KELUARGA PENGARANG

KISAH SEORANG ANISAH

Posted on: April 11, 2007

tiasdongeng-com.jpgOleh : Tias Tatanka

Berapa bulan saya tak menulis untuk website Rumah Dunia? Begitu sibukkah saya, hingga tak sempat menulis sedikitpun?

 

Ya, saya amat sangat sibuk beberapa bulan belakangan. Urusan anak-anak yang pindah sekolah –insya Allah saya akan menuliskan ini di lain waktu-, dua balita yang mulai mengeksplorasi lingkungan sekitarnya sehingga perlu pengawasan lebih seksama, dan mengurus suami tentu saja. 

Di samping itu, saya masih harus memikirkan Klab Bermain dan Taman Kanak-kanak ”Jendral Kecil” (JK) yang  mulai aktif tahun ajaran ini, di mana kurikulumnya dibuat berbeda dengan TK dan Playgroup konvensional. Konsep yang dijalankan adalah Multiple Intellegences (kecerdasan majemuk), yang ditelurkan olah Howard Gardner. Hal yang menarik dari konsep ini adalah bahwa setiap anak memiliki potensi untuk cerdas, dan setiap anak adalah pribadi unik yang tidak bisa diingkari. Karenanya, saat penyusunan kurikulum menjadi momen yang menyenangkan, karena saya harus menyelami kembali pikiran kanak-kanak yang telah saya lalui tiga puluh tahun ke belakang. Tapi saya ingin menuliskan hal ini secara terpisah, Insya Allah. 

Di bidang tulisan, sebenarnya saya masih menulis juga, dengan menyelesaikan order skenario kecil-kecilan. Jadi, sesibuk apa pun, saya berusaha untuk terus menulis. Menulis apa saja. Karena dengan adanya hasrat menulis itu, spirit hidup terus menyala. Yang sedikit terbengkalai adalah menulis untuk web RD. Maafkan saya, dan kini saya ingin membayar kewajiban itu, dengan menulis tentang Anisah, nama seorang gadis yang membuat saya trenyuh. 

Suatu pagi, arloji saya menunjuk waktu sepuluh lewat empat puluh menit. Saya sedang berbincang dengan Nadrotul Ain, anggota aktif RD yang membantu saya bekerja paruh waktu di JK sebagai asisten Guru TK. Dari obrolan itu saya teringat Anisah, anggota lama RD yang tinggal sekampung dengan Ain. Ketika saya menanyakan kabarnya, jawaban Ain begitu menohok hati saya. Anisah akan menikah. 

Saya sempat meradang, bagaimana mungkin gadis semuda itu, perhitungan saya usianya tak lebih dari enambelas tahun, dengan pribadinya yang pernah saya kenal, dinikahkan. Ain malah tertawa mendengar kekecewaan saya, karena menikah di usia  muda sudah jamak di kampungnya. Lalu meluncurlah cerita Ain tentang sahabatnya itu. 

Anisah yang lulus SD, tapi tidak punya uang untuk melanjutkan ke SMP, terpaksa menjadi pengasuh bagi adik-adik dan keponakannya. Postur tubuhnya yang bongsor membuat Anisa sempat dilamar dua kali, dan semuanya ditolak, karena keinginannya untuk meneruskan sekolah masih membara. Tapi ketika lamaran ketiga datang, ibunya berkata jika ini juga ditolaknya, mungkin akan jadi kutukan baginya, tak akan pernah menikah selamanya. Begitulah, pernikahan itu tinggal menghitung hari. 

Saya sedih saat menyadari sudah lama saya tidak melihat Anisah datang ke RD. Hingga tak terpantau kabarnya tidak mampu melanjutkan sekolah. Padahal, ia anak yang cerdas, dengan kualitas tulisan di atas rata-rata teman sebayanya. Air mata saya menetes saat mengingat hal itu. Saya menyesal tak sempat memantau kabarnya. Saya masih berandai-andai, jika pernikahan itu bisa dimundurkan, saya ingin mengusulkan nama Anisah ke RD sebagai penerima beasiswa untuk melanjutkan sekolah. Biar dia memiliki bekal ilmu lebih banyak, toh itu akan berguna bagi pernikahannya kelak. 

Mungkin saya naif, memikirkan anak orang yang tidak ada kepentingannya. Tapi Anisah adalah aset RD. Saya masih ingat saat ia datang di awal RD berdiri. Ketekunannya membaca, kualitas karangannya, membuat saya punya cita-cita sendiri untuk dia. Saya berharap dia akan jadi penulis RD masa depan. Begitu mulukkah? Buat saya tidak. Saya mengincar beberapa nama dari empat ratus anggota RD yang mendaftar di bulan-bulan pertama, sekitar Juli 2002. Saya  simpan nama-nama itu dalam hati, sambil sedikit demi sedikit menyemaikan kecintaan pada buku, sambil memrovokasi mereka untuk belajar mengarang. Salah satu nama yang terus menunjukkan peningkatan kualitas adalah Anisah. 

Pengakuan yang sama diberikan oleh Ain, bahwa Anisah memang pintar menulis. Pun di sela-sela waktunya ketika tak sekolah, ia masih sempatkan menulis buku harian. Ain pula yang menjadi tempat curhat semua persoalan Anisah, termasuk keinginannya untuk meneruskan  sekolah. Tapi Anisah memang tak berdaya melawan kondisi yang menghimpitnya. Seperti ketidakberdayaan saya saat mengingatnya.  

Yang mampu saya lakukan adalah memompa semangatnya untuk terus menulis dan menulis, karena dengan begitu pikirannya tetap terasah. Saya berpesan padanya di suatu malam saat ia datang berkunjung atas permintaan saya, bahwa menikah itu hak setiap orang, yang harus dipikirkan adalah supaya pernikahan itu tidak membelenggu pikiran dan kemauannya belajar, dan agar dia tetap rajin menulis.  

Saya memang provokator untuk anak-anak itu, agar tidak menjadi pemuda-pemudi biasa. Mereka harus punya ilmu dan wawasan luas, untuk nanti membangun kampung mereka. Saya masih mencatat dalam hati beberapa nama yang bisa diharapkan menjadi kebanggaan desanya. Masih muluk-mulukkah? Saya pikir tidak. Seleksi alam akan terus berjalan, kita lihat saja nanti.  

Rumah Dunia, 11 Agustus 2006 

*) Tias Tatanka adalah penulis lepas, Penasehat RD, pemerhati pendidikan, pembaca buku, Kepala Sekolah ”Jendral Kecil”, ibu empat anak.*) Foto: Tias saat mendongeng di Rumah Dunia kepada anak-anak Kampung Ciloang 

 

 

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: