KELUARGA PENGARANG

BERCERMINLAH PADA INDIA [QUO VADIS, SERANG!]

Posted on: June 26, 2007

mudal-2.jpgOleh Gola Gong

Suatu hari aku berhenti di stasiun Varanasi, kota di Utar Pradesh, India. Aku menaiki rickshaw , India, menuju kota tua bernama Chowk bazaar di wilayah Gaudalia. Varanasi adalah kota suci umat Hindu, dimana sungai Ganga membelah kota tertua di dunia, yang sudah berumur 3000 tahun lebih. Mark Twain , pengarang kondang Amerika pernah mengunjungi Varanasi pada 1896 dan menulis di buku hariannya, “Varanasi is older than legend and look twice as old as all of them put together”

TUA BERNILAI
Omongan Twain bukan isapan jempol. Itu aku buktikan sendiri. Ketika aku berdiri di gang-gang labirin Chowk bazaar, ketuaan kota tercermin dari gaya dan usia arsitektur setiap bangunannya. Itu makin terasa di sungai Ganga. Sepanjang sungai adalah ghat , teras panjang dengan anak tangga menuju bibir sungai. Orang-orang bebas melakukan aktivitas. Para turis mancanegara duduk-duduk di anak tangga menikmati jajanan chia, kopi susu khas India, atau menyusuri sungai Ganga dengan perahu. Sedangkan penduduk kotanya bermain cricket. Ketuaan sangat tercemin dari warna air yang kehijauan, jenis batu yang aku injak, angin yang membelaiku, dan aroma yang aku hirup.

Sungai Ganga dimitoskan air mata Dewa Shiva, sehingga pemerintah kota melarang penduduknya membuang sampah dan akan menghukum para pengusaha yang mengencingi sungai ini dengan limbah pabriknya. Sungai Ganga dikeramatkan dan disucikan. Abu mayat orang India ditebar di sini. Aku betul-betul tengelam ke dasar legenda atau mitos, seperti yang pernah aku baca di buku-buku; Mahabarata, Ramayana, Sidharta, Pater Panchali, atau Mahatma Gandhi. Hal-hal yang berbau modernitas tidak tampak di sini. Para penduduk India dengan sangat khusu memegang teguh tradisi. Aku seperti terlempar ke kehidupan masa lampau; ratusan tahun lalu.

Betapa pemimpin kota ini memanjakan para warganya. Kota-kota tua tidak dihancurkan dan dijadikan magnet pariwisata. Semakin tua, semakin bernilai. Mulai dari arsitektur bangunan, pakaian, bahkan kesenian tradisional mereka. Semua menghargai legenda, mitos, dan tradisi. Postmodernisme seolah terabaikan. Identitas kedaerahan (etnic identity) tidak harus musnah ketika identitas nasional (nation identity) dikedepankan. Walaupun sesekali kisruh politik mereka berawal dari kesukuan dan agama, tapi pluralisme tergambar kuat. Justru nasionalisme India dibagun dari beragam budaya (multy culture) milik mereka sendiri. Itu dibuktikan dengan “Be India buy India”. Mereka bangga dengan keindiaan mereka tanpa perlu menghancurkan bangunan-bangunan bersejarah peninggalan kaum kolonial Inggris. Maka tidak heran jika Bollywood, yang mengakar pada tradisi kedaerahan, menerobos hegemony Hollywood. India kini sudah mengancam jadi kekuatan yang John Naisbit formulakan lewat tree revolutions F: food, film, fun (fashion). Bahkan tanpa kita sadari, film-film India, menjadi medium politik dan kebudayaan mereka pada kita.

Garin Nugroho mengingatkan para pemimpin negeri kita, bahwa pertumbuhan masyarakat Eropa-Amerika pascakrisis PD II berbasis pada kemampuan mengembangkan 3 aspek kebudayaan (kesenian dalam arti luas), yang melandasi seluruh strategi politiknya. Pertama, membangun produk-produk kebudayaan bersifat umum, massal, ekonomis, dan cepat, khususnya industri budaya populer. Kedua, merawat dan mengelola kebudayaan klasik, yakni peninggalan dan pemikiran kesejarahan. Terakhir, membangun pemikiran dan penciptaan alternatif serta penemuan-penemuan baru, untuk mampu memberi nilai tambah, menembus stagnasi, dan memberi pertumbuhan selera, serta ruang publik bagi pluralisme. Aku jadi ingat petuah sakti orang Baduy Dalam di Kanekes, Banten Selatan, bahwa kenapa mereka menolak menyekolahkan anak-anak mereka? Ternyata mereka khawatir, jika anak-anak mereka sekolah, mereka jadi pintar dan kepintaran mereka bukan dipergunakan untuk hal-hal kebaikan, tapi justru untuk membodohi orang lain.

BANGGA TRADISI
Aku kini di Serang, ibu kota Provinsi Banten, yang masih muda usianya. Apa yang bisa aku banggakan dengan kota ini? Kota yang dibangun dari batu-bata reruntuhan keraton Surosowan . Kota yang didirikan pada abad 18 oleh Jendral Herman Daendless. Aku sangat ingin berdomisili di Serang. Aku tidak peduli dengan stigma Banten yang negatif; ilmu hitam dan jawara! Aku terlanjur jatuh cinta pada Serang atau Banten saat membaca sejarah, bahwa pada abad 17 ada sebuah bandar internasional di Banten Lama, sekitar 10 kilometer sebelah utara kota Serang sekarang. Apalagi ketika aku tahu, pada abad 18, kesultanan Banten menolak kehadiran Belanda dan kerja rodi. Mereka memilih keraton Surosowan hancur dibumihanguskan Daendles daripada jadi daerah jajahan. Bagi aku yang masih muda saat itu, mempertahankan yang hak adalah simbol lelaki. Melawan kebatilan adalah pertanda bahwa wilayah itu berkarakter sangat kuat. Kentara sekali, bahwa para pemimpin di kesultanan Banten sangat berpihak pada rakyat. Kearifan lokal (local wisdom) tercermin kuat dari cara kepemimpinan para Sultan lewat maha karyanya, irigasi di Tasik Kardi, alun-alun sebagai ruang publik di depan keraton Surosowan dan mesjid agung Banten, serta lintas agama di kampung Pecinan dan kelenteng di dekat benteng Spellwijk.

Aku mulai membanding-bandingkan India dengan Serang sekarang. Jika sungai Varanasi tabu dijadikan jamban, di Serang semua sungai bisa menjadi fungsi apa saja; jamban atau bahkan tempat bermuara limbah semua pabrik. Para pemimpin di Serang tidak peduli lagi, apakah rakyat yang memilihnya sejahtera atau tidak. Lalu aku teringat Mahatma Gandhi dengan semangat swadeshi, merentangkan kedua tangannya sebagai simbol pelayanan kepada rakyatnya, yang ditandai dengan baju khadi buatannya sendiri. Betapa Gandhi menganggap rakyat adalah pemilik negeri yang mesti dilayaninya. Itu tidak berbeda dengan Sultan Ageng Tirtayasa dulu. Tapi yang terjadi di Serang kini, kadang untuk meloloskan LPJ bupati, karya-karya seni para pendahulu mereka, rela dihancurkan demi tahta dan harta.

Kini di kota Serang, aku tidak melihat tradisi yang bisa dibanggakan. Sejak memasuki kota Serang dari pertigaan Serang Timur, mata ditusuki baliho-baliho ukuran raksasa. Di depan gedung Golkar, gelagar raksasa bergambarkan produk rokok terkenal menonjok. Terus membentur ke gedung negara, ke nol kilometer, mataku makin perih oleh begitu banyaknya iklan-iklan memabukkan di kiri-kanan jalan, tidak memberikan ruang bagiku untuk bernapas. Aku jadi teringat sepenggal puisi Toto ST Radik : kampungku dikepung api/dikepung api.

Dimana aku bisa memiliki sebuah ruang publik? Ruang dimana aku bisa bernapas lega bersama anak dan istri? Ruang dimana aku bisa terbebas dari belanja, belanja, belanja…, dan belanja lagi. Alun-alun Serang tempatku tumbuh, besar, dan bermimpi, kini dipenuhi oleh iklan-iklan dengan penempatan yang seenak udel. Tak ada lagikah ruang tersisa, agar mata ini bisa terbebas dari “api”?

Apa yang sudah para pemimpin Serang lakukan padaku? Pada kami – para warganya? Publik dijerumuskan oleh mereka menjadi masyarakat konsumtif dan hedonis. Alun-alun sebagai ruang publik, dimana pertemuan sosial-budaya masyarakat tanpa mengenal batasan umur dan status sosial bahkan lintas gama, keberadaannya mulai diobok-obok dengan rencana pembangunan mall. Alun-alun Serang yang menjadi titik nol atau sebagai ruang publik menjadi penyatuan unsur pemerintahan, agama, ekonomi, dan sosial terancam porak-poranda oleh keberadaan mall.

AWAK
Aku dan AWAK – aliansi warga kota – beberapa kali melakukan unjuk rasa pada awal Juni lalu. Didukung oleh para budayawan, seniman, aktivis kampus, LSM, AWAK mendatangi legislatif dan eksekutif di gedung dewan, meminta pengusutan atas keluarnya IMB mal pada PT Makmur Maju Sentosa, di lahan bekas Makodim 0602, persis di alun-alun timur Serang. Kami meminta ditunjukkan sertifikat asli, yang mengklaim bahwa gedung Makodim adalah milik perseorangan. Bahkan Danrem Serang mempertemukan kami dengan pihak pengembang. Kami disodorkan pada realita, bahwa IMB sudh sah, karena semua instansi terkait Pemda serang (kepurbakalaan, dinas tata ruang, dan lingkungan hidup) mengamini rencana pembangunan mal di lahan Makodim.

Pertemuan terakhir AWAK adalah pada Senin (15/8/2005) dengan bupati Serang terpilih, periode 2005 – 2010, Taufik Nuriman. Dia mengatakan, IMB sudah sah dan tidak bisa diapa-apakan lagi. Instansi terkait seperti kepurbakalaan, lingkungan hidup, tata ruang, dan perhubungan mnejelaskan secara normatif, bahwa mal Serang layak dibangun dan tidak akan mengancam kegiatan masyarakat.

“Soal kemacetan, itu bisa diatasi,” kata bos dari dinas perhubungan. Dia lupa, bahwa belum ada mal pun, di alun-alun pasca provinsi sudah macet.

Dari kepurbakalaan menjelaskan, “Gedung Makodim bobot nilai benda cagar budayanya jauh dibawah Borobudur.” Aku sempat naik pitam pada instansi ini. Lewat Zakaria, sebagai yang punya otoritas, aku menanyakan, “Apakah ukuran sosial dan budaya dipakai?” Dengan enteng Zakaria menjawab, bahwa aspek sosial budaya bukan urusannya. “Saya hanya merekomendasikan, bahwa Makodim bisa dibangun mal! Itu saja!”

Sedangkan dari dinas tata ruang, IMB bisa keluar karena alun-alun sudah disahkn sebagai distrik perdagangn dan jasa. Awak meminta, bagaimana Perda itu bisa keluar. Siapa saja yang mengamini hal itu.Jangan-jangan hanya dari kalangan mereka saja, yang pro pada orientasi uang, dimana benda cagar budya bagi mereka hanya mendatangkan msalah keuangan saja. Tentu berbeda jika dibangun mal, uang akan mengalir ke kas daerah an tentu ke kantong mereka.

Pihak pengembang berjanji akan menyelematkan 8 pilar utama gedung MAKODIM sebagai itikad baik melestarikan benda cagar budaya. “Di atap mal, akan dibangun replika gedung Makodim, tempat dimana para seniman dan budayawan mengadakan kegiatan dan gratis,” Taufik menjelaskan. Kontrak politik AWAK dengan pihak eksekutif dan legislatif, yang ditandatangani PJS Bupati Serang (Juni – Agustus 2004), Ahmad Rivai, dan pihak legislatif yang diwakili Komisi A, DPRD Serang, seperti bungkus kacang saja. Usai dipakai, dibuang ke tong sampah!

Aku hanya bisa berkabung.

Oh, quo vadis , Serang!

***

*) Tulisan ini dimuat di majalah budaya KATARSIS, edisi 5, Agustus 2005.

*) fOTO: Mural di dinding luar Rumah Dunia, dikerjakna oleh Indra Kesuma (tutor menggambar), Si Uzi (penasehat RD), dan Lili, relawan, pada 2004. Kini mural itu sudah pudar warnanya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

June 2007
M T W T F S S
« May   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: