KELUARGA PENGARANG

KEMISKINAN, KLENIK, DAN RELIJIUSITAS

Posted on: July 26, 2007

badailaut-3.jpgCatatan Ringan “Badai Laut Biru” Karya Ahmadun Yosi Herfanda – Oleh Gola Gong*)

Seusai hajatan “Ode Kampung 2: Temu Komunitas Sastra se-Nusantara”, 20 – 22 Juli di Rumah Dunia,  sepulang kerja di hari Senin (23/7), saya meluncur ke Mambruk hotel, Anyer, Serang, Banten bersama Ruby Achmad Bhaedowy dari Forum Kesenian Banten. Kami diundang jadi juri lomba penulisan cerpen tingkat SLTP se-Provinsi Banten yang diselenggarakan Dindik Banten. Sambil menunggui kelimabelas peserta menuliskan cerpennya, saya melihat Ruby membawa buku “Badai Laut biru” (BLB) karya Ahmadun Yosi Herfanda (AYH). Saya pinjam buku itu. Saya ingat tahun 2005, anak-anak Rumah Dunia pernah mementaskan lakon dari cerpen “Balada Para korban” karya AYH. Saya rebah-rebahan di kursi. Suasana yang santai, debur ombak, membuat saya larut saat membaca keduabelas cerpen AYH yang realis hingga surealis. Saya merengut, tersenyum dan tertawa. Saya bergumam, “Ahmadun sedang menertawakan Indonesia!”

NEGERI MISKIN
Ya, AYH sedang menertawakan kita. Menertawakan prilaku kita yang munafik, kebodohan dan  keangkuhan kita yang menduakan Tuhan, yang kikir saling sikut, saling berebut, dan saling mendustakan. Dengan menulis, saya pikir, AYH sedang melakukan terapi jiwa agar selalu bersemangat menyikapi kehancuran moral di negeri, yang pada kenyataannya gemah ripah loh jinawi aman tentrem kertaraharja hanya untuk sekelompok golongan saja. AYH sedang meninggalkan realitas di negri ini dengan masuk ke wilayah imajinernya, agar tidak jatuh sakit. Bukankah selama ini jika kita sakit selalu datang ke dokter dan menukar resep di apotik? Tapi, jika jiwa kita yang sakit apa obatnya? Rupanya bagi AYH menulis cepen adalah jalan lain menuju sehat dan saya sebagai pembaca bukunya seperti sedang meminum obat. Sembuhkah?

Jiwa saya sakit, kawan, jika memikirkan negeri yang carut-marut ini. Saya yakin Anda juga. Di buku Dr. Yusuf Al-Qaradhawi; ”Konsep Islam Solusi Utama bagi Umat” (Senayan Abadi Publishing, 2004), bahwa sistem liberalisme dan sosialisme adalah untuk membentuk keadaan ekonomi yang baik dan sempurna dengan mewujudkan peningkatan produksi dan keadilan distribusi. Kedua sistem itu berupaya mensejahterakan masyarakat; membuka lapangan pekerjaan dan upah yang layak, sehingga pemodal asing diperkenankan masuk. Tapi kenyataannya hanya isapan jempol belaka. Rakyat Mesir masih belum mandiri. Rakyat Mesir miskin dan masih mengandalkan impor dari negara lain, baik alat produksi, transportasi, maupun berbagai mesin industri. Ketika saya ke Kairo, Mesir, di bus-bus dan tempat umum, saya sering mendengar percakapan tentang sepak terjang Presiden mereka; Housni Mubarak yang jadi antek imprealisme. Bagi rakyat semua asal murah, walaupun mesti menggadaikan harga diri. Itu persis seperti yang terjadi di negeri ini sejak era Soeharto, bahkan kini SBY. Kita bersedia jadi keset bagi kaki mereka, yang penting segala keinginan terpenuhi tanpa memedulikan harga diri bangsa.

Di negeri kita buruh seperti sapi perahan dan petani serta nelayan tidak bisa menikmati hasilnya. Petani yang hanya minta harga gabah distabilkan, tapi pemerintah malah mengimpor beras dan nelayan gigit jari tak bisa melaut karena harga solar melambung. Sawah-sawah tidak bisa dimanfaatkan dengan baik, malah berganti pabrik. Kelompok-kelompok umat Islam berseteru, dan kita saling curiga sesama anak bangsa karena perbedaan suku. Potensi-potensi ekonomi kerakyatan tidak pernah disokong oleh lembaga keuangan di negeri ini. Tampak sangat mencolok perlakuan mereka kepada pengusaha kelas kakap dengan pengusaha kecil yang notabene adalah pondasi ekonomi kerakyatan.

Ya, tercium aroma kemiskinan merajalela di BLB, yang cerminan negeri ini. Bukan hanya sandang dan pangan (Balada Sang korban), tapi juga kita miskin moral. Kemiskinan adalah ”ibu” bagi anak-anak AYH dalam bentuk cerpen-cerpennya, yang ditulis dengan gara realis dan surealis. Dari keduabelas cerpennya tampak sekali tema-temanya menukik ke kemiskinan moral (Suksesi Pak Sarkem, Buntut Pak Parto, dan Tragedi Para Kepala), aqidah (Kiblat Mak Iyah), syiar (Seorang Pelacur di Sebuah Mesjid), dan akhlak (Keajaiban Lek War), yang dimunculkan lewat prilaku para tokohnya. Akibat kemiskinan maka munculah prilaku-prilaku aneh si manusia di tokoh-tokoh cerpen AYH.

Saya menarik napas ketika membaca cerpen “Perempuan Kecil Bermata Belati”. Itu sangat menohok dalam hal prilaku kita berzakat, infaq dan sedekah. Di cerpen itu diceritakan tentang “aku” yang sedang umroh dan mencampakkan seorang gadis Afghan yang merengek penuh paksaan minta diberi recehan. Prilaku orang miskin yang juga sering menghalalkan segala cara – lihat saja para pedagang kaki lima yang merampas hak para pejalan kaki! Mereka dengan dalih mencari makan tidak peduli akan hak orang lain. Itulah yang dilakukan gadis cilik Afghan, yang menarik-narik baju koko tokoh “aku”, sehingga “sku” mendorongnya. Peristiwa itu membekas dan membebaninya. Tokoh “aku” kembali ke jabal nur dengan bekal recehan dinar di saku. Dia mencari-cari si gadis cilik Afghan. Tapi ketika dia bertemu dan memberinya recehan dinar, saat itu juga merasa tidak yakin, apakah gadis cilik itu yang yang kemarin dicampakannya? Tiba-tiba muncul banyak gadis cilik menadahkan tangannya, “Saya miskin, saya miskin,” hingga recehan dinarnya habis terkuras.

Saya tahu AYH sedang menyindir kita, bahwa sebetulnya negeri ini miskin karena salah urus dari pemimpinnya dan persoalan pendidikan yang tidak jadi prioritas utama. Kita juga diingatkan, jika bersedekah jangan pandang bulu, jangan banyak alasan pula. ”Ah, masih kecil sudah ngemis!”, ”Ntar gedenya mau jadi apa mereka!”, ”Dasar pemalas!”, atau meluncur teori-teori kebodohan persamaannya kemiskinan, kemiskinan diakibatkan oleh kemalasan, dan segala macam tetek-bengek beban sosial lainnya! Kita lupa, bahwa mereka hanya meminta recehan saja dari kita.

Di Bangladesh dan India, saya sempat mengalami hal sama; dikerubungi anak-anak kecil yang mengemis; mereka menarik-narik ujung pakaian saya, menunggui saya yang sedang makan, menguntit saya hingga pintu kamar penginapan. Apa yang harus saya lakukan kepada mereka selain mengusir pergi dengan bentakan, ”Celo, celo!” Juga di perempatan-perempatan jalan kota, kita pasti mengalami perlakuan yang sama; dikepung anak-anak kecil yang meminta recehan! Hati kita diselimuti beragam prasangka; pengemis cilik itu ada yang mengorganisasi, mereka pemalas, dan sebagainya. Untuk mengeluarkan logam limaratusan pun kita sungkan. Kita tidak pernah peduli dengan janji Tuhan, jika kita berbuat kebaikan sebutir akan dibalas berlipat-lipat. Padahal andai saja kita mau bersedekah tanpa pandang bulu, orang-orang miskin di bumi ini akan musnah.

Saya pernah menonton acara diskusi ”Soegeng Sarjadi Forum” di Banten TV. Kata Soegeng, jika 50 orang terkaya di negeri ini duitnya dikumpulkan, itu setara dengan 150 juta penduduk miskin di negeri ini. Sedangkan jika 200 orang terkaya di jagat raya ini disatukan, sekitar 1 milyar penduduk miskin di bumi ini akan terangkat derajatnya. Celakanya, di negeri ini, kita dipaksa harus membayar pajak oleh pemerintah, tapi uangnya dipakai bukan untuk mensejahterakan rakyat miskin, tapi untuk menalangi hutang para konglomerat sialan. Tragredi lumpur Lapindo bisa jadi contoh, bagaimana pemerintah akan menalangi biaya rehabilitasi para korban, yang sebetulnya menjadi tanggung jawab perusahaan milik Aburizal Bakrie dan konco-konconya. Kalau sudah begini, untuk apa kita bayar pajak kalau itu tidak dimanfaatkan untuk biaya kesehatan dan pendidikan masyarakat. Tak.

NEGERI KLENIK
Negeri ini memang kualat. Gara-gara mengidolakan segala yang berbau dari barat, maka liberalisme memakan korban iman kita; iman kepada Allah serta ajaran-ajarannya. Orang-orang yang mengaku pintar dalam hal agama, tapi justru mendustakannya. Saya tertegun dan merasa tidak waras ketika mendengar Hudan Hidayat dengan lantang dan fasih mengutip ayat-ayat Qur’an sekaligus mendustakannya. “Saya tidak sholat!” katanya kepada Asma Nadia, yang jadi rekan dikusinya di “Ode Kampung 2: Komunitas Sastra, Ideologi dan Estetika”, 21 Juli 2007 di Rumah Dunia. Peserta diskusi saya lihat juga terhenyak. Hudan dengan heroik memaklumatkan, bahwa atas nama kemerdekaan berpikir dan liberalisme, “Ide harus dibebaskan dari persoalan agama.”

Kata Hudan, ”Kita ini anak-anak nakal di mata Tuhan.”  Maka wajar jika bencana di bumi kita muncul dimana-mana, karena kita mendustakan Tuhan. Kata orang, itu gejala alam. Tapi saya meyakini, karena selain miskin juga kita sering mendustakan Tuhan. Wajar juga jika di instansi Departemen Agama yang rata-rata diisi kiyai dan ustad yang tinggi ilmu agamanya banyak terjadi korupsi, karena mereka pandai pula mengeluarkan dalil pembenarannya. Kearifan lokal dari orang Baduy di tanah Kanekes, yang tidak butuh sekolah sangat relevan. Bahkan kontekstual. Kata orang Baduy, ”Kalau pinter biasanya dipakai untuk minterin orang.”

Selain karena kemiskinan, suka mendustakan Tuhan, semua mesti diukur dengan urusan-urusan mistik; menikah harus ada hari baiknya, posisi rumah harus menghadap ke suatu tempat, dan kencing di pohon yang besar dilarang karena ada jinnya. Lalu ada keris keramat, makam keramat, mbah berjenggot keramat, maka mintalah berkah dengan mendatangi mereka. Abrakadabra, dijamin urusan jadi lancar. Sudah miskin, percaya mistik pula. Sudah kaya, juga sami mawon. Maka kompletlah Tuhan menghukum negeri klenik ini! Tidak hanya di dalam sekelompok penganut ”art for art” yang tidak butuh agama dalam karya-karyanya dan mengusung estetika ”sastra kelamin”, di dalam kehidupan keseharian pun agama tidak ada gunanya di negeri ini, karena semua pemeluknya mendustakan tuhannya.
Lalu saya mengingat peristiwa teman saya, yang ingin bisnisnya lancar dengan cara pergi ke orang pintar ketika membaca cerpen ”Kiblat Mak Iyah”. AYH menghadirkan tokoh Mak Iyah yang lugu dan bodoh, ingin mendapatkan uang banyak, mendatangi dukun kampung. Perintah sang dukun, sholatlah menghadap timur – bukan ke barat seperti yang kita yakini sebagai kiblat, nanti akan jatuh sekarung uang dari langit. Di sekeliling kita banyak sekali peristiwa seperti ini. Apakah itu orang kaya, pintar, miskin, dan bodoh! Semua tujuannya sama; pergi ke orang pintar karena ingin hidup enak tanpa perlu bekerja keras. Peristiwa yang mencerminkan bahwa negeri ini diisi oleh orang-orang malas dan bodoh adalah ketika terkuaknya prilaku dukun gadungan bernama Tubagus Yusuf Maulana alias Usep dari kampung Cileles, Lebak, yang menghabisi ketujuh pasiennya dengan racun portas sekitar 17 Juli 2007 lalu. Usep mengaku ketujuh korbannya dihabisi, karena terus menagih janjinya yang bisa menggandakan uang. Kalau kita membuka lembaran lama, peristiwa konyol ini sudah bertumpuk.

Sedangkan yang ingin naik pangkat pasti akan manyun jika membaca cerpen ”Suksesi Pak Sarkem.” AYH menyindir para pemimpin kita yang menggantungkan harapannya setinggi langit pada hal-hal ghaib dan tidak masuk akal. Diceritakan Pak Sarkem yang kepala desa memercayai khasiat dari sapi betina, yang bisa membaca nasib orang. Itu adalah cerminan masyarakat kita, yang memiliki standar ganda. Di satu sisi percaya Tuhan, tapi di lain sisi percaya takhyul.

RELIJIUS
Keduabelas cerpen AYH bagi saya sederhana, bersahaja, dan relijius. Semuanya mengalir dan sangat dekat dengan keseharian. Kita seperti sedang diingatkan, bahwa peristiwa-peristiwa di sekeliling kita bisa menjadi cermin. Kalau pun ada kekurangan, itu karena selera saya saja yang berbeda. Ketika membaca ”Keajaiban Lek War”; seorang pemuda buta, saya merasa kecewa karena endingnya tidak sesuai dengan imajinasi saya. Diceritakanlah Lek War yang tidak mau disebut buta. Kemana-mana dia tidak mau memakai tongkat, apalagi dituntun orang. Berkali-kali dia kecebur selokan, kepentok pohon, nabrak tukang bakso, tapi selalu saja dia memiliki alasan.

”Oh, saya sedang mengukur seberapa dalam selokan!” kata Lek War saat kecebur. ”Aduh, pohon ini udah besar, ya!’ dia memeluk batang pohon saat kepentok. Dan suatu hari, orang kampung geger karena Lek War hilang. Keesokan paginya, Lek War muncul dengan santai. “Abis nonton wayang!” Alur dan plot yang dibangun sudah meninggi, tapi tiba-tiba menjadi kendor alias antiklimak. Saya membayangkan akan menemukan klimaksnya saat Lek War bilang, ”Saya tidur di rumah ’Mbak Marni!”  Masyarakat mengenal Mbak Marni sebagai mantan pelacur atau janda kembang. Imajinasi saya tidak akan berhenti jika Lek War tidak sekedar nonton wayang. Ending seperti itu bagi saya membuka ruang-ruang pembaca untuk melakukan penjelajahan moral, bahwa ternyata orang buta pun memiliki nafsu syahwat dan memiliki sisi gelap. Orang buta pun manusia.

Itu juga tampak pada ”Badai Laut Biru”, yang menurut pengakuan AYH di pengantarnya ”pop”. Cerpen ini kurang tepat disandingkan dengan kesebelas cerpen lainnya. Ini seperti film Titanic, romantis. Mungkin ini strategi dari Penerbit Senayan Abadi, agar kumpulan cerpen AYH tidak tampak “angker” sebagai cerpen serius di mata pembaca biasa. Padahal jika disesuaikan dengan karakter  penerbit yang mengusung genre fiksi islami, cerpen “Kiblat Mak Iyah” bisa jadi pilihan lain untuk judul buku ini.

Tapi saya mengacungkan jempol pada AYH yang tidak tergoda memanfaatkan jargon ”seni untuk seni”. Walaupun dia tidak mengusung fiksi Islami secara tegas seperti halnya para penulis di Forum Lingkar Pena, tapi cerpen-cerpennya kental dengan aroma relijius dan AYH sepakat tidak mengusung ”sastra kelamin” yang sedang digunjingkan ”djournal sastra boemiputra” di edisi perdananya, Juli 2007. Seperti yang ditulis di ”boemiputra”, AYH memilih keluar dari Dewan Kesenian Jakarta yang dihuni oleh orang-orang Teater Utan Kayu, yang kita kenal sebgai pengusung ”sastra kelamin”. Padahal AYH memiliki peluang untuk melakukan eksploitasi seks di cerpen ”Seorang Pelacur di Sebuah Mesjid” atau ”Badai Laut Biru”. Dan AYH tidak melakukannya.

Seperti juga saya dengan Rumah Dunia. Saya anggota dan majelis penulis di Forum Lingkar Pena yang mengusung cerpen islami. Sebagai pendiri Rumah Dunia saya memiliki hegemoni dan dominasi untuk memaksakan kehendak, agar cerpen islami menjadi ideology dan estika di Rumah Dunia. Itu tidak saya lakukan. Saya biarkan beragam, semua bebas memilih jalannya masing-masing. Tapi tanpa disadari, kami bersepakat untuk tidak mengeksploitasi seks. (*)

*) Penulis adalah novelis dan cerpenis, pendiri Rumah Dunia di Kampung Ciloang, Serang, Banten.
*) Cover ‘Badai Laut Biru” karya Eman Suta Lingga

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

July 2007
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: