KELUARGA PENGARANG

LABIRIN LAZUARDI INKARNASI BALADA SI ROY

Posted on: May 16, 2007

labirinlazuardi-1.jpgOleh Renhard Renn

Judul buku :   Labirin Lazuardi #1: Langit Merah Saga
Penulis :   Gola Gong
Penerbit :   Tiga Serangkai Solo
Cetakan :   2007

Dia mengalir bagai air. Beriak-riak terantuk batu-batu. Tertatih menyeret langkah. Namun ia terus berjalan. Menyusuri lorong-lorong asing labirin kehidupan yang melingkupinya. Ia mencari dan terus mencari. Ia berusaha mengerti dan terus memahami. Kehidupannya. Labirinnya. Lazuardinya.

DUA SISI
Membaca Lazuardi, membuat kita seolah dapat melihat wajah-wajah Lazuardi lainnya yang sama-sama berjalan dan mencari dalam segala keasingan dan keresahannya. Lazuardi adalah potret remaja masa kini. Potret remaja yang berada di sisi dua dunia yang berbeda yang berusaha mencari jawaban atasnya.

Lazuardi benar-benar mewakili keadaan remaja muda kita saat ini. Kegamangannya, kegelisahannya, harapannya, beserta seluruh impian dan kerinduannya tergambar dengan apik sekali oleh tangan dingin sang penulis.

Menyelami ghirrah dan himmah Lazuardi yang begitu humanis dan universal mengingatkan kita pada  pada sosok muda si Roy dalam Balada Si Roy. Roy, dengan pribadinya yang begitu dekat, keras, pemberontak dan anti struktur telah membentuk dimensinya yang khas. Ia mempunyai spirit yang kental dan pesan-pesan humanis dan universalnya yang khas. Hal yang tidak jauh berbeda ketika kita mengenal Lazuardi.

Membaca pemuda Lazuardi seolah membaca Roy jilid kedua. Seolah-olah Lazuardi adalah inkarnasi dari Roy dalam bentuknya yang lain. Sama-sama humanis. Sama-sama universal. Namun dengan nuansa-spirit religius yang jauh lebih kental. Tidaklah berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa Gola Gong, sang penulis disebut ingin menghadirkan kembali spirit si Roy yang fenomenal lewat sosoknya yang baru, Lazuardi. Dengan catatan, kematangan spiritual-religius yang lebih pada diri Lazuardi.

BUKA MATA TELINGA
Lepas dari itu semua, Lazuardi merupakan potret generasi remaja kita yang haus akan jawaban dan kebenaran yang kian hari kian tak menentu. Lazuardi mengajak para Lazuardi-Lazuardi lainnya untuk sejenak mengheningkan cipta, meninggalkan ruang-ruang sempit belenggu kehidupan semu yang mengungkung dan membelenggunya.

Lazuardi mengajak kita untuk membuka mata, membuka telinga dan menyingkap realitas kehidupan ini. Lazuardi mengajak kita untuk belajar langsung dengan kehidupan.  Dengan tiap jengkal tanah di bumi ini sebagai lembaran yang harus dibukanya. Dengan orang-orang yang ia temui sebagai pena. Dengan pengalaman orang-orang yang menapak diatasnya yang dapat ia baca.

Bagi para pemerhati masalah remaja, Lazuardi merupakan karya sastra yang layak sekali diapresiasi. Dengan sangat apik penulis menuturkan baris demi baris kisah remaja bernama Lazuardi. Misterinya, kegelisahannya, gejolak mudanya, semuanya ditata sedemikian cerdas dengan alur dan plot yang tak mudah ditebak dan penuh kejutan makin membuat Lazuardi menjadi karya yang menarik untuk diikuti.

Saya pribadi sangat menunggu lanjutan dari seri pertama ini. Dan bagi para remaja, saya sangat menganjurkan untuk membaca dan mengapresiasi karya ini. Lihatlah sisi lain dunia dan menyelamlah di dalamnya. Lalu temukanlah Lazuardi-Lazuardi yang tersimpan di setiap dada. ***

*) Penulis adalah relawan Rumah Dunia dan peserta kelas menulis angkatan IX – 2007.

4 Responses to "LABIRIN LAZUARDI INKARNASI BALADA SI ROY"

ge, sepertinya novel ini akan jadi salah satu hard target untuk aku baca. kapan yah keluarnya? hmm… aceh jauh dari jakarta nih😦

Mas,
saya pesen satu yah..
nanti dititipin sama temen deh.
thx

gege, saya sudah baca lazuardi. spirit roy ada disana. benar kata tias, di lazuardi terkandung makna religi yang lebih kuat dibandingkan roy. jangan-jangan kisah lazuardi terinspirasi dari pertemuan anda dengan Tuhannya😀.

BTW, membaca lazuardi saya merasa sosoknya begitu heroik dan religi sekali. mungkinkah masih ada orang seperti dia di zaman seperti sekarang?

heroisme yang terlalu kental membuat sosok lazuardi menjadi sosok yang fana di dunia realitas ini, sangat berbeda dengan sosok roy yang sering sekali kita temui di setiap alur kehidupan.

bagi saya sosok roy jauh lebih nyata dan lebih terlihat “real” daripada sosok lazuardi.

Hehehe, Roy kan segmentnya lain. Lazuardi juga segmentnya lain. Tapi, kamu suatu saat pasti akan ketemu orang seperti Lazuardi. Beberapa kali saya pernah ketemu anak muda yang berhati mulia. Ada yang dari anak orang kaya, tapi ada juga dari keluarga miskin. Insya Allah. Makasih udah baca Lazuardi, ya. (Gola Gong)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

May 2007
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: