KELUARGA PENGARANG

SEMUA TERGANTUNG BU GUBERNUR DAN PAK BUPATIN

Posted on: August 12, 2007

jaringku-2.jpgJelang ”Keranda Merah Putih” 15 – 26 Agustus di Rumah Dunia – Oleh Gola Gong

Kehadiran Atut sebagai pejabat tertinggi di Banten dirasa perlu. Juga Taufik Nuriman. Ini terkait dengan kebijakan Atut yang membatalkan rencana pembangunan gedung perpustakaan pada 2006 dan Taufik yang ingkar janji (Banten Raya Post, Selasa 7/8).

Bahkan kelanjutan pembangunan Taman Budaya Banten di Curug pun terhambat. ”Jika gubernur Banten tidak datang melakukan dialog bersama seniman, maka kami akan berunjuk rasa menuntut hak kami!” begitu kesepakatan para pelukis dan sastrawan yang tergabung di Rumah Dunia , Forum Kesenian Banten , dan Komunitas Perupa Banten saat berdiskusi di Rumah Dunia , Sabtu 4 Agustus 2007 lalu.
 
UNJUK RASA
Ruby Achmad Baedowy, Ketua Forum Kesenian Banten , bahkan membawa dua baliho bergambarkan maket Taman Budaya Banten dengan tulisan, ”Kapan jadi Taman Budaya Banten…” Menurut Ruby, ”Uang sekitar 2 milyar rupiah hanya cukup untuk membuat pondasi dan maket Taman Budaya Banten saja. Sudah tiga tahun terkatung-katung. Ini keterlaluan.”
Bagi para seniman, kehadiran Taman Budaya Banten dan Perpustakaan yang glamours ibarat mall adalah keharusan. ”Itu investasi Banten. Sebuah peradaban dibangun tidak hanya lewat pembangunan ekonomi, tapi juga kebudayaan dan kesenian. Coba bayangkan, Banten ini stigmanya ’kan debus, teluh, dan korupsi. Apakah warganya tidak memiliki cita rasa seni?” Ruby lantang bicara. ”Menang, kegiatan kesenian di Banten tidak pernah mati tanpa adanya gedung kesenian. Tapi, apa Pemprov Banten mau terus buta mata dan hati selamanya?” tanya Ruby berapi-api. ”Rumah Dunia itu tidak layak untuk dijadikan ruang tempat berkesenian. Harusnya Pemprov Banten malu. Kemarin kami bikin hajatan ’Ode Kampung’ di Rumah Dunia. Sekitar 40-an komunitas dan 300-an sastrawan dari seluruh nusantara datang ke Rumah Dunia dan menanyakan, mana gedung kesenian Banten? Mana Taman Budaya Banten? Mana gedung pepustakaan Banten?”
Saya pikir, semua kebijakan tentang pembangunan gedung perpustakaan dan kesenian tergantung Bu Gubernur danPak Bupati. Tidak perlu pusing, kok. Semua keputusan mereka dilindungi undang-undang dan akan didukung masyarakat juga jika berpihak kepada rakyat.
 
ATUT DATANG
Memang runyam jadinya. Sejak Banten berdiri jadi Provinsi tujuh tahun lalu,  gedung kesenian dan perpustakaan dianaktirikan. Semuanya sekedar janji-janji. Forum Kesenian Banten pernah mengadakan unjuk rasa berupa pertunjukan seni teater, puisi, dan pameran lukisan di ”Gedung Kesenian Banten” sebulan sekali. Para pejabat terkait ketika datang kebingungan.
”Mana gedung keseniannya?” tanya mereka  yang rata-rata berbaju batik.
Saya menjawab, ”Ya, ini!” sambil menunjuk ke areal parkir di sebelah selatan GOR (sport hall) alun-alun kota .
Kami saat itu menyulap areal parkir ”gedung kesenian” dengan dinding yang terbuat dari kain spanduk dan panggung dari tikar. Ya, sudah 7 tahun berlalu, tapi pemimpin Banten tetap buta mata dan hati untuk urusan perpustakaan dan gedung kesenian. Kepada siapa ini ditanyakan, hanya Tuhan yang tahu.
Dan kabar baik pun berhembus. H. Ranta Soeranta, MM, Kadis Disbudpar Banten, pada Rabu (8/8) mengirim SMS ke saya, “Insya Allah, Bu Atut akan datang membuka dan berdialog dengan para seniman di Rumah Dunia.” Di agenda acara, Gubernur Banten diberi ruang dan waktu untuk memberi sambutan pada acara pembukaan KERANDA MERAH PUTIH, 15 Agustus 2007, pukul 14.00 dan berdialog dengan para seniman. Undangan kepada H. Taufik Nuriman sebagai Bupati Serang juga sudah dikirim. Itung-itung pemanasan sebelum ke Hawaii ya, Bu Atut! Ya, Pak Taufik!(*)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

August 2007
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: