KELUARGA PENGARANG

Labirin Lazuardi 3: PUSARAN ARUS WAKTU

Posted on: August 27, 2007

1052.jpgPenerbit: Tiga Serangkai, Agustus 2007
Penulis: Gola Gong

Namaku Lazuardi. Aku mempunyai empat sahabat; Boy, Dini, Rizal, dan Ery. Kami adalah sekelompok anak-anak yang sudah dikarunia kehormatan ketika lahir, tapi haus akan kasih sayang orang tua. Terutama seorang Ibu. Papa kami sibuk dengan segala rapat negara, kunjungan ke beberapa wilayah di pelosok negeri, bahkan ke mancanegara. Sedangkan Mama kami sibuk facial, luluran, membeli perhiasan terbaru, liburan di negara tetangga sambil shoping dan larak sana-sini menggoda lelaki muda. Papa kami dungu seperti keledai. Mereka sudah buta mata dan hati.

Padahal di koran-koran negeri ini sering membicarakan mereka yang tidak becus mengurusi negeri. Mereka hanya molor saja saat rapat di gedung rakyat. Mulut manis, hatinya berbisa. Selalu meributkan fasilitas yang tidak pernah dianggap cukup. Orangtua kami adalah orang-orang yang tidak mau menderita seperti rakyatnya. Kami memang sekelompok anak panah yang kehilangan busur. Kami anak-anak yang dihimpit skandal orangtua sendiri. Kami anak-anak yang limbung, merindukan belaian kasih rindu sang Ibu. (Suara lubuk hati Lazuardi, 18 tahun, yang terpendam)
Ini adalah perjalanan ketiga Lazuardi menyusuri lorong-lorong labirin kehidupannya. Kadang dia tersesat, tapi kadang dia menemukannya. Dia terdampar di sebuah kampung yang kepemilikannya bersengketa dengan pengusaha gurita dari Jakarta. Juga dia tersedot ke suasana komidi putar, hiburan rakyat kebanyakan. Apa yang harus dia lakukan? Akankah dia jadi dewa penolong atau sekedar penonton di pinggir jalan saja? Berhasilkah orang-orang suruhan ayahnya menangkapnya? Berakhir hingga di sinikah pencarian identitas jati dirinya?
***
APA KATA MEREKA:
Ini novel sequel yang menarik dan menyentuh perasaan. Pergulatan manusia dengan ”sang nasib” dikisahkan dengan gaya bertutur yang mengalir, romantic, dan semipopuler khas Gola Gong. Sebuah bacaan yang menghibur sekaligus mencerahkan. (Ahmadun Yosi Herafanda, Sastrawan dan Redaktur Sastra Harian Republika)
Gola Gong piawai bercerita. Ia dengan mudah meneggelamkan atau melambungkan suasana hati pembaca. Apapun jenis cerita yang ditulisnya. (Akmal Nasey Basral, jurnalis, penulis novel Imperia)
Novel-novel Gola Gong mampu mewakili semangat geerasinya. Ia bertutur, bahwa setiap genrasi punya tantangan dan jawaban masing-masing atas persoalan kehidupannya. (Hikmat Kurnia, Pekerja Perbukuan)
Balada Si Roy, lewat itu saya mengenal Gola Gong. Satu-satunya penulis Indonesia serial petualangan yang saya ketahui. Tanpa terasa, tokoh Roy telah mengilhami orang khususnya saya, untuk tergerak dan juga bergerak. Tokoh Roy telah mengajarkan, bahwa alam adalah guru yang baik, demikian juga pengalaman. (Butet Manurung, guru anak rimba)
Gola Gong bukan hanya menulis apa yang ditangkap mata, tetapi juga hatinya. (Asma Nadia, Penulis novel, peraih Adhikarya IKAPI, CEO Penerbit Lingkar Pena)
***
Terakhir aku menulis ”Labirin Lazuardi 2: Ketika Bumi Menangis” pada 23 Februari 2007. Saat itu kondisi tubuhku masih sakit-sakitan. Punggungku, persis di lumbar 5, mengalami pengapuran dan menjepit kedua saraf tepi kakiku. Terutama kaki kiri. Setiap hari aku melakukan terapi. Jika duduk tidak sanggup lama. Akibatnya ”Labirin Lazuardi 3: Buih Sagara Biru” terbengkalai. Materi yang aku siapkan teronggok. Aku tidak mampu merangkainya.
Aku lalui hari-hari dengan terapi dan berkebun. Ke kantor pun sesekali saja. Aku menolak undangan menjadi pembicara di luar Serang. Aku tidak sanggup melakukan perjalanan jauh. Paling-paling sebatas jakarta saja. Terasa bosan hidupku. Tapi, aku masih menyempatkan diri mengajar di Kelas Menulis Rumah Dunia, karena lokasinya di halaman belakang rumahku. Untuk Rumah Dunia, insya Allah, segala yang aku miliki, aku persembahkan semampuku.
Aku mengetik sehari paling 1 atau 2 halaman. Hari berlalu, bulan berganti. Semangatku mulai bangkit memasuki awal Mei 2007 ketika buku ”Labirin Lazuardi 1: Langit Merah Saga” sudah ditanganku. Novel serial keduaku setelah ”Balada Si Roy”. Cover ”Labirin Lazuardi 1: Langit Merah Saga” yang dibuat Bambang Damayanto begitu magis. Penuh misteri. Membuat darahku bergolak. Itu aku buktikan dengan mendatangi stand Penerbit Tiga Serangkai di Pesta Buku Jakarta 2007, pada saat pembukaan 2 Juni. Aku berdiri di sana dan menyapa para pengunjung pameran. Beberapa pembaca novelku mampir dan kami berbincang-bincang. Beberapa orang membeli dengan kububuhi tanda tanganku. Aku merasa lebih sehat, walaupun sebetulnya dari mulai pinggang hingga ke kaki kiriku terasa sakit.
Masih dalam kondisi sakit, di sela-sela terapi, aku menyempatkan mengetik lebih banyak lagi. Sebetulnya aku dilarang bekerja. Tapi, apa mungkin? Hidup adalah perjuangan. Perlu kerja keras. Kunjungan Asma Nadia dan Hilman Lupus di awal Februari 2007 dengan memberiku bantuan dana – dari teman-teman Forum Lingkar Pena dan sesama mantan Pengarang Remaja Gramedia – untukku berobat membuatku malu. Aku sebetulnya tidak pantas menerima sumbangan itu. Tapi, melihat niat baik mereka, aku patut bersyukur, karena itu sangat membantuku. ”Mas Gong harus sembuh,” kata Asma, ”agar terus bisa memotivasi kami, jugaanak-anak Rumah Dunia.” Aku terharu mendengarnya. Aku merasa tidak sendirian.
Tapi, aku tidak tahan kalau tidak menulis. Tiada hari tanpa menulis. Selain pekerjaan kantor, ”Labirin Lazuardi” mengusikku terus. Akhirnya aku mengetik lagi sambil sesekali diselingi rebah-rebahan dan berjalan meluruskan punggung. Tias membantuku menjadi pembaca pertama; Tias mengoreksi dan menambahi dengan bumbu-bumbu penyedapnya. Terutama sajak-sajak pembuka. Aku ingin novelku ini tetap dengan ciri khasku; selalu ada sajak pembuka.
Maka menu ketika ”Labirin Lazuardi: Buih Sagara Biru” aku hidangkan, terasa ada sesuatu yang lain, yaitu kerinduan seorang anak terhadap ibunya. Silahkan para pembaca meraciknya sendiri. Semoga setelah membaca buku ini ada sesuatu yang membekas. Semoga bisa menjadi cermin bagi kita semua. Terutama aku. Selamat membaca dan berbahagia. (*)
Rumah Dunia 24 Februari – 30 Mei 2007
Gola Gong

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

August 2007
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: