KELUARGA PENGARANG

Bambang Pamungkas:SAYA INGING MAIN DENGAN KURNIAWAN!

Posted on: July 11, 2007

2_bambang1298_ebver.jpgOleh Gola Gong

 Budi Sudarsono meliuk. Kedua kakinya berbenturan dengan pemain belakang Bahrain. Tapi, Budi masih sempat mengoper datar ke Firman Utina, yang langsung mencocor bola. Deras bola itu ke kanan gawang lawan. Kiper Bahrain, Abdulrahman Abdulkarim, menepis bola. Membentur tiang gawang. Bola liar memantul ke tengah. Bambang Pamungkas langsung menebasnya ke sisi kiri atas gawang!

BONUS
 ”Gooool! Saya berteriak girang dan melompat. Stadion Bung Karno, Senayan, seperti mau runtuh. Bambang melakkan selebrasi dengan merentangkan kedua tangannya; dia seprti pesawat terbang meliuk-liuk di pinggir lapangan. Saya tidak berhnti bereriak, ”Gol, gol, gol!”
 ”Menang, Pah? Menang? Dapat piala?” Abi (8 th) ikut berjingkrak-jingkrak. Odi (3 th) dan Azka, walaupun bingung melihat ulah ayahnya, ikut berjingkrak-jingkrak sambil ikut berteriak-teriak, ”Gol, gol, gol!”
 ”Belum, belum dapat piala!” kataku. ”Tapi dapat bonus, uang lima puluh juta!”
 ”Lima puluh juta? Banyak amat! Abi mau jadi pemain bola aja”
 ”Odi juga!”
 Suasana sore itu, Selasa (10/7), sangatlah menyenangkan. Rasa lelah sepulang bekerja dari RCTI Jakarta hilagn sydah. Saya memang hanya menyaksikan babak kedua saja. Tapi, pancaran wajah bahagia Bambang Pamungkas, bagi saya, itu adalah obat untuk seluruh waraga Indonesia yang sedang dirundung duka. Warga Porong, Sidoarjo, yang hidupnya hancur-luluh karena lumpur Lapindo, saya pikir sore itu akan menangis bahagia, walaupun sekejap saja.
Lalu saya menerangkan kepada mereka, bahwa kita harus mau belajar dengan keras. Apakah mau jadi pengarang, guru, dokter, insinyur, atau pemain sepak bola, semuanya melalui proses; kerja keras, kekerasan hati. Kalau mau jadi pemain sepak bola harus mau bangun pagi, lari-lari, janan malas, makan yang banyak, membaca berita-berita olahraga.  Ketiga anak saya mengangguk-angguk. Saya yakin, yang terbayang di benak Abi bonus Rp. 50 juta!  Semestinya para pemain Indnesia terus diming-imingin bonus. Jika menang lawan Arab kasih Rp. 100 juta dan seri lawan Korea Rp. 200 juta. Mereka harus kaya, agar bisa konsentrasi bermain sepak bola! Daripada uangnya dikorupsi para pejabat negeri ini, mendingan untuk memakmurkan para pemain sepakbola.. Daripada uangnya dipakai untuk nalangin dana lumpur Lapindo., mendingan untuk mensejahterakan mereka. Saya yakin, jika mereka tidak pusing ngurusin dapur, mereka pasti akan maksimal main sepak bola. Ya, mereka layak mendapatkan bonus itu, karena sudah memberi kebanggaan, menghibur dan memberi kebahagiaan bagi 250 juta rakyat Indonesia!
 

PATRIOTIK
 Bambang Pamungkas alias Bepe layak disebut sebagai ”dokter” bagi anak negeri yang sedang sekarat. Tendangan keras kaki kanannya ibart sebuah pil ajaib. Sepanjang tahun 2006-2007, stadiun gelora Bung Karno selalu dirundung duka. Kekalahan-kekalahan yan mendera tim nasional semakin menenggalamkan lagu pilu negeri ini.
 Kita patut bergembira seminggu ini. Setelah tim nasional keok di tangan Myanmar di ajang Merdeka Games kemaren, Presiden SBY menendang bola bersama Zinedine Zidane, nasi aking menggelitik perut kita, gedung DPRD Banten yang menghabiskan biaya Rp. 91 M lebih belum setahun sudah rusak, anggota DPRD Banten yang korupsi milyaran rupiah dihukum 1 tahun lebih sementara rakyat mencuri bawang 10 kilogram dihkurung 8 bulan, Bepe mengguyur rasa nyeri itu dengan golnya dimenit ke-64.
 Di AnTeve, Bepe mengatrakan, ”Kami memang tidak diunggulkan. Kami hanya ingin bermain sebaik mungkin. Maksimal. Apa yang kami punya, akan kami berikan.” Begitu juga Ponaryo Astaman, kapten kesebelasan, di acara ”News dot com” di Metro TV dengan patriotik meminta seluruh masyarakat Indonesia mendoakan. ”Doakan kami. Itu akan memberi kami motivasi untuk menang.” Sedangkan Nordin Halid, Ketua Umum PSS menargetykan timnas Indonesia masuk 8 besar!
 
FIGUR
Sebetulnya yang dibutuhkan negeri ini adalah figur. Sepakbola adalah jenis olahraga paling digemari di negeri ini. Dulu pernah ada Kurniawan Dwi Julianto – sekarng di Persitara Jakarta Utara, yang membuat anak-anak negeri ini menggemari sepakbola. Juga Taufik Hidayat di badininton, yang membikin gemes dengan ulahnya memacari artis-artis ibukota. Ini Bepe bisa kita jadikan figur setelah kita tidak mendapatkannya di antara para pemimpin kita, yang lebih sibuk mengurusi tahta dan harta.
Bepe lahir di Salatgi, 10 Juni 1980. Dia bergabung dengan timnas Indonesia saat masih berumur 18 tahun ketika melakukan pertandingan persahabatan denan kesebelasan Lithuania di Vinus, 2 Juli 1999. Skor 2:2 dan Bepe menjaringkan 1 gol. Bepe yang pernah menyabet pemain terbaik remaja di Haornas sangat rendah hati. Dia tidak mengidolakan pemain sekaliber Ronaldibdho. Di koran-koran atau dimana pun, Bepe selal menyebut idolanya adalah Kurniawan Dwi Julianto, si  kurus bengal yang jika di kotak penalti licin bagai belut. Bahkan di AnTeve, sebelum pertandingan melawan Bahrain digelar, Bepe masih menynut Kurniawan sebagai idolanya. ”Saya pernah main bareng denan Kuniawan sekali di Piala Tiger. Setelah itu, tidak lagi. Hingga kini, kurniawan masih sebagai striker terbaik negeri ini. Saya masih ingin main bareng Kurniawan.” Di Piasla Tiger 2002, Bepe menjdi top skor denan 7 gol. Juga di kiprah awalnya dengan Persija di Liga Indonesia, Bepe menyabet sepatu emas dengan 24 gol. Dan bersama Selagnor FC, Malaysia, menggondol juara liga 2005 sekaligus pencetak gol terbannyak; 22 gol!
Saya merinding ketika Bepe menyebut nama ”Kurniawan”. Saya juga mengidolakan Kurniawan setelah era Ajat Sudrajat berlalu. Saya pikir, Ivan Kolev harus memikirkan ini. Bepe yang tingginya 170 cm tandukannya mematikan harus ditemani petarung sejati di lini depan. Jika Elie Eboy dan Budi Sudarsono cidera atau kelelahan, suntikan darah segar dari seorang Kurniawan di 15 menit terkahir babak kedua, saya yakin akan memberi angin topan bagi Bepe. Terutama saat menghadapi Arab Saudi, Sabtu (14/7) dan Korsel Rabu (18/7) nanti  Pemain berpengalaman seperti Kurniawan dibutuhkan. Dan ingat, para pemain Asia selalu keder jikaKurniawan main! *

Foto: Bambang Pamungkas, striker Persija Jakarta berupaya melewati pemain belakang PSDS pada pertandingan liga Indonesia IX. Foto pernah dimuat di BOLA edisi 1298, Selasa 1 April 2003. Photographer : Erly Bahtiar

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

July 2007
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: