KELUARGA PENGARANG

SASTRA IBARAT HANDPHONE

Posted on: April 11, 2007

firmanpiter4.jpgOleh Gola Gong 

Sastra dan estetika. Dua hal yang selalu membebani benak kita.Begini…, analogikanlah sastra dengan sebuah hand phone. Sekedar sebagai
gaya hidupkah, atau alat bantu berkomunikasi? Fungsionalkah atau life style?
 

Bagi saya, sastra bukan sekedar rangkaian kata sensasional atau kontroversial. Tapi juga kerendahan hati, kearifan lokal universal, dan menghargai kesepakatan-kesepakatan, semisal norma-norma di masyarakat dan kehidupan beragama. Sastra juga sebagai alat bantu untuk mengarifkan manusia juga mengingatkan – jika tidak mau ditegur – bahwa suatu saat kita akan mati dan dimintai pertanggungjawaban. Juga untuk menjadikan manusia lebih manusiawi dan lebih bahagia dari sebelumnya. Angka-angka rupiah di atas kertas, kemegahan kursi singgasana dan fenomena logis bukanlah sesuatu yang utama.  

Jika tidak begitu, lantas kita mau ke mana? 

Bagi saya, sastra yang mengusung nila-nilai liberalisme, adalah kandungan sastra yang harus diterima. Tapi itu jangan  jadi hegemoni tunggal. Semai saja di taman sastra, seperti halnya juga sastra islami, sastra kemanusiaan, sastra pembebasan, sastra untuk sastra, sastra apa saja…… berbungalah semuanya di taman sastra. 

Sastra tak ubahnya sebuah fase dalam kehidupan.
Ada fase dimana saat kita masih muda; bermabuk-mabukan dengan segelas anggur atau selinting ganja. Dekaden yang ada. Menolak agama. Menolak norma-norma. Mendobrak kelaziman. Bahkan lembaga perkawinan. Mengagungkan estetika. Mengusung humanisme liberal. Ini senyatanya adalah sebuah fase. Sastra di saat usia kita menggejolak. Sastra untuk sastra. Atau lebih tepatnya sastra untuk anggur memabukkan. Ini adalah perwujudan dari hegemoni barat. Sesuatu yang sangat manusiawi dalam demokratisasi sastra. Tapi akan tampak konyol jika kita terus memgang teguh ini. Kita lahir di keluarga yang secara tradisi pemegang agama secara kelembagaan. Kita berada di negeri yang mayoritas Islam.
 

Kemudian fase kedua; di saat usia tidak menggejolak lagi. Adalah fase dimana kita mulai memahani, bahwa kata atau kalimat yang kita tulis, kelak akan meminta pertanggungjawaban. Tidak beda sepeti tangan, kaki, mata, telinga, dimana saatnya nanti mereka berbicara, menjadi saksi pada apa yang pernah kita perbuat. Fase dimana kita melihat rumah masa depan di pemakaman, ruang sempit di bawah tanah. Fase dimana saat kita ditimbuni tanah, yang terbayang bukan hanya sekedar cacing tanah menggerogoti jasad kita. Tapi juga karena 3 perkara yang bisa membuat kita nyaman di dalam kubur nanti; amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang soleh. Fase dimana kita tidak lagi meletakkan kata sejajar dengan segelas bir. Pada fase ini, mestinya tidak ada lagi dekadensi pada diri kita sebagai penghasil kata. Ini senyatanya adalah sebuah fase, dimana kita mulai menghargai nila-nilai yang telah disepakati. Norma-norma yang kita yakini. Kesalehan sosial antara kata dan perbuatan berusaha disejajarkan. Sastra di saat kita merasa yakin, bahwa antara humanisme universal bisa diaplikasikan di dalam relijiusitas substansial. 

Nah, kalian mau memilih sastra yang mana? 

***Rumah Dunia, akhir Mei 2005 

           

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: