KELUARGA PENGARANG

SAJAK-SAJAK GOLA GONG TENTANG BANTEN

Posted on: June 13, 2007

184.jpgPENGANTAR: Melihat gonjang-ganjing Banten pasca provinsi, saya terinspirasi untuk ngobrak-ngabrik file lama. Saya pernah menuliskan Banten dalam beberapa sajak. Masih relevan dengan kondisi Banten kini. Terutama tentang ribut-ribut kesultanan Banten yang perlu direkonstruksi (ada dalam sajak “Banten 2020). Tentang tanah di kawasan Sukajaya, Serang selatan,  yang penuh masalah ketika diputuskan untuk dibikin pusat pemerintahan provinsi Banten (dalam sajak “Di manakah Lio”), serta sungai-sungai yang tercemari limbah pabrik di Serang Timur dan dampak sosial-ekonomi saat jalan tol membelah persawahan (di sajak “Aku Punya Cerita”).

Selamat membaca, Kawan!
Semoga bisa mewarnai hari.
Semoga nurani kita masih ada.

Rumah Dunia, Ciloang – Serang
30 Juli 2003 – 13 Juni 2007

1.
BANTEN 2020
 
Aku menjadi Sultan Banten,
berdiri di bandar Karanghantu,
menanti putri cantik jadi permaesuri,
mas kawinnya Kaibon dan Tasik Kardi.

Aku menjadi Sultan Banten,
genderang perang kutabuhkan!
Batavia kutaklukkan jadi jajahan,
dendam pada sejarah terlunaskan!

Aku menjadi Sultan Banten,
kulintasi angkasa menuju negeri keju,
kukangkangi cucu-buyut penemu rodi,
Anyer-Panarukan tertoreh luka di hati!

Aku menjadi Sultan Banten,
tanpa rakyat dan istana.

***
2.
DI MANAKAH KAU, LIO*

aku srigala lapar, nyari sisa kayu uang tak sepeser
naga membelit garuda, gurita tertawa menepuk dada
langit marah di kepala, kampungku terluka
tersesat aku dalam slogan devisa dan sejahtera
: di manakah kau, lio?

kini istriku hamil tua, ngidam kardus dan hamburger
terdampar aku di warung remang bebas hambatan
koboy kampung berkuda besi, jin lepis sambil teler
mengantarkan aku ke ketiak buruh perempuan
keringat darah tanpa sarapan minuman seger
: antar aku ke lio!

tak guna arah mata angin, bumi dileleri ingus tikus
simsalabim jadi brosur dan bualan
langit nangis bumiku hangus
biar lupa lapar, anak-anaku tak makan pendidikan
ngamen di perempatan mereka diberangus
: laparku tak sebanding dengan lio!

jeritan jadi hiburan di rumah-rumh makan jamuran
tertuang di menu tambahan, dikunyah jadi sampah
mentertawakan slilit yang dicungkili kayu Kalimantan
tak ada guna kupunya anugrah lidah
tak pernah didengar  saat mengucap kebenaran
: ah, di manakah kau, lio!

Serang Feb’ 1998 – Maret 2003
*) Lio adalah tempat pembakaran bata dan genteng.

***

3.
SEPANJANG TOL MERAK-JAKARTA

sepanjang tol Merak-Jakarta aku bernyanyi
tentang padi-padi mengadu pada bunyi mesin
erangan petani akan janji hujan musim tanam
tapi hidungku tersumbat harum sabun wangi
serta mimpi gadis kampung jadi peragawati

sepanjang tol Merak-Jakarta aku bermimpi
tentang kanak-kanak lagukan nyanyian alam
panggilan ngaji Pak Ustad di surau kampung
tapi aku menggeliat dililit gurita iklan
serta haji mabrur jadi badut-badut bualan

sepanjang tol Merak-Jakarta
mata batinku jadi bisu

Kebon Jeruk – Serang, Juni 2000

***

4.
ODE BUAT BANTEN

I.
Ini kado sentimentil. Itulah ketika menggerutu mencari sisa wangi gadis kampungmu. Tanahmu. Bertemu tak bertemu tak penting lagi. Barangkali masih bisa menghargai yang sia-sia; kebesaran sejarah. Sedang yang berdasi sibuk ngusrusin komisi.

II.
Segala yang riang harusnya Banten. Siapa nyana sawah dan pantai tak punya lagi sejarah. Jangan terlepas pandangan, ketika bangau bingung bertengger. Gulung celana, karena mulai ada banjir. Seharusnya kuhitung hari. Apa gerangan jasaku. Sebait sajak saja tak cukup. Mending di pinggiran jalan. Nonton penggusuran tanah, selat Sunda tak berpantai, heboh buruh, pasar terbakar, tangis pedagang, kapal bekas, jerit nelayan, pemuda ngemis, jurnalis amplop, sawah bercerobong, santri tak berpeci, dan nostalgia kesultanan.

III.
Segelas pengorbanan, yang kenyang tetap penggede. Ibarat anggur dihisap habis, kubisa bikin sajak saja. Cidurian keruh tercemar. Ciujung hitam nelangsa. Gadis kampungnya gatal korengan. Cikande berdebu, langgarnya melompong. Pedagang Rawu mengamuk, pasarnya kemahalan. Malingping menjerit, kapalnya rongsokan. Pandeglang lapar, berasnya diisap cecurut.

IV.
Mari kupunya sajak. Kubasuh kalian. Ada air Banten, air Sunda, air Jawa, air Arab, air Makasar, air Cina, keraton. Ya, dengan sajak saja. Tapi, ke mana gerangan wangi tanahmu? Digilas keputusan? Sedang sajakku tak lagi punya makna. Roda traktor melindas keluguan. Hanya kegilaan sekejap, yang menang pembangunan. Kemakmuran. Kemanusiaan minggir dulu. Beri jalan bagi penguasa dan pengusaha. Dompetnya bisa ngasih makan sekelurahan. Kursi adalah segala tujuan. Diarak. Terompet. Baris berbaris. Bunga-bunga. Perempuan telanjang.

V.
Aku tak percaya bila sajak bisa bikin kenyang koruptor. Malah bikin makin lapar. Kota lama roboh, berganti gemerlap. Pohon asam terkapar menuding langit. Pucuk-pucuk padi menunduk rebah ke tanah. Sejuta pohon cuma slogan. Iman dan taqwa mirip tai kambing, ada di mana-mana. Serang kepanasan. Banten kegerahan. Jalanan jadi berwarna serba hitam. Kuning, biru, merah, hijau sembunyi di got-got, menampung air comberan.  Sejarah tak lagi punya makna. Kehidupan merenggut apa saja. Tinggal tunggu Krakatau mengaum: BUM. Selesai. Selalu begitu sampai tamat lakon. Berkemas dan pergilah ke selatan. Tanah Kanekes gemah ripah loh jinawi. Sembunyilah di sana. Tak ada pengorbanan demi pembangunan. Bebas merdeka.

VI.
Entah kenapa kutulis sajak. Jangan berkata-kata, sementara aku bingung wangi tanahmu di mana? Sekali lagi ini Cuma terjadi dalam kado sentimentil. Selama masih berkata-kata, bisa jadi belum sempurna. Harus diputuskan seperti bermula perahu Portugis merapat. Sulit. Dan inilah soalnya. Ah, kenapa tak kuhentikan saja kedunguan ini dengan nyanyian Saijah dan Adinda.

Serang Oktober 1994 – Maret 2003

***
5.
AKU PUNYA CERITA

Aku punya cerita
di atas bus di tol Ciujung
dari mulut tua renta, hampir mati.
Dia menggenggam tanah dan bicara
: Aku takut untuk bicara. Aku lapar.
  Sawahku musnah dicuri tikus.
  Sungaiku kena kutukan.
  Kerbau memberakinya.
(Tak pernah kumengerti arti keserakahan,
siapa menaburkan, pada jenis apa bersemai)

Aku punya cerita
di Selat Sunda saat senja
dari mulut nelayan papa, terjerat lintah.
Dia tenteng jala dan meratap
: Aku tak punyaperahu. Anakku jadi pelacur.
  Ikan-ikan ngungsi ke samudra lain.
  Pantaiku hilang. Pohon kelapa jadi neon.
(Tak pernah kupahami siapa empunya persada,
gurita tertawa di muara, penyu kesurupan di hulu)

Aku punya cerita
di pesantren kampung miskin
dari haji mabrur, hampir nabi.
Dia dzikir ngitung komisi
: Adzan dikasetkan.  Sarung jadi jeans.
  Langgar bersaing dengan warung pojok.
  Pabrik dan sedekah jadi berita.
  Agama diperjualbelikan.
(Tak pernah kudustakan Tuhan,
aku tak berdaya, sembunyi dalam sajadah)

Hantu-hantu ngaku tuhan berkeliaran
Nawarkan pulau, nyekik jelata.
Mereka bersabda, tangan di dada
: Kutawar hidupmu dengan sebungkus rokok
  Kalau perlu keberi kau piagam kemanusiaan.

Aku tak punya cerita kini,
Tentang padamu negeri aku berbakti

Bandung, Januari 1995

***
6.
BANTEN LAMA
(Gawe kuta baluwarti bata kalawan kawis*)

masa kanak-kanakku terbawa ke muara
saat hujan di atas gedebok pisang
Cibanten sudah lama jadi tembang utara
kemashuran para sultan diinjak-injak rambut pirang
Karanghantu bawa kabar seberang lautan
tentang putri Cina dan genderang perang

palu rodi di ujung Selat Sunda
melilit besi sampai ke Banyuwangi
titah raja sekarat nyawa-nyawa
tulangbelulang tersimpan di musium purbakala
Surosowan merintih hangus membara
rakyat gemah ripah porak poranda

dan bata terlempar ke selatan kota
tumbuh berkembang berbuah istana
senyum pucuk padi seruling gembala
lima abad tertoreh di buku sejarah

kini raja baru serakah menggenggam sawah
padi dan ikan menggelepar di perut naga
menyetubuhi limbah menghamba rupiah
kisah berujung: Banten lama tinggal kenangan

Serang, Mei 1996
*) Membangun kota dan peradaban dengan batu dan karang
***

7.
ANTARA TANAH DAN BAPAKKU

Ini cerita tentang tanah nenek moyangku
awalnya kisah makmur seberang lautan
bawa kabar di kaca hutan hangus terbakar
kota bersesakan lumbung manusia kelaparan

Inilah ceritanya:
Bapakku umur sepuluh tahun menepuk dada
nenek moyangnya merejam jagung
dengan takut dan bambu runcing
tak pernah dusta Tuhan apalagi minta bintang di dada.
tapi Bapakku minta tanah.

Lalu enampuluh tahun punya anak cucu
tak punya bisnis hilir pun hulu
wasiat kakekku pada bapakku:
Kuwariskan tanah, bukan ilmu.
Tanami cerobong. Cemari langitnya.
Tembaki unggasnya. Beraki sungainya.

Kini bapakku sekarat di balik terali
warisannya ketakutan tapi berani bicara
kubacai buku hariannya:
Aku durhakai nenek moyang.
Kutanami tanah dengan wangi padi. Kutebar gelepar ikan.
Kulukisi lagnit dengan pelangi. Kusumpahi kolusi.
Lima belas tahun ganjaranku.

Bapakku bikin aku melarat
kukubur di tanahnya dengan nisan cendana dan kamboja
maka ketika gurita menggaruki tanah warisan
aku menyusul Bapak ke bali terali

Kini di pusaranya benisan tiang merkuri
Serang Januari 1996

***

8.
BERKACALAH, BANTENKU
 
Berkacalah, Bantenku
ketika fakta jadi isapan jempol
jari tangan tertuding pada siapa saja
kemudian berakhir di meja restoran
mereka berkata:
“Biarkanlah rakyat jelata yang sengsara
toh, mereka bebas berunjuk rasa!”

Berkacalah, Bantenku
meski cermin warisanmu hancur
kita cuma perlu beristighfar rame-rame
tak perlu tahu siapa yang bikin dosa
karena moral kita mikul duwur mender jero

Berkacalah, Bantenku
keriputmu ada di timur penuh sampah limbah
jalan Pontang yang bikin pinggul bergoyang
Teluk Banten yang bikin ikan mabuk
Cilegon dan Baja yang bergolak

Berkacalah, Bantenku
kau tak perlu malu

***
GOLA GONG selain dikenal sebagai wartawan tanpa surat kabar, novelis, penulis skenario TV, pengelola Pustakaloka RUMAH DUNIA, juga menulis sajak. Beberapa sajaknya pernah dimuat di Suara Muhammadiyah, Mitra Desa PR, Republika, Media Indonesia, serta Adil. Juga terkumpul dalam antologi Jejak Tiga (1988), Ode Kampung (1995), Antologi Puisi Indonesia (KSI-Angkasa, 1997), dan kumpulan 7 penyair Serang Bebegig (LiST, 1998). Kini bekerja sebagai script writer dan tim kreatif di RCTI.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

June 2007
M T W T F S S
« May   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: