KELUARGA PENGARANG

DISKUSI SASTRA, ARSWENDO HINGGA LSM KARANG WIDYA

Posted on: April 13, 2007

15.jpgOleh Muhzen Den


Sabtu (07/4), siang itu begitu panas. Di pelataran Rumah Dunia tampak sepi. Roni dan Deden sedang asyik tiduran di lantai panggung utama setelah lelah membereskan seting pangggung alakadarnya dengan menempel beberapa kertas putih yang berbentuk huruf ke layar hitam dengan tulisan “Bedah Majalah Horison” yang diyakini sebagai majalah sastra.
 

DISKUSI SASTRASiang itu RD akan melaksanakan diskusi dengan pembicara Agus R Sarjono dan Wan Anwar sebagai redaktur Horison. Sayangnya, Agus R Sarjono tidak dapat hadir karena ada kesibukan mendadak. 

Acara diskusi yang direncanakan pukul 13.30 Wib berangsur lambat. Selain karena pembicaranya belum datang juga peserta diskusinya pun hanya ada beberapa orang saja. Tapi, bukan berarti diskusi tidak berjalan. Berapapun orangnya yang hadir pada acara siang itu diskusi tetap akan dilaksanakan.  

Pada jam 14.30 Wib acara diskusi dimulai setelah pembicara dan peserta diskusi berdatangan. Diskusi bedah majalah sastra Horison dimoderatori oleh Rimba Alangalang. Wan Anwar selaku redaktur memaparkan majalah sastra Horison dan beberapa kaitannya dengan para sastrawan yang ada di belakang meja redaksi, hingga menjalar ke beberapa topik yang masih dalam konteks sastra. Meskipun peserta yang hadir pada acara diskusi itu tidak banyak, namun diskusi tersebut sangat menarik, karena beberapa peserta diskusi antusias menyimak penjelasan dari pembicara dan beberapa respon pun muncul.  

ARSWENDO
Minggu (08/4), pukul 10 pagi Rumah Dunia kedatangan tamu istimewa dari Jakarta yaitu Arswendo Atmowiloto, seorang penulis buku dan skenario, produser film juga pemilik PH, dengan membawa beberapa temannya dari PH. Dia juga guru Gola Gong.
 

Pagi itu di Rumah Dunia pun sedang ramai-ramainya. Ada anak-anak yang sedang antri mendaftar untuk mengikuti lomba, acara Tralis FLP Serang dan juga beberapa relawan lain yang akan mengikuti kelas sekenario TV yang dikomandani Gola Gong.  

Kedatangan Arswendo ke Rumah Dunia sebenarnya sudah direncanakan dan ditunggu jauh-jauh hari. Arswendo datang untk membuat profile Rumah Dunia, yang akan ditayangkan di TV Edukasi. Gola Gong, Tias,
Firman Venayaksa dan para relawan pun sangat senang didatangi orang macam Arswendo. Ini suatu kesempatan yang berharga bagi Rumah Dunia.
 

Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh kami. Setelah Areswendo dan beberapa temannya dari PH film meliput kegiatan yang ada pada hari itu yang menampilkan lomba-lomba yang diperuntukan buat anak-anak kecil seperti lomba gambar, baca puisi dan acting, hari itu juga diadakan acara diskusi dengan narasumber Arswendo, dan diikuti oleh para relawan, peserta kelas menulis angkatan IX dan peserta Tralis FLP Serang.  

Diskusi hari itu cukup hangat, bahkan Gola Gong rela menjadi moderatornya. Seperti yang diakui oleh Gola Gong, Arswendo adalah seorang guru yang tanpa pamrih mengajarkan ia menulis. Arswendo merupakan sosok yang cukup bersahaja. Dia tak hanya mau mentransfer ilmu menulis, ia juga sanggup memotivasi relawan RD untuk terus berkarya. “Saya membuat sinetron ‘Mengapa Harus Inul’ dibayar 275 juta untuk satu episode. Ini motivasi buat kalian bahwa menulis itu cukup menjanjikan” ungkap penulis sinetron Keluarga Cemara ini.  

LSM KARANG WIDYA
Selasa (10/4), sore Rumah Dunia kedatangan tamu lagi. Yang ini dari LSM Karang Widya Bogor. Mereka datang ke Rumah Dunia dalam rangka penyuluhan pertanian. Intinya untuk memperkenalkan ilmu pertanian dan menawarkan workshop selama tiga bulan. Info ini ditujukan kepada pemuda-pemuda kampung atau anak-anak jalanan yang butuh perhatian. Rumah Dunia ditunjuk sebagai fasilitator untuk memberitahukan informasi itu ke orang-orang yang dimaksud dari LSM Karang Widya.
 

Sekitar 20 pemuda Ciloang datang ke Rumah Dunia dan menyimak informasi yang disampaikan. Setelah selesai menyampaikan informasi tersebut, tamu dari karang Widya itu pun berpamitan. Dan keputusan orang-orang yang akan mengikuti magang diberitahukan nanti. Penyuluhan ini bukan hanya di Serang saja tapi di beberapa tempat, yang memang sangat menginginkan kesempatan itu. Jadi jangan sia-siakan kesempatan yang sudah di depan mata. Ayo pemuda Ciloang, bangkitlah!* * *  (Muhzen_den, warga Ciloang, mahasiswa semester II Diksatrasia FKIP Untirta dan Pj. Kedai Buku Jawara Rumah Dunia)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: