KELUARGA PENGARANG

PERPISAHAN DAN KISAHKU

Posted on: June 21, 2007

ngarang.jpgSudah menjadi rahasia umum, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Bila tiba waktunya, tak ada seorang pun bisa menghalangi aliran gerak kehidupan ini. Berbagai cara dilakukan agar kesan terakhir lebih tarasa dibanding saat pertemuan. Bukan semata tawa canda di atas meja makan, malainkan berbagi porsi tambahan gizi otak dan pikiran lewat diskusi.

AUSTRALIA
Kursi-kursi plastik masih menumpuk di halaman utama Rumah Dunia (RD). Undakan batu bata dan arang masih berserakan di bawah pohon Arem. Bahkan tulang belulang ikan dan ayam juga terlihat di sekitar sisa pembakaran itu. Pemandangan itu adalah sisa pesta makan dan silaturahmi guru dan orangtua wali murid, sesaat setelah merayakan akhirussanah atau wisuda Klab bermain dan TK Jendral Kecil pada Sabtu (16/6). Semua itu dilakukan, dalam rangka memberi kesan tersendiri saat anak-anak mereka meninggalkan kelas.
Belum sempat dibereskan, hujan mengguyur. Bahkan masih turun hingga keesokan harinya, ketika diskusi dunia kepenulisan dan seluk beluk Negara Australia. Meski kondisi seperti itu, Minggu (17/6) diskusi dengan Nur Rachmat Yuliantoro, M.A., Dosen Ilmu Politik Universita Gajah Mada, Jogjakarta, yang sedang melakukan penelitian seputar korupsi di Banten, tetap berjalan. Hari itu adalah detik terakhir ia di Banten, setelah selama 3 bulan melakukan riset dan wawancara. Laki-laki lulusan S2 di Flinders University, Autralia, itu melakukan riset untuk meraih S3 bidang ilmu politik, selama ini didampingi Aji Setiakarya, relawan RD sekaligus wartawan Radar Banten. Diskusi kali ini, adalah ungkapan rasa terima kasih Pak Rahmat, biasa dia dipanggil, kepada Aji dan RD yang telah membantu risetnya. Diskusi dihadiri kelas menulis angkatan 9. Selain pertanyaan seputar dunia kepenulisan dan litarasi di Australia, peserta juga meminta trik-trik mendapatkan beasiswa luar negeri. “Kesempatan beasiswa itu banyak dan mudah. Kuncinya hanya satu. Yakni bekal kita dari sini. Terutama bekal bahasa,” papar Pak Rahmat.
Pukul 16.00 diskusi sudah selesai. Seperti biasa, kelas menulis sudah duduk melingkar di bawah pohon Arem. Kini giliran Gola Gong. Pada kesempatan itu, Gong tidak sendirian. Endang Rukmana, kelas menulis RD angkatan pertama yang sudah menulis lima novel, ikut membagi-bagikan kisah “jungkir baliknya” dalam menekuni dunia tulis menulis. Remaja asal Padarincang yang kini membiayai kuliah sendiri di Universitas Indonesia, Jakarta itu, memompa semangat kelas menulis dengan menunjukan novel terbarunya berjudul Pahe Telecinta yang diterbitkan Gagas Media. “Kalau saat itu saya menyerah dan tidak meluangkan waktu untuk menulis, mungkin selamanya saya hanya menjadi tukang uduk di kampus,” kenang peraih Unicef Award 2004 itu dengan penuh haru.

Kisahku
Mungkin kita sama-sama tahu, belakangan ini hampir acara cerita dunia anak dengan keunikannya masing-masing, ditayangkan beberapa saluran televisi swasta pada pagi hari: Si Bolang, Sahabatku, Surat Sahabat, Kisahku, dan lainnya. Acara yang selalu membuat kita tersenyum, karena mampu menyeret ka masa kecil kita, itu ternyata tidak dimainkan oleh sembarang anak. Harus melalui beberapa tahapan. Salah satunya, dengan mengadakan casting ke beberapa tempat atau sekolah-sekolah.
Bila Endang Rukmana menjemput sukses atas perjuangannya dalam dunia kepenulisan, Selasa (19/6), pukul 6.30 sebuah mobil berlogo Lativi memasuki gerbang RD untuk menjemput anak-anak yang sudah berjuang pada casting seleksi shooting cerita dunia anak “Kisahku”. Dari sekian banyak anak-anak di RD, hanya Rosmiaty dan Eva yang lolos. Dengan ditemani Renhard, keduanya berangkat shooting di Anyer. Selain mereka, Kinta, siswi SD YPWKS 5 Cilegon juga lolos seleksi.  Meski tampak kelelahan setelah seharian shooting, Rosmiaty dan Eva terlihat menikmati pengalaman barunya. Setidaknya, mereka sadar, kalau keuletan mereka di wisata lakon di RD ternyata dilirik pihak televisi.

Kunjungan
Laki-laki bertubuh tinggi besar, Rabu (20/6) memasuki areal RD. Dia menghampiri relawan yang sedang mengoreksi tulisan anak-anak wisata mengarang. Laki-laki itu bernama Dendi Riswandi, pendiri Jogja Writing School (JWS) yang sedang berada di rumah istrinya di Cilegon. Laki-laki lulusan UIN Jogjakarta itu sedikit kecewa, karena  Gola Gong dan anak istrinya masih di Solo Semejak Senin lalu, dalam rangka menjenguk mertuanya yang sedang sakit. Akhirnya, kami pun berdiskusi. “Konsep sekolah saya terinpirasi dari Rumah Dunia dengan berbagai kegiatannya,” ujarnya sambil sesekali memotret setiap sudut RD. Nampak ia sangat antusias, saat mendengar Ode Kampung II segera digelar pada Juli mendatang.  Yah, kapan dan di mana pun kita seyogyanya selalu berbagi, meski sekedar percik inspirasi atas apa yang kita lakukan. (Langlang Randhawa, Mahasiswa IAIN Banten, Sekertaris Rumah Dunia)

*)  Dimuat di Salam Rumah Dunia, Jumat 22 Juni 2007, Radar Banten

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

June 2007
M T W T F S S
« May   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: