menarik menuliskan kisah ”Lazuardi”. Bagiku dia adalah sosok remaja negeri ini, yang kebingungan dengan identitasnya. Remaja negeri ini yang tidak mengenal setiap jengkal buminya sendiri. Yang tidak pernah memakan ikan dari lautnya sedniri. Yang tidak memakan beras yang ditanam di negerinya sediri.

jagungbakar-3.jpgImpor, impor!
Semuanya serba IMPOR!

Maka, kutulislah kisah ”Lazuardfi”, remaja gelisah yang terjebak di dalam labirin kehidupannya! Yang mendambakan melihat fajar dan senja di cakrawala! Yang merindukan wangi lumpur dan harum padi menguning. Yang menginginkan rongga paru-parunya terisi udara pegunungan!

Maka, bacalah!
Adikku, sahabatku, kelak kamu akan menemukan, bahwa ”Lazuardi” adalah juga bagian dari dirimu sendiri. Jika begitu, mari kita sama-sama berkaca pada kisah ini. Kita semua maklum, bahwa kadang kesalahan selalu kita ulang-ulang. Kita lupa untuk belajar pada kesalahan.

Salam persahabatan!
Gola Gong
Rumah Dunia, 1 September 2007

***

Beberapa endorsmet tentang Labirin Lazuardi:

”Ini memang subyektif, karena saya istri Gola Gong. Tapi, saya adalah pembaca pertama novel  serial “Lazuardi” ini. Saya juga pembaca “Balada Si Roy”. Maka, ketika membaca Lazuardi, saya merasakan kembali kehadiran spirit seperti di Balada Si Roy. Humanis, universal, hanya kali ini lebih kental suasana relijiusnya. Menggelindinglah, Lazuardi! Maknailah terus hidupmu!” (Tias Tatanka, penulis, pengelola komunitas Rumah Dunia)

Gola Gong adalah lelaki yang telah melihat dan mengalami banyak hal dalam hidup ini. Dan tempat-tempat yang mewah di berbagai kota dunia hingga kawasan-kawasan kumuh, tempat orang-orang melakukan berbagai cara hanya untuk sekedar bertahan hidup. Ia pun selalu mampu memotret berbagai sisi kehidupan dan menghidangkannya menjadi cerita yang mengalir, bahkan dramatis. (Irwan Kelana, cerpenis, novelis, redaktur senior harian umum REPUBLIKA)

Ini novel sequel yang menarik dan menyentuh perasaan. Pergulatan manusia dengan ”sang nasib” dikisahkan dengan gaya bertutur yang mengalir, romantic, dan semipopuler khas Gola Gong. Sebuah bacaan yang menghibur sekaligus mencerahkan. (Ahmadun Yosi Herafanda, Sastrawan dan Redaktur Sastra Harian Republika)

akubirma-3.jpgGola Gong piawai bercerita. Ia dengan mudah meneggelamkan atau melambungkan suasana hati pembaca. Apapun jenis cerita yang ditulisnya. (Akmal Nasey Basral, jurnalis, penulis novel Imperia)

Novel-novel Gola Gong mampu mewakili semangat geerasinya. Ia bertutur, bahwa setiap genrasi punya tantangan dan jawaban masing-masing atas persoalan kehidupannya. (Hikmat Kurnia, Pekerja Perbukuan)

Balada Si Roy, lewat itu saya mengenal Gola Gong. Satu-satunya penulis Indonesia serial petualangan yang saya ketahui.  Tanpa terasa, tokoh Roy telah mengilhami orang khususnya saya, untuk tergerak dan juga bergerak. Tokoh Roy telah mengajarkan, bahwa alam adalah guru yang baik, demikian juga pengalaman. (Butet Manurung, guru anak rimba)

Gola Gong bukan hanya menulis apa yang ditangkap mata, tetapi juga hatinya. (Asma Nadia, Penulis novel, peraih Adhikarya IKAPI, CEO Penerbit Lingkar Pena)

***
Keterangan foto:

1. cover 3 buku Labirin Lazuardi

2. Gola Gong dan Tias – istri, di alun-alun Serang yang sudah dipavling block seharga 3 milyar perak lebih. Tak ada lagi rumput hijau.

3. Gola Gong di Birma, suku Pa-dhong atau long neck.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

September 2007
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: