KELUARGA PENGARANG

[Di balik Layar 13] ROY REMAJA KAMPUNG

Posted on: May 4, 2007

layar-13.jpgOleh Gola Gong

Pada era 80-an, tokoh rekaan “Boy” di “Catatan Si Boy” rekaan Zara Zetira ZR yang diudarakan radio Prambors, sangat memikat remaja Indonesia.

Wajah setampan Ongky Alexander dengan sedan mewah, play boy, tapi rajin sholat dengan simbol tasbeh menggantung di spion tengah mobilnya. Boy adalah profil remaja metropolitan yang gandrung budaya Barat.

Sedangkan tokoh ciptaan Hilman Hariwijaya, si cuek “Lupus’ dengan model rambut John “Duran Duran”
Taylor dan permen karet, juga jadi idola remaja urban di Jakarta. Lupus sebetulnya orang kampung, tapi dia “terlindas’ modernisasi dan berusaha bertahan dikejamnya
kota besar dengan menjadi wartawan freelance.

bsrduo-3.jpgAda 1 lagi tokoh fiksi, yang betul-betul kampung, yaitu remaja ”Roy” di novel serial ”Balada Si
Roy” (10 judul, Gramedia Pustaka Utama, dicetak versi lain pada 2004 sebanyak 2 judul oleh Beranda Hikmah). Kalau Boy dan Lupus mengambil latar tempat Jakarta sebagai arena pergulatan,
Roy justru berada di kampung bernama Serang dengan cap santet, pelet, dan debus. Semua tentang
Roy adalah urusan kampung; mulai dari alat transportasi sepeda, makanan khas yang disantapnya seperti nasi uduk, nasi sumsum, bandrek, dan kelapa dugan.

Saya pernah teringat, ketika bertemu komedian Edwin asal Aceh. ”Roy memotivasi saya yang orang kampung, untuk pergi menaklukan
Jakarta,” begitu kata Edwin. Beberapa pembaca juga banyak yang merespon sepeti itu. Dengan kekampungan yang dimiliki Roy, justru itu membuat hidup lebih tahan. Bagi Roy, modernitas disikapi bukan sekedargaya hidup, tapi adalah proses transformasi. Di kampungnya, Serang, pada era 80-an,
Roy harus jungkir-balik mengakses informasi seperti toko buku yang minim, tidak ada gedungg kesenian, dan mencoba menghancurkan mitos seperti santet dan debus. Baginya,
Jakarta bukanlah hegemoni yang harus dijadikan berhala, tapi cukup sebagai informasi saja.
Jakarta baginya bukanlah tujuan hidup, tapi sebagai sarana menuju tujuan sesungguhnya.

Lihatlah apa yang dilakukanRoy kemudian. Justru dia menyandang ransel, menyusuri kampung-kampung di seluruh pelosok Nusantara. Baginya, kampug adalah rumah-rumah budaya tradisi, yang harus dikenali dan diakrabi. Bagi Roy, kampung adalah spirit hidupnya, karena di dalamnya ada kebersamaan saling berbagi.
Ada kejujuran yang alami.

menggenggamdunia-3.jpgBagi Roy, modernisasi bukanlah sesuatu yang harus disimbolkan lewat budaya belanja, mengikuti trend pakaian, musik, atau film. Baginya modernisasi tercermin lewat cara berpikir, yang menyikapi perubahan sebagai bagian dari proses hidup. Bagaimana kita berada di dalamnya, menjadi pemain dari proses perubahan itu. Tentu menjadi pengekor bukan sesuatu hal buruk. Tapi, mengambil posisi di perubahan sangatlah penting. Menjadi pelaku itu justru pelopor.

Bagi Roy, itulah hidup sesungguhnya, menjadi pionir. Tidak untuk orang lain, ya untuk diri sendiri! Kampung bagi
Roy adalah jantung hatinya. Dengan mengenali kampung, berarti dia sudah memasuki jantung bernama
Indonesia. Dari kampunglah,
Roy merasa harus memulai hidup.

Maka, marilah pulang ke kampung. ***

*) Kampung Ciloang, 25 Januari 2005
*) Foto: Aku saat mengayuh si Master, Kuala Lumpu – Malaka, 1990, selama 1 minggu.

2 Responses to "[Di balik Layar 13] ROY REMAJA KAMPUNG"

Bpk Gola Gong, serial Roy itu benar-benar sangat membekas dalam ingatan saya karena pas usia saya remaja dan masih inget juga tentang Borsalino, motor trail, kelahi, dll. Kalo gak keberatan gabung ya ke Kotakbuku.com tempat nongkrong penggemar buku. Di sana banyak yang ngobrolin Balada si Roy…kami tunggu

Thanks sudah datagn ke situsku, ya. Semoga masa muda kita tetap indah untuk dikenang. Saya udah buka kotakbuku.com. bagus.
gg

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

May 2007
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: