KELUARGA PENGARANG

TAK MENGIJINKAN KITA BERISTIRAHAT DAN MENGHELA NAFAS

Posted on: July 11, 2007

labirin-2.jpgLabirin Llazuardi 2: “Ketika Bumipun Menangis”
Oleh Renhard Ren
Labirin perjalanan Lazuardi kali ini ada di sebuah kampung kecil. Lazuardi dihadapkan pada puzzle-puzzle kehidupan yang jauh lebih kompleks. Kala kebutuhan hidup menuntut pelampiasan. Kala tanah yang kering dan tandus tak lagi memberi pengharapan. Warga kampung dihimpit kebutuhan terpaksa membiarkan para anak gadisnya pergi mengadu nasib ke kota. Ke luar negeri. Meski hanya menjadi pembantu. Meski tahu betapa besar resiko terburuk yang mungkin akan diterima.
GARANG
Namun apalagi yang menjadi pilihan? Hidup harus terus dipertahankan. Sementara kepentingan-kepentingan sekelompok borjuis yang tak mampu mereka lawan telah memaksa mereka untuk menjual satu-satunya harga diri yang tersisa. Potret kehidupan sebuah kampung miskin yang menyimpan bermacam dilema dan permasalahan yang komplek.
Dalam “Labirin Lazuardi 2: Ketika Bumi Menangis” (Penerbit Tiga Serangkai, Solo, Juli 2007), Gola Gong tampil lebih garang dari seri sebelumnya. Dengan bahasa yang makin padat, bermakna dan cenderung tak membiarkan satupun kata terbuang percuma, penulis menggiring kita untuk benar-benar memasuki dan menyelami kehidupan pahit masyarakat desa yang terhimpit bermacam masalah.
Dibandingkan dengan “Labirin Lazuardi 1: Langit Merah Saga” yang jalan ceritanya masih membuat para pembaca sedikit dimanjakan dengan alur dan latar yang berubah-ubah beserta tokoh yang beragam, maka di serinya yang kedua ini pembaca tak akan menemuinya lagi. Di seri kedua ini, Gola Gong benar-benar menunjukkan kemampuannya dalam mengolah diksi dan menggiring emosional pembaca secara lebih terpusat.
DOSA TUHAN
Hal terbaik dalam novel ini adalah betapa pada setiap dialog dan narasi-deskripsi yang disampaikan benar-benar padat dengan pesan moral yang kuat. Dialog-dialog yang dibangun antara Lazuardi dengan seorang polisi yang jujur, murid pak Kyai dan sang Kyai sendiri terasa begitu bertubi-tubi dan penuh emosi. Sebuah perkembangan yang sangat signifikan dibanding seri terdahulunya yang dalam menyampaikan pesannya masih terjebak dalam bahasa yang terlalu literer dan romantis. Belum lagi diksi yang semakin efisien dan padat.
Namun sebagai imbas yang tak dapat dihindari pula, pembaca yang cenderung menyukai cerita yang ‘membuai’ dan ‘menghibur’ mungkin akan sedikit dikecewakan. Hal ini dikarenakan Gola Gong tak pernah mengijinkan Lazuardi (dan pembaca) untuk sedikitpun beristirahat dan menghela nafas.
Detik demi detik dilaluinya dengan penuh ketegangan dan pergulatan pikiran. Bersama babak demi babak yang tersuguh di depan matanya. Bersama kematian demi kematian yang mengguncang hati nuraninya. Tidak hanya kematian fisik semata, namun lebih jauh lagi adalah kematian nurani hati, kasih-sayang, kepedulian pada sesama. Masyarakat telah mati. Agama hanya menjadi alibi pengganti. Manusia terus lari. Bersembunyi dari semua permasalahan yang telah ia ciptakan sendiri.
Kematangan dan kedewasaan yang lebih pada seri kedua ini, belum lagi dengan pesan-pesan moralnya yang padat membuat seri kedua “Labirin Lazuardi” ini bisa dikatakan lebih berhasil dari seri pendahulunya. Jikapun ada yang kurang, maka itu adalah kurangnya kejelasan Gola Gong dalam ‘membela’ Tuhan. Dalam setiap adegan, dialog, konflik, dan narasinya penulis memang berusaha mati-matian untuk selalu ‘membela’ Tuhan.
Namun dilihat dari porsi yang begitu besar tentang ‘kesalahan dan dosa’ Tuhan yang ia paparkan, pembelaan kecil –dan bias—yang ia berikan sebagai antitesis di penghujung cerita itu terlihat kurang memberikan harapan yang sesuai. Semoga saja di seri selanjutnya penulis akan membuat kita puas dengan ‘pembelaan’nya yang pas. Selamat membaca.(*)
*) Penulis adalah peserta kelas menulis Rumah Dunia angkatan kesembilan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

July 2007
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: