KELUARGA PENGARANG

MENDENGAR CERITA DARI ORANG LAIN [11]

Posted on: April 13, 2007

abi_1.jpgOleh Gola Gong

Suatu hari, kami makan malam bersama. Kursi yang hanya empat mesti ditambah, karena dua anggota baru di rumah semakin tumbuh besar. Anak ketiga; Odi (2,5 tahun), mulai sering meminta haknya. Begitu juga si bungsu; Kaka (1,5 th), ikut-ikutan kpingin duduk sendiri.  

Meja makan di kita memang standar; 4 buah, untuk  ayah, ibu, dan dua anaknya. Kampanye keluarga berencana memang sudah berhasil ditanamkan pada para pelaku bisnis furniture di negeri anak. Jika anak banyak, berarti banyak rezeki bagi si pedagang. Kita harus membeli lagi kursi tambahan. CELOTEHOke, kita lupakan soal ekomoni dan kursi meja makan. Mari kita makan malam. Dan biarkan anak-anak kita berceloteh, bahkan saling berebut lauk-pauk. Kadang jika kita tidak sabaran, inginnya membentak atau memarahi saja. Tapi, jika kita beristighfar, insya Allah, semuanya akan menjadi sebuah preistiwa yang indah dan kaya ide, Malam itu, Bella (anak pertama, 9 th) dan Abi (anak kedua, 8 th) saling berebut cerita, tentang seorang anggota masyarakat di kampung kami, benama Mang Pei, yang dicap gila. ”Tahu nggak, Pah, kenapa Mang Pei gila?” Saya menggeleng. 

”Mang Pei gila karena difitnah, Pah!” Bella menjelaskan.”Iya. Difitnah nyuri kerbau!” Abi menambahi. Di kampung saya, nama Mang Pei sangat terkenal di kalangan anak-anak. Saya pernah melihat,Mang Pei berjalan tanpa alas kaki di jalanan kampung, diiringi belasan anak-anak. Jika seorang anak meminta, ”Mang Pei, nyanyi dang dut!” Maka dia akan menyanyi dengan gaya nge-bor Inul. Atau kalau ada anak meminta memeragakan pencak silat, makan dia bergaya seperti Jacky Chan. Kepada orang dewasa, dia biasanya meminta rokok. 

Dari mulut Bella dan Abi –  secara rebutan mereka bercerita, bahwa suatu hari di kampung kami kehilangan 3 ekor kerbau. Seseorang bernama Syamsudin menyebarkan berita, bahwa Mang Peilah pencurinya.  ”Syamsudin itu jualan kain, Pah. Sama dengan Mang Pei. Tapi, Mang Pei jualannya laris. Syamsudin iri. Makanya, dia memfitnah Mang Pei nyuri kerbau!” cerita Bella. 

”Mang Pei itu mau menikah. Pacarnya marah. Dia tidak jadi menikah, Pah,” Abi menyerobot. ”Mang Pei sedih, Pah. Dia masuk kamar. Menurung diri selama satu minggu. Keluar dari kamar, dia jadi gila, Pah!” Bella menyambung. 

”Wah, itu menarik dibuat cerita,” kata saya. ”Judulnya gila karena difitnah,” usul saya.”Cup! Itu punya Bella!” ”Punya Abi!” Abi malah meninggalkan meja makan. ”Abi mau ngetik sekarang!” sambil berlari ke ruang kerja saya. 

Bella marah, karena merasa sebagai pemilik cerita yang sah. Untung saya bisa memberi pengertian pada Bella, bahwa Abi sangat jarang punya keinginan menulis seperti dirinya. Kesempatan ini biarkan diambil Abi. IMAJINASIDari celoteh anak-anak kami, saya menyimaknya. Ini persoalan sosial di kampung saya. Dan saya menganggap, bahwa cerita Mang Pei gila ini adalah ide cerita yang baik. Jika kita mampu mengembangkan syap-sayap imajinasi kita, celotehan kedua anak saya ini ibarat letikan api. Jika saya menyiramnya dengan bensin imajinasi, letikan api itu akan berkobar dahsyat.  

Tokoh-tokohnya sudah saya miliki; Pei sebagai protagonis (si baik) dan Syamsudin di antagonis (si jahat). Tokoh-tokoh pendukung lainnya, yang akan memperkuat konflik, tunangan dan Ibu Pei. Konfliknya sudah jelas, Syamsudin iri kepada Pei, yang dagangannya selalu laris. Endingnya juga, yaitu Pei jadi gila karena tunangannya membatalkan pernikahan mereka. Ini tragedi. Alur cerita atau sinopsisnya mudah dibikin, yaitu tentang seorang lelaki bernama Pei. Dia difitnah mencuri kerbau. Orang-orang di kampungnya mengucilkannya. Tunangannya meninggalkan dia, sehingga pernikahannya batal. Dia akhirnya mengunci diri di kamar selama berhari-hari, karena malu. Walaupun pencuri sesungguhnya sudah ditemukan dan tunangannya datang meminta maaf, dia tetap mengurung diri di kamarnya. Suatu hari pintu kamarnya terbuka. Ibunya tidak mendapatkan Pei didalam kamarnya. Tapi, dia mendengar anak-anak kampung berteriak-teiak, ”Mang Pei gila, Mang Pei gila!” Si Ibu tertunduk sedih. Wanita tua itu semakin bersedih, karena tunangan anaknya sedang berdiri memandangi anaknya yang jadi gila. Ironisnya, si tunangan itu sedang bergandengan tangan dengan Syamsudin, lelaki yang menyebarkan fitnah, kalau Pei adalah pencuri kerbau. 

Nah, sudahkah kita sering mendengarkan atau menyimak dengan baik  cerita dari orang lain? Apakah itu cerita dari adik di rumah, teman sebangku di sekolah, rekan senasib di perantauan, atau anak-anak kita saat makan malam bersama? Dalam empat ketrampilan berbahasa, kita diajarkan untuk membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan. Kadang kita terlalu percaya diri dengan apa yang kita miliki, sehingga jarang sekali kita untuk mau mendengarkan cerita dari orang lain. Padahal jika kita mau dengan seksama mendengarkan, apalagi menyimaknya, begitu banyak cerita bertebaran di sekeliling kita. Hanya dengan sedikit imajinasi, kita bisa mengolahnya menjadi sebuah cerita rekaan (fiksi). Dan tidak akan ada lagi keluhan, bahwa betapa sulitnya menulis atau menemukan ide cerita.  Tidak percaya? Cobalah sekarang memulainya dengan mendengarkan cerita orang lain. Atau kalau perlu, kita menyuruh saja orang-orang terdekat di sekeliling kita untuk bercerita. Nah, kamu sendiri punya cerita yang mau diceritakan kepada saya?            *** *) Rumah Dunia, 05 Nopember 2006*) Bengkel Cerpen Annida Oktober/november

*) Foto Abi saat dikalungi ular. Foto ini juga bisa dibikin cerpen.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: