KELUARGA PENGARANG

USAI LIMA PESTA

Posted on: April 11, 2007

familygg_1.jpgOleh: Tias Tatanka

Saya awali tulisan ini dengan draft tulisan saya tentang HUT Rumah Dunia keempat, setahun lalu, yang belum sempat terkirim. 

”EMPAT PESTA DAN Pe-eR TERSISAPesta HUT ke-4 Rumah Dunia (RD) telah usai, menyisakan kenangan manis dan lucu. Saya pikir tak ada yang menyedihkan, dan sedikit kecewa di sana-sini wajarlah. Tapi kegembiraan tampak lebih dominan. Bukankah setiap moment harus menjadi pelajaran dan pengalaman hidup? 

Yang agak sedih buat saya mungkin karena Mas GG yang harus berangkat ke Bali hari itu. Ketika saya tahu jadwal ke Bali harus dijalani, saya paham ada rencana besar di balik itu. Mas GG ”membiarkan” kegiatan RD bergulir tanpa kehadirannya, agar kami sedikit demi sedikit tak tergantung pada figurnya. Meski tak bisa dilepaskan begitu saja, ia masih mencek persiapan pesta. Dan sepanjang ketidakhadirannya, SMS wajib saya kirim mengabarkan perhelatan RD. 

Saya pun berusaha menikmati acara itu, berkeliling menghirup atmosfir suka-cita, mendengar komentar, kritik dan saran, menerima ucapan selamat, menjawab keheranan sebab ketidakhadiran Mas GG. 

Melihat para tamu berdatangan membuat saya terlempar ke masa lalu, saat awal RD berdiri, empat tahun silam, mereka pula yang sering menyambangi RD. Juga kedatangan tamu-tamu kecil, teman bermain Bella dan Abi, atau rombongan anak-anak dari kampung Ciloang. 

Itu memang cerita lama yang telah berulang kali dikisahkan. Kini, anak-anak Ciloang itu terus tumbuh bersama buku.” 

TAHUN KELIMADan kini saya akan melanjutkan tulisan ini, usai HUT kelima. Saya tidak akan menceritakan detil HUT V RD, karena pasti rekan-rekan volunteer telah membahasnya. Saya ingin berbagi saja pengalaman membangun RD. 

Di awal RD berdiri, setelah kisah tentang tanah belakang rumah -yang  alhamdulillah- terbeli, Mas GG membuat taman bermain bagi kami semua. Sebuah gubuk didirikan di tempat yang sekarang jadi Cafe Jendral Kecil. 

Ada cerita lucu tentang gubuk itu. Benar-benar gubuk, bertiang bambu, beratap rumbia, berdinding bambu bulat setinggi 1 meter. Alasnya? Batu bata yang diletakkan mendatar, asal menutup tanah. Anak-anak kami –waktu itu baru dua orang- betah bermain di sana sejak bangun tidur. Kebetulan mereka -Bella dan Abi- baru ikut kelompok bermain yang tentunya boleh bolos berhari-hari. Hampir tiap pagi kerja mereka nongkrong di gubuk, bermain apa saja yang ada di sana. Akhirnya kami menyimpan mainan plastik di gubuk itu, agar Bella Abi lebih gembira. 

Ternyata keberadaan mainan itu menarik perhatian anak-anak sekitar rumah. Kami lalu membuka taman bermain itu untuk mereka pula. Bella Abi sempat protes, karena harus berbagi areal bermain dengan orang lain. Tapi akhirnya mereka bisa mengerti, bahwa berbagi itu membahagiakan, buat anak-anak kampung, pun buat kami. Kalau toh mainan itu jadi rusak, ya tidak apa-apa, kan Bella Abi juga kadang merusak mainannya sendiri. 

Dengan banyak anak yang datang untuk bermain, kami merasa seperti menunggu ikan yang kena umpan. Sesekali saya mengumpulkan anak-anak itu, dan mendongeng atau membacakan buku. Di sela-sela waktunya Mas GG ikut bercerita. Kegiatan yang kami lakukan mengalir begitu saja. 

Saya mengalami momen-momen yang menakjubkan saat mendongeng untuk anak-anak itu. Bagaimana mereka menjadi larut dalam cerita, atau ekspresi wajah yang serius –membuat saya harus menahan tawa- dan helaan nafas puas saat cerita usai. Juga ketika saya melihat tatapan takjub dari mata kanak-kanak itu, bak menemukan dunia baru dalam sebuah buku cerita, Subhanallah! Saat itu saya merasakan keharuan yang amat sangat, membuahkan tekad untuk melakukan hal yang lebih baik untuk mereka.  Hal-hal kecil tapi sarat kebahagiaan. 

Saya bukannya tidak punya pekerjaan lain hingga bisa punya waktu untuk menemani mereka.  

Tapi untuk sesuatu yang membahagiakan, saya tidak merasa berat untuk melakukannya. Lagipula areal RD ada di belakang rumah, jadi saya bisa mengatur waktu lebih leluasa. 

Saat awal RD, saya merasa tugas Mas GG adalah memikirkan langkah global, menyusun tahap-tahap, dan menyebarluaskan informasi kegiatan. Sedangkan saya bertugas mengisi setiap tahapan itu. Kami berbagi tugas dengan ringan dan bahagia, seolah memiliki mainan baru. 

Bedanya, kalau Mas GG punya mimpi tinggi dan jauh ke depan, saya lebih suka membuat target jangka pendek. Bukan hasil akhir yang menjadi tujuan saya, tapi menikmati proses belajar bersama anak-anak itu. Maka, dengan ringan saya terus mencekoki anak-anak kampung Ciloang dan Kubil dengan dasar jurnalistik, 5W + 1H. Muluk-mulukkah harapan saya? Tidak. 

Saya hanya ingin anak-anak SD itu bisa menuangkan gagasannya ke dalam bentuk tulisan. Berapa lama harapan itu akan terwujud? Saya tidak tahu. Yang jelas, kami melewati proses itu dengan menulis puisi dan cerita –amat- pendek, praktek wawancara, menulis laporan hasil wawancara dan mendiskusikannya bersama-sama. 

Entah berapa puluh kali saya dan anak-anak itu melewati proses belajar, saat saya kemudian mulai disibukkan dengan dua kelahiran yang berdekatan. Pula anak-anak itu mulai sibuk dengan ekstra kurikuler di sekolah lanjutan setelah lulus SD. Tapi saya tetap sesekali memantau kemampuan menulis mereka, dan percaya bahwa mereka sudah menikmati nikmatnya menulis. 

PE-ER TERSISAKini, anak-anak itu sudah jarang datang ke RD. Mereka sudah remaja dengan seabreg rutinitas ABG. Setiap melihat mereka, harapan baru bersemi di hati saya. Seolah ada pekerjaan yang tersisa. Kejadian selanjutnya? Kamis (15/3) lalu saya mulai menjaring lagi anak-anak SD untuk dicekoki unsur jurnalistik. Masih lama memang, untuk melihat mereka bisa menulis dengan baik. Tapi dengan bantuan voluntir, minimal tugas saya jadi lebih ringan. 

Maka, saya tengah berbahagia dengan ”mainan” baru, mengajari anak-anak usia SD untuk mulai menulis. Satu anak sudah mau mengerjakan tulisan tentang ”Ibu”. Ironisnya, anak itu semula saya pandang sebelah mata. Kini, saya berharap lebih padanya. *** 

*) Tias Tatanka adalah penulis, ibu dengan empat orang anak, penikmat buku, kepala sekolah TK/KB Jendral Kecil, pemerhati pendidikan anak. 

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: