KELUARGA PENGARANG

Temu Komunitas Sastra se-Nusantara: GOTONG ROYONG DI ODE KAMPUNG 2

Posted on: June 21, 2007

bebegig.jpgTahun 2006 lalu, Rumah Dunia (Serang-Banten) membuat sebuah kegiatan yang dinamakan “Ode Kampung: Temu Sastrawan se-Nusantara”. Dari kegiatan tersebut, memang tak bisa mengubah negara yang bobrok ini menjadi baik, karena memang bukan itu fokus kegiatan ini. Kegiatan tersebutpun tak hendak mengubah peta kesusastraan Indonesia yang terkadang masih tak jelas arahnya, atau seabreg keinginan idealis lainnya. Kegiatan tersebut hanya diarahkan untuk saling berakrab ria, bersilaturahmi gagasan dan tentu saja saling sapa dalam karya. Spirit besarnya; sesama sastrawan saling berbagi ilmu dan pengalaman. Tidak ada sastrawan saling menepuk dada; merasa paling hebat sendiri. Dan itu semua didedikasikan unuk membangun perdaban baru di kampung besar bernama Nusantara.
TEMU KOMUNITAS
Ode Kampung bukanlah sebuah kongres yang menuliskan rekomendasi-rekomendasi seperti para politisi. Bukan pula sebuah tempat untuk saling cakar, saling damprat dan saling menjatuhkan antarsastrawan. Satu hal yang hendak kami gapai, yaitu menggali persoalan-persoalan, mengedepankan kekritisan dan menajamkan kembali wawasan kesusastraan kita. Ode Kampung jilid #1 mengangkat tema besar “Sastra(wan) di tengah persoalan kampungnya”. Sejumlah nama besar yang berkibaran di jagad kesusastraan kita, hingga orang-orang yang masih buram terhadap sastra tumpah ruah dalam pertemuan tersebut. Pelbagai keluh kesah serta kebahagiaan saling berkelindan meramu nilai rasa tersendiri. Mungkin pertemuan ini agak berbeda dengan pertemuan-pertemuan yang biasa terjadi. Salah satu perbedaan yang paling kentara adalah pertemuan tersebut diadakan di kampung. Konsekuensinya para peserta “disimpan” di rumah-rumah kampung, berbaur dengan warga. Dalam pembukaan kegiatan tersebutpun tidak dibuka oleh pejabat seperti Bupati, Gubernur apalagi Presiden. Ketua RT Hegar Alamlah yang bertindak sebagai pembuka acara, disertai pembacaan puisi orang Baduy dan diakhiri dengan nyanyian “sumbang” para pengamen jalanan Toton Grintoel yang menggunakan bahasa Sunda dan Jawa Banten.

Setelah sukses dengan Ode Kampung Jilid #1, pada tahun ini kembali digelar “Ode Kampung Jilid #2: Temu Komunitas Sastra Se-Nusantara”. Karena tema selanjutnya adalah pertemuan komunitas, maka Rumah Dunia kini tak lagi sendirian. Komunitas-komunitas sastra di Banten bergabung untuk menyukseskan kegiatan ini. Ada Forum Kesenian Banten (FKB) pimpinan Ruby Achmad Baedowy, Komunitas Sastra Indonesia (KSI) dengan presiden buruhnya; Wowok Hesty Prabowo, Sanggar Sastra Serang-nya Toto ST Radik, Gesbica IAIN Serang, Kubah Budaya Unirta Serang, Embun Art Bunderan Ciceru, Kafe Ide Untirta, KPJ Rangkasbitung dan FLP Serang. Dengan demikian maka tenaga kami akan berkali lipat lebih kuat dan semoga para pertemuan Jilid #2 ini, kami bisa lebih matang lagi dalam menjamu para peserta yang akan berdatangan dari seluruh pelosok Nusantara.

Tujuan kami membuat pertemuan komunitas sastra pada jilid #2 ini karena kami berasumsi bahwa komunitas memberikan pengaruh yang cukup besar bagi regenerasi kesusastraan di Indonesia. Selain segi positif itu, tentu saja ada persoalan-persoalan yang mengemuka misalnya perihal estetika, ideologi maupun individu sastrawan sebagai penggerak komunitas sekaligus peracik karya. Selain itu, dengan diadakannya pertemuan komunitas sastra ini, jejaring merupakan alasan paling penting. Pada pertemuan ini diharapkan masing-masing komunitas bisa saling urun rembuk, saling memicu adrenalin kesusastraan, atau anggaplah sebagai studi banding agar bisa saling memahami kekurangan dan kelebihan dari masing-masing komunitas.

Jika tidak ada aral melintang, kegiatan “Ode Kampung Jilid #2: temu Komunitas Sastra se-Nusantara” akan dilaksanakan pada tanggal : 20,21,22 Juli 2007
Tempat : Rumah Dunia, Komplek Hegar Alam no. 40 Serang-Banten. Peserta berasal dari komunitas-komunitas sastra di Indonesia, praktisi dan akademisi sastra, guru-guru serta mahasiswa sastra dan masyarakat umum.

ACARA
Ode Kampung 2 ini menu acaranya padat dan tentu gurih serta nikmat di lidah. Dimulai Jumat, 20 Juli, pukul 08.00.- 15.00 WIB peserta mendaftar ulang untuk penempatan di penginapan. Setiap peserta dari luar kota Serang, diarahkan menginap di rumah warga kampung Ciloang dan Komp. Hegar Alam, Jika peserta adalah undangan, tidak usah membayar, karena sudah merupakan fasilitas dari panitia. Tapi, jika yang datang peserta atas kehendak pribadi, ongkos penginapan Rp. 20.000,-/orang/malam. Untuk makan, banyak jajanan kampung teredia; nasi uduk, nasi rames, bakwan, pecel, mie ayam, bakso, dan nasi rabek.

Selepas sholat Ashar, pembukaan Ode Kampung 2 dimeriahkan dengan pembacaan Puisi, pentas tarian Banten dari Sanggar tari Reksa Budaya. Malamya dimulai pukul 19.30-22.00 ada pemutaran Film Indie “Padi Memerah” karya anak-anak Rumah Dunia. Film ini berdasarkan cerita pendek “Padi Memerah” karya Aji Setiakarya (Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan ketiga), pembacaan puisi/ cerpen, performance Art Komunitas, dan musikalisasi Puisi Tasbeh.

Hari Sabtu, mulai pukul 08.30. – 09.00 WIB peserta disughi sarapan seni berupa musikalisasi puisi. Nyambung ke pukul 09.00. – 12.00 ada diskusi tenang “Komunitas Sastra: Dari Pusat ke Tepi”. Para pembicaranya dengan prestasi menasional; Chavchay Saefullah (Bantn), Kusprihyanto N (Ngawi), Ahmad S Alwy (Cirebon). Chavcay adalah sastrawan dari Lebak dan kini wartawan koran Media Indonesia. Menyusul jeda ihsoma, pukul 13.00 diskusi makin “panas” mengusung topik “Komunitas Sastra: Ideologi dan Estetika” dengan pembicara Kurnia Efendi, Helvy Tiana Rosa, dan Maman S Mahayana. Ketiga nama itu berkibar di peta kesusasteraan Indonesia. Rugi jika dilewatkan. TErutama Helvy yang membawa gerbong Forum Lingkar Pena, yang mengusung “dakwah lewat pena”. Cerpen-cerpen islami dari komunitas FLP menggegerkan jagat kesusasteraan Indonesia. Asma Nadia, adik Helvy, dua kali menyabet penghargaan Anugrah Adikarya IKAPI untuk buku remaja terbaik (2004 dan 2006).

Usai diskusi, pukul 16.00 – 18.00 digelar Pentas Seni Komunitas. Siapa saja yang ingin manggung, dipersilahkan naik ke panggung Rumah Dunia. Malamnya Ode Kampung 2 kedatangan tamu istimewa dari seniman Kendari, Sulawesi Tenggara yang tergabung di teater Teater TAM Kendari. Mereka akan mementaskan sebuah lakon. “Sejak awal tahun, teater TAM Kendari sudah mengabarkan keinginannya mentas di Rumah Dunia,” kata Firman Venayaksa, Presiden Rumah Dunia sekaligus Ketua OC Ode Kampung 2.

Diskusi masih berlanjut ke hari Minggu. Kalin ini mengusung topik “Perayaan Komunitas” dengan pembicara keroyokan; Gola Gong Komunitas Rumah Dunia Banten, Wowok Hesty Prabowo (KSI-Tangerang), Jimmy MA (Komunitas berkat Yakin-Sumatra), Wayan Sunarta (Komunitas Tembang Lalang-Bali), Adi (Komunitas Teater TAM-Kendari), Yopi (Komunitas ASAS- Bandung), Raudal TB (Komunitas Rumah Lebah-Jogjakarta), Naning Pranoto (Jakarta), Akmal Naesry Basral (Komunitas Apresiasi Sastra), Yanusa Nugroho (Jakarta)

DANA
Nah, ini dia “bebegig”nya: dana alias duit alias fulus. Jika tahun lalu dana sebesar Rp. 12 juta dari kas Rumah Dunia, Gola Gong, Jibzail, dan Gramedia Pustaka Utama, untuk Ode Kampung 2 yang membutuhkan dana Rp. 30 juta digali secara gotong royong. Untuk sementara terhitung 20 Juni 2007, sudah terkumpul dari kas Rumah Dunia Rp. 5 jt, Forum Kesenian Banten Rp 1 jt, Kubah Budaya Untirta Rp. 300 ribu, STIKOM Wangsa Jaya Serang Rp. 500 ribu, STIE Banten Rp. 500 ribu, Jac Lamota (ambasador Rumah Dunia di Dubai) US$ 200, Fahri Asiza (Jakarta) Rp. 500 ribu, dan Aendra H Medita (Jakarta) Rp. 1 jt. Ditotal terkumpul sementara Rp. 10,5 jt. Sisa sekitar Rp. 20 jt lagi. Dari mana datangnya uang?

“Akhir Juni ini kami akan beraudensi dengan Pak Ranta, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banten,” kata Gola Gong, salah seorang SC. “Semoga Pak Ranta jadi donatur Ode Kampung 2!” Pendekatan lain, koran “Jurnas” Jakarta sedang memelajari proposal Ode Kampung 2. “Kebetulan Pemimpin Umumnya orang Banten, Noor Syamsudin Chatib Haesy. Dia anak mantan residen Banten pertama yang asli wong Banten, Achmad Chatib. Kami memang mau melebarkan pasar di Banten. Ode Kampung kelihatannya strategis,” kata Boni Triyana, wartawan sal Lebak, yang dipercaya menggarap pasar Banten. “Insya Allah, Jurnsa mendukung!”

Biaya sebesar Rp. 30 juta itu akan digunakan untuk membiayai hajatan “Ode Kampung 2”. Para pembicara tidak dihonori, kecuali uang pengganti transport. Juga uang itu untuk makan dan penginapan peserta yang ditaksir menembus 200 orang. “Undangan peresorangan sudah seratus orang. Nama-nama seperti Acep Zam Zam Noor, Johni Ariadinata, Hudan Hidayat, Binhad Nurrohmat, Agus Sarjono, Saut Situmorang, Yanusa Nugroho, Asma Nadia, dan masih banyak lagi penyair kaliber nasional ikut serta,” beber Firman. “Dari komunitas juga membludak. Tercatat Komunitas Lubuk Musi- Palembang 15 orang, Komunitas Rumah Dunia 10 orang, Komunitas Sastra Indonesia 10 orang, Arena Studi dan Apresiasi Sastra Bandung 5 orang, Kubah Budaya 5 orang, TAM- Kendari 10 orang,Forum Kesenian Banten 10 orang, FLP Banten 5 orang, Mnemonic Bandung 5 orang, Sekolah Kebudayaan Lampung 2 orang, Komunitas Kembang Lalang Bali 2 orang, Komunitas Ilalang Senja Padang, Masyarakat Sastra Jakarta, Majelis Kajian Tamaddun Riau, Aliansi Sastrawan Aceh, Komunitas Kebon Nanas , dan FLP DKI masing-masing 2 orang. Full house nanti kampung Ciloang!” tambah Firman ngakak. (Jang RuDun/Humas Rumah Dunia)

1 Response to "Temu Komunitas Sastra se-Nusantara: GOTONG ROYONG DI ODE KAMPUNG 2"

Semoga Sukses dan Berjalan sebagaimana mestinya. Salut buat semua rekan yang telah bersusah payah menggagas hayatan besar ini. Salam dari Ujung barat Indonesia !

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

June 2007
M T W T F S S
« May   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: