KELUARGA PENGARANG

MEMULAI MENULIS DAN MENGATASI WRITER BLOCK

Posted on: September 3, 2007

malaka-31.jpgOleh Gola Gong

Menulis cerita fiksi (cerpen dan novel) itu gampang, kata orang. Ah, masak? Bagi yang gampang, ya gampang. Bagi yang sulit, ke laut ajah. Lalu bagi saya, bagaimana? Sudah lebih 6 novel saya tulis, aapa itu bukan berarti gampang? Ah, tidak juga. Bagi saya, tidak ada yang gampang di bumi ini dn tidak ada yang sulit juga, asal kita memiliki kemauan dan mau bekerja keras. Aduh, kok berbelit-beli amat, sih? To the point sajalah, ”Menulisitu gampang atau susah?”
akubirma-3.jpgGAMPANG VS SUSAH
Oke. Bagi saya, menulis itu bukan terletak pada persoalan “gampang” atau “sulit” atau “suseh”. Tapi, sudah sejauh mana persiapan kita ketika hendak menulis. Soalnya, ada yang menulis fiksi tanpa persiapan apa-apa, langsung duduk di depan computer, pintu kamar ditempeli tulisan “don’t disturb” dan dikunci. Saya jamin jika sepertu itu, menulis fiksi tidak gampang alias susehnya minte ampun, dah!

Lanta, yang seperti apa yang disebut “menulis itu gampang”? Cepetan, sudah tiak sabar, neh. Hehehe, begini. Jika kita ingin menapat kemudahan dan selamat di jalan-Nya, setiap kita henadk mneulis fiksi (cerpn tau novel), kita harus mempersiapkannya terlebih dahulu. Wah, ada persiapannya segala, ya? Kayak mau kemping saja, ya. Memang begitu kalau ingin menulis fiksi dengan gampang bin mudah, sehingga lancar seperti sedang meluncur di jalan tol jagorawi.

Caranya? Ini resep saya, ya. Bisa saja resep penulis yang lain berbeda. Jadi, ini adalah pengalaman pribadi saya. Ingat sebuah hadist yang mengatakan ”bahwa  semua yang kita kerjakan adalah tergantung niatnya” ’kan? Nah, niat kita menulis itu untuk apa? Popularitas? Ekonomi? Atau ibadah? Nah, soal ekonomi dan ibadah sebetulnya masih berhubungan alias saudara dekat. Jika kita menulis tujuannya adalah uang, tidak salah juga. Dengan uang, kita bisa memulai menulis lagi dan tentu beribadah. Percayalah, ibadah itu butuh ongkos. Percaya tidak, jika kelima rukun Islam itu, yang  tidak membutuhkan uang hanya rukun Islam yang pertma saja: membaca syahadat. Sedangkan solat, puasa, zakat, dan naik haji butuh uang. Solat butuh baju, sarung, dan peci. Intinya itu menurup aurat, tapi tetap saja butuh uang untuk membeli yang termurah sekalipun. Nah, untuk memeroleh uang, kita harus bekerja. Menulislah cara mudh menadpatkan uang. Heheheh, jadi ngelantur.

tiasdongeng1.jpgMEMBACA
Oke, kembali ke persoalan semula. Setiap saya hendak menulis cerpen/novel, yang pertama saya lakukan adalah membaca. Ya, membaca, membaca, membaca, membaca. Membaca terus? Iya. Membaca koran, buku, dan novel. Membaca program-program di televise, mulai dari sinetron, berita, talk show, gossip, dan film. Juga membaca dunia atau membaca lingkungan. Membaca cerita-cerita teman dengan cara mengobrol. Pokoknya, seluruh panca indra kita diaktifkan; mata, hidung, telinga, mulut, kulit, bahkan hati kita.

Kenapa hati diaktifkan? Penulis itu harus snsitif. Hatilah kuncinya. Jika kita membaca lingkungan di sekitar kita, lalu kita menemukan seorang pengemis, apa yang dilakukan oleh hati kita? Tersentuh? Trenyuh? Jastuh iba?

MENGGALI IDE
Dari peristiwa kemembacaan kita terhadap pengemis buta itu, sebagai calon penulis, kita harus meresponnya dengan positif. Itu adalah sumber ide. Banyak ide-ide bergelakan atau bersliweran di sekeliling kita. Hanya saja, karena kita tidak tahu metodenya, calon-calon ide itu raib entah kemana.

Ada senjata ampuh untuk bisa menggali ide. Yaitu cara-cara yang biasa digunakan oleh para wartawan; 5 W plus 1 H (where = dimana, when = kapan, why = mengapa, what = apa, who = siapa, plus how = bagaimana). Kenapa begitu? Karena inilah cara yang paling praktis dan mudah serta efektif untuk menghantarkan kita menjadi seorang pengarang. Caranya?

5 W plus 1 H adalah metode jurnalistik yang dipakai untuk mengukur sebuah berita. Itu ternyata memiliki keterkaitan dengan unsur-unsur yang dimiliki oleh sebuah cerpen atau novel. Dengan 5 W plus 1 H kita diajarkan untuk kritis dan teus menggali calon ide menjadi ide untuk cerpen/novel kita.

Kita mulai saja dari calon ide seorang pengemis buta itu. Kita harus mau mewawancarai dia. Kita mengajukan sebanyak mungkin pertanyaan kepada dia; umur berapa, kapan dia buta, punya anak berapa, penghasilannya berapa, penah sekolah atau tidak, dan sebagainya. Lalu kita menuliskannya seperti ini:

Pak Ahmad mengambil matanya, sebuah tongkat terbuat dari kayu besi pemberian mendiang ayahnya 20 tahun lalu. Jika sedang memegang tongkat itu, dia selalu teringat pesan ayahnya, ”Tongkat ini adalah matamu, Nak. Jangan kau jadikan sebagai alat untuk meminta-minta, tapi jadikanlah esbagai alat untuk menjalani kehidupan dengan bekerja.”
Seperti diiris-iris sembilu hatinya, karena dia tidak berhasil mewujudkan petuah ayhnya. Ternyata tidak mudah menjadi orang buta di negri ini. Selain dibutuhkan ketrampilan, juga mental baja. Berkali-kali dia melamar pekerjaan, tapi yang dia bisa lakukn adalah memijit. Ketika muda, hal itu bisa dilakukannya unutk menyambung hidupdemi seorang istri yang juga buta. Tuhan tidak memberinya anak. Setelah tua, mengemis adalah cara terbaik yang bisa dilakukannya.

Nah, itu sekedar contoh saja. Kita bisa menemukan banyak calon ide menjadi ide dan kita olah mnejadi cerpen/novel dengan resep 5 W plus 1 H itu. Tentu imajinasi menjadi perekat itu semua. Tanpa imajinasi, akan terasa hambar karya kita.

minuman-3.jpgIMAJINASI
Tapi kadang kita tidak menyadari itu. Padahal sebetulnya imajinasilah yang membedakan pengarang dan bukan pengarang. Darimana kita memeroleh imajinasi? Ya, dari kebiasaaan kita membaca buku (novel/cerpen atau non-fiksi) serta menonton film. Kedua kegiatan iut adlah yang menumbuhkan kualitas imajinasi kita.

Imajinasi sebetulnya termasuk unsur fiksi terpenting selain sinopsis, alur, plot, konflik, sudut pandang, karakter, latar tempat/waktu, suasana, dan ending cerita Dengan imajinasi, proses membaca kita mnejadui lebih afdol. Saat kita menuliskan ide kita ke dalam bentuk fiksi, writre block yang sering ditakutkan oleh para penulis pemula (juga penulis seperti saya), insya Allah, tidak akan terjadi.

”Macet, nih!” kata seorang penulis pemula. ”Aduh, mandeg!” kata penulis yang sudah berpengalaman. Itu beragam sebabnya. Kalo penulis pemula, biasanya sebelum menulis kita tidak memiliki persiapan dulu. Seperti membaca buku, memahami 5 W plus 1 H, dan memahami pula apa yang harus kita tulis.

esbuah-3.jpgUntuk menghindari kemandegan itu, mulailah kita mengembangkan sayap-sayap imajinasi kita. Setelah ide tergali, langkah berikutnya adalah membuat sinopsis, membikin alur, mengembangkan plot, menentukan sudut pandang, mengolah karakter, mencari latar tempat dan waktu, serta mengolah akhir cerita (happy atau sad).

RISET
Kdang kita memang sering tergesa-gesa ingin menjadi pengarang. Sebetulnya ada proses panjang yang harus dilewati calon pengarang. Sediakanlah waktu selama 2 hingga 3 tahun. Setelah kita memiliki ilmu-ilmu kepengarangan dari buku atau pelatihan-pelatihan, cobalah kita melakukan riset pustaka (membaca buku), riset lapangan atau observasi. Gembleng jiwa kita. Lalu asahlah kepekaan kita dengan menuliskanya.

Adagium dari filsuf Inggris W.Sommerset Maugham yang mengatakan, “Pergilah dari rumah, lalu tuliskanlah pengalaman-penalamanmu,” itu ada benarnya. Bagimana mungkin kita bisa brehasil menulis, jika yang kita tulis adalah sesuatu yang tidak kita kuasai? JHK Rowling juga menyarankan begitu, “Tulislah hal-hal yang kamu ketahui”.

Intinya, riset lapangan atau riset pustaka sangatlah penting. Itu bagian dari investasi kita dalam menulis. Boisa saja kita jalan-jalan ke pasar, mal, bank, penjara, rumah sakit, pantai, gunung, stasiun kereta, dan terminal bus. Lalukn wawancara di tempat yang kita kunjungi. Itu adalah bagian dari observasi. Setelah itu kita lakukan, cobalah melakukan riset pustaka terhadap apa-apa yang sudah kita lakukan.

jagungyeuh.jpgTerbayang sudah ‘kan? Bahwa untuk menjadi penulis itu jiwa dan pikiran kita harus terisi penuh oleh sumber bacaan dan pengalaman di lapangan. Jika tidak begitu, bisa-bisa yang terjadi, kita bengong ngooong di depan komputer. Alih-alih mau jadi pengarang, eh, malah kesurupan! Hahaha….! Selamat menulis saja.

*) Gola Gong adalah tim kreatif RCTI, pengarang dan pemimpin redaksi http://www.rumahdunia.net dan http://www.keluargapengarang.wordpress.com

4 Responses to "MEMULAI MENULIS DAN MENGATASI WRITER BLOCK"

saya sangat mengagumi ke-istiqamahan mas GOLAGONG dalam menulis, juga dalam mengatur keluarga. Di mata saya, jujur, apa yang telah Mas tunjukkan adalah sesuatu yang sangat layak untuk di katakan LUAR BIASA. Semoga ke depan akan makin banyak yang terinspirasi untuk juga menjadi penulis-penulis yang produktif, amien. Saya sangat seneng kalo Mas berkesempatan untuk mengunjungi saya di http://www.fickarl.multiply.com

makasih, saudaraku. sy udah klik situsmu. bagus. sy coba kasih komentart, tapi harus register dulu. gak ngerti sy.l ribet. gak bisa langsung yah. tapi, hebatlah situsmu. tetap semangat

nah, ketemu deh, situs GG. Makasih dah mau merespon seruan SOS saya yg pingin belajar nulis sekaligus ngajarin anak saya nulis…Tips di atas bisa jadi modal awal saya. Boleh ga, saya belajar ke Mbak Tias aja. Sesama ibu-ibu, kan lebih lepas gitu… Tar kalau blog saya jadi meluncur, mbak Tias mau kan jadi tutor saya???

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

September 2007
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: