KELUARGA PENGARANG

MENGAJAK ANAK MENJELAJAH DUNIA BARU

Posted on: September 3, 2007

goajajarlagi-2.jpgOleh: Tias Tatanka

Sampai sekarang, setiap melihat kanak-kanak, pikiran saya dipenuhi pertanyaan “apa yang ada di dalam benaknya?” Pandangan mata mereka begitu polos, cara bicara yang lucu, terkadang mereka melakukan hal sama berulang-ulang, yang menurut orang dewasa “begitu tidak praktis”. Itu menurut orang dewasa, tapi bagi kanak-kanak, perulangan itu amat menyenangkan, karena fitrahnya mereka sedang belajar. Hal terakhir sering kita sepelekan, kita cenderung tidak mau meniru proses ‘belajar’ seorang anak, akibatnya sering terjadi orang dewasa mengulang-ulang kesalahan.
baduttias.jpgNaluri belajar
Seorang anak adalah semisal kertas putih. Kita tahu ungkapan itu, tapi yang biasanya dilupakan adalah bagaimana kita mengajari dan membimbing mereka ‘menuliskan’ pelajaran yang harus mereka ingat. Dan yang juga sering dilupakan para orangtua, anak-anak itu punya keinginan dan kemampuan sendiri, yang menjadi cara mereka belajar.
Tapi atas nama ‘prestise’, ‘jenius’, ‘cerdas’, ‘perkembangan pesat’, dan labelisasi lain, anak dipacu untuk memenuhi harapan orang tua. Padahal, dengan asupan gizi cukup dan pemberian stimulasi sesuai usia, anak-anak akan tumbuh wajar berdasar kemampuannya sendiri. Demikian pula nalurinya untuk belajar dari lingkungan sekitar.
Mengenalkan Bacaan Sedini Mungkin
Saat mengetahui hamil anak pertama, saya dan suami dengan suka cita merancang ‘menu otak’ bagi janin di awal-awal keberadaannya. Kami sering membacakan buku, mengaji dan mengajak janin berbicara. Mungkin terdengar berlebihan, tapi kami percaya suara dan sentuhan tidak langsung akan membuat ikatan calon orangtua dan calon bayi terjalin erat sejak dini.
Begitu bayi lahir, kesibukan itu bertambah mengasyikkan, karena kami bisa menunjukkan secara nyata hal-hal yang semula hanya dapat dibicarakan. Saya juga bisa memerlihatkan koleksi gambar-gambar lucu buatan sendiri, dengan warna-warna cerah dan bentuk sederhana.
Koleksi buku anak-anak segera kami bongkar, dan ditata sebagai perpustakaan mini bagi bayi kami. Pertimbangan saat itu, hanya agar mudah mencari alternatif buku lain.

bacabuku.jpgSegala Cara Mengenalkan Bacaan
Saat anak meningkat besar, apalagi jarak kelahiran anak pertama dan kedua cukup dekat (1 tahun 4 bulan), kami seperti punya “murid”. Hampir tak ada waktu terlewat tanpa mengenalkan bacaan kepada mereka. Buku-buku anak tersebar di tiap sudut rumah, bahkan menjadi “senjata ampuh” saat membujuk mereka agar berhenti menangis.
Cara kami mengenalkan bacaan pun bermacam-macam, lewat dongeng, permainan gerak, cermin, musik, alam sekitar dan bahkan televisi.

1.Dongeng
Suami saya lebih jago mendongeng daripada saya, karena ia bisa membuat suara berbeda-beda. Diam-diam saya belajar sendiri memraktekkan suara-suara aneh sesuai karakter dalam sebuah dongeng. Tidak sebagus suami memang, tapi toh anak-anak saya tetap larut dalam dongeng saya. Kadang, dari buku yang sama kami bisa mendongeng dalam versi yang berbeda-beda. Jika anak-anak protes, kami memberi kesempatan mereka untuk mendongeng sesuai versi mereka.

belutasup-2.jpg2.Bermain Gerak
Anak kami nomor tiga dan empat beda lagi. Mereka tidak seantusias kakak-kakaknya saat ditunjukkan sebuah buku. Tapi kami terus mencoba mencari cara agar mereka berminat pada bacaan. Caranya dengan memraktekkan adegan yang sedang dibaca, hingga lama-kelamaan mereka meminta sendiri untuk dibacakan sebuah buku. Memang kemampuan linguistic mereka tidak seperti kakaknya, yang saat seusia mereka sudah mengenal huruf. Tapi tidak apa, tiap anak punya keunikan tersendiri.

3.Cermin
Saya pernah mendengar mitos yang melarang menunjukkan cermin pada bayi, karena dapat membuat mereka bingung. Tapi, saya menggunakan cermin untuk menunjukkan hal yang sedang kami lakukan, termasuk ketika membaca. Ekspresi wajah saya dan anak yang terpantul di cermin menjadi pertunjukan yang berarti.

4.Musik
Anak-anak kami punya banyak buku favorit, sesuai usia yang bertambah. Tetapi, yang sampai sekarang tidak hilang adalah, anak pertama dan kedua tidak melupakan buku favorit yang lama, saat mereka masih balita. Ada sebuah buku berbahan karton tebal, The Gingerbread Man (Kue Jahe) yang tiap kali saya bacakan untuk adik-adiknya yang masih balita, mereka ikut nimbrung melafalkan sajak yang terdapat di buku itu. Nadanya pun masih sama seperti dulu ketika saya bacakan untuk mereka. Untuk buku lainnya, kami membuat nada yang berbeda pula.

5.Alam Sekitar
Saya masih ingat, ketika kami menemukan seekor bunglon, suami saya datang membawakan buku ensiklopedia tentang binatang melata. Akhirnya, di teras belakang, kami menaruh bunglon itu di rumput, memerhatikan perubahan warna kulitnya, lalu mencari informasinya di buku. Lalu bunglon itu dipindahkan lagi ke tempat lain, supaya anak-anak lebih paham fenomena tersebut.

6.Televisi
Seringkali saat menonton fenomena alam di televisi, kami tunjukkan rujukannya dari buku-buku. Hingga anak-anak seperti mendapatkan “bukti otentik” dari hal yang dilihatnya.
Karena arus globalisasi, agaknya sulit menghindarkan televisi dari anak-anak, maka kami memilih untuk ‘berdamai’. Saat anak-anak menonton sebuah tayangan kartun, saya tunjukkan buku yang memuat cerita bergambar kartun tersebut. Pelan-pelan perhatian mereka beralih ke buku. Juga, di sekitar TV saya simpan buku-buku, sehingga bukan pemandangan aneh lagi, saat anak kami membaca buku di depan televisi!***
Keterangan foto:

1. Kami sekeluarga tour de Java. Aa – Mas Gong, masih sehat. Sekitar 2004. Aa nyetirin Serang-Solo. Saat pulangnya, kami mampir ke goa batujajar di Gombong. Saya sedang hamil Kaka, putri keempat. Naik tangga, duh, hampir pingsan. Jika ingat ini, wajar juga kalo Aa kena pengapuran.

2.  Foto lainnya saat pesta nak 6 di Rumah Dunia, 2007.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

September 2007
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: