KELUARGA PENGARANG

BANTEN MEMBACA VERSUS BANTEN BELANJA

Posted on: June 26, 2007

demo.jpgOleh Gola Gong*)

Masyarakat Serang di awal September 2005 ini sedang memasuki babak baru, setelah puluhan tahun berada dalam wilayah “kegelapan” dimana jika ingin shoping benda bermerek mesti ke Karawaci atau Cilegon, kini akan mendapat karunia dari PT Maju Makmur Sentosa (PT MMS), sebuah mal terlengkap dan modern, yang lokasinya persis di nol kilometer, alun-alun kota Serang. Mal modern itu bisa berdiri dengan cara menghancurkan benda cagar budaya, bekas gedung Makodim (Markas Komando Distrik Militer) 0602 Serang, yang dilindungi Undang-undang No.5 tahun 1992 tentang benda cagar budaya (BCB).

*** 

Ya, September 2005 bisa jadi “black September” di Serang. Meminjam peristiwa dehumanisasi 11 September 2001, saat WTC di Amerika luluh lantak, di Serang pada 11 September nanti, Wismoyo Arismunandar, selaku komisaris utama PT MMS akan meletakan batu pertama pembangunan mal Serang. Saat itu pulalah terjadi dekonstruksi sejarah lokal Banten yang panjang, di antaranya peristiwa penurunan bendera Jepang oleh Sri Sahuli dengan bendera Sang Merah-Putih, setelah Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta.

Setiap hari kini, warga Serang melihat gedung tua Makodim, sejak pertengahan Agustus 2005, dirobohkan satu-persatu oleh para tukang dengan kawalan senjata para tentara. Oyok Hasyim (75), saksi sejarah dari Wirawati Catur Panja, organisasi pejuang wanita Banten hanya bisa menangis. “Sakit hati saya ini. Mereka tidak menghargai para pejuang Banten.” Berkali-kali Oyok mendatangi Pemkab Serang bersama AWAK (Aliansi Warga kota), yang peduli pada pelestarian BCB, mengingatkan para pemimpin tentang betapa pentingnya menghargai sejarah. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang sudah mengeluarkan izin prinsip dan surat izin mendirikan bangunan (IMB) untuk PT MMS. Surat izin itu diterbitkan setelah mendapatkan rekomendasi tim kajian yang dipimpin Zakariya Kasmin dari BP3 Serang dan beranggotakan di antaranya arkelog Ali Fadilah. Isi rekomendasi itu menyebutkan, nilai BCB pada gedung bekas Makodim hanya terdapat pada bangunan 100 m2, yaitu 6 pilar dan tiang bendera. Alasannya, bangunan yang lain sudah berkali-kali mengalami renovasi dan bahan bangunanya baru. Zakariya mengakui, ketika mengeluarkan rekomendasi tidak mennggunakan aspek sosial dan budaya. “Itu bukan urusan saya,” kata Zakariya.

Bahkan kini billboard dipasang mentereng, mengukuhkan PT MMS positif membangun mal di kawasan BCB tersebut, mementahkan perlawanan para wanita tua pejuang Banten dari Wirawati Catur Pantja dan warga Serang yang tergabung di AWAK. Pers lokal dan nasional yang gencar memberitakan, bahwa di gedung itu tersimpan banyak sejarah perlawanan warga Banten terhadap penjajah Belanda, tak digubris sama sekali. Budaya permisif lagi-lagi terjadi, karena ukurannya uang. Yang paling menyedihkan adalah pernyataan Hasan Maksudi, Ketua DPRD Serang, yang merespon beberapa kali unjuk rasa AWAK, yang didukung 40-an elemen masyarakat; mulai dari seniman, budayawan, sampai warga biasa. “Gedung Makodim peninggalan Belanda. Itu tidak layak dilestarikan, karena Belanda adalah penjajah. Jadi tidak perlu ada Perda BCB.” Ketua dewan terhormat itu sedang mencoba menjangkitkan virus amnesia sejarah di tanah Banten.

***

Boleh saja di pusat kota Serang sedang terjadi dekonstruksi atau menjangkitkan virus amnesia sejarah di tanah Banten. Tapi 3 kilometer ke arah timur Serang, tepatnya di kampung bernama Ciloang, pusat belajar masyarakat bernama “Rumah Dunia” mendeklarasikan dirinya sebagai “rumah perubahan” di Banten. Mengadopsi metode belajar dari alam ala Santiniketan Rabindranath Tagore di Calcuta, India, Rumah Dunia dengan gigih melakukan perlawanan moral terhadap praktet-praktek kolusi, korupsi, dan nepotisme di bumi Banten dengan pena. Mengusung misi “Mencerdaskan dan Membentuk Generasi Baru” di Banten, para volunteer Rumah Dunia menyikapi dekonstruksi sejarah di Banten atas gedung Makodim oleh PT MMS dengan menggelar pameran buku “Gramedia Book Fair” (GBF) bertemakan “Menuju Banten Membaca, Cerdas, dan Kritis” pada 6 September hingga 11 September. Akan dipajang 1000-an judul buku di stand Gramedia Pustaka Utama, Elex, Kompas Buku, KPG, Grasindo, Mata Baca, dan Gramedia Majalah. GBF adalah event pameran terbesar sepanjang Banten ada. Tradisi intelektual yang pernah digagas Abdul Karim dan muridnya, Syekh Nawawi Al-Bantani yang mukim di Mekkah karena tidak terakomodir gagasan-gagasan mereka di Banten, mulai dibangkitkan lagi di Rumah Dunia.

Ya, sedang terjadi paradok di tanah para sultan itu. Di satu sisi ada dekonstruksi sejarah, di sisi lain terjadi dekonstruksi terhadap budaya lisan. Ini ibarat “black September” di nol kilometer Serang dan “shinning September” di sebuah kampung Ciloang, di batas kota Serang timur. Pertarungan antara “Banten Membaca dan Banten Belanja”. Dua akselerasi sedang terjadi; pertumbuhan ekonomi tanpa mengindahkan aspek sosial-budaya serta reading habit menuju Banten yang cerdas dan kritis. Dimana-mana anak muda Banten menenteng hand phone terbaru dan pergi belanja, tapi juga dimana-mana anak muda Banten membaca, menghadiri diskusi dan launching buku, serta menulis. Peran serta pers lokal yang menyediakan halaman opini dan fiksi, menyemangati akselerasi “Banten Membaca” sekaligus “Banten Menulis”.

Kini kita jadi penonton saja di pinggir jalan. Apakah pertarungan dua akselerasi “Banten Membaca” versus “Banten Belanja” ini akan dimenangkan oleh salah satu di antara mereka atau keduanya jalan beriringan dan menemukan harmonisasi. Hanya sayang, pemenangnya berdiri di atas sejarang Banten yang hilang.

***

*) Penulis adalah ketua Umum Rumah Dunia dan novelis.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

June 2007
M T W T F S S
« May   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: