KELUARGA PENGARANG

JULES VERNE, MULTATULLI, MAX HAVELAAR, DAN BANTEN

Posted on: April 13, 2007

ode-kampung-kecil.jpgOleh Gola Gong 

Saya menulis essay ini pukul 04.30, 3 April 2007. Saya tinggal di Serang, Banten sekarang. Udara sangat dingit. Mungkin akan hujan. Istri dan keempat anak saya masih tidur. Kalian harus tahu, ketika saya kecil, saya membaca sebuah buku yang hebat: Keliling Dunia selama 80 Hari karya Jules Verne. Buku itu membuat saya “sakit”. Hari demi hari, saya bermimpi menjadi Philleas Fogg (tokoh utama di buku itu). Saya ingin sekali keliling dunia seperti Fogg, selama 80 hari! Saya pernah menonton beberapa film berdasarkan novel itu. Pierce Brosnan (si James Bond) dan Jacky Chan di film terbaru yang memerankan karakter Passepartout). 

BERSEPEDASetiap akhir pekan saya mengayuh sepeda ke luar kota. Saya menuju Banten Lama (10 km utara Serang, di teluk Banten) untuk melihat Kesultanan Banten. Saya berdiri di antara reruntuhan; saya menyaksikan istana Surosowan yang dulu dibom Jendral Herman Daendless (VOC). Saya juga melihat benteng Spellwijk dan kelenteng Budha, termasuk yang tertua di Jawa. Di  Banten Lama sudah sejak dulu beragam agama hidup berdampingan; Islam, Kristen, Budha. Sultan Banten sudah memiliki pandangan jauh ke depan, bahwa kita harus hidup toleran terhadap orang lain jika ingin beradab. Saya juga pergi ke Anyer, Selat Sunda (40 km barat Serang). Saya berkhayal jadi Pilleas Fogg, Old Shaterhand atau Christoper
columbus yang menemukan benua baru; Amerika. Ya, seperti John Lennon nyanyikan, ”Saya adalah si tukang mimpi. Tapi saya bukanlah seorang. Saya berharap, suatu saat nanti khayalan saya itu terwujud. Saya meyakini itu jika terus berusaha dan berdoa.
 

KELILING INDONESIATerbukti ketika saya remaja. Waktu itu umur saya antara 16 – 18 tahun. Saya berhasil mengelilingi bumi Indonesia. Perjalanan itu seperti saya sedang menjadi tokoh/karakter di sebuah novel saja. Saat itu saya memiliki versi sendiri: Mengelilingi Indonesia dalam waktu 2 tahun! Ya, dua tahun! Saya melakukannya dengan kereta, truk, sesekali berjalan; berliften atau hitchike! Saya melihat banyak hal di negeri ini. Kota demi kota di Jawa saya susuri dengan truk. Menyeberang ke Bali, Lombok, Nusa Tenggara Timur, Timor Timur; bertemu dengan Fretelin di hutan. Menyeberang ke Sulawesi dengan kapal kayu, trus ke Ambon, menyusuri pulau Seram selama sebulan, menyeberagn ke Fak Fak dengan kapal kayu. Menyenangkan berpetualang seperti itu. Kalimantan juga saya singgahi.  Saya ingat pesan bapak, “Jika kamu ingin keliling Dunia, kenali dulu Nusantara!” Begitu juga yang say baca dari W. Somerset Maugham. “Jika ingin jadi penuis, pergilah dari rumah ke negeri seberang. Lalu tuliskanlah pengalaman yang kamu dapat.” Semua yang saya alami; saya lihat, saya dengar, dan saya rasakan, saya tulis di buku harian. Berkarung-karung buku harian ngejogrok di kamar saya. Setelah saya menikah, buku-buku itu saya baker. Tentu sebagian sudah saya pindahkan ke dalam bentuk novel. LEBAKJuga saya membaca Multatulli (aku yang menderita) dengan karya hebatnya; Max Havelaar. Astaga! Buku itu berisi tentang kebobrokan di kampung halamanku; Banten. Multatulli menulis di Max Havelaar, bahwa Bnten di abasd 18 sangatlah buruk.; banyak korupsi dan penindasan yang dilaukkan oleh priyayi ke rakyat jelita. Nama tokoh yang melaukkan itu adalha Adipati Kartanegara.  

Max Havelaar sampai sekarang masih menjadi polemic di masyarakat Banten. Sebagaian menyebut, buku itu omong kosong alias bohong. Tapi sbagaian lagi menyebut buku itu betul. Hingga sekarang penindasan itu masih terjadi di Banten. Sekelompok orang mendominasi segala macam kepentingan di Banten. Mereka menamakan dirinya: Jawara. Sekarang generasi ketiga Adipati Kartanegara masih ada dan berkehidupan secasra normal di masyarakat Lebak. Ironisnya, nama dipati Kartanegara diabadikan dalam bentuk jalan dan gedung olahraga. Sementara nama Multatulli oleh Bupati Jayabaya dijadikan nama jalan dan alun-alun Rangkasbitung. Bahkan ada juga nama apotik dan toko. Saya ingat ketika tahun 1990. Saat itu saya menonton pembacaan puisi ”Adipati Rankasbitung dan Tokek” oleh WS Renda di Graha Bhakti, Taman Ismail Marjuki, Jakarta. Saya menonton bersama Dharmawan (saat itu dia Redpel majalah HAI). Beberapa pemuda dari Rangkasbitung berteriak-teriak memprotes, agar Rendra menghentikan pembacaan puisi. Saat itu Rendra sedang membacakan puisinya yang berjudul ”Pemuda Rangkasbitung”.   Saya baru tau sekarang, ketika bersama RUMAH DUNIA membuat film dokumenter ”Jejak Multatulli”. Ternyata para pemuda itu adalah generasi ketiga Adipati Karanegara. Buset. Berarti Max Havelaar bukan sekedar karya sastra. Novel itu berpijak di dunia rekaan dan kenyataan. Apa yang ditulis Nietzsche dalam suratnya ke Richard Wagner, bahwa fiksi (puisi dan cerita) adalah menerjemahkankan mimpi-mimpi ke dalam kenyataan; dan menafsirkan kenyataan dunia ke dalam impian.                             Iroh Siti Jahroh,
nara sumber di film dokumenter ”Jejak Multatulli” mengatakan, ”Multatulli itu pembohong besar. Dia itu ibarat wisatawan yang dating ke Lebak. Ketika melihat Lebak bukan tempat wisata yang dia bayangkan, maka dia pergi begitu saja. Dia hanya 3 bulan di Lebak. Apa yang bisa dia lihat selama itu? Budaya upeti itu udah biasa di Lebak. Itu sama saja dengan warga baduy, yang seba
kota ke pejabat trtinggi. Mereka biasanya bawa oleh-oleh hasil bumi.”
 
PETANINovel Max havellar memang cerminan situasi sosial dan politik Banten masa kini. Dia mewakili nasib petani miskin di banten (bahkan Indonesia). Baca saja, ”Kita gembira bukan karena memotong padi, tapi kita bersuka cita karena memotong padi yang kita tanam, dan kita hidup bukan karena diberi upah, tapi kita berhak mendapat upah karena bekerja.”  Saya paham maksudnya. Hingga sekarang banyak petani di Banten yang tidak lagi memiliki sawah. Mereka menjualnya (bahkan dengan paksaan dan intimidasi) untuk kepentingan industri. Padi-padi berganti cerobong pabrik. Udara sejuk berganti asap limbah. Para petani itu kemudian membeli motor ojek, membuka warung sembako, dan pergi haji. Saya kadang heran. Kenapa mereka saling menindas? Di Kasemen, Serang Utara (Banten Lama, persawahannya dimiliki oleh para pejabat di Pemkab Serang. Para penduduk setempat gigit jari. Mereka memang segnaja dimiskinkan. Mereka tidak pernah diajari, bahwa sawah mereka itu bisa dijadikan modal untuk pergi haji. Bukan malah dijual untuk pabrik, beli motor, naik haji, lalu setelah pulang dari haji mereka jatuh miskin. Par petani di Banten memang tidak lagi memiliki sawah. Seperti Toto ST Radik menulis di puisinya: kampungku dikepung api/kampungku dikepung api! 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: