KELUARGA PENGARANG

[Di balik Layar 14] JOE: RUH BALADA SI ROY

Posted on: June 21, 2007

roy-14.jpgOleh Gola Gong

Di kesepuluh judul novel serial “Balada Si Roy” yang aku tulis, masing-masing memiliki emosi tersendiri. Aku sangat menikmati dan bahkan ketika menuliskannya di dalam kamarku di Komplek PDK, Palem 47 Penancangan, Serang, kadang ketiduran berbantalguling mesin tik portable merek Brother dan terbawa ke dalam mimpi. Balada Si Roy memang saat itu merasp ke pori-pori tubuhku dan bersemyang di dalah hati. Aku menuliskannya dengan hati dan memikirkannya setelah itu.

ransel-2.jpgKENANGAN ITU HILANG
Mesin tik keramat itu masih ada hingga sekarang, nangkring di pojokan rak Perpustakaan Surosowan Rumah Dunia. Sedangkan kamarku sekarang sudah tidak ada lagi. Kamar yang penuh kenangan itu kini hilang.

Sejak 2004, Bapak dan Emak menjual rumah itu. Sebagian uangnya dipakai untuk membangun rumah mungil di tengah-tengah areal Rumah Dunia dan sebagian lagi untuk biaya berobat Bapak, yang kini lumpuh. Jika aku mengingat rumah itu, selalu timbul rasa penyesalan yang sangat dalam, karena tidak sanggup menyelamatkannya. Saat itu aku tidak punya uang. Masa remajaku berada di sana. Rumah itu adalah tetesan keringat dan darah Bapak dan Emak. Rumah itu dijual seharaga Rp. 70 juta. Sangat murah dibandingkan dengan nilai sejarahnya, dimana novel serialku; Balada Si Roy lahir di rumah itu, di sebuah kamar di lantai dua.

Ya, setiap judul ”Balada Si Roy” memiliki emosi tersendiri. Diibaratkan ruh, setiap judul memiliki ruh sendiri. Meminjam istilah para ahli sejarah, setiap judulnya mewakili masa periodiasi dari kehidupanku sendiri. Ketika sepulang dari pengembaraan mengelilingi Indonesia selama lebih dari setahun, di dalam kamar yang kini telah lenyap itu, aku duduk dikelilingi tumpukan ”buku harian”, yang aku kirimkan ke rumah di setiap kota di pelosok Nusantara.

Apa yang harus aku lakukan? Apa yang dititahkan W. Somerset Maugham, bahwa kalau ingin menjadi pengarang, pergilah ke tempat yang jauh, atau merantaulah ke negeri orang, lalu tulislah pengalaman-pengalaman yang didapat, sudah aku lakukan. Juga beragam teori mengarang sudah aku baca.

Lalu dengan diiringi suara Peter “Genesis” Gabriel dan Jim “The Doors” Morison, aku bacai lagi “buku harian” itu. John Lennon, Yess, bahkan The Rolling Stones dan The Beatlles menyelipku. Kadang aku berdebar-debar ketika membacai halaman demi halamannya. Masya Allah, aku terdiri dari banyak kisah! Ya, dari banyak kisah. Seperti halnya Multatuli, aku juga bakal dibaca.

malaka-3.jpgREALITAS FIKSI
Dalam pengembaraan itu, aku menemui dan bahkan mengalami banyak kehilangan. Bisa muncul dariku atau juga dari orang. Betapa hidup ini sangat keras dan selalu saja Allah memberikan jalan keluarnya. Dari pelajaran langsung di kehidupan jalanan itulah aku banyak mendapatkan bab demi bab materi kemanuasiaan. Kadang buku-buku tidak penting lagi bagiku. Aku menmukan penulisnya berceceran di setiap jengkal kakiku; terhampar di depanku. Mereka menuliskannya dengan cara lisan. Mereka langsung memprakteknya di setiap nafas kehidupanku. Mereka adalah guru-guru bijaksanaku. Saat itu aku maklum, kenapa Sidharta Gautama memilih meninggalkan segala martabatnya dan memilih belajar pada kehidupan itu sendiri.

Aku yang saat itu menganggap, bahwa Al-Qur’an adalah karya besar Muhammad seperti halnya Kahlil Gibran, mulai merasakan bahwa Muhammad hanyalah manusia biasa sepertiku juga. Terlalu hebat jika Muhammad bisa merangkai kata demi kata yang terkandung di Al-Aqur’an. Terlalu sempurna. Al-Qur’an pasti lahir dari sebuah rahasia besar hidup ini. Dan pasti pembuatnya bukan sekedar seorang Muhammad, yaitu Allah SWT. Aku merasa bahagia setelah berhasil meyakini ini.

ku mencoba menerapkan beberapa substansi yang terkandung di Al-Qur’an ke tokoh ”Roy” di dalam ”Balada Si Roy”. Aku mencoba, bagaimana seorang tokoh fiktif bernama Roy bisa menjadi artikulator, yang mencoba menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan. Ini adalah memindahkan realitas ke dalam fiksi. Seperti dalam surat Nietzsche yang ditulisnya ke Richard Wagner, “Fiksi (puisi dan cerita) adalah menerjemahkankan mimpi-mimpi ke dalam kenyataan; dan menafsirkan kenyataan dunia ke dalam impian.”

JOE
Setelah semua buku harian aku bacai kembali, aku terhenyak pada sebuah kenyataan, bahwa buku-buku harianku ini ibarat sebuah harta karun. Aku gelisah. Harus aku apakan “harta karun” ini? Aku menganalogikan seperti Count Monte Cristo alias si Dante, yang mendendam pada seseorang. Kalau aku “mendendam” pada kehidupan. Dante menemukan “harta karun” warisan dari sahabtnya di penjara, aku menemukan ”harta karun” warisan dari kehidupan itu sendiri.

belkabimobil-3.jpgAku membuat skema untuk karya prosa pertamaku ini. Aku pernah belajar di Fakultas sastra UNPAD, Bandung. Secara moral, aku tergoda untuk memasuki wilayah sastra serius. Tapi, pikiran itu aku singkirkan dulu. Aku butuh uang untuk mengongkosi mimpi-mimpiku. Aku harus berkecukupan secara materi dan itu adanya di wilayah indutsri. Aku sudah menemukan jawaban, bahwa teori Marxist pada akhirnya berbenturan dengan kasta seperti halnya di Hindu. Sama rata yang sangat dipaksakan dan menimbulkan konflik. Bagiku kapitalisme lebih fair, siapa sanggup bersaing, dia akan hidup. Orang miskin pun masih punya kesempatan jadi orang kaya, jika dia mau bekerja keras. Iklim kompetisinya lebih terasa dan itu baik untuk memotivasi.

Ya, aku memilih masuk ke industri. Aku mulai mengotak-atik, bahwa segmentasi adalah bagian dari strategi atau siasat untuk mencapai kesuksesan.

Lalu aku menyerap substansi “kehilangan” untuk buku “Balada Si Roy” seri pertama: JOE. Aku terpekur lama saat hendak menuliskan episode ini. ”Joe” adalah nama untuk seekor anjing herder. Saat itu aku banyak memikirkan tentang makna ”kehilangan”. Aku banyak mengalami kehilangan. Aku banyak menemui orang-orang yang kehilangan di dalam pengembaraan. Betapa kehilangan itu bisa membuat diri seseorang itu hancur atau malah jadi kuat.

Aku pernah didatangi oleh seorang wanita. Dia menangisi suaminya yang lari dengan wanita lain. Juga seorang wanita muda lumpuh, sarjana ekonomi, terisak-isak mengadu kepadaku, bahwa orang-orang sudah berlaku tidak adil padanya. Dia diterima bekerja di sebuah perusahaan. Dia lalu menangis, ”Tapi, meja kerjaku di lantai 3. Tidak ada lift di kantor itu. Setiap hari aku harus dibopong oleh seseorang yang aku sewa. Puluhan mata memandangku. Aku tidak tahan. Aku berhenti.”

Itulah sebabnya, kenapa muncul ”Joe’, anjing herder milik dari remaja bandel bernama ”Roy”. Aku ingin membagi-bagikan rasa kehilangan itu kepada semua orang, saat dimana Roy kehilangan anjing herdernya, yang mati ditenggelamkan oleh tokoh antagonis bernama ”Dullah”. Aku ingin, bahwa kita semua merasakan dan menyelami ”kehilangan”, yang kadang bisa menghancurkan kita. Tapi juga kadang bisa membua5t kita kuat.

Ibarat malam dan siang, gelap lalu ke terang. Begitulah Allah memerlakukan hamba-hamba_Nya. Setiap ada musibah, dibaliknya ada hikmah. Percayalah, kenapa Tuhan membuatkan kita pundak, karena Dia sudah menyiapkan beban untuknya. Dan Tuhan tahu, seberapa kuat pundak kita memanggul beban.

Dan percayakah kamu, bahwa ”Joe” bisa saja analogi dari tangan kiriku yang hilang diamputasi sebatas sikut saat berumur 11 tahun?

*) Rumah Dunia, 14 Juli 2006
*) Gambar adalah cover buku ”Balada Si Roy” versi Penerbit Beranda Hikmah, tahun 2004. Di dalamnya ada seri “Joe”.

***

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

June 2007
M T W T F S S
« May   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: