KELUARGA PENGARANG

PERJALANAN KITA MENJADI CERITA [13]

Posted on: May 16, 2007

anak1.jpgOleh Gola Gong

Ayu Utami menulis di koran Seputar Indonesia (31/12/06), ”Bumi bulat mudah menggelinding, bumi datar mudah retak.” Dia menyoroti pernyataan Thomas L. Friedman (The Worl is Flat), yang mengatakan bahwa gara-gara infrastruktur jejaring informasi teknologi lewat serat optik yang ditanam di dasar laut, kita bisa saling berhubungan secara horisontal dengan internet. Bumi pun jadi datar. Tapi, juga mudah retak karena gara-gara gempa di Taiwan, keasukan kita berinternet-ria terganggu. Bahkan telepon seluler pun tidak nyaman kita pakai lagi. Ya, bumi bulat ternyata menyimpan potensi bencana; longsor, banjir, gempa, dan tsunami. Sedangkan bumi datar gara-gara internet, juga rawan ganguan karena serar optiknya rentan.

INDONESIA
Bagi saya, bencana dan internet bisa menjadi sumber ide. Kadang saya berandai-andai, jika saja dua hal itu: bencana dan ide, marak muncul ketika saya muda, insya Allah saya akan lebih produktif menulis. Sekarang saya bisa merasakan, ternyata menulis menggunakan komputer jauh lebih produktif  daripada mesin tik dan intenet mempermudah proses pengiriman naskah dan komunikasi  dengan pihak penerbit.

Saya ingat ketika muda (era 80-an) melakukan perjalanan menyusuri setiap jengkal bumi Indonesia ini. Itu bermula ketika saya menerima post card candi Borobudur, menggebu-gebu hati ini ingin melihat Borobudur. Juga Bali yang disebut pulau dewata. Dengan modal nekad berbekal uang pas-pasan, saya ber-liften (numpang truk atau kucing-kucingan dengan kondektur kereta); saya berhasil sampai di Yogya dalam waktu seminggu dan sebulan di Bali! Juga setiap kota di luar Jawa; selama hampir dua tahun saya menyusuri Indonesia! Setelah Bali, saya menyeberangi Lombok, Sumbawa, Flores, Maluku Irian, Sulawesi, dan Kalimantan. Saya merasakan aroma penghuninya dan menghirup wangi tanahnya.

Tidak ada bencana selama pejalanan waktu itu. Di Yogya aman terkendali, di Bali juga damai. Di Dilli pulau Timor saya brejalan kaki hingga Dilli tanpa ada  pemberontakan. Di Maluku saya menyusuri pantainya selama sebulan tanpa ada perang suku, hingga ke menyeberang ke Fak Fak menggunakan kapal kayu tanpa ada badai dan ombak seperti yang terjadi di perairan Masalembo. Di Papua saya menikmati senja di Fak Fak, Manokrawi, Biak, Jayapura, lembah Beliem serta pegunungan Jayawijaya tanpa ada aroma separatis. Semuanya nyaman dan damai, sehingga saya kadang kerepotan membayangkan konflik-kolik yang harus saya jalin di dalam cerita fiksi yang sedang saya persiapkan waktu itu.

Tapi bagi seorang (calon) penulis, apa pun situasi dan kondisinya, bermodalkan 5 W (what, who, why, where, when) plus 1H (how), perjalanan yang nyaman atau penuh bencana, tetap bisa menjadi cerita menarik. Keadaan di sekeliling harus kita gali dengan resep sakti 5W plus 1 H itu. Puluhan buku harian saya tulisi dan saya kirim ke rumah. Saya menulis tentang setting (latar tempat) setiap kota saya lewati. Saya menulis tentang indahnya fajar, senja, dan purnama di tengah lautan saat terapung-apung dengan kapal kayu. Saya menulis rasa lapar, rasa dingin, rasa takut, rasa kangen. Saya menulis tentang penderitaan seseorang. Saya menulis tentang kehilangan. Dan tentu cinta lokasi di perjalanan.

Saya biasanya menulis di taman-taman kota, di mesjid agung, di stasiun kereta, dan di kantor pos. Atau saya mencari tempat penyewaan kursus mengetik – biasanya saya menyewa 1 atau 2 jam. Andai saja dulu rental komputer bertebaran, pasti saya akan lebih produktif. Atau andai ada warung internet, pekerjaan menulis menjadi lebih mudah bagi saya. Tapi, puluhan novel lahir juga dari sikon seperti itu.

ASIA
Kenapa harus melakukan perjalanan? W. Somerset Maugham menitip pesan, “Kalau ingin menjadi pengarang, pergilah ke tempat yang jauh, atau merantaulah ke negeri orang. Lalu tulislah pengalaman-pengalaman yang didapat.“  JK Rowling pun seperti itu. Dia pergi ke wilayah tua di Eropa Timur, mengunjungi kastil-kastil tua dimana ilmu sihir masih dipercaya. Dia melakukan riset; pustaka maupun observasi di lapangan. Hasilnya novel fenomenal harry Potter!

Saya pun melakukan itu: perjalanan ke beberapa negara Asia sepanjang 1990 – 192. Menyeberang ke Kuching, Sarawak lewat pintu Entikong di Pontianak, saya terbang ke Singapura. Lalu dengan sepeda menyusuri Malaysia hingga Bangkok; saya tidur di stasiun, di mesjid, dan di candi-candi. Dengan perahu menyusuri sungai-sungai di Bangladesh; saya menyeberang ke Calcuta India juga mmakai perahu. Berkerta saya mengunjungi sepertiga wilayah India. Merasakan romantisme sungai Ganga,Taj Mahal, menjenguk kota penuh konflik di Amristhar, Rajasthan, sreta keagungan sanfg Pencipta di Himalaya, Nepal.

Perjalanan di Asia itu banyak melahirkan cerita bagi saya; karya fiksi maupun jurnalistik. Bahkan catatan perjalanan ang saya tulis di majalah Anita Cemerlang wakut iut dibukukan oleh puspa Swara (Perjalanan Asia). Semua itu saya tulis selama dalam perjalanan. Saya menulis di tempat-tempat kursus mengetik. Kadang saya kerepotan menemukan tempat kursus mengetik. Kadang juga tulisan yangf saya kirim ke Jakrta lewat pos tidak sampai! Andai saja waktu itu rental komputer sudah mentradisi dan internet sudah menjadikan bumi rata, setiap saat saya bisa mengirimkan tulisan ke seluruh media massa di Indonesia dan mailing list yang bertebaran.

Nah, kalian siap melakukan perjalanan seperti saya? Tidak perlu jauh-jauh. Cukup antar kota saja dulu dan tuliskanlah semua yang kamu lihat. Rasakan. Endapkan. Kembangkan syap-sayap imajinasimu. Insya Allah, setiap perjalanan yang kamu lakukan akan menjadi cerita. Tidak precaya? Buktikan saja! ***

*) Rumah Dunia, 3 Jan 2007
*) Dimuat di Bengkel Cerpen Annida Jan 2007.

1 Response to "PERJALANAN KITA MENJADI CERITA [13]"

kenapa harus Timur Tengah..
mungkin dari sini perjalanan menuju Afrika dan Eropa
amien..

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

May 2007
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: