KELUARGA PENGARANG

HERI HENDRAYANA HARRIS, MEMBANGUN “RUMAH DUNIA”

Posted on: April 11, 2007

gendong.jpgPEMBACA novel Balada si
Roy pasti tidak asing lagi dengan nama Gola Gong. Laki-laki bernama asli Heri Hendrayana Harris (40) tersebut memang pengarang novel yang dicetak lebih dari 100.000 kopi itu. Namun, bagi masyarakat Banten, Gola Gong bukan sekadar penulis yang telah menghasilkan sekitar 35 karya novel.
DUA tahun belakangan, melalui komunitas yang diberi nama
Rumah Dunia, ia membangun pusat belajar yang dirancang untuk mencetak generasi baru.
“Selama ini Banten lekat dengan stigma jawara, teluh, santet, pelet, dan hal-hal lain yang berkonotasi negatif. Kami ingin mengubah Banten, tetapi rasanya sangatlah tidak mungkin. Melalui rumah ini, kami ingin berbagi cinta dan ilmu kepada masyarakat,” tutur Gola Gong. Pusat belajar itu berlokasi di sekitar rumahnya di Kompleks Hegar Alam 40, Ciloang, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, tidak jauh dari pintu tol Serang Timur.Berdiri di atas lahan seluas 1.000 meter persegi, Rumah Dunia mempunyai empat bangunan sederhana untuk perpustakaan anak-anak dan remaja, teater terbuka, dan tempat diskusi. Mulai pertengahan bulan Maret 2004, dibuka toko buku bernama Kedai Buku Jawara.Di tempat itulah anak-anak berusia
lima hingga belasan tahun terlihat membaca, mendongeng, menulis, menggambar hingga latihan teater. Semua kegiatan dikemas dalam bentuk wisata.
Meskipun menyadari buah dari kerja kerasnya mungkin baru akan menunjukkan hasil 20 tahun lagi, dia sangat yakin kunci pembentukan generasi baru adalah membaca. “Kalau budaya membaca ini bisa diterapkan di seluruh rumah, bangsa ini akan cepat mencapai kemajuan. Pemimpin Banten harusnya memanfaatkan momentum (sebagai provinsi baru) untuk membikin gerakan ’Banten membaca’,” kata laki-laki kelahiran Purwakarta, 15 Agustus 1963, yang dibesarkan di Serang, Banten, itu.BENIH gagasan Rumah Dunia mulai bersemi ketika ia dan beberapa rekannya kuliah di Universitas Padjadjaran (Unpad)
Bandung tahun 1982. “Saya dan kawan-kawan waktu itu bikin janji bahwa kalau ada yang lebih dulu berkemampuan, dialah yang harus mulai membikin perubahan itu,” tutur Gola Gong yang tidak menamatkan kuliahnya di Jurusan Sastra Indonesia Unpad dan memilih mengasah keterampilan dalam menulis.
Kendati menolak disebut yang paling punya kemampuan finansial di antara rekan-rekannya, Gola Gong merasa terdorong untuk memulai. Apalagi, ia mempunyai modal berupa perpustakaan milik keluarganya.Embrio Rumah Dunia memang berawal dari perpustakaan keluarga. Harris Sumantapura, ayahnya yang pensiunan guru sekolah pendidikan guru (SPG), mempunyai banyak koleksi buku, majalah, dan bahan bacaan lainnya.Ketika Gola Gong mulai membuka perpustakaan keluarga untuk masyarakat pada tahun 1990-an, pada saat bersamaan dia juga merintis penerbitan tabloid bulanan berbasis komunitas, yaitu Banten Pos (1993) dan
Meridian (2000).
Dua tabloid itu hanya bertahan enam bulan. “Saya diancam petugas dengan pistol di atas meja jika tidak menghentikan penerbitan tabloid,” ujar ayah dari Nabila Nurkhalisah (7), Gabriel Firmansyah (6), dan Jordi Al-Ghifari (2 bulan) itu.Semua itu tidak menghentikan langkahnya untuk terus menyalakan perubahan melalui gerakan baca-tulis. Pada bulan Maret 2002, perpustakaan yang sudah dibuka untuk umum sejak tahun 1990-an itu diberi nama Pustakaloka Rumah Dunia dengan singkatan PRD.Dia mengakui mendompleng akronim Partai Rakyat Demokratik (PRD). “Ternyata sangat dahsyat selling point (nilai jual)-nya walaupun gara-gara itu kami juga sempat dicap aktivis PRD betulan,” kata Gola Gong.Bersama istrinya, Asih Purwaningtyas Hasanah atau lebih akrab disapa Tyas Tatanka, dan dibantu beberapa relawan lainnya, ia kelola PRD dengan menawarkan berbagai kegiatan “wisata”. Kemasan wisata pada setiap kegiatan PRD dimaksudkan agar kegiatan baca-tulis itu memikat anak-anak dan remaja.
Ada wisata baca dan dongeng, wisata gambar, wisata tulis, dan ada juga wisata lakon. Hal itu dipilih agar kesan serius sebuah perpustakaan berganti dengan kesan ramah dan kuat aroma bermainnya.Awalnya, perpustakaan itu hanya berupa koleksi buku yang ditumpuk pada satu rak sepatu di sebuah kebun terbuka. Perlahan-lahan, bermula dari dibangunnya pendopo (selesai bulan Juli 2002), berdirilah satu per satu bangunan hingga kini sudah berjumlah empat lokal. Koleksi bukunya pun kini sudah mencapai 3.000-an judul.Mengingat kegiatannya belakangan ini merambah sastra, teater, rupa, dan jurnalistik, maka pada bulan Desember 2003 berganti nama menjadi Rumah Dunia. Tanggal 14 Februari 2004, Rumah Dunia diresmikan oleh Hj Cucu Munandar, istri Gubernur Banten, Djoko Munandar.MELALUI Rumah Dunia, Gola Gong juga melakukan semacam gerakan dekonstruksi kultural dengan memberi makna baru pada kosakata lokal yang mengandung makna pejoratif. Salah satu contohnya adalah kata “jawara”.Dengan menggunakan kata tersebut sebagai nama toko buku, Kedai Buku Jawara, ia mencoba agar stigma “jawara” yang sering identik dengan kekerasan dan pemerasan berubah makna menjadi “gudang ilmu”.“Saya ingin suatu ketika jika orang mencari kata ’jawara’ melalui Google (mesin pencari di internet), ia akan menemukan kata itu dengan arti ’gudangnya ilmu’. Kami ingin karakter wong Banten yang keras diperkaya dengan wawasan dan smart,” kata Gola Gong. Contoh lain dari proses dekonstruksi kultural itu adalah penamaan kegiatan dengan istilah seperti “gonjlengan wacana”, “tawuran seni”, dan lain-lain.Dalam konteks itu, kata “gonjlengan” yang semula hanya berarti kumpul-kumpul sambil makan ayam berubah menjadi diskusi seni, budaya, dan pendidikan yang hangat dibicarakan di media
massa. Kata “tawuran” pun berubah makna menjadi pertemuan dua sekolah atau perguruan tinggi yang menampilkan pertunjukan sastra dan teater.
Dari mana dana untuk semua itu? Gola Gong menjawab bahwa dana berasal dari sumbangan para donatur dan kawan-kawannya. Dia menyisihkan 2,5 persen dari penghasilannya sebagai tim kreatif stasiun televisi RCTI dan hasil penjualan hak cipta dua novelnya, yaitu Balada si
Roy dan Padamu Aku Bersimpuh, yang dijadikan sinetron.

“Kunci semua ini adalah ikhlas dan semangat berbagi dengan sesama. Langkah itu kami mulai dari lingkungan masyarakat di sekitar rumah, bukan dari menyodorkan proposal minta dana,” katanya. (MH SAMSUL HADI)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: