KELUARGA PENGARANG

MEMBACA DAN RISET ADALAH PROSES [14]

Posted on: June 7, 2007

Problem penulis pemula ibarat memakan mie instan; diseduh langsung dimakan. Menulis ingin langsung jadi. Duduk di depan komputer, ngetik, langsung jadi cerpen atau novel! Padahal proses (kreatif) sebuah karya yang baik adalah melalui membaca dan riset.
 
SEJAK KECIL
 Saya menjadi pengarang itu bukan keinginan semalam, lho. Tapi melewati proses (kreatif) yang panjang dan tentu melalui jalan terjal berliku. Tanpa saya sadari, keinginan itu sudah berlangsung sejak saya di sekolah dasar. Ibarat seorang petani, yang terus mencangkul agar tanahnya subur, lalu menanam dan memetik panennya beberapa bulan kemudian.
Saya ingat saat kecil dulu. Pada saat itu belum dikenal apa yang sekarang sedang nge-trend; yaitu konsep multiple intelligences (kecerdasan majemuk). Tapi, Bapak ternyata sudah memulai itu. Bapak mengenalkan saya pada kecerdasan linguistik (bahasa) dan visual spasial (film). Bapak membuatkan kami perpustakaan di rumah dan Emak selalu memberi menu dongeng sebelum tidur. Jika PLN mematikan listrik secara bergiliran, Bapak nggak kehilangan akal. Diambilnya kain belacu (putih) dan lampu tempel, Bapak membuat film dengan gambar-gambar yang kami guntingi dari majalah atau koran. Saya suka jadi dalangnya. Seperti pertunjukan wayang kulit. Saat Bapak membeli radio tape recorder, saya diajari merekam suara di kaset. Hasilnya, saya membuat sandiwara radio dengan suara saya sendiri. Saya ingat sandiwara radio itu temanya ”ibu tiri yang jahat”. Saat itu film bioskop ”Ratapan Ibu Tiri” yang diperankan artis Faradila Sandi sedang ngetop banget.
Di SMP, saya membuat komik silat. Saat itu keranjingan nonton film kung fu. Cerita dan ilustrasinya saya yang membuat. Di SMA, saya  membuat majalah seperti Annida. Sekitar 5 cerpen buatan saya dikumpulkan. Lalu digambari. Dijilid. Hanya 1 kopi. Majalah itu beredar dan setahun kemudian ketika saya lulus, majalah itu kembali ke saya. Majalah itu masih saya simpan sebagai bukti perjalanan karir kepenulisan saya.

IBARAT KOMPOS
Saya ingin sekali membuat novel.  Saat itu yang sedang merajai rimba pernovelan adalah Iwan Simatupang (Merahnya Merah), Putu Wijaya (Stasiun), NH. Dini (Pada Sebuah Kapal), Eddy D. Iskandar (Gita Cinta Dari SMA), Ashadi Siregar (Cintaku di Kampus Biru dan Ali Topan Anak Jalanan), Marga T (Karmila). Kalau di majalah ada Arswendo Atmowiloto (Imung dan Kiki), dan Emji Alif (saya suka cerita-cerita petualangannya), dan Hilman (Lupus). Film-film mereka saya tonton. Saya pelajari setiap kata yang mereka rangkai. Saya bacai  profil mereka di koran dan majalah. Saya membuat kesimpulan, mereka tenyata bukan sekedar mengkhayal ketika menulis. Ternyata mereka memiliki wawasan luas lewat membaca, disiplin menghargai waktu, dan melakukan riset sebelum menulis. Rata-rata mereka bilang, ”Kalau ingin jadi penulis rajin membaca. Perhatikan sekelilingmu. Lalu setelah itu, menulis dan menulis!”
Maka saya pun melakukan riset. Tidak mengenal lelah. Saya perhatikan lingkungan saya di sekolah, tempat kongkow, stasiun, pasar, mall, jalanan, rumah sakit, terminal. Pokoknya di mana saja. Saya melakukan perjalanan. Saya bertemu banyak orang. Saya merasakan senja dan fajar. Saya menuliskannya di ”buku harian”.
Beberapa puisi saya pernah dimuat di HAI saat SMA. Tapi, novel pertama yang saya tulis adalah ”Balada Si Roy”. Proses kreatifnya  bertahun-tahun. Sepanjang saya di SMA (1980), mahasiswa (1982 – 85), hingga jadi pengangguran terselubung (1986 – 87). Berkarung-karung buku harian saya ngejogrok di pojokan kamar. Dengan tulisan tangan. Dengan emosi. Dengan hati. Dan pada akhirnya dengan pikiran.
Pada suatu malam di ujung tahun, Oktober 1987, saya membacai semua buku harian. Seperti halnya kata Natalie Goldberg (Alirkan Jati Dirimu), di setiap tumpukan sampah itu pasti akan menghasilkan pupuk unggul, maka itulah yang terjadi dengan berkarung-karung buku harian saya. Ada yang hanya sampah, saya bakar, hingga akhirnya saya menemukan begitu banyak kompos. Saya banyak menemukan materi untuk cerita. Saat itu sayap-sayap imajinasi saya terbang. Ke Old Shaterhand dan Winnetou (Karl May), The Outsiders (SE Hinton), Arround The World in Eighty Days (Jules Verne), Robinson Crusoe (Daniel Dafoe), Musashi (Eiji Yoshikawa), Sidharta (Herma Hesse), Mahabharata (Vyasa), Tom Sawyer (Mark Twain), Si Doel Anak Betawi (Aman Datuk Madjoindo), Jendral Kancil (Arifin C. Noer). Bahkan tokoh cerita saya di “Balada Si Roy”; Roy Boy, terinspirasi dari nama tokoh “Rob Roy” (Sir Walter Scott).
Saat menulis, Al-Qur’an dan hadist serta buku-buku agama Islam berserakan jadi panduan saya. Masa iut mjalah Islam belum muncul. Apalagi orde baru sangat represif terhadap Islam. Tapi saya berusaha agar “Balada Si Roy” – walaupun universal, tteap ada nuansa Islaminya. Beberapa judul episodenya seperti “Lebaran”, “Pesantren”, dan “Mesjid” saya tulis.
Nah, mulailah berproses dari sekarang. Bersabar. Jangan tergesa-gesa. Kelak, kamu akan memanennya nanti.(*)

*) Rumah Dunia, 3 Februari 2007
*) Dimuat di BCN Annida, Februari 2007

***
 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

June 2007
M T W T F S S
« May   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: