KELUARGA PENGARANG

MENYUSUN BATU DAN BATA

Posted on: June 21, 2007

tanah.jpgOleh Gola Gong

“Rumahku rumah dunia, kubangun dengan kata-kata.” (Prasasti, 1996 – 2001)
***

Ketika bujangan, saya menyukai film serial televisi “Little House In The Praire”, diperankan oleh (almarhum) Michael Landon, diputar di TVRI sekitar tahun 1980-an. Di film itu diceritakan tentang sebuah keluarga Amerika, yang membuka lahan-lahan baru padang prairi. Di film itu sama sekali tidak menyentuh dunia politik, tapi lebih pada suka-duka sebuah keluarga dengan lingkungan barunya. Tetangga yang cerewet, anak-anak yang malas pergi ke sekolah, rumah yang bocor, gagal panen, dan srigala yang menyerang ternak. Kadang sambil menangis saya menyaksikan film itu. Bayangan saya tentang Amerika adalah liberalisme, tapi ternyata keluarga tetap saja penting.

Dari film itu, hal yang paling saya dambakan adalah rumahnya. Di film itu bukan hanya sekedar bangunan rumah, tapi rumah dengan segala isinya; yaitu sebuah keluarga. Betapa hidup dan bertenaganya rumah yang terbuat dari kayu itu. Setiap ruangannya berpenghuni. Setiap kamarnya bernyawa.

Setelah saya jadi suami Tias, saya merasa rumah petak yang kami tempati di daerah Pejuangan, Kebon Jeruk, tidak layak lagi bagi Tias. Apalagi jika saya teringat rumah kayu di film itu. Rumah petak kami terasa sempit dan sumpek. Buku-buku koleksi kami tidak tertampung dan hanya disimpan di dalam dus-dus. Juga tidak baik untuk pekerjaan sebagai seorang kreatif bagi saya, yang sangat membutuhkan ruangan luas yang sejuk dan segar. Saya harus sesegera mungkin membuatkan Tias sebuah istana di atas tanah seluas 200 meter persegi, yang saya beli di kampung Ciloang, seperti yang dia tulis dalam sajaknya yang berjudul “Rumah Kita”:

Aku taburkan rumput di halaman belakang
di antara pohon lengkeng dan mangga
sudah tumbuhkah bunganya?
Aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak
menuju panggung kecil di sudut rumah
di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung
karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh
melihat angkasa dan bintang-bintang
dari atap rumah kita

Aku akan ceritakan kelak
pada anak-anak tentang matahari, bulan, laut
gunung, pelangi, sawah, bau embun, dan tanah
Aku ajari anak-anak mengerti hijau rumput
warna bunga dan suara.

***

Kalau perlu di sana ada perpustakaan tempat saya menulis novel dan skenario televisi. Ya, saya akan mewujudkan “rumah kita” di kampung Ciloang. Ya, saya ingin setiap ruangannya bertenaga. Setiap kamarnya bernyawa. Kelak di rumah itu akan terdengar gelak dan tawa anak-anak, bahkan suka dan duka kami.

“Di Ciloang?” kata Tias heran. “Di mana itu?”
“Di Serang,” jawa saya mantap.
“Di Serang? Masuk di peta, nggak?”
“Kita yang akan memasukkannya ke dalam peta.”

Saya sangat ingin berdomisili di Serang. Saya tidak peduli dengan stigma Bnten yang negatiff; ilmu hitam dan jawara! Saya terlanjur jatuh cinta pada Serang atau Banten saat membaca sejarah, bahwa pada abad 16 ada sebuah bandar internasional di Banten Lama, sekitar 10 kilometer sebelah utara kota Serang sekarang. Apalagi ketika saya tahu, pada abad 17, kesultanan Banten menolak kehadiran Belanda dan kerja rodi. Mereka memilih keraton Surosowan hancur dibumihanguskan Jendral Hermann Daendles daripada jadi daerah jajahan. Bagi saya yang masih muda saat itu, mempertahankan yang hak adalah simbol lelaki. Melawan kebatilan adalah pertanda bahwa wilayah itu berkarakter sangat kuat.

Sekitar tahun 1992 saya membeli sebidang tanah seluas 200 meter persegi di kampung Ciloang. Panjang 20 meter kali lebar 10 meter. Satu meter perseginya seharga Rp. 25.000,- Letaknya sangat strategis; di dekat pintu tol Serang Timur. Saya ingat, saat itu sedang bokek alias tidak punya uang. Bapak, Emak, kakak, dan adik meminjami saya uang.

Peletakan batu pertama saya mulai sekitar September 1996 dengan membangun pagar belakang dan gudang. Biaya yang dihabiskan sebanyak Rp. 700.000,- Bapak yang jadi mandor. Sayang, pada November – Desember saya jatuh sakit dan dirawat di RSUD Serang., sehingga pembangunan rumah terhenti.

Pembangunan berlanjut lagi pada Maret 1997 dengan membuat pondasi cakar ayam, karena rumah kami dua lantai. Saya merogoh saku sekitar Rp. 7.000.000,-Rumah yang saya dan Tias rancang memang betul-betul seperti yang ditulis Tias di sajaknya. Akan ada ruang terbuka di lantai dua, tempat dimana kita bisa menikmati angkasa dan bintang-bintang. Kami juga sepakat menyisakan tanah di bagian belakang untuk tempat bermain dan berdiskusi seni dan budaya sambil berharap, kelak suatu saat nanti, kebun di belakagn rumah kami akan kami beli untuk mewujudkan obsesi saya, membangun sebuah gelanggang remaja.

Saya perlu uang banyak. Biayanya saya taksir sekitar Rp. 70.000.000,-. Beberapa skenario pesanan di beberapa rumah produksi dikerjakan Tias dan saya mensupervisinya. Honorariumnya kami pergunakan untuk membeli batu dan bata. Semen penuh cinta jadi perekatnya. Saya dan Tias betul-betul sedang menyusun kata-kata di dinding rumah kami.

Ketika atap sudah tertutup, yang berarti terlindung dari hujan dan panas, pada Desember 1998, kami meninggalkan rumah petak di Jakarta, menempati rumah idaman. Saat putri pertama, Nabila Nurkhalishah, berusia 10 bulan dan di rahim Tias sudah ada jabang bayi berumur 3 bulan. Malam pertama kami lewati tanpa penerangan listrik dan hanya dengan selembar tikar. Kami sholat untuk pertama kali di rumah penuh cinta ini dan bersujud penuh syukur. Di hari lain, saya menempel sebuah tulisan di dinding teras rumah. Hanya sepuluh kata saja. Semua orang yang melintas di depan rumh kami pasti akan menoleh dan mengejanya dengan lukisan senyum di bibir. Bunyi kata-kata itu adalah: Rumah Dunia.

Begitulah, beberapa tahun kemudian, rumah kami dipenuhi oleh suara tawa anak kami yang kedua; Gabriel Firmansyah, dan ketiga; Jordy Alghifari…, lalu yang keempat; Natasha Azka Noorsyamsa. Rumah kami dipenuhi celoteh kata-kata mereka. Kami setiap hari berkubang dalam kata-kata; mengajari anak-anak kami berbicara dan membaca. Tidak terkecuali sepuluh kata itu; r – u – m – a – h – d – u – n – i – a. Bahkan pada akhirnya, bukan sekedar rumah bagi kami saja, tapi juga bagi semua orang yang ingin belajar, mandiri, dan berpikiran maju. Rumah yang kami sebut sebagai “Rumah Dunia”, pelan-pelan berubah jadi “rumah kita”; rumah perubahan yang mencerdaskan dan menciptakan generasi baru di bumi Banten….

***

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

June 2007
M T W T F S S
« May   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: