KELUARGA PENGARANG

BERPETUALANG DENGAN PUTRAKU

Posted on: June 26, 2007

gong-1.jpgOleh Gola Gong

“Ke jalan baru, Pah!” itulah kalimat yang akhir-akhir ini sering aku dengar dari mulut kedua anakku; Bella dan Abi. Kosa kata “jalan baru” memang sedang nge-top di kampungku, komplek Hegar Alam, Ciloang. Jika biasanya orang-orang ke kampungku selalu lewat utara dari jalan protokol; Jendral Sudirman, atau pintu selatan dari kampung Cikubil, kini ada jalan baru di sebelah barat; Jl. Bhayangkara. Jalan berukuran 2 meter ini melintasi persawahan dan menyusuri sungai irigasi, melewati jembatan dari tiga batang kelapa dan persis berujung di Rumah Dunia.

***

ALAM
Suatu pagi, saat aku dilanda kesibukan menyelenggarakan “Gramedia Book Fair” di Rumah Dunia, September 2005, aku menyempatkan diri mengajak istriku, dan ketiga anakku; Bella (7 th), Abi (6 th), dan Odi (1,8 th) ke jalan baru. Kami menyebut jalan baru, kaena itu adalah jalan selebar dua meter, yang membelah pematang sawah menuju jala raya. Memotong setengah perjalanan jika melewati jalanan kampong yang selama ini biasa dipakai. Hanya saja jalan baru itu masih berupa jalan tanah dan jembatannya dari 3 batang pohon kelapa yang dibelah. Selain jalan kaki, sepeda saja yang bias lewat.

Cuaca pagi itu sangat cerah. Tanpa aku duga, mereka sangat antusias. Jalan baru itu adalah perluasan dari pematang sawah. Masih tanah merah. Ketika melihat sawah-sawah yang baru saja dibajak tergenang air, mereka turun bermain lumpur. Odi malah menciprat-cipratkan air. Aku juga turun ke sawah, mengajak Bella dan Abi saling melempar lumpur. Abi nangis waktu aku baluri tubuhnya dengan lumpur. Si Abi payah. Pagi itu aku mengajarkan mereka bau lumpur, sungai yang kecoklatan, dan tentu tentang petani yang selalu membungkuk menanam padi. Tias juga sangat gembira. Sayang sekali, anak keempat kami, Azka, masih berumur 6 bulan dan sedang tidur nyenyak.

Pagi itu betul-betul karunia terindah bagi kami. Bagi orang lain bermain lumpur seolah-olah pekerjaan yang sia-sia, membuang-buang waktu. Tapi aku sedang mengajarkan anak-anakku tentang alam yang terhampar indah. Aku teringat Nabi Ibrahim yang belajar dari alam semesta untuk mengenal tuhannya; Allah SWT. Saya juga teringat Rabindranath Tagore dengan Santi Niketan; mengajak anak didiknya belajar dari alam yang terkembang. Ya, Allah sudah memberikan semesta ini untuk kita pelajari. Sekolah bukan hanya ruangan dengan empat dinding, bangku-bangku, dan seorang guru di muka kelas. Tapi juga beratapkan langit, berlantai bumi, berpena lumpur dengan halaman buku dari lembaran daun yang jatuh dari tangkainya.

Aku jadi teringat saat Bella dan Abi balita. Aku mengajari mereka tentang ulat yang memakan daun lalu bermetamorphosa jadi kupu-kupu. Aku membuat kebun binatang kecil di halaman belakang rumah; kelinci, musang, monyet, burung merpati, dan kolam ikan. Aku mengajari mereka tidak sekedar lewat buku saja yang tersebar di rak-rak perpustakaan Rumah Dunia, tapi juga aku bawakan bendanya. Aku masih ingat, bagaimana Abi dan Bella dengan takut-takut memberi makan pisang atau kacang kepada Cheetah, monyet kecil. Masih terekam jelas, bagaimana bergembiranya mereka saat mencoba menggenggam ikan belut – sedat, yang licin.

Pada Azka dan Odi pun begitu. Aku membeli ikan mas, koy, dan mujaer kecil. Aku buat kolam dari plastik. Ikan aku sebar. Odi sudah berani masuk ke kolam dan bermain bersama ikan. Tapi, pada akhirnya kolam plastik itu pun jadi tempat bermain Bella dan Abi. Aku mesti sering menguras kolam itu dan membeli ikan-ikan baru, karena banyak yang mati.

PETUALANGAN
Kembali ke jalan baru. Di pagi yang lain. Tanpa aku duga, Abi minta diantar ke sekolah, tapi tidak mau dengan mobil atau motor. Aku kaget. Kenapa? “Abi pingin jalan kaki, lewat jalan baru.” Kakaknya sekolah pagi, jam 07.00. Abi masuk jam 09.30 WIB. Aku mengiyakan. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan emas ini. Aku bisa berangkat siang ke kantor. “Ayo, siapa takut!” kataku. Bukankah nabi Muhammad sering mengajak bermain cucu-cucunya; Hasan dan Husen? Kenapa terhadap anak sendiri aku harus pelit memberikan waktu? Aku tidak ingin mempunyai anak yang secara psikologis jauh dengan aku sebagai ayahnya. Saat anak-anakku ngompol di pangkuanku, itu aku rasakan seolah karunia terindah dari Allah. Aku tidak akan memarahinya. Aku haya perlu mengganti pakaian saja.

Seperti pagui itu, aku mengikuti kemauan Abi, menemaninya ke sekolah dengan berjalan kaki melewati jalan baru. Abi menyandang tas ransel sekolahnya. Kami berjalan keluar dari rumah diirigi tatapan bahagia Tias. Atau lebih tepatnya tatapan “iri”. Aku bias merasakan isi hati Tias bahwa sebetulnya dia ingin ikut bersama kami. Tapi di urmah ada Odi dan Azka yang masih harus dirawt dan ditimang. Saat berpamitan kepada kakek dan neneknya, Abi tampak antusias sekali. “Mau lewat jalan baru!” teriaknya berlari keluar dari areal Rumah Dunia. Kata ibuku, “Persis kamu!”

Jarak dari rumah ke sekolah Abi kira-kira dua kilometer. Abi dengan wajah berseri-seri berjalan satu meter di depanku. Di wajah anak keduaku itu tidak tercemin rasa lelah. Tas ranselnya yang kebesaran melompat-lompat. Bau lumpur dan hijaunya persawahan membuat hati kami terasa nyaman dan damai. Aku merasa bahagia. Aku tidak mempercayai, bahwa anak kecil di depanku itu adalah darah dagingku. Aku seolah sedang melihat “aku kecil”. Aku kecil senang berpetualang. Dengan sepeda aku jelajahi kota Serang. Sekitar umur 10 tahun, aku sudah berani bersepeda ke Banten Lama, 10 kilometer utara Serang, berbekal nasi. Menginjak SMP bersepeda ke Anyer, 40 km sebelah barat Serang. Di dalam hati aku berkata, apakah Abi akan memliki darah petualangan sepertiku? Saat melihat Abi berjalan di tengah hamparan sawah, tas ransel yang melompat-lompat, aku merasa seperti sedang berpetualang sewaktu muda dulu, jadi bagpacker. Bisa berduaan dengan anak lelakiku sangatlah sulit, karena kakaknya pasti selalu nguntit

MARTABAT

Aku jadi ingat peristiwa tiga tahun lalu, sekitar tahun 2002. Abi masih berumur 3 tahun. Saat itu aku mengantar Tias ke dokter gigi. Bella dan Abi ikut. Ketika menunggu giliran diperiksa tiba, aku menyuruh Bella menemani ibunya. Bella paling suka melihat cara dokter bekerja. Kesempatan itu aku pergunakan untuk berduaan dengan Abi. Itulah saatnya aku menajarkan martabat seorang lelaki kepada anak lelakiku. Ini harus ditanamkan sejak dini, bahwa lelaki adalah penjaga martabat sebuah keluarga.

Aku bawa Abi ke alun-alun kota Serang. Jam menunjukan pukul 8 malam. Aku duduk berduaan bersama abi di bangku taman, memandangi beberapa orang yang sedang bermain basket. Aku mencoba menanamkan nilai-nilai kelelakian pada Abi waktu itu. Aku jelaskan dengan pelan, bahwa lelaki harus menjagai kehormatan perempuan.

“Abi, kalau Papah tidak ada di rumah, Abi harus menjaga Mamah dan Teteh,” kataku.
“Iya, Pah!” teriak Abi.
“Kalau ada pencuri, Abi harus melawan.”
“Abi masih kecil, Pah!”
“Abi teriak saja, minta tolong sama orang-orang.”
“Iya, Pah. Nanti Abi berubah, kayak Power Ranger!”

Aku tertawa. Abi saat itu sedang gemar-gemarnya nonton film seri “Power Rangers”. Tapi aku selalu tidak selalu lupa untuk menanamkan pada Abi, bahwa dia adalah pengganti aku jika aku sedang tidak di rumah.

Petualangan lainnya saat kami “tour de Java” dengan si biru, julukan mobil mini van kami. Aku menyetir sendiri, menempuh ribuan kilometer; Serang – Solo dan Solo – Serang. Sudah dua kali kami mudik ke rumah mertua di Solo. Terakhir saat lebaran 2004. Seusai sholat Ied, kami meluncur. Di Subang kami menginap. Membutuhkan 2 hari perjalanan ke Solo. Pulangnya lewat Selatan. Tidur di Cilacap dan Bandung. Tiga hari kami habiskan dengan indah. Arus balik lewat selatan memperlambat perjalanan.

Bagiku kesempatan itu tidak aku sia-siakan untuk memperkenalkan sikap-sikap toleransi dan kemandirian. Dan tentu rasa solidaritas sosial, saling berbagi terhdap sesame. Bella dan Abi juga aku suruh melakukan kejasama saat membaca peta. Aku juga mengajari mereka tentang kesabaran saat dalam perjalanan.

***

Rumah Dunia, Oktober 2005
*) Foto: saat kami mandi di pemandian alam Cikaromoy,Pandeglang, bersama Bella dan Abi, tahun 2004.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

June 2007
M T W T F S S
« May   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: