KELUARGA PENGARANG

[Di balik Layar 12] DEWI VENUS ITU…

Posted on: April 11, 2007

layar-12.jpgOleh Gola Gong

Percayakah jika Allah selalu memberi tanda-tanda dulu sebelum memutuskan sesuatu terjadi pada kita? Misalnya tentang kematian, yang pasti akan datang menjemput kita, diberi-Nya kita tanda-tana terlebih dahulu; uban, gigi ompong, tulang-tulang keropos, sakit, bahkan kematian yang menjemput orang-orang di sekitar kita. Itu adalah tnda-tanda bagi kita, agar kita waspada. bule-ransel.jpgTANDA
Begitu juga yang terjadi padaku. Gigiku sudah banyak yang ompong. Uban banyak mewarnai rambutku.Jika bangun tidur, tulang-tulang di tubuhku gemeretak. Persendianku ngilu. Serta aku mulai sakit-sakitan. Lebaran 1426 H yang baru lalu, pada hari pertama, eskitar jam 03.00 dini hari, aku ditandu ke UGD, RSUD Serang. Colik, begitu kata dokter jaga. Ginjalku sakit. Perutku kembung dan kram. Kata Tias, itu akibat hari terakhir puasa aku naik kereta ke Merak. Aku memang kangen angin kereta. Aku berdiri di pintu gerbong, menikmati tmparan angina. Juga pada malam takbiran, aku nikmati petualangan singkat dari Merak ke Bakauni, pulang-pergi. Perginya naik kapal Ferry, pulangnya naik kapal cepat. Angin laut dan angin kereta ternyata berkumpul di perutku. “Kamu sudah tua,” kata Emak, mengingatkan usiaku yang sudah 42 tahun. Terbayang sekelebat saat usiku 17 hingga 30-an tahun; menyusuri bumi nusantara dan separo dtaran
Asia. Bahkan dari Kuala Lumpur aku kayuh sepeda selama seminggu ke Malaka dan Kuala Lumpur –
Bangkok selama sebulan! Itulah peringatan dari Allah padaku, bahwa kematian semakin dekat padaku. Insya Allah, aku harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadap Allah.

Tanda-tanda yang lain, sekitar Agustus 2005, saat di perjalanan Serang – Kebon jeruk, di atas bus, aku terbangun dari tidur ketika mendengar suara pengamen melantunkan lagu “Ani” karya Oma Irama. Aku terbengong-bengong. Nama itu pernah dekat di dalam kehidupan masa remajaku; sekitar 1980- 1982. Aku ingat, pernah bebarapa kali meminta lagu itu untuk diputarkan di radio Maritim, Serang. Lagu itu setiapmalam Minggu, aku persembahkan kepada gadis bernama “Ani”. Padahal di malam Minggu, aku selalu mengendarai motor dengan satu tangan, berada di jalanan Serang, hingga jauh sampai ke Anyer, Tangerang, Bogor, bahkan Bandung.

Selama lagu itu meluncur dari mulut si pengamen dengan minus one, dari Karawaci – Kebon Jeruk, kenanganku terlempar ke masa remaja, yang aku habiskan di jalanan.

akutias-3.jpgJALANAN
Aku mempunyai gank bernama “Yess”; pendokumentasian atau representasi dari kegilaan kami kepada group musik art rock asal Inggris, Yes, dan recording kreatif serta inovatif asal Bandung “Yess”, yang bermarkas di Jalan Naripan. Jika aku ingin mengkoleksi kaset produki Yess Bandung, aku harus menempuh ratusan kilometer dari Serang, memakai bus malam Bintang
Labuan atau Kramat Jati. Berangkat dari Serang jam 00.00 WIB, mendarat di Kebon Kelapa,
Bandung, jam 05.00 WIN. Sarapan pagi di warung Ampera, sholat subuh sambil nebeng mandi di mesjid Agung, Alun-alun Bandung, aku susuri Cikapundung,
Braga, dan Naripan. Di pojokan Naripan – Kosambi, aku habiskan kerinduanku pada musik-musik seperti Genesis, Yes, Pink Floyd, Animal, Bad Company, dll. Harga satuannya waktu itu seribu perak.

Kehidupanku sebagai anak jalanan tentu butuh simbol-simbol; motor, debu jalanan, jaket kulit, dan perempuan. “Ali Topan Anak Jalanan” karya Teguh Esha sedang merajalela saat itu. Di sisi lain, “Galih dan Ratna” milik Edy D. Iskandar juga menyodok bagi kelompok anak-anak rumahan. Bagiku, semuanya aku lahap dan memenuhi otak kananku. Motor aku punya. Debu jalanan akrab di kulitku. Kami punya yang namanya groupies. Tapi pacar, itu yang sering jadi kendala bagi anak-anak jalanan. Apalagi ketika kami punya semacam “pantangan”; anak jalanan tabu punya pacar. Kahlil Gibran pernah mengingatkan, jangan jadikan cinta jangkar dalam hidupmu!

Tapi, di saat para anak jalanan lelah beristirahat di halte-halte atau tikungan jalanan, kami sering memperbincangkan “pacar”. Lalu, bersepakatlah kami dengan “pacar imajiner”. Aku memilih “Ani”, Toni memilih “Maya”, Asep dengan “Pipin”, dan Irul mantap dengan “Nani”. Sejujurnya kami adalah para lelaki yang tidak merasa pantas bersandingan dengan mereka, para wanita yang baik hati dan suci. Kami sering mengibaratkan dua perempuan itu sebagai “bidadari”. Mereka cocoknya dengan para pangeran yang bermobil. Tapi, kami bahagia memperbincangkannya sambil menghisap rumput surga dan air api. Padahal kami tidak pernah datang rutin berkunjung, wakuncar (waktu kunjung pacar). Asep dan Irul memang mengkhianati komitmen itu, sehingga gank kami pecah. Tinggal aku dan Toni saja, yang semasa SMA tidak pacaran, tetap setia dengan groupies! Pokoknya, malam Minggu pacaran, no way!

kakagaya-3.jpgPROSES KREATIF
Di Serang pada era itu ada nama Ani yang lain, yang juga cantik jelita. Jika Ani – pacar imajinerku sekolah di SMEA, Ani yang satu lagi adalah teman kecilku, satu sekolah dengan kami. Kami sering menyebutnya “putri seorang bupati”, plesetan dari novel “Putri Seorang Jendral” karya Motingge Busye. Ayahnya memang mantan bupati Serang tahun 70-an. Kakak Ani adalah sahabat kakakku. Setiap hari aku sering bermain di pendopo kabupaten Serang, yang pada riwayatnya kini gedung itu tampak sangat angkuh.

Dua nama Ani itu mempengaruhi alam bawah sadarku. Aku yang sering membaca karya sastra, jadi melayang-layang ke mana-mana. Ani – pacar imajinerku – buat kami seolah jadi oase di saat kami lelah, enak untuk dijadikan bahan gunjingan. Sedangkan Ani putri seorang bupati, terlalu jauh untuk dijangkau. Beda kelas. Kedua figure preempuan itu jadi teman berkhayalku, saat aku menulis di buku harian. Aku hampir terjebak pada perasaan jatuh cinta yang cengeng, tapi aku berhasil lepas. Aku tetap bersetia, bahwa tabu bagi lelaki jalanan menghabiskan malam Minggu dengan mengapeli perempuan! Tempatnya di jalanan waktu itu! Selulus SMA aku meneruskan kuliah di UNPAD,
Bandung. Sedangkan aku mendengar Ani menikah dijodohkan orangtuanya.

Semua pengalaman masa remajaku dengan dua nama Ani itu sangat membekas dan memberikan inspirasi pada kehadiran tokoh “Dewi Venus” di novel serialku; “Balada Si Roy”. Banyak orang penasaran dan menyangka, bahwa “Dewi Venus” adalah wanita idamanku. Tapi aku harus akui, bahwa dia pernah ada. Tapi tidak membuatku larut. Aku tetap menghormatinya sebagai perempuan yang baik dan mengenangnya sebagai bagian dari perjalanan masa remajaku.

abimotorya-3.jpgSURPRISE
Sebulan setelah aku mendengar lagu “Ani” yang didendangkan oleh pengamen itu, secara mengejutkan, aku bertemu Ani. Tidak di mana-mana, tapi di Rumah Dunia. Di depan Tias. Saat itu Rumah Dunia dikunjungi oleh para siswa SDN 3 Serang. Abi, anak lelakiku, sekolah di
sana juga. Tanpa aku duga, seorang wanita berjilbab mendekati. “Masih ingat aku, Rie?” Ani! Jujur saja, jantungku sepeti mau copot. Sejak selepas SMA (1982), aku tidak pernah melihatnya lagi. Berarti ada rentang waktu 23 tahun! Dengan singkat kami bercakap-cakap. Dia sudah mempunyai anak empat. Si sulung bahkan hendak menikah. “Aku mau jadi nenek, Rie!” Sementara itu mataku mencari-cari Tias. Aku perkenalkan Ani pada Tias. Selebihnya, aku berada di panggung, mendongeng. Sementara itu Tias dan Ani bercakap-cakap seolah kawan lama saja.

Ternyata, lagu di atas bus itu adalah juga tanda-tanda dari Allah, bahwa aku akan dipertemukan dengan Ani! Begitukah? Tapi bagiku, ini adalah satu bukti bahwa Allah Maha Penyayang. Di waktuku yang sempit, dipertemukannya aku dengan orang-orang dari masa lalu untuk bersilaturahim; meminta maaf jika ada salah kata. ***
Rumah Dunia, 12 November 2005

Foto-foto:

1. Saya dan Tias, saat pengantin baru, 1997.

2. Foto-foto lainnya, saya dan keluarga sedang piknik wisata kota di alun-alun barat kota Serang, yang sudah dipavling block. Tiap sore jadi arena bermain anak-anak.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: