KELUARGA PENGARANG

DÉJÀ VU

Posted on: April 12, 2007

plaza-com.jpgOleh Tias Tatankka

Beberapa minggu ini saya sering mencuri waktu menemui anak-anak kecil yang sebagian tampak asing, meski mereka masih terhitung warga kampung Ciloang, kampung yang bersebelahan dengan Rumah Dunia (RD). Saya sebut asing, karena saya baru melihat akhir-akhir ini sering mengunjungi RD, bermain, membaca atau main papan luncur milik anak-anak saya yang kami simpan di RD. Sedangkan bila saya sebut ‘mencuri waktu’, adalah karena saya sedang sibuk-sibuknya dengan anak-anak, Bella, Abi, Odie dan Azka.

 Perihal papan luncur second hand ini sempat membuat saya tidak rela untuk disimpan di RD. Sejak lama saya mengidamkan papan luncur untuk Bella, Abi dan Odie, maka begitu Aa menelepon bahwa ada teman yang menawarkan, saya gembira bukan kepalang. Dengan mengangsur dari gaji, kami memaksakan diri membeli, lalu menyimpannya di teras belakang rumah. Saat itu, betapa sebuah dunia kanak-kanak tergenggam di tangan! Saya lalu menikmati ‘keributan’ yang ditimbulkan Bella, Abi dan teman-temannya. Juga para keponakan yang berebutan giliran meluncur. Saya juga menikmati tebaran mainan yang ‘ngumpet’ di areal bawah perosotan yang dapat berfungsi sebagai rumah-rumahan. Saat sore saya sering rebahan di papan peluncurnya, menikmati langit, pucuk daun bambu di kejauhan dan burung yang terbang pulang. Aa pun sering melatih Odie agar berani meluncur sendiri. Di teras belakang, prosotan itu menjadi centre of point kami.  

Kini mainan itu disimpan di panggung, dan menjadi favorit anak-anak yang berkunjung ke RD. Saat itulah saya mendekati anak-anak itu, dan bercakap-cakap dengan mereka. Tentang banyak hal. Keseharian, orangtua atau  kakak mereka yang mungkin saya kenal, termasuk tentang buku yang pernah mereka baca. Menyenangkan sekali rasanya melakukannya, membuat saya terlempar ke masa tiga tahun lalu, saat RD dirintis.  Mungkin karenanya saat itu saya sering merasa berada di dua masa, lalu dan kini, mengulang irama yang sama, berpijak di dua tempat berbeda. Déjà vu. Beberapa kali saya harus berhenti bercerita, untuk meyakinkan bahwa saya tetap di dunia kini. Untungnya anak-anak itu tidak paham perasaan dan pikiran saya. Mereka tetap menunggu kelanjutan kisah Cinderella yang saya bawakan saat itu.  

Sebelum bercerita pun saya menanyakan pada anak-anak kecil itu, pernahkah mereka mendengar tokoh Cinderella. Sebagian besar ternyata belum pernah mendengar, ataupun membaca buku ceritanya. Padahal, ada beberapa versi cerita Cinderella yang dapat mereka temukan di rak buku RD. Seorang anak yang agak besar, Udin (10 tahun), mengaku tahu tokoh itu, dan saya memintanya untuk membantu saya menceritakan kembali pada adik-adiknya. Dulu pun Udin sama seperti anak-anak kecil itu, mendengar dongeng dengan pandangan takjub. Kini, dengan yakin ia menimpali dongeng saya menurut versinya, membuat saya tersenyum haru.  Saat sorenya, ada latihan teater dengan naskah lama yang saya adaptasi, berjudul Harta Karun Kata. Dalam judul berbeda, naskah itu dipentaskan pertama kali oleh teater anak RD di acara launching 1001buku di British Council, awal 2003. Itulah pementasan pertama mereka. Lantas, saya mengadaptasinya untuk acara pembukaan Gramedia Book Fair, 6 September 2005. Entah kini sudah berapa kali mereka tampil di berbagai acara, saya sendiri sudah lupa. Kini anak-anak itu berbeda jauh dibandingkan saat awal bersinggungan dengan RD. Rasa percaya diri mereka tumbuh begitu rupa, tidak lagi malu-malu berbicara. Saking percaya dirinya, mereka suka malas latihan. Kalau sudah begitu, saya mulai turun tangan dengan setengah memarahi dan mengingatkan agar mereka menggunakan waktu sebaik mungkin, agar tampil berteater dengan bagus. Ini seperti yang sering saya lakukan saat menemani anak-anak itu latihan teater, terus memompa semangat mereka. Ah, déjà vu lagi? Maka, hari itu benar-benar saya nikmati!

2 Responses to "DÉJÀ VU"

blogjumping, mbak. nyasar ke sini, hehehe…

saya, duluuuu banget, jamannya masih baca ‘hai’, terkagum-kagum sama gola gong. cerita-ceritanya yang kadang menyentuh sekaligus nakal, bikin saya termehe-mehe waktu itu.

seneng banget sekarang bisa baca blognya. lengkap, satu rombongan lagi. salam kenal, mbak🙂

Venus, hmmmm.. istri saya bisa cemburu nih. hahahaha.. Makasih udah mampir ke rumah kami, ya. Salam dari Mbak Tias. Nanti-nanti, maen ke Rumah Dunia.(GG)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: