KELUARGA PENGARANG

[Di balik Layar 11] GANK RAT DI BALADA SI ROY

Posted on: April 11, 2007

layar-11.jpgOleh Gola Gong

Masih ingat gank “RAT” di “Balada Si Roy”? Itu adalah akronim dari tokoh
Roy, Andi, dan Toni. Secara empiris, pada masa usia sekolah dulu, saya memiliki gank bernama “YESS” (bisa juga diartikan sebagai “ya emang suka seni”). Personilnya adalah saya, Toni, Asep, dan Irul.

Nama gank itu adalah atas usulan saya dan Toni, yang memang sangat menggemari group music beraliran art-rock; “Yes”. Semua album band “Yes” dari recording YESS yang bermarkas di
Bandung komplet kami koleksi. Bahkan solo karier Jon Anderson dengan Vangelis pun kami punya. Jenis vocal Jon Anderson sangat melenakan kami saat masih muda dulu. Apalagi jika kami sedang “high”, suaranya membawa kami seolah-olah terbang ke surga. Ah, masa muda. Saat jadi ingat apa kata Mick Jagger, vocalis group band slebor “The Rolling Stones”, bahwa ganja, narkotika adalah sebuah fase di saat muda. Jika sudah tua masih saja berkubang dengan narkotika, itu konyol, dan tolol.
 

Sekarang, ada beberapa album tersisa dan bulukan di dus-dus di lantai dua rumah saya.
Ada keinginan sesekali memutarnya lgi. Terakhir saya mendengar suara Jon pada album reunion Yes. Huuh, saya jadi kepingin ngebongkar dus itu, dimana “harta karun” saya berada. Beberapa goup band seperti Genesis, Animal, King Crimson, Bad Company, Peter Gabriel, Vangelis, Deep Purple, The Rolling Stones, Bee Gees, Eric Burdon, Pink Floyd, Alan Person Project, The Beatles, The Doors, Gong, The Who, Queen, U2, Led Zeppelin, Marilion, dan masih banyak lagi bertumpuk di sana. Pada masa remaja dulu, ada semacam kebanggaan jika kami berhasil mengkoleksi album kaset made in YESS dan MONALISA, dua recording dari
Bandung. Saat saya kuliah (1982 – 1985), uang bulanan saya habis untuk nongkrong di Jalan Naripan (markas YESS) dan Suara Kenari (MONALISA). Bagi saya, ketika negeri ini terseret arus globalisasi, lalu bemunculan group band seperti Slank (The Rolling Stones), Dewa (Queen), The Fly (U2), Naif (The Beatles) tak ubahnya mereka sebagai plagiator. Negeri ini memang lebih kental aroma menirunya. Tapi tidak apalah. Itu kan sudah dimulai sejak zaman Koes Ploes (The Everly Brothers), God Bless (Genesis/Deep Purple), Acid Speed Band (The Rolling Stones), Fredy Tamaela almarhum (Genesis)…. Begitulah memang prilaku negeri berkembang. Rasanya jika tidak mengikuti hegemoni Amerika dengan penjajahan kapitalisme 3RF (food, film, fun)-nya, seolah sudah jadi “katak dalam tempurung”.
 

Kami yang tinggal di Serang, lebih berkiblat ke Bandung daripada
Jakarta. Setiap liburan semester, kakak-kakak kami yang kuliah di
Bandung selalu membawa trend baru; mode, music, dan film. Sper Kids dengan jagoannya Deddy Stanzah dan The Rollies yang mempopulerkan Gito Rollies, jadi panutan kami. Saat saya kuliah di
Bandung, saya sengaja kost di wilayah Cikaso – Supratman, dekat dengan rumah Deddy Stanzah. Saya menghandiri setiap pertunjukkannya. Sayang, Deddy lebih banyak bergelut dengan narkoba ketimbang berkarya.
 

Pada masa remaja saya, ada dua orang yang secara tidak langsung membentuk karakter saya dalam seni sastra dan selera musik; yaitu Tomi Didih (sekarang ketua PWI Serang) dan Dadi Ramalangit (mantan penyiar radio Maritim, Serang). Saat saya SMP (1976 – 1979, mereka adalah brandalan Serang. Ali Topan, tokoh rekaan Teguh Esha sedang mewabah, berlomba dengan tokoh “Galih dan Ratna” karya Eddy D. Iskandar. Dua “crossboy” jebolan gank senior Serang;
Savoy, Serang, itu memperkenalkan saya pada narkotika, cara menaklukan wanita, puisi, dan selera music mancanegara. Sesekali aroma gang Pegangsaan dengan Guruh, Chrisye, dan Fariz RM menyelip. Jika malam Minggu. Jalan Yumaga (Yusuf Martadilaga) adalah duplikat gang Pegangsaan. Lokasinya yang strategis, di selatan alun-alun Serang, menjadikan Yumaga sebagai barometer
kota Banten (minus Tangerang). Terbukti, siapa-siapa yang bisa mengakses alun-alun sebagai civic centre, terbilang sukses di Banten kekinian. Alhamdulillah, dengan stimulus-stimulus di jalanan itu, saya termasuk yang melampau batas-batas psikis wilayah Serang. Gara-gara buku dan film, saya bisa melanglangbuana ke seluruh dunia. Bahkan saya termasuk yang bernyali, memilih menyusuri bumi untuk membuktikan adanya dunia lain. Kalau orang Amreika pergi ke bulan naik Apollo untuk membuktikan kehidupan lain, saya naik truk ber-liften untuk merasakan dan menikmati keagungan Tuhan lewat karya manusia seperti Borobudur, suku Dani yang berkoteka di Papua, Taj mahal, Himalaya, Pagoda, suku Long Neck di Myanmar, dan Golden temple di Amristhar.
 

Pada masa itu (1979 – 1982) aroma “gangster” di Serang sedang merebak. Jika remaja Serang tidak memiliki sebuah gank, maka dia sudah ketinggalan zaman. Saya mencatat nama-nama gank di Serang pada masa itu adalah Marsose, Ullah Jazz (maniak basket), Sadigo (salah dikit golok, anak para jawara Banten), Jazz Me (cewek semua), Penelope, Neutral, dan banyak lagi. Jika pada hari-hari biasa, saya sibuk di gedung olahraga sebagai atlet badminton Serang (saya termasuk team yunior, bertarung denan atlet bertangan dua), begitu tiba weekend – Sabtu dan Minggu – saya bagian dari gank YESS. Dengan tangan satu, saya menunggangi motor bebek. Jaket kulit imitasi atau jaket ijo tentara yang dibeli di pasar Jatayu, Bandung, dan emblem “freedom” atau “peace” ala John Lennon, saya menghabiskan malam minggu di jalanan Serang – Anyer, dengan asap ganja, air api, dan teman kencan cewek yang biasa disebut “groupies” dalam dunia band. Ah, masa muda!  

Semua hal yang saya alami di jalanan, saya tulis di buku harian dan bagian dari proses kreatif juga. Itulah yang membedakan saya dengan anak jalanan lainnya di Serang. Jika sehabis begadang, mereka pulang ke rumah dan tidur mendengkur, saya memulai mimpi baru sebagai seorang pengarang. Jika pagi hari, saya mencuci racun yan bersemayam di tubuh dengan banyak makan susu telor madu, berolahraga, dan bersujud memohon tobat pada Allah. Saya betul-betul ambigu, berada di wilayah abu-abu. Jika suah berbuat dosa, maka saya memohon ampun. Begitulah masa remaja saya.  

Ketika kami lulus SMA (1982), gank YESS pun bubar. Agak menyakitkan.
Ada persoalan wanita, yang sebetulnya bukan tanggung jawab saya, tapi dibebankan ke saya. Semua orang Serang jika menyebut YESS, pasti yang diingat adalah saya, karena saya adalah anggota YESS satu-satunya yang berlengan satu. Sehingga, yang paling mudah dicari untuk dimintai pertanggungjawaban adalah saya. Untuk masalah ini, saya hampir-hampir saja masuk sel. Tapi, karena saya berhasil membuktikan bukan sebagai pelaku, akhirnya saya terbebas. Akibat peristiwa ini, saya hampir terlibat adu phisik. Kini YESS hanya tinggal kenangan. Toni dan Irul adalah yang tersisa. Pada 2001, Toni dan Irul masih sempat dtang ke Serang, menjengk saya. Sekarang, Toni ada di Garut danIrul di
Cirebon. Semoga mereka berbahagia. Kami memang jarang bersilaturahmi. Mungkindikarenakan kesibukan masing-masing.
 

Tapi YESS adalah sumber inspirasi saya untuk membuat “Balada Si Roy”. YESS saya adaptasi jadi RAT (Roy, Andi, dan Toni). Tokoh Andi adalah modifikasi dari sahabat saya yang bernama YS, cowok brokenhome, yang kedapatan sudah jadi mayat di rumahnya. Sedangkan Toni, selain mencuri karakter Toni di YESS, juga beberapa karakter tumpang-tinding di situ.  

Begitulah, kawan! Novel serial “Balada Si Roy” terinspirasi dari kehidupan remaja saya di jalanan bersama YESS. Selain terpengaruh film lebar dari novel “Outsider” (Mat Dillon, Tom Cruise, Charlei Sheen, Patric Swayze) karya SE Hinton, Papillon (Henrie Charieree/Steve Mc Queen – Dustin Hoffman), film Borsalino (Alain Dellon), The Godfather (Mario Puzzo), Karl May (Old haterhand – Winettou), dan Jim Bowie. Hidup memang belum selesai.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: