KELUARGA PENGARANG

HAL BIASA MENJADI LUAR BIASA [12]

Posted on: May 4, 2007

familigg_39.jpgOleh Gola Gong Sebetulnya siapa sih, yang boleh menyandang gelar ”pengarang” atau ”penulis”? Apakah dia harus bergelar S1 hingga S3? Kayaknya nih, bergelar atau nggak, boleh saja. Generasi terdahulu, kalau mau menulis ya menulis saja. Banyak pengarang yang malah meninggalkan bangku sekolah atau kuliah hanya karena ingin berkonsentrasi penuh dengan dunia menulis.  

TERBUKAAjip Rosidi, misalnya. Dia keluar dari SMAnya di Majalengka, padahal dia mau ujian kelulusan. Dia memilih membacai buku di
perpustakaan dan ternyata sekarang jadi penulis serta guru besar.
Tapi, nggak sedikit juga yang bergelar sambil menekuni dunia kepenulisan. Bahkan seebritis seperti Dee, Rieke Dyah Pitaloka, dan Tamara Geraldine ikut meramaikan.
            Pokoknya, profesi pengarang terbuka buat siapa saja! Yang punya gelar formal ok, yang tidak jangan berkecil hati. Yang artis boleh, yang buruh pabrik dipersilahkan, Nah, saking terbukanya, rimba pertulisan memang keras banget. Nama-nama penulis baru dengan karyanya hilir-mudik. Semuanya berusaha untuk mendapat tempat dan tentu saja, mereka ingin bukunya best seller seperti kue lapis. Pihak penerbit berusaha keras menjual karya si pengarang; dipajang di etalase toko-toko buku, bahkan juga dengan diskusi-diskusi di berbagai tempat sambil meluncurkan buku si pengarang dengan endorsement gemerlap di cover belakang.Untuk jadi penulis, cobalah dengan hal biasa. Jangan menunggu peristiwa besar terjadi pada hidupmu dulu lalu menuliskannya. Menjadi penulis kan nggak mesti gagah  dan cantik, tapi dia harus mudah bergaul, rasa ingin tahunya tinggi, berpengetahuan luas dengan kebiasaan membaca bukunya tinggi. Cara-cara kerjanya persis sama dengan pekerjaan wartwan. Dia harus jeli menemukan peristiwa dan jalan cerita, mau cek, ricek, dan tripel cek kalau perlu. Dia harus bisa memastikan sudut pandang (aku, dia, atau orang ketiga), menentukan tema, judul, karakter, konflik, dialog, dan paling buncit segera menuliskannya.  KONFLIKMengutip apa yang diandaikan di buku ”Vademikum Wartawan (Kepustakaan Populer Gramedia), percayalah, sedang-sedangpun kecerdasannya asal vitalitasnya tinggi, seseorang akan jadi pengarang yang handal. Syarat menjadi penulis gampang, kok. Ketekunan dan kegigihan. Dia harus tangguh, mengerjakan yang biasa-biasa saja dengan cara yang luar biasa.  Caranya?Saya kasih contoh dengan hal biasa-biasa saja, tapi bisa menjadi luar biasa. Tema cinta adalah sudah sangat biasa. Tapi, cobalah kalau kita mengemasnya dengan konflik yang berbeda. Konflik bisa kita racik. Hampir semua cerita (cerpen/novel) dengan tema biasa, menjadi luar biasa karena si pengarang mampu meramu konflik antar tokohnya. Tentu setelah kita tentukan karakter para tokohnya, konflik itu akan mengalir sendiri.Misalnya, tentang cinta seorang lelaki yang mencintai adik istrinya sendiri. Betapa ingin dia menikahi adik si istri tersebut. Mimpinya itu kesampaian setelah istrinya meninggal. Lalu menikahlah dia dengan adik istrinya yang sudah meninggal. Menarik kan? Atau tema cinta antar sesama orang buta. Pernahkah kita membayangkan menjadi orang buta dan mengungkapkan perasaan cinta kita? Hal biasa lainnya. Cobalah perhatikan sekeliling kita. Begitu banyak peristiwa biasa terjadi. Setiap hari kita melihatnya. Bahkan hampir bosan. Untuk jadi seorang penulis, mata batin kita tentu harus berbeda dengan yang bukan penulis. Kalau perlu indra keenam kita pake dan kepakkan sayap imajinasi kita. Ketika kita naik becak atau motor ojek, itu adalah ruinitas yang menjemukan. Tapi dengan mata batin kita, percayalah, sebetulnya kita bisa menemukan peristiwa di balik kesharian yang biasa saja itu. Misalnya, tukang becak itu harus mengumpulkan uang banyak, karena tadi becaknya menyenggol mobil mewah angota DPRD yang sombong. Atau tukang ojek yang sedang pusing, karena anak gadisnya hamil diluar nikah dan dia memilih mati saja dengan cara bunuh diri.Pergunakanlah indra keenam kita dengan menggunakan formula 5W plus 1H (what, who, where, why, when dan how) dan kembankanlah sayap-sayap imajinasi kita denan mendramatisirnya. Dengan rajin bergaul, kita akan menemukan banyak peristiwa di balik hal biasa yang kita lakukan. Dengan rajin mengamati, kita akan menemukan banyak ide yang sudah Allah hidangkan di depan kita setiap saat. Hanya dengan sentuhan ajaib dari penulislah, peristiwa biasa itu akan jadi luar biasa.             Sekarang, kamu coba perhatikan hal-hal biasa itu, ya! Ayo!*** *) Rumah Buku Citra Gading, 4 Des 06*) Dimuat di Bengkel Cerpen Annida Des 06 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

May 2007
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: