KELUARGA PENGARANG

GEGE MENGEJAR CINTA: ‘LUPUS MILENIA’ KETIGA

Posted on: April 11, 2007

gege.jpgOleh Tias TatankaJudul Buku        : Gege Mengejar CintaPenulis              : Adhitya MulyaPenerbit            : GagasmediaTahun               : 2005, Cetakan keduaTebal buku        : 234 + xii halaman

Mohon maaf pada Hilman, kreator Lupus, karena istilah Lupus Milenia-nya saya pakai untuk mengomentari novel seorang penulis muda –ia memang belum kakek-kakek!- Adhitya Mulya, kelahiran tahun 1977. 

Tapi –suwer!- saya kesulitan mencari padanan penulis yang mengusung warna sama: calinyol (kocak, lincah, konyol). Oke ya, saya tidak akan membandingkan kedua penulis maupun karyanya. Satu-satunya –eh, sorry! Dua, tepatnya!- alasan yang membuat saya membaca buku kedua Adhitya adalah karena suami saya juga sering dipanggil Gege oleh penggemarnya dan yang kedua karena di kaver belakang ada gambar kepala ondel-ondel, yang membuat anak-anak saya tak habis bertanya tentangnya. Well, anak-anak saya suka segala sesuatu yang berbau ondel-ondel. Jadi, sebetulnya saya penasaran, siapakah yang Adhit sebut Gege dalam novelnya, itu harus saya ketahui secara pasti. Dan ternyata memang tidak ada hubungannya sama sekali dengan my husband. Sedangkan ondel-ondel itu, erat kaitannya dengan kejadian tragis-dramatis yang diekploitir habis-habisan di akhir cerita. 

Di sini saya harus mengakui memang kaver novel itu cukup menggambarkan bagaimana pengejaran cinta itu tertuntaskan. Siluetnya membantu saya mengingat bahwa Gege, tokoh utama novel ini adalah sosok yang gemuk, sedangkan Caca, wanita yang dikejarnya adalah an almost  perfect woman. Siluet ketiga adalah tokoh Ventha, yang memegang ponsel dalam kondisi hidup –menyala, maksudnya!-. Ventha adalah sahabat Gege. Mereka bekerja di sebuah stasiun radio, sama seperti Tia, si Siluet Keempat, yang naksir berat sama Gege, tapi ditolak mentah-mentah –emang ada yang nolak setelah mateng, gitu?! 

Berikutnya, nyambung ke kaver belakang, yang pegang topeng ondel-ondel adalah Joko Tanpa D, yang ngebet berat sama Caca. Terlalu panjang jika saya harus ceritakan di sini, sejarah ikut sertanya topeng ondel-ondel itu. Anda bisa membacanya sendiri di novelnya. Adapun sisa siluet lainnya adalah turis Jepang, polisi dan security bandara yang menjadi penggembira bab penutup novel. Well, itulah klimaks dari novel Adhitya Mulya setelah novel pertamanya, Jomblo begitu digandrungi oleh mereka yang suka. 

Membaca Gege Mengejar Cinta adalah seperti mengejar seorang Adhitya yang menabrak pakem dan rambu-rambu ‘Berbahasa Indonesia dengan
Baku, Baik, Benar dan Sopan’. Ia tidak peduli apakah pembaca mafhum dan nyambung dengan footnote sejumlah 67 buah. Juga tidak peduli apakah kata-kata dalam kotak pertama di halaman 188 perlu diterakan. Ehm, saya harus menyempatkan diri menengok kamus Inggris-Indonesia bahwa interpretasi saya pada sebuah kata dalam kotak itu adalah benar. Atau ada idiom baru yang menjadikannya ungkapan yang sopan?
  Ah, itu kembali lagi pada Adhitya. Saya hanya boleh menempatkan diri sebagai pembaca, penikmat dan perenung kata-kata. Tapi, saya juga menunggu apakah Jose Purnomo, satu-satunya pemberi komentar, akan mengangkatnya menjadi sebuah film layar lebar. Setting dan bahasa novel ini filmis, lho Mas! Seperti kata-kata  anda dalam endorsment: ‘klimaks yang chaotic’. Satu lagi sebelum akhir tulisan ini, saya berharap bagian akhir dari novel itu (nomor 17) tidak usah disertakan karena buat saya malah merusak ‘klimaks yang chaotic’ itu. Hehehe…. (bukan berarti saya tidak serius menulis resensi ini!)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: