KELUARGA PENGARANG

PELAJARAN MENGARANG KEPADA PUTRIKU [8]

Posted on: April 11, 2007

familigg_40.jpgOleh Gola Gong

”Papah, Minggu besok antar Bella ke pasar, ya!” kata putriku, yang sedang bersemangat membuat novel. “Bella pingin lihat orang-orang di sana!”

Tentu saja aku menyanggupi. Menunggu matahari terbit terasa lama sekali. Dan selepas shubuh, aku membangunkan Bella. Istriku juga bersemangat, karena ini adalah riset lapangan – salah satu  proses belajar mengarang selain riest pustaka. Yang paling menggembirakan kami, itu datangnya dari Bella, bukan dari keinginanku. Artinya, tidak ada unsur paksaan dari kami sebgai orangtua. Kadangkala kita sebagai orangtua sering menginginkan anak kita menjadi ini dan itu, tanpa menanyakan terlebih dahulu apakah iut juga keinginannya. 

RISETKami dengan motor meluncur menuju pasar Rawu, pasar induk terbesar di
kota kami. Amboi, kami sedang melakukan riset lapangan. Aku yang seringkali memberikan pelatihan menulis fiksi, kini mendapat kesempatan untuk melatih darah dagingku sendiri.
Subhanallah!  Ini tidak akan aku sia-siakan.
 

Aku menjalankan motor pelan-pelan sambil meminta kepada Bella menceritakan novel yang sedang diketiknya; judulnya apa, ceritanya bagaimana, siapa tokoh-tokohnya, lokasinya dimana, bagaimana karakternya. ”Judulnya ’Kisah Bunga’, Pah!” jawab Bella kegirangan. Aku tanyakan, bunga itu nama orang atau nama tumbuhan? Ternyata nama orang. Kemudian Bella balik bertanya, apa itu tokoh, lokasi, dan karakter. Aku msnjelaskan, bahwa tokoh ada orang-orang yang ada di dalam cerita, lokasi ada tempat dimana cerita itu berlangsung dan karakter adalah sifat dari para tokoh. Aku menjelaskannya dengan membreikan contoh-contohnya.  

Dengan semangat Bella menyebutkan, bahwa ”Kisah Bunga” mengambil lokasi di sebuah panti asuhan bernama ”An Nasyir”. Tokoh-tokohnya adalah Bunga, Billa, Detya, Rafli, Cahaya, Marsha, Bunda Arma, dan Bik Sum. Juga karakter mereka disbutkan dengan detail. ”Mereka semua yatim piatu, Pah!” Kemudian tanpa Bella ketahui, ketika menulis ini di tengah malam, aku membuka foldernya. Aku ingin melihat bagaimana ”Kisah bunga” yang sedah ditulisnya.  

Bacalah tentang karakter tokoh Bunga yang ditulisnya: Bunga. Tokoh utama cerita ini, ia amat bijak dan periang, teman terdekatnya adalah Billa. Jika ia sedang kesal akan mengurung diri di kamarnya. Gadis berkerudung ini masuk ke panti An Nasyir saat masih kecil. Anaknya mirip Ustadzah, karena pintar dalam agama. Selain itu ia amat disenangi teman-temannya. Amat suka berpetualang dan cerdik. Ia sering dijadikan jalan keluar bila ada masalah. Selain itu ia gampang tersinggung. 

POINT OF VIEWSesampainya di pasar Rawu, aku memarkir motor. Aku ajak dia berdiri di satu sudut strategis, dimana kami bisa melihat ke segala arah. Aku suruh dia melihat semuanya, detail-detail yang penting itu mulai dari bentuk bangunannya, tempat parkir, dan jnis dagangan yang dijual. Aku suruh dia merasakan denyut pasar ini. Aku tunjuk ke tukang parkir, ke tukang kupat tahu, bubur ayam, kuli-kuli, pedangang mainan. Aku katakan, bahwa selain mengarang, guru, dokter, pedagang juga adalah jenis pekerjaan yang terhormat danmulia. Aku ceritakan, bahwa mereka bekerja keras untuk menghidupi anak dan istrinya seperti juga aku – ayahnya.   

Lalu Bella aku ajak sarapan kupat tahu. Aku mencontohkan kepada putriku, bagaimana caranya menggali informasi dari si pedagang dengan metode wawancara. Putriku menyimaknya dengan serius. Usai sarapan, aku membawanya ke bagian belakang pasar. Di sana tempat orang berjualan buah-buahan. Aku membawanya ke pedagang kelapa yang menyusunnya dengan bertumpuk-tumpuk, semakin keatas semakin mengecil, seolah bangunan piramida saja. Juga pisang-pisang, jeruk, dan pepaya. Yang paling menarik ketika aku mengenalkannya pada buah huni, kesemek, jambu mede, dan cengkudu. Bella merasa asing dengan itu semua. Tapi lagi-lagi dia sangat gembira bisa melihatnya. Teruma cara para pedagang menata barang jualannya. Detail-detail seperti ini aku jelaskan kepadanya. Aku memberikan contoh-contoh cara membuat setting/lokasi untuk cerita kita dengan bahan baku sebuah pasar.  

”Bagaimana Bella memulainya, Pah? Bingung. Banyak banget, sih!” katanya.  

Aku mengatakan, ”Bella bisa memulai menulis cerita dari pedagang kelapa dulu yang sedang menghitung uangnya. Atau dari buah kelapanya yang ditumpuk seperti piramida. Ayo, coba perhatikan lagi semua yang ada di pasar.” 

BERLATIHHal ini selalu aku sarankan kepada para calon penulis yang belajar di kelas menulis Rumah Dunia. Setelah segala teori diperkenalkan, aku membawa mereka langsung ke lapangan. Aku bawa mereka ke pantai, ke alun-alun, ke pasar, atau ke pusat keramaian lainnya. Aku suruh mereka merasakannya lewat wawancara dengan menggunakan unsur berita 5 W + 1H dan langsung menuliskannya saat itu juga. Dengan cara berlatih seperti itu, aku yakin kemampuan menulis akan terasah waktu demi waktu. Percayalah, jika ingin jadi penulis, hanya satu hal: menulis. Ya, belajar menulis dengan mengerjakan pekejaan menulis itu. 

Aku jadi ingat pengalaman di Gresik April lalu. Aku mengajak Haikal (Ketua FLP Jawa Timur) menyusuri kota Gresik pagi-pagi. Aku memberikan ”kursus kilat” mengarang kepadanya atau tepatnya berdiskui. Aku meminta Haikal mebawaku ke tempat-tempat khas di Gresik. Kami sarapan nasi krawuk dan mengunjungi dermaga. Aku tunjukkan kepada dia tentang kapal-kapal yang sedang bersandar, para ABK yang mengangkuti kayu-kayu dari truk ke kapal. Penahkah kita membayangkan kehidupan mereka? Bisakah kita melakukan ”proses menjadi” mereka? Dengan mewawancarai mereka, aku yakin kita bisa menemukan tema cerita yang dahsat. 

Satu hal lagi yang harus selalu diingat, bahwa ide menulis bisa muncul dari mana-mana. Bahkan di kota kita sendiri, yang kadang tidak menarik kita pehatikan. Padahal di sudut-sudut kota yang jarang tersentuh oleh kita, itu bisa jadi sumber ide dan riset bagi seorang penulis. Kadangkala itu yang sering dilupakan oleh kita, bahwa sebetulnya Allah sudah menghidangkan ide itu di depan mata kita. Hanya kita tidak bisa membacanya. Silahkan dicoba! *** 

*) Rumah Dunia, akhir mei 2006, Bengkel Cerpen Annida Juli

*) Foto: Abi (kiri, Ayang, Bella (kanan)

 

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: