KELUARGA PENGARANG

JANGAN MATIKAN TV!

Posted on: September 1, 2007

anak-2.jpgOleh Gola Gong

 

Pernahkah suatu waktu, anak terkecil kita yang berumur 2 atau 3 tahun berlari meninggalkan kita hanya untuk berdiri di depan televisi? Saya pernah. Sering malah. Saat saya memberi menu dongeng sebelum tidur kepada anak saya yang ketiga (3 th) dan keempat (2 th), tiba-tiba mereka berlari ke depan televisi yang dinyalakan kedua kakak mereka. Sayup-sayup terdengar Benyamin S menyanyikan lagu, “Sang kodok, eh eh eh sang kodok…” Mereka menirukan lagu itu dengan gembiranya diselingi teriakan “Entong, Entong…!” Tentu dengan ejaan yang cadel. Tapi saya tidak pernah menyerah. Menu dongeng sebelum tidur tetap saya suguhkan, bersaing dengan menu di televisi.

 

dongeng-1.jpgMENU DONGENG

Di waktu yang lain, kedua anak saya menari-nari di depan televisi sambil menyanyikan lagu Tokecang” (“Eneng”, RCTI) dan “Cingcangkeling” (Euis, TPI). Lalu istri saya sibuk mengingatkan mereka, agar tidak terlalu lama menonton televisi. “Ayo, dongeng, dongeng dulu!” istriku menginterupsi. Biasanya anak-anak akan berdiri hingga program itu selesai. Jika kami matikan, suasana rumah bisa seperti medan perang. Daripada stress, TV tetap dibiarkan menyala dan kami duduk di sana sambil membaca buku dan menunggu mereka bosan menonton TV. Kami sudah siap dengan menu dongengnya.

 

Apa yang menarik dari program-program itu? Saya pikir adalah lagu temanya. Kata istri saya, “Ceritanya, sih, nggak!” Malah istri saya protes, “Bilangin ke penulis skenarionya, kalo bikin cerita itu yang bener!” Istri yang biasanya kalem, sekarang jadi cerewet. “Lihat, tuh! Yang diinget sama anak-anak kita yang jelek-jeleknya aja!”

 

Di sinetron “Si Entong”, ada tokoh (ibu Entong) yang selalu memunculkan kelakuan aneh. Jika bertemu dengan ustad dia bersin dan kentut kalau bertemu Bang Salim dan Bang Samin. Istri saya dengan emosi menambahkan, “Si Entong itu, Pah, kalau mau memakai benda-benda ajaib, diawali dengan ’bismillah’.” Menurut istri saya, itu salah. Di dalam agama kita diajarkan untuk selalu meminta kepada Tuhan dengan cara berdoa dan bekerja, bukan dengan cara meminta kepada benda-benda.

 

Ini memang ironis. Sementara istri saya marah-marah di rumah, saya bekerja di televisi, yang setiap akhir bulan menyodorkan amplop gaji untuk hidup setengah bulan dan setengah bulan sisanya mesti nyari sana-sini. Begitulah hidup kita yang bekerja di media televisi. Di satu sisi kita menggembar-gemborkan betapa pentingnya rating, revenue, dan sharing, di sisi lain kita sibuk membentengi anak-anak kita, agar tidak menonton televisi, tapi lebih menyarankan menonton TV kabel dan VCD edutainment, yang katanya lebih berpendidikan. Bahkan teman-teman kita di koran menuliskan artikel atau menerbitkan buku, yang isinya memrovokasi orang, agar tidak menonton televisi. “Matikan TVmu! Matikan TVmu!”

 

Tapi, saya tidak mematikan televisi. Kalian tahu apa yang kami lakukan dengan televisi di rumah kami? Keberadaan TV di rumah, kami kepung dengan buku-buku. Rak-rak kami jejerkan di sekitar TV. Bahkan buku-buku dibiarkan berserakan di depan TV. Itu adalah strategi perang kami; mencoba mengalihkan perhatian anak-anak dari TV ke buku, tanpa perlu mematikan televisi.

 

PEMIMPIN

Lantas apa yang harus kita lakukan? Duduk berpangku tangan? Mematikan televisi jelas bukan cara terbaik. Meminta bantuan rekan-rekan kita yang bekerja di koran adalah langkah awal. Caranya? Mintalah kepada seluruh koran, agar membuat sayembara menulis cerpen dan membaca puisi/cerpen anak-anak tingkat nasional secara rutin dan televisi memberitakannya secara besar-besaran. Kemudian mintalah kepada pejabat setingkat menteri, wakil presiden, dan akan lebih bagus lagi presiden untuk memberi hadiah kepada para pemenang. Mintalah kepada seluruh koran, agar selalu menuliskan tokoh-tokoh penting di negeri ini dari sudut berbeda; yaitu kegemarannya membaca. Fotolah mereka dengan latar belakang perpustakaannya. Suruh mereka bicara, Dan televisi membuat program-programnya. Beberapa program talk show pernah mengangkat tema ini, tapi hanya insidentil.

 

Kita memiliki tokoh-tokoh hebat di negeri ini yang terbentuk dari kebiasaannya membaca. Adam Malik bukan sarjana, tapi karena gemar membaca bisa menjadi wakil presiden. Bung Karno gila baca dan jejak-jejak pemikirannya bisa kita peroleh di buku-buku warisannya. Gus Dur juga begitu. Abraham Lincoln bisa menjadi Presiden Amerika, bukan karena gelar akademisnya, tapi kegemaran membacanya. Tapi, apa yang dilakukan para tim sukses calon bupati, gubernur, atau presiden kita? Adakah yang mengambil tema kampanye “Jadi Pemimpin dengan Membaca”? Nyaris tidak terdengar. Andai saja poster, spanduk, baliho foto para kandidat tidak hanya berpose membosankan, tapi dengan pose sedang membaca buku, mungkin rasanya kampanye mereka akan gurih. Mereka masih berkutat dengan slogan “Berantas Korupsi”, tidak dengan cara lain seperti “Dengan Membaca Korupsi Hilang”.

 

kakagaya-3.jpgSaya membayangkan (utopia), presiden kita mengeluarkan sebuah surat keputusan, yang mengharuskan semua produsen film memasukkan unsur-unsur tentang “budaya membaca” ke dalam setiap film/sinetronnya; apakah itu pada karakter para tokohnya atau setnya. Misinya memroduksi film dan program televisi yang beraromakan “budaya membaca”. Di film “You’ve Got The Mail” (Tom Hanks/Meg Ryan), tokoh yang diperankan Meg Ryan adalah penjaga toko buku. Luar biasanya film ini, ada tradisi bercerita (story telling) yang menjadikan film ini memiliki “roh”. Film “Finding Forrester” (Sean Connery) juga film yang lahir dari budaya atau kebiasaan masyarakat maju yang gemar membaca. Bahkan di hampir semua film-film produksi luar selalu ada adegan yang menggambarkan kebiasaan membaca itu. Mulai dari set perpustakaan atau karakter para tokohnya yang gemar membaca. “Mummy” (Brendan Fraiser) dan “Secret Window” (Johny Depp) contohnya. Atau film-film heroik seperti “Batman”, “Superman”, dan “Spider Man”, para tokoh utamanya memiliki karakter hobi membaca. Saya beberapa kali menonton film seri yang diperankan Bill Cosby (O Channel). Film itu bagus; ada set perpustakaan (rumah penyewaan buku) dan selalu ada adegan Bill Cosby mendongeng di depan anak-anak.

 

Di Indonesia sedikit sekali, bahkan nyaris tidak ada. Mungkin hanya film “Ada Apa dengan Cinta” dan “Gie” (Mira Lesmana/Riri Reza) memiliki potensi. Aroma sastra atau kebiasaan membaca para tokohnya ada di sana. Set/lokasi pepustakaan dan bursa buku bekas di Pasar Senen, berusaha menyampaikan pesan “kebiasaan membaca”. Sayang di versi sinetronnya tidak digarap dengan baik. Di TV Edukasi yang dikelola Diknas ada program mendongeng. Mestinya itu disiarkan atau TV Swasta diharuskan membuat program seperti itu, seperti halnya kewajiban mengumandangkan adzan Mahgrib dan program agama.

 

Atau para para pemimpin di negeri ini; dari jabatan paling rendah setingkat RT, lurah, kepala desa, camat, bupati, gubernur, hingga para menteri mengampanyekan “kebiasaan membaca” ini dengan membangun gedung perpustakaan secara massal dan merawatnya terus-menerus dengan berbagai kegiatan. Perpustakaan jangan hanya dijadikan tempat sekedar membaca saja, tapi mengasah empat ketrampilan berbahasa; mendengar, berbicara, menulis, dan membaca. Itu bisa diterapkan dalam bentuk diskusi, peluncuran buku, jumpa penulis, pemutaran film, pameran lukisan, lomba-lomba (puisi, menulis cerpen/novel, menggambar). Masing-masing pemimpin di daerah memiliki visi “Menuju Indonesia Membaca pada 2020”.

 

baca-puisi.jpgDi Serang, ibu kota Provinsi Banten, Kantor Perpustakaannya sudah menggeliat dan memiliki kalender kegiatan yang baik; ada diskusi buku, pameran lukisan, pemutaran film, dan jumpa pengarang. Tapi sayang, gedung perpustakaannya ibarat gudang, sumpek, pengap, dan panas, serta tidak ada layanan internet. Sangat tidak layak untuk sebuah kota provinsi yang jaraknya 1 jam perjalanan ke Jakarta. Pernah pada 2006 gedung Perpustakaan Banten akan dibangun mewah; gedung berlantai tiga dengan ruang baca nyaman ber-AC, ruang pameran dan diskusi, serta cafe-internet. Tapi sayang, proyek yang sudah dianggarkan itu dibatalkan oleh Plt Gubernur Banten, Hj. Ratu Atut Chosiyah. Khabarnya uangnya dialihkan untuk kegiatan provinsi seperti proyek imunisasi. Tapi rumors yang berkembang, uangnya dipakai untuk kegiatan kampanye Pilkadal 2006 berkedok program provinsi.

 

Saya pikir soal ini adalah bagaimana kebijakan pemimpinnya, yang memiliki visi dan missi tentang “perpustakaan adalah sebuah pintu menuju masyarakat gemar membaca”. Malangnya setelah jadi gubernur Banten, Atut perangainya tidak berubah. Atut lebih suka berdang dut-ria jika menghadiri sebuah perayaan ketimbang mengingatkan masyarakatnya untuk membaca. Ya, dia bisa jadi gubernur juga bukan karena kecerdasannya, tapi lebih karena kekuatan uangnya. Nah, bagaimana dengan pemimpin di kampung Anda?

 

KELUARGA

Tapi, jika kita menunggu para pengambil kebijakan melakukan itu, rasanya seperti sedang menunggu keajaiban saja. Ada sebuah ungkapan hebat yang patut kita contoh, yaitu jika kita ingin merubah sebuah negeri yang carut-marut, mulailah dengan merubah kebiasaan diri kita sendiri, lalu keluarga, berlanjut ke tetangga, terus melebar ke kampung, menembus kota, lebih luas lagi beberapa kota, provinsi, beberapa provinsi, dan berujung ke negara. Pernahkah itu terlintas di pikiran kita?

 

Saya mencoba melakukannya di rumah, pada anak-anak kami. Tanpa perlu mematikan televisi, saya menyisihkan rezeki saya untuk membeli buku. Saya kenalkan dongeng-dongeng sebelum tidur kepada keempat anak kami sejak mereka di dalam kandungan. Saya bahu-membahu bersama istri membacakan cerita klasik dunia dan cerita rakyat negeri ini kepada mereka. Kami tidak memaksa keempat anak kami membaca, tapi kami menciptakan lingkungan membaca di rumah. Setelah itu kami mendirikan pusat belajar Rumah Dunia bersama teman-teman seniman dan wartawan di halaman belakang rumah. Kami sebarkan virus membaca kepada tetangga melalui Rumah Dunia tanpa perlu menyuruh mereka mematikan televisi.

 

baca.jpgNah, saya bermimpi para praktisi di koran atau televisi secara massal mengembangbiakkan komunitas baca seperti Rumah Dunia. Di masyarakat sedang muncul trend seperti itu. Setiap tahun ada kegiatan “World Book Day” yang diselenggarakan Depdiknas di Libary@Senayan, sebuah perpustakaan dengan konsep mutakhir di bawah naungan Depdiknas Jakarta. Beberapa komunitas baca seperti 1001buku, Rumah Cahaya (Depok), Kebun Buku, Mutiara Ilmu, Bunga Matahari, Stasiun Buku, Bunda Yessy, Kandang Jurang Doank, Rumah Dunia (Banten), Forum Lingkar Pena, Rumah Pelangi (Muntilan) diberi ruang untuk berpameran. Acaranya meriah; diskusi buku, peluncuran buku, pameran buku, dan bursa buku murah. Itu satu cara menggiring masyarakan kita untuk bisa terlibat dalam menyebarkan “budaya literasi”. Di Rumah Dunia ada berskala nasional setiap tahun bertajuk “Ode Kampung”; diskusi budaya, lomba menggambar, jumpa pengarang, pertunjukan teater, pembacaan pusi, dan pemutaran film. Aawl Agustus 2007 lalu, Depdiknas dan Dindik Banten menyelenggarakan Lomba Membaca Cerita Rakyat di Rumah Dunia. Sayangnya, televisi tidak menganggap itu sebagai tayangan yang komersil, sehingga tidak layak dijadikan berita head line di program beritanya. Sebetulnya RCTI pernah melakukan hal itu lewat “RCTI Peduli” di era Teguh Joewarno. Bekerjasama dengan Hoka Hoka Bento, didirikan secara massal “Rumah Baca RCTI Peduli”. Pada 2004, Rumah Dunia mendapat suntikan dana sebesar Rp. 15 juta dari RCTI Peduli. Tapi, karena tidak ada pendampingan, akhirnya mati suri. Hanya Rumah Dunia yang tersisa.

 

Nah, masihkah kita menyalahkan televisi? Masihkan juga kita sebagai pemilik televisi menganggap program dengan muatan gerakan “Indonesia Membaca” tidak mendatangkan uang? Atau kita yang tidak memiliki visi dan misi?

 

***

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

September 2007
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: