KELUARGA PENGARANG

PELAJARAN KEPADA ANAK

Posted on: June 15, 2007

novelbela.jpgOleh Gola Gong

Pada saat makan malam Kamis, 14 Juni 2007, Bella dengan gembira mengabarkan, ”Pah! Matematika Bella nilainya seratus!” Kemudian Tias mengecek ke kepala sekolah. ”Nilai Bella seratus, paling tinggi di angkatannya. Soal matematikanya dari Diknas!” kata Rahmiani Batubara. Di sekolah Bella; SD Peradaban, soal-soal ulangan ada dua jenis; satu dari sekolah dan satu lagi dari Diknas.

HARTA KARUN BUKU
Tapi ada yang mengganjal Bella. ”Bahasa Indonesia Bella salah satu. Pertanyaannya ’kan, berenang yang paling baik itu di mana? Di kolam renang, di laut, atau di sungai? Bella milih di laut. Tapi salah. Kata Bu Guru yang benar di kolam renang. Padahal ’kan di laut lebih baik. Nggak ada zat kimianya seperti di kolam renang.”

Saya menjelaskan kepada Bella yang kini di kelas 3 Antartika SD Peradaban Serang, sekolah yang mengusung metode multiple intelligence (kecerdasan majemuk). ”Maksud Bu Guru, kalau di kolam renang resiko bahayanya kecil. Di laut ’kan bisa terkena ombak atau polusi limbah pabrik.” Dan saya menghibur Bella, jangan pedulikan nilai. Yang penting, Bella memahami dan mengerti apa maksud dari pertanyaan itu.

Tapi Tias menelepon kepala sekolah lagi. ”Biasanya kalo jawabannya ambigu dibenarkan.” Sebagai suami, tentu saya senang. Ini adalah pelajaran berharga bagi anak-anak kami, yaitu metode interaktif dikenalkan sejak usia dini. Di meja makan antara orangtua dan anak terjadi diskusi. Ada dialog. Orangtua bersikap sebagai sahabat, yang mau mendengarkan keluhan anak-anaknya dan mencarikan jawaban atas pertanyaan mereka yang kritis.

Bagi kami, ini sangat menggembirakan. Bukan pada nilai seratusnya. Tapi, pada situasi dan kondisi dimana Bella menghadapi ulangan di sekolah dengan santai. Tidak tegang sepanjang malam menunggu ulangan besok. Pelajaran sekolah, cukup di sekolah saja. Kalau di rumah, giliran kami sebagai orangtuanya. Maka, kami membiarkan Bella dan Abi membaca komik, novel, bermain komputer, nonton televisi, bermain di Rumah Dunia, main masak-masakan versi Bella dan main robot-robotan versi Abi, dan bersosialissi dengan teman-temannya. Kami ingin mereka berbahagia di rumah. Kami tidak ingin rumah kami jadi ”medan perang” oleh mereka, yang meributkan pekerjaan rumah yang dibebankan sekolah.

Dan yang luar biasa adalah kebiasaan Bella serta Abi membaca buku yang sudah menjadi kebutuhan (reading habit). Kadang saya dan Tias kewalahan melarang mereka agar tidak membaca buku. Mereka suka tidak memerhatikan situasi; apakah lampu menyala ayau tidak. Kadang saat mahgrib pun, mereka (terutama Bella) sudah asik membaca. “Bella, Abi, udah dulu bacanya. Nanti matanya rusak. Udah sore. Nyalaian lampunya!” kalmat seperti ini sering meluncur dari mulut kami.

Sering kami dibuat kesal, kalau sepulang sekolah mereka langsung mencari buku dan membaca. Makan siang sudah mereka penuhi di sekolah. Tapi, kesal kami tidak lama, karena yang mereka lakukan adalah sesuatu yang bermanfaat kelak. Itulah sebbanya kami sering mengajak mereka ke pameran buku dan membiarkan mereka belanja buku-buku yang mereka inginkan. Iyu adalah pelajaran dari kami diluar jam sekolah.

Pelajaran lain yang kami berikan kepada mereka di rumah dengan media lain masih banyak. Sesekali saya memberi mereka hadiah dengan cara bermain mencari harta karun seperti di film ’Dora”. Permainan ini sangat dinanti-nanti Bella dan Abi. Kami memberi kejutan di Minggu kepada mereka ketika bangun bagi dengan sebuah amplop. Ininya, ”Cari surat di laci lemari kamarmu!” Lalu mereka berlari ke kamar dan mengaduk-aduk lemari. Di sana ada amplop dengan petunjuk lain, ”Gempa vulkanik disebabkan oleh apa?” Jika berhasil menjawab ada petunjuk bagi mereka untuk mencari amplop lain. Bisa lewat pertanyaan pengetahuan umum atau peta harta karun. Rumah kami yang luas dan halaman rumah plus Rumah Dunia memungkinkan mereka berimajinasi menjadi para pemburu harta karun. Anak ketiga (Jordy, 3 th) dan keempat (Kaka, 2 th) mengamati dan kadang jadi pengikut mereka.

Atau juga pergi berlibur ke pantai atau ke pusat perbelanjaan. Di dua tempat itu bagi kami ibarat ”harta karun” pembelajaran. Kami mengajarkan merka cara membaca rambu lalu-lintas, mengenalkan lingkungan, ekonomi, matematuika lewat transaksi, fungsi trotoar ketika melihat pedagang kaki lima, fungsi alun-alun, kepedulian sosial saat bayar parkir mobil atau memberi ke pengemis, dan masih banyak lagi.

FILM TELEVISI
Setelah makan malam, Abi (anak kedua) ingin nonton televisi. Saya memilihkan program yang baik untuk dia. Sya memilih program “Khazanah Cinta” episode “Taubat Setelah Ibu Jadi Gila” di Trans TV. Sutradranya teman saya; Betul Solihin. Penulis skenarionya juga teman saya; Zack Sorga.

“Kok, Ian Kasela kayak gitu, sih?” Abi yang baru merayakan ulangtahun kedelapan 10 Juni lalu tertegun. Saya lihat ekspresi wajahnya begitu tegang dan sedih. Di cerita itu Ian Kasela berperan sebagai anak yang durhaka kepada ibunya (Jajang C. Noer). Ian suka mencuri uang, tidak pernh sholat, berjudi, dan mabuk-mabukan sehingga ibunya jadi sakit dan gila. Kemudian Ian taubat dan meminta maaf kepada ibunya.

”Abi jadi pingin nangis, tau!” suara Abi tersedak di tenggorokan. Anak lelaki kami ini memang sangat peka hatinya. Dia sering terhanyut jika menonton acara televisi.

Bella juga berdiri mondar-mandir menonton. Saya tahu, Bella dan Abi merasa disindir dengan film itu. Saya menjelaskan, bahwa film itu adalah contoh bagi kita. “Papah juga pernah berbuat salah pada Emak dan Bapak, lalu meminta maaf dan tidak akan mengulanginya lagi.”

Bagi kami, media pembelajaran bagi anak bisa dari mana saja. Televisi tidak perlu kita musuhi. Pandai-pandailah bagi kita sebagai orangtua memilihkan program yang sehat. Atau bisa dari koran, bbuku, dan lingkungan sekitar. Kami memercayai, jika anak bahagia, insya Allah, mereka akan bahagia ketika belajar. Itulah tugas kami sebagai orangtua. Itu juga sebagai bentuk dukungan kami kepada guru-guru di sekolahnya, karena anak-anak kita tetap tanggung jawab kita.

KECERDASAN MAJEMUK
Itulah sebabnya kenapa kami mendirikan lembaga Rumah Dunia, Klab bermain & Taman Kanak-kanak Jendral Kecil, dan Gong Media Cakrawala, yang mengusung kecerdasan majemuk. Kami ingin mengaktifkan otak kiri dan kanan sekaligus, agar kelak tumbuh sebuah genrasi yang cerdas, kritis, kreatif, dan inovatif.

Saya baru memahami, kenapa Emak dan bapak tidak pernah memaksakan saya sebagai anaknya untuk belajar di rumah dan tidak melarang saya keluar rumah. Pada saat kecil, Bapak membuat arena bermain bagi kelima anaknya di halaman rumah; prosotan, kolam ikan, ayunan, jungkat-jungkit, dan tentu perpustakaan. Padahal di tahun 1970 – 1980, mereka belum mengenal metode kecerdasan majemuk yang digagas oleh Howard Gardner. Bahkan dibiarkannya saya bepergian. Difasilitasinya keingintahuan saya dengan seni; menyediakan koran, majalah, novel, bahkan agenda rutin nonton film di bioskop. Nabi Muhammad saja pernah menganjurkan,”Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu, karena dengan itu akan menjadi lembut.”Nah! (*)

*) Penulis adalah pendiri Rumah Dunia dan klab bermain dan taman kanak-kanak Jendral Kecil, yang mengusung metode kecerdasan majemuk.

*) Foto Bella saat meluncurkan novel pertamanya; Beautiful Days, 7 Februari 2007

1 Response to "PELAJARAN KEPADA ANAK"

Assalaam alaykum,
kang GG … salam kenal.

Saya asli dari Rangkas, sekarang bersama istri dan dua anak tinggal di Yogya. Penasaran … kalo teh Tias itu kegiatan nya apa ? (mudah-mudahan saya teu katinggalan). Sebetulnya tahu GG itu dari majalah Hai… jaman akhir 80-an ya kalo gak salah.

Istri saya tidak kerja diluar rumah, jadi bisa setiap saat bisa mendampingi putra putri kami, cenderung nya gampang sewot sama anak-anak. Saya maklum sih ?
Nah gimana mensiasati nya sikap ibu yg senderung emosional kpd anak-anak ?

Hatur nuhun

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

June 2007
M T W T F S S
« May   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: