KELUARGA PENGARANG

[Mesir Diary #2] BIAYA HIDUP DI MESIR SANGAT MURAH

Posted on: June 26, 2007

mesir-2.jpgCatatan Perjalanan oleh Gola Gong

Saya kini di Wisma Nusantara. Badan terasa segar setelah mandi. Di meja makan tercium aroma sedap sarapan pagi. Ada mangkok berisi nasi goreng. Wuih, selera makan saya langsung bangkit. Saya ingat, pernah menerima SMS dari Panitia (mungkin Nidol atau Suhartono) yang berbunyi, “Bisa nggak Mas Gong langsung memberi materi pelatihan setelah datang di Kairo?” Saya menjawab SMS itu, “Bisa saja. Asal sedikan sarapan khas Mesir, nasi goreng, telor dadar, dan kornet.”

NASGOR
Hahaha…, jauh-jauh ke mesir makannya nasi goreng juga. Tidak bisa dipungkiri, perut saya memang kampungan. Dimana-mana, jika urusan makan, ketemunya harus nasi. Saya paling sebel kalau sudah berhadapan dengan menu Eropa. Denan segala macam tetek bnegek makanan pembukanya, terlalull ruwet dan banyak proedur. Di India, jika saya makan di restoran, selalu saya bilan, “Makan, makan! Jangan ada sop pembuka. Langsung fried rice saja!”

Ternyata mereka menganggap serius SMS saya itu. Tida apa, ini namanya rezeki. Tidak baik menolak rezeki. Saya menyantap sarapan nasgor itu di kamar, ditemani Cak Adhiem, Teh Pipit, Irwan Kelana dan beberapa panitia seperti M. Nasih, Suhartono, Saeful Bahri, Mutawali, Ismail, Nidol, Zaki, dan Roni. Ajudan pribadi saya, Dali Permana, budak Bandung asal Margahayu, melayani saya dengan baik. Wah, saya merasa tersanjung. Jarang-jarang saya diperlakukan seperti duta bangsa. Dalam hati saya berkata, “Gile! Ane jadi pejabat, neeh…!” Gimana nggak! Hal sekecil apapun, tinggal teriak,”Ajudaaaaan, siap!” Dali langsung muncul di hadapan saya, “Ya, Kang? Ada yang bisa saya bantu?” Asik nggak, tuh! Bahkan tawarannya, “Kalau Akang pegel-pegel, saya pijit….” Saya harus menolak, karena kalau dipijit, saya itu nggak tahan sama gelinya!

Saat sarapan, M. Nasih (Ketum Panitia) memperkenalkan diri serta jajaran panitia lainnya. Nasih membeberkan agenda hari itu (Rabu, 4/7). Hari itu Tehh Pipit memdapat giliran pertama memberikan materi penulisan fiksi (cerpen dan novel) jam 11.00 waktu Kairo (WK). Di Indonesia berarti maju 4 jam, pukul 15.00 WIB). Saya kebagian jam 14.00 WK Lumayan, saya bisa istirahat beberapa jam. Saya lirik jam dinding; pukul 08.00 waktu Kairo. Bisa tidur panjang, nih. Tapi, panitia sudah memberi pekerjaan, yaitu membacai 60 cerpen lomba. Saya dan Tehh Pipit jadi juri lomba menulis cerpen yang diadakan panitia. Pesertanya mahasiswa Al-Azhar asal Indonesia. Tema yang diusung nilai-nilai kemanusiaan. Saya dan Tehh Pipit membagi dua; masing-masing kebagian 30 cerpen untuk dibaca dan didiskusikan. Kami harus memilih 15 terbaik.

NOVEL

Usai diskusi kecil di saat sarapan, saya meminta ijin untuk tidur. Di pesawat rute Singapura –Dubai, saya tidak bisa tidur nyenyak. Sedangkan Irwan, sangat pulas di sebelah saya. Ketika perjalaan Dubai – Mesir, saat mata mengantuk, Irwan mengajak saya berdiskusi tentang pembuatan antoloji novelet bertiga; saya, Tehh Pipit dan Irwan. Juga rencana lainnya, yaitu mewnulis novel berdua dengan latar Mesir. ‘Nanti kita nyari sponsor,” kata Irwan. “Nanti semua sponsor yang membiayai perjalanan kita ke Mesir, kita masukkan di kata pengantar novel. Atau masuk di dalam cerita.”

Saya memahami ide Irwan. Misalnya, jika sebuah maskapai penerbangan mensponsori tiket jakarta – Mesir, maka bisa saja nanti para tokoh di novel yang akan kami buat bepergian mneggunakan maskapai tersebut. Tidak menjadi soal. Saya sering memasukkan itu ke dalam perjalanan para tokohnya, seperti : Fajar memasuki perut pesawat Garuda Indonesia. Ini adalah realitas yang dilibatkan ke dalam fiksi. Rencnanya April 2006, ide Irwan itu akan direalisasikan. Sebagai wartawan Republika, Irwan memang banyak relasi. Tiket pesawat Irwan untuk Jakarta – Kairo dan sebaliknya, disponsori oleh sebuah bank syariah. Belum juga saya tiba di Mesir, beberapa kerangka cerpen berlatarkan Mesir sudah bersliweran. Bahkan diskusi pun beralih dengan Cak Adhiem. Saya menceritakan rencana pembuatan buku nonfiksi bersama Tias Tatanka (istri saya). Penerbit Gema Insani – insya Allah – akan menerbitkan. Buku itu kami beri judul “Home Sweet Home”. Tapi, saya merasa kurang cocok, karena kurang membumi. Tidak down to earth. Cak Adhiem mengusulkan, “Ini Rumah Kita, Sayang….” Saya tersihir. Cak Adhiem ini memang piawai membuat judul buku. Misalnya buku “Kupinang Kau dengan Hamdalah,” sangat bagus. Saya setuju dengan judul itu. Kebetulan Tias punya sajak berjudul “Rumah Kita”. Setibanya di Kairo, saya mengirim SMS ke Tias danIna, editor lini wanita dan keluarga di GIP. Alhamdulillah, mereka suka. Lalu saya mendiskusikan rencna pembuatan novel berlatar Mesir. Judul bakal novel saya pun didapat dari diskusi dengan Cak Adhiem, yaitu “Kusunting Dikau di Sungai Nile.” Wah, asik, deh! Saya sudah ingin segera duduk di depan komputer. Sayang, saya belum punya lap top! Cak Adhiem membawa lap top, sehingga setiap saat dia menyempatkan diri menuliskan ide-ide kreatifnya.

MURAH
Saya terbangun ketika pintu kamar diketuk oleh ajudan, Dali Perdana. Sudah jam 12.00 WK. Ternyata ada tamu istimewa, Edi Hudiata, ambasador Rumah Dunia untuk Mesir. Edi adalah mahasiswa Al-Azhar tingkat keempat asal Serang. Segala rencana kami susun. Terutama agenda pertemuan dengan mahasiswa asal Banten pada Senin mendatang (11/7).

Saya protes ke Dali, “Kok, Senin? Lama amat!” Dali menjelaskan dengan tenang, “Agendanya sudah disusun, Kang. Padat sekali.” Saya bisa mengerti. Tapi, saya cuma nyengir, karena setiap malam ada agenda makan di rumah para pejabat KBRI. Bergiliran. Saya memaklumi, karena dengan begitu bujet konsumsi bisa didistribusikan kepada mereka. Saya jadi ingat rumus Steven Covey (Seven Habits), bahwa jika kita memegang segelas air seharian, akhirnya akan terasa berat juga. Tapi, jika gelas berisi air itu dipegang secara bergantian dalam sehari, maka tetap terasa ringan. Nah, bagi panitia, urusan konsumsi sedikit teratasilah.

Lalu saya meminta ijin kepada panitia untuk menukar uang 100 dollar Amerika, uang saku yang saya ambil dengan cara menggesek kartu “Mak Siti” di bandara Cengkareng. Panitia mewanti-wanti saya, agar jangan “berpetualang” dulu, karena acraa pelatihan jam 14.00 WK sudah di depan mata. Dali dan Edi mengawal saya keluar dari Wisma Nusantara. Kami menyusuri jalan-jalan di antara apartemen. Tiba-tiba saya teringat film “Children of Heaven”, dimana Ali dan bapaknya menyusuri kawasan perumahan di kota Teheran untuk menawarkan jasa berkebun kepada pemilik rumah. Hampir mirip penataan kotanya, semua bangunan seperti kubus bergerak antara 5 sampai enam lantai ke atas.

Badan yang pegal dengan dijakak berjalan kaki justru terasa enak. Pikiran pun menjelajah kemana-mana saat tiba di jalan protokol kawasan Rab’ah El-Adawia. Lalu-lintasnya terkesan “awut-awutan”. Supir jalan semparangan dan penyeberang jalan juga senaknya saja. Tapi, yang tertangkap di mata dan pikiran saya, semua itu ada harmonisasinya. Terasa indah dilihat, nyaman di hati. Jika sebuah okestra, masing-masing sudah tahu perannya. Saya merasakan itu sudah jadi bagian dari rutinitas mereka, intuisi mereka. Semua tampak enjoy melakukannya.Semua tampak sadar dan bahagia melakukannya. Saya terpesona. Bisa saja penilaian saya ini salah, karena asumsi ini terbentuk hanya dalam beberapa jam saja. Mengkristal hanya dalam rentang 2 minggu saja. Tapi, kesan pertama saya terhadap asyik!–” Dari mulut Dali dan Edi keluar cerita, bahwa mereka mendapatkan beasiswa dari Al-Azhar sebesar 150 Pound setiap bulannya. “Seratus pound kami pakai untuk menyewa apartemen seharga 700 pound. Kami iuran bertujuh. Sisanya 50 pound untuk nambah-namabh biaya hidup,” cerita Dali. Total biaya makn dan segalamacam tetekbengek lainnya, tambah Edi, “Sekitar 50 dollar Amerikalah!” Sekedar gambaran, 58 pound untuk US$1. Jika kita membeli segelas juice, harganya hanya 50 Piaster (setengah Pound saja, kira-kira setara dengan Rp.800,-). Ongkos 1 jam internet 1, 5 Pound. Jika ruangannya ber-AC, 2 pound. Ongkos bis kota jauh dekat yang non-AC 25 sampai 50 Piasters, bus AC mahalan dikit, 2 Pound. Sedangkan kereta bawah tanah, Metro Nafaq 75 Piasters.

*) Foto: Suhartono (kiri), mantan Presiden Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia di Mesir dan Muttawali alias Tewel, sedang meeting darurat, hehehe….

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

June 2007
M T W T F S S
« May   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: