KELUARGA PENGARANG

ODE KAMPUNG 2 RUMAH DUNIA: PESTA PERAYAAN KOMUNITAS

Posted on: July 20, 2007

buah1.jpgOleh Gola Gong

Ode Kampung 2 yang kini digagas bareng bersama komunitas-komunitas di Banten; Gesbica, Cafe Ide, Forum Kesenian Banten, Kubah Budaya, Forum Lingkar Pena, Komunitas Sastra Indonesia, dan Rumah Dunia ternyata mengundagn polemik. Beberapa SMS yang masuk mempertanyakan tema-tema diskusi yang cenderung menyudutkan sebuah komunitas (baca: Komunitas Utan Kayu) dan jenis sastra tertentu (sastra kelamin). Tema yang diangkat adalah ”Komunitas Sastra: Ideologi dan Estetika”. Indikasi itu ”dianggap ada” di nara sumber seperti Helvy Tiana Rossa dengan gerbong Forum Lingkar Pena yang mengusung sastra islami. Padahal ada nara sumber penyeimbang; Maman S Mahayana dan Kurnia Effendi.

DANA – TERBUKA
Bagi saya ”Ode Kampung” adalah pesta sastra (komunitas) bagi rakyat . Yang rakyat sastrawan mensubsidi kadar intelektualnya kepada rakyat yang bukan sastrawan. Kita duduk sama tak berharta, berdiri sama tak berdasi. Kita saling berjabatan tangan, tanpa merasa paling pintar dan paling benar, apalagi menepuk dada hingga batuk-batuk. Firman Venayaksa, Presiden Rumah Dunia yang jadi Ketua Pelaksana ”Ode Kampung 2: Temu Komunitas Sastra se-Nusantara” mengungkapkan harapannya di Republika Minggu (7/7), ”Yang meras sastrawan atau bukan, silahkan datang ke Ode Kampung 2!” Jadi undangan hajatan ini sudah secara terbuka disebarkan di mailing list-mailing list dan koran-koran. Siapa saja dipersilahkan datang.

Masalahnya, ada juga para sastrawan yang keberatan datang karena merasa tidak diundang. Tapi ada juga sastrawan yang secara sukarela datang. Ini persis siang dan malam. Tidak apa-apa, Barangkali permasalahannya – biasanya – adalah urusan dana. Ya, tidak semua sastrawan dikirimi undangan oleh panitia Ode Kampung. ”Dananya terbatas,” kat Firman. ”Setiap komunitas kami fasilitasi 2 orang saja. Sekarang sudah 47 komunitas dari Aceh, Padang,  Palembang, Lampung, Jawa, Madura, Kalimantan, hingga Sulawesi. Untuk ongkos, masing-masing peserta menangung sendiri. Panitia membantu mengirimkan undanan, agar mereka bisa berkompromi dengan Pemda setempat.” Tidak apa-apa. Dihutuhkan kerendahan hati untuk menyikapi situasi dan kondisi seperti ini.

BERAGAM
Binhad Nurrohmat, sastrawan yang dikategorikan mengusung ”sastra kelamin” dengan bijak menganalogikan hajatan Ode Kampung ”Seperti haji, bagi boemiputra dan boemiputri yang mampu silahkan pergi. Tak puas uang tak kembali. Masih ada haji tahun depan.” Dan Binhad berharp, ”Semoga bisa meredakan cekcok sastra akhir-akhir ini. Musuh utama sastrawan yan paling berbahaya adalah diri sendiri, bukan kelompok atau orang lain.”

Itu memang jadi wacana yang klasik. Selalu ada dikotomi soal ideologi dan estetika sastra di komunitas. Saya secara pribadi tergabung di Forum Lingkar Pena yang mengusung ganre sastra islami. Tapi, hal itu tidak menjadikan saya otoriter, bahwa semua yang terlibat di Rumah Dunia harus mengikuti ideologi saya. Saya tidak ingin menjadi hegemoni. Rumah Dunia adalah pusat belajar, sebuah taman dengan beragam bunga. Seperti halnya mimpi saya ketika muda, ingin menjadi Rabindranath Tagore dengan Santi Niketan. Saya duduk di bawah pohon, membacakan puisi dan prosa kepada anak-anak. Atau Ki Hajar Dewantoro dengan Taman Siswa; ing ngarso sung tulodho ing madyo mangun karso tut wuri handayani. Sang guru merupakan pemimpin yang memberi teladan baik. Juga aktif, kreatif, konstruktif, dan produktif. Dia bersedia mengikuti anak didik dari belakang sambil membimbingnya. Konsep pendidikannya mengakui hak anak atas kemerdekaan untuk tumbuh dan berkembang sesuai bakat dan pembawaannya. Dalam perkembangan psikologi anak kontemporer, Howard Gadrner memopulerkan istilah kecerdasan majemuk (multiple intelligences), dimana setiap anak dapat memmunyai lebih dari satu kecerdasan dan bakat. Begitulah yang terjadi di Rumah Dunia; guru dan murid sejajar. Guru dikriritk murid, murid juga siap dikritik guru.

Segala ilmu dipelajari. Pun genre sastra. Saya hanya menginformasikan kepada para peserta kelas menulis Rumah Dunia, misalnya, bahwa di jagat sastra ini mirim rimba persilatan; ada sastra islami yang saya anut, sastra kelamin, sastra universal, sastra wangi, sastra populer, sastra entahlah. Saya menjelaskan juga politisasi sastra yang berkembang dewasa ini; terutama ”perseturaan” sastra non-imprealisme dan imprealisme. Saya mempersilahkan secara pribadi-pribadi untuk memilih. Toto ST Radik tidak memilih masuk ke FLP itu adalah contoh, bahwa di Rumah Dunia menganut paham keberagaman.

Waktu yang hanya Sabtu dan Minggu tentu saja tidak bisa memenuhi selera makan kita. Menu-menu kami coba ramu dengan koki-koki dari beragam komunitas; Wowok Hesti Prabowo (Komunitas Sastra Indonesia), Toto ST Radid (Sangngar Sastra Serang),   Wan Anhwar (Cafe de) dan Ruby Achmad Baedowy (Forum Kesenian Banten). Maka yang menyeruak adalah tema besar persoalan estetika dan hegemoni komunitas sastra.

Saya sebagi pribadi mencintai keberagaman. Ode Kampung juga adalah keberagaman. Ode Kampung dimaksudkan untuk silaturahmi para pekerja seni (satra dan teater) saling berbagi ilmu dan pengalaman lewat diskusi dan pertunjukan. Bukan pada saling tunjuk siapa yang paling benar dan salah. Tapi kekecewaan tehadap  hegemoni Komunitas Utan Kayu (KUK) memang sangat kuat di antara para pekerja seni. Di setiap koran ibu kota edisi Minggu muncul esei yang menunjuk KUK sebagai antek imprealisme. Di Jurnal ”Boemiputra” yang diluncuran pada Sabtu (7/7) di Untirta, Serang, sangat jelas menunjuk KUK. Bahkan di sebuah tulisannya, mengutip wawancara Wowok Hesti Prabowo di koran Media Indonesia, dengan sangat gamblang menulis ”Goenawan Mohamad Pelacur Budaya!” Ketika saya membaca isinya, saya menghela nafas sambil geleng-geleng kepala, ”Berani juga Wowok, yang dengan sangat lantang menunjuk Goenawan Mohamad”.

Saya sendiri tidak akan seberani  (kata halus dari nekat) Wowok, karena melawan KUK harus juga dibekali ilmu pengetahuan yang mumpuni. Goenawan bagi saya adalah gudang ilmu. Saut Situmorang pernah mengirim SMS pada aya, ”TUK itu narsis dan kita terlampau mengagumi Goenawan dan kadung dimitoskan”. Saya membalas SMS ke Saut, ”Mestinya kalau melawan Goenawan Mohamad dan konco-konconya yang kalian sebut antek-antek inprealiasme harus dengan ilmu pengetahuan. Lawan mereka dengan karya-karya yang bagus!” Hanya sja Wan Anwar, Redaktur Horison, mengingatkan saya, ”Wowok melawan KUK sengaja dengan cara ’kelamin’ seperti halnya KUK dengan ’sastra kelamin’nya. Jadi, tidak perlu memakai cara intelektual. ”Saya salut, karena  Wowok berani menghina Goenawan dan KUK.”

Di blog tamankembangpete mengutip wawancara Goenawan Mohamad yang diwawancarai majalah Playboy Indonesia. Goenawan menjelaskan, ”Kalau disangka kami menguasai semuanya tidak betul juga. Misalnya festival sastra internasional kan tidak hanya yang diselenggerakan TUK tapi juga DKJ dan Rendra. Kedua, pilihan luar negeri itu tidak ditentukan oleh TUK. Dunia internasional dekat dengan TUK tapi mereka memilih sendiri. Yang kadang-kadang kami ragukan, tapi mereka memilih apa boleh buat. Ketiga, pengaruhnya apa sih. Penguasaan itu berupa apa? Kan ada banyak media di dunia, bahkan di Jakarta ini. Memang orang TUK punya peranan di Kompas maupun Koran Tempo, tapi kan tidak berarti diisi oleh orang-orang itu itu saja. Jangan lupa kalau dalam kode etik Utan Kayu itu, kalau karya anggota komunitas sendiri tidak bisa dipentaskan. Anggota komunitas tidak bisa menjadi peserta festival sastra yang diselenggarakan Utan Kayu. Seperti karya saya atau Sitok, tidak bisa diikutkan.”

BUKAN DAVID
Saya sebagai orang kampung tahu diri dan hanya bisa terperangah melihat jurus-jurus sastra mereka di jurnal Boemiputra yang kasar dan emosional. Kecuali tulisan Saut yang argumentatif di jurnal Boemiputra, yang aromanya mmeang ingin menghancurkan hegemoni KUK di jagat sastra nusantara. Seperti kita tahu, bahwa kata Wowok, Sitok Srengenge pernah berujar, ”Belum layak disebut sastrwan jika tidak ada rekomendasi dari KUK.” Saya menunggu konfirmasi dari Sitok nanti.

Sekali lagi, saya tahu diri. Kalaupun KUK menjadi sebuah kekuatan, mendominasi, dan memiliki hegemoni di jagat sastra Nusantara ini, sehingga bisa memberikan rekomendasi ”siapa yang berhak” mengikuti event-event sastra internasional, saya tidak ambil pusing. Itulah enaknya tinggak di kampng, sehingga memiliki cara berpikir, melancong keluar negeri atas nama sastra Indonesia bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan. Tapi Viddy AD Daery  di Republika Minggu, 1 Juli 2007 menulis, ”Kini TUK telah telah tumbuh besar dan menjadi semacam pusat kebudayaan yang hendak mencengkeramkan pengaruhnya secara lebih kuat. Maka, komunitas-komunitas kecil yang kini hendak menandingi TUK harus disadarkan benar, bahwa mereka kini berposisi sebagai David dan TUK adalah Goliath. Dalam sejarah, dan dicatat oleh kitab-kitab suci, David bisa menang melawan Goliath, tetapi dengan taktik dan kecerdasan, bukan dengan emosi yang tidak terkendali! Hal itu disindir Veven di Republika edisi Minggu (15/7), bahwa Viddy malas melakukan analisis. Bagi saya, KUK bukanlah Goliath dan Rumah Dunia yang saya kelola dan akan mengelar hajatan ”Ode Kampung 2: Temu komunitas se-Nusantara” tidak dimaksudkan sebagai David.(*)
*) Penulis adalah cerpenis, novelis, dan pendiri pusat belajar RUMAH DUNIA di Serang Banten. Bisa klik www.rumahdunia.net dan www.keluargapengarang.wordpress.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

July 2007
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: