KELUARGA PENGARANG

RUMAH DUNIA SEBAGAI MUARA

Posted on: August 12, 2007

bacadulu.jpgOleh: Tias Tatanka

Apa kabar, sahabat? Lama saya tidak berkirim kabar. Sua,i saya, Gola Gong, terapi terus. Dia semangat ingin sembuh. Di rumah, keempat anak saya semakin besar. Bella (9 th) sedang mengetik novel ketiganya. Abi (8 th) terus menekuni design, Didi (3 th) mulai nakal dan sering breantem denan Kako (2 th). Rumah say seperti di bus kota, ramai sekali.

Saya mau cerita tentang Rumah Dunia, ya. Sudah enam tahun lebih saya tinggal di lingkungan di mana Rumah Dunia (RD) berada. Bagi saya, rumah yang saya huni bak jembatan yang menghubungkan dua budaya, anak-anak komplek dan anak-anak kampung.

Saya tidak bermaksud membandingkan kedua pihak, karena rumah saya menghadap ke arah komplek, sementara saya juga berinteraksi dengan anak-anak kampung yang datang ke RD. Saya berhubungan baik dengan masyarakat sekitar, karena begitulah seharusnya salah satu sifat manusia sebagai makhluk sosial.

Anak-anak komplek pun sebagian suka melewati pinggir rumah saya bila hendak ke RD. Begitu pula ibu-ibu komplek yang hendak menemui ibu mertua saya yang tinggal di lingkungan RD. Sementara anak-anak kampung sering datang ke rumah meminta daun sirih. Buat saya itu semua membahagiakan.

Sama halnya ketika saya membaca tulisan anak-anak yang ikut aktif dalam wisata studi dan wisata tulis. Mereka dibiasakan menuangkan hasil pikirannya ke dalam sebuah karangan, puisi atau prosa. Berbagai warna muncul di sana. Gaya bahasa yang aneh pun kerap muncul.

Saya menangkap dua hal di situ, bahwa anak-anak kampung Ciloang dan Kubil yang aktif dalam kegiatan RD sejak lama mempunyai pengalaman lebih banyak dalam observasi masalah kepenulisan. Mereka rata-rata pernah ikut kunjungan dan wawancara ke beberapa home industry atau perseorangan. Tetapi untuk struktur tata bahasa, kosa kata dan pemilihan istilah, anak-anak komplek rata-rata lebih bagus.

Saya harus menerima semuanya dengan sewajarnya, tentu saja. Toh tak seharusnya memaksakan prestasi pada anak-anak itu. Tapi saya tetap mengangankan jika dua budaya pemikiran itu bergabung di Rumah Dunia, aktif berkegiatan, berkompetisi positif, tentu akan melahirkan generasi yang lebih maju, berstandar lebih tinggi.

Tapi sekali lagi, ini bukan perbandingan. Anak-anak tetap kanak-kanak yang tumbuh dan berkembang (harus) dengan sewajarnya. Tidak ada paksaan untuk bergabung dan berkegiatan di RD, karena di sinilah mata air pemikiran dan ide berkumpul.

Termasuk anak-anak itu, jangan remehkan inspirasi yang ada di kepala mereka. Dan biarkan itu muncul di Rumah Dunia.

Nantikan surat saya berikutnya, ya. Atau kawan-kawanlah yang menulis surat untuk kami.

*) Penulis adalah Penasehat Rumah Dunia
*) Foto: Suasana Pesta nak Rumah Dunia ke-6; mari berbahagia!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

August 2007
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: