KELUARGA PENGARANG

SAAT REMAJA MEMAKNAI KEHIDUPAN

Posted on: June 7, 2007

Oleh Renhard Renn

Dia mengalir bagai air. Beriak-riak terantuk batu-batu. Tertatih menyeret langkah. Namun ia terus berjalan. Menyusuri lorong-lorong asing labirin kehidupannya. Ia mencari dan terus mencari. Ia berusaha mengerti dan terus memahami. Kehidupannya. Labirinnya. Lazuardinya.
AGAMA
Alam didirikan di atas tonggak kebenaran dan keadilan. Inilah dasar dari seluruh maujud kehidupan. Akan tetapi, tipuan-tipuan syetan yang datang bertubi dari segala penjuru telah memperdaya umat manusia. Membuat manusia kehilangan arah dan tersesat dalam arung kehidupan. Membaca Lazuardi, yang amat kental dengan spirit keagamaan dan pencarian jati diri ini makin menegaskan hal ini. Betapa keterjauhan manusia dari agama tidak mengakibatkan apapun selain keterputusan dan ketercerabutan makna.
Dalam Labirin Lazuardi, nampaknya Gola Gong ingin menyampaikan hal ini. Lewat sosok resah remaja Lazuardi yang berupaya memahami labirin kehidupannya: Kehidupan yang telah begitu jauh terputus dari nilai-nilai suci agama. Kehidupan yang telah tenggelam dan berkarat dalam cengkraman materialisme dan peradaban yang rendah.  Dimana hukum rimba berkuasa. Di mana kemanusiaan telah lama musnah diganti hasrat hewani yang buas. Dimana sikut kanan sikut kiri demi sesuap nasipun telah menjadi tradisi. Di tengah arus kehidupan yang kian jauh dari ajaran agama inilah, sosok Lazuardi berada. Mencari dan terus memahami. Kehidupannya. Labirinnya. Lazuardinya. Inilah sebuah potret kegamangan, kegelisahan, harapan, beserta seluruh impian dan kerinduan remaja muda dewasa ini.
Ya, membaca Lazuardi, membuat kita seolah melihat wajah-wajah Lazuardi lainnya yang sama-sama berjalan tertatih-tatih mencari dalam segala keterasingan dan kegelisahannya. Lazuardi adalah potret remaja masa kini. Potret remaja yang berada di sisi dua dunia yang berbeda (dan bahkan saling berbenturan keras). Sebuah dunia asing yang telah begitu jauh menistakan agama dan ajarannya.

BELAJAR KEHIDUPAN
Masa remaja yang merupakan masa transisi membuat remaja seakan berjalan dengan mata terpejam menuju masa depan yang tidak jelas. Namun nampak jelas sekali bahwa pada masa ini dalam diri remaja lahir semangat hidup yang baru dan menggebu. Semangat mencari kebenaran. Semangat untuk menuju jalan Tuhan. Di sini, melalui sosok Lazuardi yang diciptakannya,  terlihat jelas bahwa penulis berusaha menjembatani dan menuntun remaja agar jangan sampai salah langkah. Alih-alih menyerah dan berhenti di tengah jalan, sebaliknya, segala aral-rintang yang menghalang justru akan menempa jiwa menjadi semakin matang dan dewasa. Dengan bahasa yang mengalir, lugas dan cerdas penulis menuntun pembaca untuk memahami hal ini.
Dengan memosisikan diri sebagai remaja Lazuardi, penulis membiarkannya mengalir terus seperti air sungai, dengan terantuk batu-batu sebagai persoalan cara mengatasi hidup. Lazuardi mengajak kita untuk belajar langsung pada kehidupan. Dengan tiap jengkal tanah sebagai lembaran yang harus ia buka. Dengan orang-orang yang ia temui sebagai pena. Dan pengalaman orang-orangnya yang dapat ia baca. Saat ia bertemu dengan Ustadz Latief, Cak Leman, Ijo, dan Inka sang gadis palang merah di perkampungan pinggir rel kereta, bahkan kala ia bertemu dengan seorang satpam bank, di sanalah ia belajar memahami dan memaknai kehidupannya. Sosok Lazuardi yang resah telah mengajak para Lazuardi-Lazuardi lainnya untuk sejenak mengheningkan cipta. Meninggalkan wadag-wadag kosong teori yang membelenggu. Menghadirkannya menghadap realitas kehidupan.
Membaca Lazuardi mengingatkan kita pada sosok muda si Roy yang begitu humanis dan universal. Roy dengan pribadinya yang begitu dekat, keras, pemberontak dan anti struktur telah membentuk dimensinya yang khas. Hal yang tak jauh berbeda dengan Lazuardi. Seolah-olah Lazuardi adalah inkarnasi dari Roy dalam bentuknya yang lain. Sama-sama humanis. Sama-sama universal. Namun dengan nuansa-spirit reigius yang jauh lebih kental. Tidaklah berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa Gola Gong, sang penulis disebut ingin menghadirkan kembali spirit si Roy yang fenomenal lewat sosoknya yang baru, Lazuardi. Dengan catatan, kematangan spiritual-religius yang lebih pada diri Lazuardi.
Labirin Lazuardi merupakan karya yang benar-benar sangat menarik dan layak diapresiasi. Apalagi Lazuardi membawa satu pesan suci, bahwa hanya dengan kembali pada agamalah semua permasalahan akan terjawab dan terselesaikan. Akan tetapi tidak ada karya yang sempurna. Adakalanya penulis kurang kuat menampilkan karakter tokoh pendukung dan kurang memperhatikan kausalitas konflik di dalamnya. Ini terlihat pada saat Lazuardi bertemu dengan Ibu Inka yang tiba-tiba saja (tanpa penjelasan yang memuaskan) terkejut karena Lazuardi mirip dengan putranya yang sudah meninggal (hal. 159). Walaupun di alinea-alinea selanjutnya penulis berusaha menjelaskannya, hasilnya kurang begitu maksimal. Dalam ungkapan-ungkapan penegasan dengan huruf kapitalpun, terlihat ada beberapa statemen yang cenderung boros dan berlebih-lebihan. Pun ketika ia berusaha mengemas dan menyampaikan pesan berdimensi spiritualnya ada beberapa yang terasa dipaksakan dan terlalu literer atau romantis. Terutama pada lembar-lembar awal. Namun lepas dari itu semua karya ini sangat layak diapresiasi. Terutama bagi remaja muda dan para pemerhati masalah remaja. (*)

*) Penulis adalah pembaca novel dan anggota Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan ke-9
 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

June 2007
M T W T F S S
« May   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: